
Maira berjalan perlahan menuju posisi suaminya terbaring. Ia sedikit gugup, dan langkahnya terasa sangat berat. Lelaki yang dicintainya itu tak bergerak, bahkan gerak nafasnya pun tak terlihat.
"Assalamualaikum, Abang..." Ucap Maira sembari duduk di samping Hidayat.
Maira meraih tangan suaminya, lalu ia letakkan di pipinya. "Abang tidak perlu cemas, karena Maira tidak pernah bosan menunggu Abang... Tidak peduli seberapa lama pun, Maira akan tetap setia menunggu Abang..."
"Oh, ya... Abang sebentar lagi akan jadi seorang Ayah. Impian kita untuk memiliki anak, insya Allah terwujud... Abang cepat bangun, ya... Kuatkan Maira dalam menjaga calon bayi dalam rahim Maira... Maira tidak sanggup melihat Abang tak berdaya seperti ini... Terus, kita juga belum melihat bayi kak Kiran dan bang Arya... Pasti kak Kiran bertanya-tanya tentang kita... Katanya, bang Arya masih belum memberitahu kak Kiran tentang keadaan Abang..." Cerocos Maira sambil sesekali menyeka air matanya.
"Abang, beritahu Maira apa yang sakit... Jangan diam saja... Abang cepat bangun... Maira tidak kuat, Abang..." Ia mulai terisak-isak.
Dari luar muncul seorang lelaki muda yang tak begitu asing. Dia Aridiansyah, anak susuan Bu Zainab.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikum salam..." Maira bergegas mengusap air matanya. "Bang Ari?"
Ari mengangguk. "Maaf, Abang baru sempat datang... Saat mendengar kabar tentang Hidayat dari Arya, Abang sedang di luar negri, Mai..."
"Tidak apa-apa, Bang... Terima kasih Abang sudah datang... Sekarang atau kemarin pun, bang Hidayat juga belum sadar..." Air mata Maira kembali bercucuran, walau ia menanggapi dengan senyum.
"Hidayat pasti akan baik-baik saja, Mai... Percayalah... Maira terus berdoa, ya..." Ucap Ari menenangkan.
Maira mengangguk.
Ari menoleh pada Hidayat yang terbaring tenang. Hatinya begitu terluka melihat keadaan Hidayat.
"Cepat bangun, Yat... Abang belum sanggup kehilangan saudara Abang lagi... Cukup kepergian kakakmu menyisakan luka yang teramat dalam di hati Abang, kamu jangan... Jangan pergi, Yat... Sumpah Abang tidak sanggup melihat Maira bersedih hati seperti iparmu ditinggal kakakmu..." Ari berkata di dalam hatinya, sementara matanya memerah dan berkaca-kaca.
"Maira mau ikut Abang ke rumah Arya? Ibu Maira dan juga Bu Zainab ikut... Mereka sesekali butuh ketenangan, dan Maira juga seharusnya..." Bujuk Ari.
"Tapi, bang Hidayat bagaimana, Bang?" Tanya Maira terlihat keberatan.
"Ada dua ayah yang menjaganya... Maira tidak usah khawatir..."
Maira menoleh sendu pada suaminya.
"Maira mau, kan? Kasihan Kiran... Dia sangat menanti-nantikan kedatangan Maira..." Bujuk Ari lagi.
"Baiklah, Bang..."
Setelah berhasil membujuk Maira untuk pergi, Ari langsung membawanya ke rumah Arya. Sepanjang perjalanan Maira hanya diam. Tangannya tak lepas dari genggaman ibunya.
"Nak Ari sudah punya calon belum?" Tanya ibunya Maira berusaha mencairkan suasana.
"Alhamdulillah sudah, Bu..." Jawab Ari sambil tersenyum dan tetap fokus pada kemudinya.
"Alhamdulillah... Benarkah itu, Nak Ari?" Tanya Bu Zainab turut menimpali.
"Iya, Bu... Ibu doakan ya, agar berjalan lancar..."
"Iya, Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anak Ibu..." Jawab Bu Zainab sambil tersenyum, namun di balik senyum itu masih terlihat pahit dalam hatinya.
Ari melihat itu. Ia segera mengambil tangan Bu Zainab, lalu menggenggamnya dengan penuh kasih. "Semua akan baik-baik saja, Bu... Ari yakin, Hidayat pasti akan sembuh seperti sedia kala... Ibu jangan khawatir, ya..."
__ADS_1
Bu Zainab menyeka air matanya yang tak terasa lolos begitu saja. Ia tersenyum mengangguk mendengar ucapan Ari, sementara di belakang, Maira di dekap oleh ibunya sendiri.
***
Maira terus memandangi bayi mungil yang tertidur dalam bedung di samping Kirana. Hatinya begitu lemah karena pikirannya yang melayang jauh dari tubuhnya sendiri.
"Aku kira kamu masih belum diizinkan pulang, Mai... Sekarang bagaimana kandunganmu?" Tanya Kirana.
"Alhamdulillah, dia sangat kuat, Kak... Dia yang menguatkan aku sampai saat ini..." Jawab Maira Maira dengan tenang.
"Menguatkan bagaimana?" Kirana menatap Maira tak mengerti. Terlihat kebingungan dalam raut wajahnya.
Maira tersenyum dengan mata tampak menerawang. "Bagaimana kondisi kak Kiran sekarang?"
"Alhamdulillah jauh lebih baik... Arya saja yang berlebihan... Suamiku ini tidak mengizinkan aku buat ngapa-ngapain, Mai..." Celetuk Kirana.
Maira menoleh kepada Arya. "Maaf, Bang Arya, Maira lupa berterima kasih... Kalau bukan Bang Arya, mungkin akan lambat kami mengetahuinya..."
Arya tertunduk, sementara Kirana bergantian menatap mereka dengan kebingungan.
"Bang Hidayat kecelakaan, Kak..." Ungkap Maira dengan suara tertahan, sedangkan Kirana tercengang karenanya.
"Lalu bagaimana keadaannya?"
"Abang masih koma, Kak..."
"Koma?"
"Kenapa tidak cerita kepadaku, Sayang? Kenapa kamu menyembunyikan ini semua dariku? Kapan kejadiannya?" Tanya Kirana rentetan.
"Maaf, Sayang... Waktu itu kamu baru saja melahirkan anak kita, lalu bagaimana mungkin aku akan menceritakannya kepadamu?" Kata Arya memberi alasan.
"Maaf, Bang Arya... Rasanya Maira ingin sekali bercerita pada Kak Kiran... Maira selama ini sudah merasa bahwa Kak Kiran kakaknya Maira, dan Maira yakin perasaan Maira akan lebih tenang setelah membaginya pada Kak Kiran..." Sela Maira tersedu-sedu.
Kirana yang mendengar itu segera mendekap Maira. Ia mengusap-usap punggung Maira yang masih terasa sedikit berguncang.
"Bagaimana kejadiannya? Kok Hidayat bisa kecelakaan? Kapan?" Tanya Kirana lagi masih belum terlihat mengerti, dan wajahnya masih menyiratkan ketidakpercayaan terhadap berita tentang Hidayat.
"Bang Hidayat ketabrak mobil, Kak..." Maira terisak-isak. Ia menceritakan detail kejadian yang menimpa suaminya itu seperti yang diceritakan oleh ibunya Aldi.
Kirana banyak diam mendengar cerita bercampur isak tangis Maira. Ia berusaha memberikan ketenangan kepada Maira, karena ia sangat mengerti bagaimana perasaan Maira saat ini.
Sepeninggal Maira, Kirana menatap Arya dengan kecewa. Banyak pemikiran aneh-aneh yang bersahutan dalam benaknya.
"Sayang..." Panggil Arya gugup dan merasa bersalah.
"Kenapa, Ar?" Tanya Kirana dengan tatapan menantang.
"A-aku..."
"Kenapa?" Kirana masih menunggu penjelasan dari suaminya itu dengan tenang.
"Aku minta maaf, Kiran..."
__ADS_1
"Dari sejak awal aku sudah curiga... Kenapa Ayu datang dan dijemput oleh Rizki, kamu terlihat sedih dan banyak pikiran meskipun sedang menatap anak kita, dan caramu membagi waktu antara kami dan kesibukanmu di luar... Aku sudah feeling ada yang tidak baik-baik saja. Kamu terlihat tidak biasanya akhir-akhir ini, Ar..."
"Sayang, aku hanya ingin menjaga kesehatan kamu..." Ungkap Arya dengan alasan sejujurnya dari dalam hati dan pikirannya.
"Menjaga kesehatan aku, atau masih belum mempercayaiku sepenuhnya?" Ketus Kirana penuh penekanan.
"Sayang, aku tidak berpikir seperti itu..." Elak Arya.
"Iya, aku tahu... Tapi pada dasarnya rasa khawatir kamu terhadap kondisiku memiliki arti yang berbeda, kan?" Tuduh Kirana begitu yakin.
"Sayang..." Arya memelas menatap wajah Kirana yang dibaluti rasa kecewa.
"Hampir dua tahun kita menikah, Ar, dan kamu belum juga bisa mempercayaiku? Antara aku dan Hidayat sudah tidak ada penghubung apa-apa lagi, kecuali kamu... Bukankah kamu sudah menganggapnya seperti adik kandung?"
Arya tertunduk. Dalam hatinya ia sangat mengakui prasangka Kirana terhadapnya. Memang benar ia mengkhawatirkan Kirana, namun jika perasaan istrinya itu masih terbelenggu masa lalu dengan Hidayat, dan ia telah meragukan istrinya sendiri.
"Maaf, Sayang..." Ucapnya tak lagi menyangkal.
Kirana menghela napas. "Keluarlah, aku ingin menyusukan bayi kita..."
"Kenapa aku harus keluar? Sebelumnya tidak masalah..." Protes Arya.
"Kamu dalam masa hukuman..." Ketus Kirana tanpa menoleh pada suaminya yang dilanda kebingungan.
"Hukuman?"
"Iya..."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian..." Potong Kirana seraya mengangkat bayinya ke dalam dekapannya.
"Sampai kapan? Kamu kan tahu, melihat bayi kita menyusu denganmu adalah hal yang sangat mengharukan bagiku..."
"Sampai kamu mengakui kesalahanmu, dan tidak lagi berpikir macam-macam tentang aku..." Ujar Kirana sambil memunggungi Arya.
"Iya, iya, Sayang... Aku minta maaf... Aku janji nggak bakal mengulanginya..." Ikrar Arya terdengar merengek.
"Pokoknya keluar, Yang... Aku masih kesal sama kamu... Kalau tidak, aku nggak mau nyusuin bayi kita nih..." Rengut Kirana manja.
"Eh, iya, iya... Aku keluar... Tapi jangan lama-lama ya ngambeknya..."
"Tau ah..."
.
.
.
.
.
__ADS_1