
Maira dibantu Kirana di balik mini bar rumahnya menyiapkan makanan dan minuman untuk mereka bersantai. Kirana dan Arya membawa anaknya beserta Ayu datang bertamu ke sana tanpa membuat janji, sehingga pasangan suami istri itu terlihat gugup.
"Ada apa datang tiba-tiba begini, Bang?" Tanya Hidayat.
"Memangnya tidak boleh?" Jawab Arya berlagak ketus.
"Bukan begitu, Bang... Biasanya Abang selalu menelpon terlebih dahulu..." Ucap Hidayat sambil cengengesan.
"Ini juga kebetulan, Yat..." Sahut Kirana yang datang membawa nampan berisi makanan disusul Maira yang juga menenteng minuman untuk mereka sajikan.
"Mereka habis jalan-jalan ke mall, Bang..." Ucap Maira nimbrung perkataan Kirana, sebab mereka berdua telah bercerita banyak di belakang.
"Owh begitu... Jadi Ayu juga ikut?" Tanya Hidayat kepada Ayu yang sibuk bermain dengan Zaim di sampingnya.
"Iya, Bang, seru... Harusnya Abang tadinya juga ikut kami, sama kak Mai-Mai juga... Ayu kangen deh jalan-jalan bareng lagi..." Jawab Ayu berceloteh panjang.
Kirana tersenyum mendengar jawaban adiknya itu. "Sibuk banget dia minta kami buat nelpon kalian... Katanya biar rame, Mai..."
"Emmm, kenapa nggak ditelpon sih? Padahal kami nggak kemana-mana loh hari ini..." Ucap Maira terdengar cemberut.
"Tapi ini mau digimanain, Mai? Udah nunggu hari... Nanti kalau ngelahirin di mall gimana?" Protes Kirana sambil mengelus perut buncit Maira.
Melihat itu, Arya tertawa kecil. "Nggak kebayang paniknya Hidayat kalau tiba-tiba Maira ngelahirin di mall..."
Tidak hanya itu, Arya terlihat membayangkan sesuatu.
"Jangan aneh-aneh deh, Bang..." Sergah Hidayat mengusik lamunan Arya.
Arya terkekeh, membuat dua perempuan yang telah berstatus istri itu mengernyit heran. "Nggak cuma Hidayat kayaknya, tapi seluruh orang yang berada disana..."
"Benar-benar deh, Bang Arya..." Sungut Maira mendengar candaan artis tampan beranak satu itu.
Arya malah semakin tertawa melihat Maira memberengut. "Tapi Abang beneran ngeri loh, Mai... kalau nggak, mana sekalipun kalian nggak ditawari ikut?"
"Iya, iya... Maira juga paham, tapi nggak perlu mengkhayal begitu juga kali, Bang... Malu tau..." Sungut Maira.
"Gimana, nggak? Hidayat kan bucin akut..." Ledek Arya.
"Kayak Abang saja yang nggak bucin..." Celetuk Hidayat.
__ADS_1
Maira dan Kirana menyemburkan tawa mendengar ucapan Hidayat yang membalas ledekan Arya.
"Oh ya, Yat... Buku kemarin sudah Abang serahkan ke penerbit..." Kata Arya mulai serius.
"Lalu bagaimana, Bang?" Tanya Hidayat menanggapi dengan serius pula.
"Menurut kalian bagaimana? Di buku itu belum ada nama penulisnya..."
Hidayat menoleh pada Maira. Walau bagaimanapun, Maira banyak andil dalam penulisan bagian akhir episode, dan ia mesti mendengar saran dari istrinya itu.
"Kalau menurut Maira sih, nama pena almarhumah saja... Maira cuma menyelesaikan sedikit agar ceritanya nggak gantung..." Jawab Maira.
"Ajiz Habibah Marwan?" Ucap Arya dengan nada bertanya.
"Kalau ada Abang_Adik nya akan lebih baik kali, ya... Zahra kan memulai nulis dari aplikasi online, dan memakai nama pena itu... Jadi, pembacanya pasti sangat antusias sekali..." Usul Kirana.
"Benar juga, Kak... Maira jadi tidak sabar menantikan novel kak Zahra best seller..." Sambung Maira.
"Baiklah... Tapi, nanti kalau difilmkan, Maira sebagai penulis skenarionya ya?" Ucap Arya menawarkan.
"Hah?" Maira tercengang mendengar tawaran Arya untuknya. "Ke-kenapa harus Maira, Bang?"
"Kamu harus gunain gelar kamu dong, Mai..." Ucap Arya. "Ini akan jadi kesempatan emas untuk kamu..."
"Tentu Abang mengizinkan..." Sahut Hidayat cepat sembari menoleh kepada Maira.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Tanya Arya pada Kirana.
Kirana menyembunyikan tawanya seraya berdehem. "Ah payah... Mantan gua aja waktu masih pacaran sama gue, enggak pernah tuh izin sama gua kalau mau kemana-mana..."
Arya tercengang mendengar ucapan Kirana yang berlagak seperti dirinya di masa lalu, sementara Hidayat dan Maira tersenyum setelah menyadari ucapan Kirana yang tengah menyindir Arya.
"Sayang..." Arya melototi Kirana karena rasa malu.
"Ya bedalah... Kamu dan pacarmu itu tidak punya ikatan apa-apa. Hanya pacaran, dan itu pun hubungan kalian hanya komitmen kalian berdua saja..." Sambung Maira dengan nada penuh penekanan.
"Mai, jangan ikut-ikutan deh..." Gerutu Arya.
Maira dan Kirana serentak tertawa, sementara Hidayat hanya tersenyum menatap mereka.
__ADS_1
"Lucunya, disini Arya kayak kekeh banget sama pikirannya sendiri..." Kata Kirana di sela tawanya.
"Kayak susah dibilangin ya, Kak... Bebal banget..." sambung Maira masih dalam tawanya.
"Waktu dia polos-polosnya soal agama, Mai..." Ujar Kirana sambil menggamit lutut Arya.
"Iya, aku tahu... Kamu yang banyak memahami agama, tapi malah tidak pernah menasehati aku... Kamu tahu sebuah kata-kata mutiara? Siapa yang mencintaimu, niscaya ia akan menasehati mu." Ucap Arya bersungut-sungut.
"belum tugasku..." Kilah Kirana.
"Tetap saja sebagai orang muslim kita saling mengingatkan..." Gerutu Arya.
"Kalau nggak kayak gini, kita nggak akan kenal Zahra dan keluarganya dong, Sayang..." Jawab Kirana berusaha membela diri.
"Betul itu, Bang..." Sambung Maira membenarkan ucapan Kirana.
"Kalian ini sengaja sekali ngeledek bang Arya..." Ucap Hidayat sembari ikut tertawa.
"Nggak ngeledek, Bang... Cuma nostalgia saja... Maira pas baca itu pertama kali, langsung mikir, owh jadi begini perkenalan kak Zahra sama bang Arya? Lucu banget ya, bang Arya dulu... Belum ada wibawa-wibawanya kek sekarang..." Terang Maira.
"Nah, betul sekali, Mai... Aku yang kenal dekat aja bisa ngerasain terlalu kekanak-kanakan nya sosok Arya Irawan... Dia nggak seperti yang mungkin ada dalam pandangan para fansnya, itu menurut aku sih, dan aku sangat yakin itu..." Jelas Kirana.
"Memangnya aku seperti apa sih dulunya, Yank?" Kesal Arya.
"Kek gini nih..." Jawab Kirana cepat sembari menunjuk Arya.
"Astaghfirullah hal'azhiim..." Arya mengusap wajahnya dengan kasar. "Iya, aku akui Zahra membawa banyak perubahan dalam hidupku, terlebih sejak ia telah tiada. Apalagi sejak aku mengenal seluruh keluarganya... Tidak ada yang menye-menye, dan juga tidak terlalu kaku..."
"Senang ya, Bang... Kita sama-sama orang asing awalnya dalam keluarga besar Marwan... Masya Allah, bang Ajiz berjodoh dengan kak Zahra, dan membawa perubahan besar bagi kami..." Imbuh Maira.
"Tuh, kan..." Hidayat segera merangkul bahu Maira. "Sudah Abang bilang, nggak akan ada habisnya kalau udah ngomongin tentang kak Zahra dan bang Ajiz..."
"Ini perlu, Yat... Soalnya novel Zahrana baru mulai di rilis... Abang yakin, ini nggak akan sebulan... Novel ini pasti best seller dan dibaca oleh banyak orang di penjuru tanah air... Dan kita musti mengkaji ulang kisah mereka lagi... Mereka memang telah tiada, tapi kita masih bisa merasakan kehadiran mereka dalam setiap tarikan dan hembusan nafas kita... Banyak teladan yang baik pada diri mereka yang patut kita contoh..." Tutur Arya panjang lebar.
.
.
.
__ADS_1
.
.