
Maira berjalan setengah berlari. Air matanya terus mengalir, dan tangannya juga tak henti-henti menyeka. Hatinya begitu hancur setelah melihat suami yang ia percaya telah jatuh cinta kepadanya berpelukan dengan perempuan lain.
BRUK...
"Astaghfirullah hal'azhiim..." Ucap Maira begitu terkejut ketika dirinya tidak sengaja bertabrakan dengan tubuh seseorang.
Ia mundur beberapa langkah, lalu berkali-kali mengucapkan kata maaf sambil menundukkan kepalanya.
"Maira?"
Mendengar namanya disebut, Maira perlahan mengangkat wajahnya. "Bang Arya?"
"Maira kenapa?" Tanya Arya terlihat khawatir mendapati mata Maira yang memerah dan berair, juga tubuh yang bergetar menahan sesenggukan.
"Emm... Ma-Maira..." Maira gugup, namun tetap saja air matanya tidak mampu ia tahan kan di depan Arya. "Maira buru-buru, Bang... Maaf... Assalamualaikum..."
"Wa'alaikum salam, tapi, Mai... Maira..." Arya berusaha memanggil Maira untuk meminta penjelasan, namun Maira sama sekali tidak menggubrisnya.
Arya menghembuskan napas berat. Ia menduga-duga bahwa telah terjadi sesuatu di antara Hidayat, Maira dan Kirana. Ia begitu menyayangkan sekali hubungan cinta tiga segi yang dihadapi oleh orang-orang dekatnya itu.
Tak lama ia melihat Hidayat berlari menuju ke arah dirinya, namun pandangan adik almarhumah penulis novel online itu terlihat menyedihkan mencari seseorang.
"Hidayat!" Seru Arya kepadanya.
Hidayat baru menyadari keberadaan Arya disana, lalu mulai menghentikan langkahnya yang memburu.
"Bang Arya..."
Melihat Hidayat seperti orang yang berputus asa, Arya mendekatinya. "Tadi katamu tidak akan datang, lalu sekarang apa?"
"Hidayat tidak punya waktu untuk menjelaskan sekarang, Bang... Hidayat harus temui Maira dulu... Dia pasti sangat kecewa sekali..." Ujar Hidayat dengan nafas tersengal-sengal.
"Dia butuh waktu, Yat... Dia berada di puncak kesalahpahaman sekarang. Biarkan Maira tenang dulu sebentar..." Ucap Arya menenangkan.
__ADS_1
"Tapi, Bang... Hidayat khawatir Maira kenapa-kenapa. Dia pergi dalam keadaan emosi..."
"Percayalah, Maira akan baik-baik saja..."
Hidayat menghenyakkan tubuhnya ke kursi yang berjejer di dinding kamar rumah sakit. Ia mengusap kasar wajahnya yang sendu. "Tadinya Hidayat memang tidak ada niat untuk datang, Bang... Tapi ketika Hidayat baca pesan dari Maira, Hidayat langsung bergegas kesini. Ternyata mereka ketemuan... Hidayat khawatir jika Maira juga mengalami kecelakaan..."
"Jadi, Kirana akhirnya menemui Maira untuk memenuhi obsesinya?" Tanya Arya seolah menebak kejadian yang sebenarnya, sehingga Hidayat tampak sedikit terkejut dan menatapnya dengan malu.
"Bang Arya mengetahui sesuatu?"
Arya menghela napas panjang, lalu ia mulai bercerita. "Abang tidak percaya kamu melakukan hal ini, Yat... Kamu mengkhianati Maira hanya demi Kirana…."
"Bukan begitu, Bang… Tolong jangan kecam Hidayat seperti itu. Hidayat tahu bahwa Hidayat salah dalam hal ini, tapi…." Hidayat seperti tidak tahu harus berbicara apa lagi. Ia merasa lebih buruk dari segala hal.
"Dari awal Abang sudah mulai curiga dengan Kirana. Dia bela-belain buat datang ke acara pernikahan kalian, padahal dia bukan perempuan yang suka kemana-mana, walau hanya sekedar mampir... Ini, kemauan dia sendiri untuk ikut ke kampungmu, Yat... Ketika Zahra meninggal saja, ia bahkan tidak datang... Kalian sama sekali belum ada hubungan apa-apa waktu itu, kan?"
"Memang, Hidayat yang bodoh, Bang... Hidayat yang memulai semuanya. Hidayat yang mulai chat dia, menghubungi dia, karena Hidayat ngerasa bahwa Hidayat tertarik dengan kehidupannya. Dia begitu tertutup dan penuh teka-teki. Tapi, entah mengapa dia memiliki sisi baik yang ingin Hidayat raih. Hidayat suka dengan sikapnya, sifatnya... Ya, walau teka-teki tentangnya belum terpecahkan, tapi Hidayat sudah tertarik duluan terhadap Maira. Hidayat mulai melupakan Kirana, dan berjanji untuk mengakhiri semuanya dengannya..."
"Sayangnya dia menolak, kan?" Potong Arya.
"Waktu kamu ketemuan dengan Kirana tadi siang, itu lebih jelas, Yat..." Ujar Arya sambil tersenyum kesal.
"Abang ada disana?" Tanya Hidayat tercengang merasa tertangkap basah.
"Abang dengar semuanya... Pantas saja kamu begitu menginginkan Abang untuk menceritakan tentang dia kemarin..."
"Bukan begitu, Bang..."
"Sudahlah, kamu tidak perlu mengelak lagi, Yat? Berapa banyak uang yang telah dia porot dari kamu?" Tanya Arya seakan tahu banyak tentang Kirana.
"Eh?" Hidayat Berubah gugup ketika mendapatkan pertanyaan semacam itu. Ia memang telah mengeluarkan banyak uang untuk Kirana selama ini.
"Tidak kamu kasih tahu pun juga tidak masalah, Yat... Abang hanya berharap agar kedepannya kamu tidak lagi terkecoh olehnya..." Tutur Arya.
__ADS_1
"Bang... Meski rasa ini sudah tidak ada lagi untuk Kirana, tapi tetap mempercayainya bukanlah gadis buruk adalah hal yang tepat, Bang... Dia tidak seburuk yang Abang kira... Dia..."
"Yat..." Arya menatap wajah Hidayat dengan penuh kekecewaan.
"Maaf, Bang... Mungkin Maira sudah siap untuk mendengar penjelasan dari Hidayat sekarang... Hidayat tidak ingin kemarahan Maira berlarut-larut nantinya... Dan tentang Kirana, dia butuh seseorang yang bisa mengerti dirinya... Hidayat harap, Abang bisa menemaninya untuk sesaat... Tanyakan kepadanya dengan hati yang lapang, semoga saja Abang lah pemecah teka-teki tentangnya..." Ucap Hidayat seraya bangkit dari duduknya.
"Kamu masih peduli terhadapnya?" Tanya Arya semakin merasa kecewa.
"Kata Abu Hamid Al-Ghazali, 'Kita adalah makhluk yang suka menyalahkan dari luar, tidak menyadari bahwa masalah biasanya dari dalam'." Ucap Hidayat sambil menekan dada Arya dengan jari telunjuknya. "Kesalahan Hidayat adalah membiarkan Kirana bertahta di dalam hati Hidayat, sampai Hidayat beristrikan Maira. Tapi lihat kesalahan Abang, bahkan Abang tidak mampu menghapus masa lalu Abang dengan Kirana. Pastikan Abang benar-benar membencinya, karena benci dan cinta itu beda tipis, Bang..."
Arya terperangah mendengar ucapan Hidayat yang begitu lantang. Ia terdiam, berusaha mencerna, bahkan menolak keras dengan pikirannya bahwa ucapan Hidayat tentang hatinya keliru.
"Assalamualaikum..." Ucap Hidayat seraya berlalu meninggalkan Arya yang masih bergeming dilanda kebingungan.
****
Bu Zainab membuka laci di samping tempat tidurnya. Ia membuka sebuah kotak kecil, lalu mengeluarkan selembar foto berukuran 2R dari dalamnya. Hati Bu Zainab begitu perih. Ini bukan yang pertama kali ia melihat foto itu, foto Hidayat bersama Kirana.
"Sudah cukup harusnya kamu bisa menerima Maira untuk sekarang, Yat... Dan Ibu harap begitu... Sampai kamu mengecewakan Maira, kamu juga membuat ibumu ini terluka... Juga, harusnya kamu sudah tidak punya hubungan lagi dengan perempuan ini..."
Bu Zainab menangis mengenang anaknya. Ia begitu kecewa ketika menemukan foto itu di kamar tamu, juga beberapa barang-barang milik Hidayat disana. Ia sangat yakin bahwa mereka tidak sekamar sejak mereka menikah.
Bu Zainab hanya merasa beruntung karena ibunya Maira tidak tahu akan hal itu. Ia mulai mengoyak foto Hidayat dengan Kirana hingga menjadi potongan kecil yang tidak dapat diketahui lagi bentuknya.
Entah mengapa malam ini ia merasakan firasat bahwa rumah tangga anaknya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
.
.
.
.
__ADS_1
.