
Cuaca begitu terik. Matahari hampir sejajar dengan kepalanya, dan itu tidak membuat semangat Hidayat patah untuk terus melajukan motornya. Masih pertengahan jalan, ia menepikan motornya ke sebuah toko yang menjual bunga dan boneka.
Hidayat turun dari motornya setelah menanggalkan helm yang dipakainya terlebih dahulu.
"Assalamualaikum, Kak..." Ucap Hidayat kepada perempuan berjilbab yang sibuk menata bunga-bunga di toko itu.
"Wa'alaikum salam, Dik... Mau beli bunga, ya?" Perempuan itu menyambut dirinya dengan senyum dan mata berbinar-binar.
"Iya, Kak... Saya mau pesan satu yang paling indah untuk istri saya yang sedang wisuda hari ini..." Tutur Hidayat terlihat bersemangat.
"Baiklah, Dik, tunggu sebentar, ya..."
Hidayat mengangguk. Sepeninggal penjaga toko, ia berkeliling melihat-lihat bunga di dalam toko itu. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah boneka berbentuk kepala keropi bewarna hijau dengan ukuran kecil.
Hidayat tersenyum.
"Ini, Dik..." Penjaga toko bunga datang dengan membawakan bunga yang dipesannya.
"Maaf, Kak... Saya boleh minta tolong selipkan boneka kecil ini beserta kartu ucapan di atas buket bunganya? Kebetulan saya baru menemukan boneka ini barusan..." Tanya Hidayat dengan sopan sembari menunjuk boneka keropi yang diliriknya sedari tadi.
"Oh, tentu boleh, Dik... Sambil menunggu, Adik bisa tulis apapun di dalam kartu ini..." Jawab perempuan itu dengan senang hati seraya mengambilkan kartu ucapan dari balik etalase.
Tidak menunggu waktu lama, buket bunga pesanannya sudah jadi. Ia terlihat senang melihat keindahan seni pada buket bunga rancangan perempuan itu. Ia menyelipkan kartu yang sudah ia tulis di depan boneka keropi.
Setelah membayarnya, Hidayat langsung kembali menuju motornya yang terparkir di depan toko. Ia baru saja hendak menaiki motornya, namun seorang bocah yang sedang bermain dengan seekor kucing di toko sebelahnya mencuri perhatian dirinya.
"Mirip sekali dengan Tengku..." Ucap Hidayat sambil tersenyum. "Apa kabarnya si Tengku, ya? Sudah lama juga tidak tahu kabarnya semenjak bang Mus pindah ke rumah istrinya..."
Kucing itu tiba-tiba berlarian ke jalan raya, dan bocah itu tampak panik sambil terus memanggil-manggil kucingnya. Ia bahkan mulai melangkah ke tepi jalan untuk menjemput kucingnya itu.
Hidayat ikut was-was dibuatnya. Ia segera menghampiri bocah itu.
"Dek, jangan... Bahaya..." Cegat Hidayat cepat.
"Kucingku, Om..." Bocah itu menangis.
"Kamu tenang disini, ya... Biar Om yang menjemput kucingmu..." Ucap Hidayat menenangkan bocah itu.
"Beneran, Om?"
"Iya... Tolong pegangin dulu bunga Om ini..."
"Baiklah, Om..." Bocah itu mengambil buket bunga yang disodorkan Hidayat kepadanya.
Kucing bewarna oranye itu tampak ketar ketir ketika berada di antara pengguna jalan yang melintas disana.
__ADS_1
"Pus-pus..." Panggil Hidayat berusaha membujuk kucing itu. Pengendara jalan yang melihat berangsur melambatkan laju kendaraan mereka.
"Ah, ketangkap..." Seru Hidayat begitu senangnya. Ia sedikit membungkuk ketika memungut kucing lucu itu, dan tanpa disadarinya sebuah mobil sedan melaju kencang kearahnya.
"Om, awas...!" Seru bocah dari pinggir jalan.
Hidayat terkejut serta refleks mendekap kucing itu dengan erat ke dalam dadanya. Ia menoleh ke belakangnya, dan belum sempat ia menghindar, mobil itu telah menabrak dirinya.
"Aaaaa..." Pekik seorang perempuan dari dalam toko tempat bocah itu tadinya bermain. Hidayat terpental ke bahu jalan, dan kepala serta hidungnya mengeluarkan darah. Ponsel yang ia genggam terhempas ke tengah jalan dan pecah berkeping-keping.
Kucing oranye yang ia dekap terlepas, lalu melompat ke dalam pekarangan toko milik orang tua bocah.
Orang-orang di sekitar berhamburan membantu, juga memaksa penabrak keluar dari mobilnya.
"Saya melihat dia memainkan ponselnya saat berkendara..." Tuduh salah seorang warga terlihat geram.
"Panggil ambulans...!" Seru yang lainnya. Mereka semua terlihat ikut panik dan sigap menolong Hidayat yang sudah tidak sadarkan diri.
Bocah tadi menggigil melihat kejadian itu. Ia mendekap erat buket bunga yang dititipkan Hidayat kepadanya. Seorang perempuan muda mendekapnya.
"Mama, o-om itu selamatkan Uten kita..." Adu sang bocah dengan bibir bergetar.
"Ya Allah..."
"Mama..." Meski masih kecil, namun bocah itu terlihat memiliki rasa bersalah.
Arya begitu bahagia menyambut kelahiran anak pertamanya, ditambah dokter menyatakan bahwa istri dan anaknya baik-baik saja, dan keduanya selamat.
"Terima kasih, Sayang, kamu baik-baik saja walau sudah bertaruh nyawa untuk anak kita..." Ucap Arya berbisik di telinga Kirana.
Kirana tersenyum. Ia menatap bayinya yang lucu dalam gendongannya. "Sesuai do'a nya Maira, dia tampan sepertimu, Sayang..."
"Iya, karena mamanya juga cantik..." Jawab Arya sembari ikut mengelus bayi merah baru lahir itu, lalu mengecup kepala Kirana.
"Sayang, Ayu gimana?" Tanya Kirana terlihat tegang mengingat adiknya itu.
"Biar aku jemput, ya... Kamu tidak apa-apa ditinggal sendiri?"
"Nggak apa-apa... Nanti Maira dan keluarganya juga bakal datang kesini, kan? Lagi pula kata kamu mama sudah jalan kemari beberapa menit yang lalu..."
"Ya sudah, aku pergi sekarang... Kalau ada apa-apa, kamu telepon segera, ya..."
"Iya, Sayang..."
"Assalamualaikum, dadah anak ganteng papa...." Ucap Arya dengan gemasnya menciumi bayinya.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam... Dadah, Papa..." Jawab Kirana dengan menirukan suara anak-anak.
Arya keluar dari ruang seruni tempat Kirana dirawat setelah melahirkan. Ia berjalan menuju pintu keluar rumah sakit. Dari beberapa meter di depannya tampak dokter dan perawat berlarian mendorong brankar menyambut pasien yang baru saja datang dengan ambulans rumah sakit. Awalnya ia bersikap acuh, namun ketika ia melihat pasien itu adalah Hidayat, ia segera berlari mendekati brankar itu.
"Ada apa ini, Dok?" Tanya Arya begitu syok melihat Hidayat terbaring tak berdaya dan berdarah-darah.
"Anda kenal dengan korban ini, Pak Arya?" Tanya dokter itu.
"Dia adik saya, Dok..." Jawab Arya cepat.
Brankar Hidayat didorong menuju UGD, sementara Arya dan dokter berjalan cepat mengiringi. "Beliau baru saja mengalami kecelakaan di Jalan Ruko Damai, Pak..."
"Astaghfirullah hal'azhiim..." Ucap Arya tampak terkejut mendengar penjelasan dokter. "Lalu bagaimana keadaannya, Dok?"
"Kami akan periksa terlebih dahulu untuk bisa mengetahui keadaannya, Pak... Saya harap Pak Arya tenang dan berdoa untuk kebaikan adik pak Arya..." Ucap Dokter itu seraya masuk ke dalam ruang UGD.
Tubuh Arya masih menggigil. Ia kebingungan mencari ketenangan di saat situasi seperti ini. Ia bergegas merogoh ponselnya di dalam kantong celananya, lalu menelepon seseorang.
"Assalamualaikum, Bang Arya..." Ucap seorang lelaki menyapa dari seberang.
"Wa'alaikum salam, Ki... Abang boleh minta tolong, nggak?"
"Ada perlu apa, Bang?"
"Tolong jemput Ayu ke sekolahnya sekarang, Ki, terus antar ke rumah sakit As-syifa ruang seruni kelas satu..." Pinta Arya berbicara dengan tergesa-gesa.
"Oh, baik, Bang..." Jawab Rizki tanpa banyak tanya.
"Oh ya, Ki... Hidayat baru saja mengalami kecelakaan..." Ungkap Arya terdengar serak.
"Bang Hidayat kecelakaan, Bang?" Suara keterkejutan menambah kekacauan di dalam dada Arya.
"Iya, Ki... Ambulans membawanya ke rumah sakit ini, dan kebetulan Abang hendak menjemput Ayu melihatnya akan dibawa ke UGD. Tolong beritahu yang lain, Ki... Abang tidak tahu harus apa sekarang... Sepertinya kondisi Hidayat begitu parah..." Tutur Arya sambil menekan kedua matanya yang basah.
"Astaghfirullah hal'azhiim... Kalau begitu aku jemput Ayu dulu ya, Bang... Terima kasih Abang sudah kepikiran menghubungiku... Assalamualaikum..."
"Wa'alaikum salam..."
Setelah selesai menelepon Rizki, Arya menelepon Maira. Ia terlihat ragu-ragu dan takut membuat Maira bersedih hati karena kabar buruk darinya.
.
.
.
__ADS_1
.