
Maira dan Hidayat sampai di rumah Kirana setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima jam, dengan menggunakan google map yang dikirim Arya ke ponselnya. Hidayat mengelus pipi Maira yang tertidur pulas di bahunya, berusaha membangunkan istrinya itu dengan lembut.
Maira melenguh. Ia terlihat begitu letih setelah beberapa hari ini kurang istirahat, dan sekarang malah mengadakan perjalanan yang cukup jauh.
"Kita sudah sampai, Mai..." Bisik Hidayat.
"Sudah sampai?" Maira segera meluruskan duduknya. Matanya terbuka lebar menatap keluar jendela mobil.
"Ini rumahnya, Bang?" Tanya Maira lagi dengan suara terdengar parau.
"Sepertinya begitu. Abang telepon bang Arya dulu, ya..."
"Umm..." Angguk Maira sambil terus melihat-lihat ke rumah yang terlihat sepi di sampingnya.
"Wa'alaikum salam, Bang... Kami sudah di depan. Abang sudah sampai di rumahnya, kan?" Hidayat terdengar mengobrol dengan Arya lewat ponselnya.
"Owh, baiklah, Bang... Assalamualaikum..."
"Gimana, Bang..." Tanya Maira penasaran setelah Hidayat menutup panggilan teleponnya dengan Arya.
"Iya, benar ini rumahnya. Kita turun sekarang?" Ajak Hidayat.
Maira mengangguk.
"Bang, kami mampir disini dulu, ya... Abang boleh istirahat dimana pun, nanti kalau urusan kami sudah selesai, kami hubungi Abang kembali..." Kata Hidayat pada sopir mobil yang ia sewa.
"Baik, Bang..."
Maira dan Hidayat turun dari mobil. Mereka berdua saling menyembunyikan rasa gugup di dalam dada mereka.
"Bismillahirrahmanirrahim..." Ucap Maira pelan. Ia merasakan jantungnya berdegup kencang, namun ia usahakan bersikap santai di dekat Hidayat, agar Hidayat tidak goyah untuk menemui Kirana.
Mereka melangkah masuk ke dalam rumah yang cukup besar di hadapan mereka, namun rumah itu terlihat sepi. Baru saja Hidayat dan Maira mencapai teras rumah, di dalam terdengar ribut-ribut. Pekik dan tangis Kirana membuat Maira tersentak dan menghentikan langkahnya seketika.
Hidayat juga panik. Ia segera merangkul Maira dan menyekap telinga Maira ke dalam dekapannya.
"Itu sepertinya suara kak Kiran ya, Bang?" Tanya Maira dengan bibir bergetar menahan ketakutan.
"Sepertinya iya, Mai..."
__ADS_1
"Ada apa, ya? Kok Maira jadi cemas begini?" Ucap Maira sembari meremas baju Hidayat.
"Abang mau lihat ke dalam, Maira tunggu disini sebentar, ya..." Pinta Hidayat seraya menepikan Maira ke balik pintu rumah.
"Tapi, Bang..." Cegah Maira semakin mempererat genggamannya ke baju Hidayat. Ia menatap lekat wajah suaminya itu penuh kecemasan.
"Nggak apa-apa, Mai... Abang mau lihat keadaan di dalam... Kok Kirana histeris gitu? Dan dia sepertinya juga menghempaskan barang-barang di dalam... Nanti kalau Maira kenapa-kenapa gimana?" Bujuk Hidayat lagi.
Maira terlihat pasrah, walau wajahnya masih menyiratkan kekhawatiran yang sama terhadap suaminya itu. "Abang hati-hati, ya... Kalau ada yang membahayakan, Abang cepat-cepat keluar..."
Hidayat memeluk Maira kuat-kuat, lalu mengecup pucuk kepala istrinya itu sangat lama. "Iya, lagian di dalam juga ada bang Arya... Semoga setelah ini semua urusan kita cepat selesai, ya..."
"Aamiin..." Ucap Maira, lalu ia melepas Hidayat masuk ke dalam rumah yang begitu asing baginya saat ini.
Di dalam, Kirana berteriak memaki ibu tirinya, membuat Arya yang baru saja datang terpana. Gadis itu tampak kesetanan menarik rambut ibu tirinya sendiri dengan begitu kasar.
"Apa-apaan ini, Kiran?" Balas ibu tirinya meneriaki sambil meronta untuk dilepaskan.
"Pembunuuuuh... Kau membunuh ayahku, biadab..." Seru Kirana semakin menjadi-jadi.
Arya segera menahan Kirana. Ia mendekap bahu mantan kekasihnya itu begitu erat, namun karena Kirana melakukannya di luar adrenalinnya, ia begitu kuat. Seluruh kata kasar terlontar dari mulutnya, dan wajahnya memerah menyimpan amarah.
"Assalamualaikum..." Hidayat datang dengan nafas terengah-engah, hal yang membuat Kirana menghentikan aksinya.
Arya terpana melihat perubahan sikap Kirana yang tiba-tiba bergeming atas kedatangan Hidayat. Gadis itu kembali terlihat menyedihkan, menatap kearah Hidayat dengan raut wajah yang tersakiti.
"Ada apa ini?" Tanya Hidayat masih tercengang menatap suasana yang begitu membuatnya bingung dan canggung.
Kirana berlari menuju pelukan Hidayat, sehingga Hidayat terkejut dan tak dapat menghindar.
"Dia pelakunya, Yat... Dia yang telah membuat Ayahku lumpuh total, lalu perlahan meninggal... Dia memeras ku selama ini... Dia..." Tunjuk Kirana pada ibu tirinya. Mengadukan segala yang ia tahu tentang kematian ayahnya kepada lelaki yang ia cintai itu.
"Tenanglah, Kiran... Negara kita punya hukum, dan kamu jangan main hakim sendiri seperti ini..." Bujuk Hidayat berusaha untuk menenangkan Kirana.
"Kak Kiran... Ibu..." Ayu yang sedari tadi tertidur di kamarnya segera keluar karena mendengar suara ribut-ribut.
"Aku bukan kakakmu... Pergi kalian dari rumahku..." Teriak Kirana kembali terlihat lebih marah, dan itu disebabkan karena kedatangan Ayu, gadis mungil yang selama ini ia sayangi karena merasa gadis itu adalah adiknya. Tapi, ternyata kebenaran membuat ia marah dan terluka.
Hidayat bingung, juga tidak berdaya untuk mengelak dari Kirana yang merasa aman di sisinya. Ia merasa tidak nyaman, di lain sisi hatinya, semua rasa yang pernah ada di masa lalu telah berubah menjadi hambar.
__ADS_1
Hidayat menatap Arya seolah mengisyaratkan perasaannya saat ini, namun tetap saja Arya juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Ayu tampak syok mendengar hardikan Kirana kepadanya. Ia berlari mendekat ke arah ibunya yang terlihat kesakitan dan berantakan.
"Ibu, kak Kiran kenapa?" Tanya Ayu tersedu-sedu, sementara ibunya hanya sibuk merapikan rambutnya yang acak-acakan.
"Awas kamu, ya... Dasar anak tidak tahu diri..." Omel ibu tiri Kirana seraya membawa Ayu pergi dari sana.
Kirana semakin mengeratkan dekapannya ke lengan Hidayat. Ia seperti tidak peduli terhadap penolakan yang ia rasa, yang ia tahu ia merasa nyaman.
Maira datang dengan perlahan, membuat Hidayat dilema. Arya semakin dibuat merasa bersalah karena dirinya lah yang meminta suami istri itu untuk datang.
Melihat kedatangan Maira, Kirana semakin tidak peduli. Cengkeramannya semakin kuat ke lengan Hidayat, dan ia malah menyodorkan tatapan yang tajam menantang seolah menyatakan kepemilikannya yang tidak boleh diganggu gugat.
"Lepaskan suamiku, Kak..." Pinta Maira terdengar datar, sementara Hidayat berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman Kirana.
Kirana terus bersikap tidak peduli. Ia berjalan mundur menarik lengan Hidayat, menjauhi Maira yang juga perlahan mendekat ke arah mereka.
Kirana menggeleng, menengadah ke wajah Hidayat. "Cuma kamu satu-satunya yang percaya aku, Yat... Aku mohon..."
Mendengar ucapan Kirana, air mata Maira mengalir begitu saja. Ia terlihat kehabisan kesabaran saat Kirana tak kunjung mengabulkan permohonannya untuk melepaskan Hidayat.
"Tolong lepaskan dulu, Kak... Kalian nggak boleh bersentuhan begini sebelum kalian menikah..." Hardik Maira seraya menarik lengan Hidayat dan menjauhkan suaminya itu dari Kirana.
Mereka berempat terdiam dan spontan menoleh kepada Maira.
"Me-menikah?" Tanya Kirana sambil tersenyum menatap Maira tanpa berkedip.
Maira menatap Hidayat sesaat yang juga menatapnya dengan tatapan kebingungan. "Jika itu yang terbaik, Maira rela berbagi untuk kak Kiran..."
Arya dan Hidayat tercengang, sementara Kirana malah tersenyum kegirangan seperti anak kecil yang mendapat mainan, lalu berlari memeluk Maira. "Terima kasih, Maira... Kamu juga, kamu mengerti aku... Kamu pasti juga mempercayaiku..."
Maira mengangguk, membalas pelukan Kirana, namun hatinya tidak bisa berbohong bahwa ia terluka oleh keputusannya yang sepihak.
.
.
.
__ADS_1
.