
Maira berjalan menuju kamar mandi. Ia sedari tadi mengabaikan tatapan Hidayat yang sebenarnya ingin meminta kejelasan darinya. Sejak keluar dari rumah Kirana, mereka belum bicara sepatah kata pun.
Usai Mandi Maira menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya, sementara Hidayat masih bergeming menatapnya dengan jiwa penuh emosional.
"Abang mandi dulu, ya... Maira mau langsung tidur, Maira capek..." Ucap Maira tanpa menoleh sedikitpun kepada Hidayat.
Hidayat dengan cepat menangkap lengan Maira, lalu menarik tubuh istrinya itu ke hadapannya. "Apa maksudnya ini, Mai? Siapa yang mau menikah dengan Kirana?"
Hidayat menatap lekat wajah Maira yang terus menunduk.
"Mai, jawab Abang..." Desak Hidayat sembari mencengkram bahu Maira.
"Kita bahas nanti ya, Bang... Hari ini Maira benar-benar lelah... Maira mau tidur, Maira mau istirahat..." Ucap Maira memelas.
"Sekarang atau nanti tidak ada bedanya, Mai... Maira tidak akan bisa tidur setelah apa yang Maira perbuat dan katakan..." Ucap Hidayat mengabaikan wajah sendu Maira.
"Maira capek, Bang... Maira mau istirahat sebentar saja... Maira mohon, Bang... Maira mohon..." Maira mulai goyah. Ia tampak tertekan sendiri setelah menjanjikan sebuah hal besar terhadap Kirana. Janji yang sangat menyakiti dirinya sendiri.
"Enggak... Abang tidak akan biarkan Maira melakukan ini kepada Abang... Abang tidak suka... Abang tidak mau, Mai..." Tekan Hidayat memaksa Maira untuk bicara.
"Apa salahnya sih, Bang? Tidak sulit, Bukan? Abang dan kak Kiran sudah terbiasa bersama juga sebelumnya... Kalian nggak ragu saling bergandeng tangan, berpelukan satu sama lain, lalu apa yang membuat Abang sekarang menolaknya? Maira saja ikhlas..." Ucap Maira berjalan memunggungi Hidayat. Ia memaksakan diri untuk bersikap biasa-biasa.
Hidayat menatap Maira tak percaya. Ia kembali mengejar posisi Maira, lalu menarik lengan istrinya itu aga menoleh kepadanya.
"Itu masa lalu Abang, Mai... Bukankah kita baru saja saling merangkul dan berjanji untuk memulai hidup dari awal lagi? Tapi kenapa sekarang Maira bicara seperti itu?" Ujar Hidayat mulai terlihat marah.
__ADS_1
Maira benar-benar goyah. Tubuhnya menggigil hebat menatap wajah Hidayat yang dikuasai oleh amarah.
"Lalu harus bagaimana, Bang? Dari awal memang Maira yang salah... Seharusnya Maira dulu menolak saja perjodohan ini, sehingga tidak akan ada satu pun yang tersakiti di antara kita... Sehingga semua tidak sesulit dan pelik begini... Salah Maira... Salah Maira dari awal... Maira yang egois..." Rintih Maira terisak-isak.
Hidayat menggeleng, menatap mata Maira dengan perasaan yang berkecamuk, lalu mengapit pipi istrinya itu dengan kedua telapak tangannya. "Tolong jangan bicara seperti itu, Mai... Tolong jangan bikin susah Abang untuk memahami situasi ini... Semua pasti ada jalannya, dan ini bukan jalannya, Mai..."
"Nikahi kak Kiran, Bang... Maira mohon..." Pinta Maira terdengar mengiba.
"Nggak, Mai..." Geleng Hidayat menolak.
"Maira ikhlas, jika ini adalah surga untuk Maira... Maira janji, Maira akan bersikap baik dan selalu sabar di sisi Abang..." Ucap Maira dengan wajah memelas.
"Cukup, Mai... Ini tidak benar... Abang masih muda, dan sampai tua pun, Abang tidak akan berpoligami... Abang tidak mau punya dua istri... Abang hanya ingin kita berdua selamanya, dan mungkin beberapa anak yang Allah karuniai untuk kita kelak sebagai penambah kebahagiaan untuk keluarga kecil kita... " Tolak Hidayat begitu rapuh. Tampak setetes air bening keluar dari bola matanya. Ia memeluk Maira dengan sangat erat, dan kemudian menyembunyikan tangisnya dalam ceruk leher istrinya itu.
"Kak Kiran perempuan yang perlu bimbingan... Dan Abang lah lelaki yang bisa membimbingnya... Awalnya akan terasa seperti mula kita menikah, Bang... Tapi Maira yakin, semua akan berjalan dengan baik setelah itu... Tidak ada dosanya Abang menikahi kak Kiran, karena Maira rela untuk itu... Percayalah, Bang..." Maira masih bertahan membujuk Hidayat.
***
Maira dan Hidayat datang ke persidangan kasus ibu tirinya Kirana, juga ditemani oleh Arya. Kedatangan mereka berdua memang atas paksaan Maira, sebab dirinya ingin mensupport aktris cantik itu agar segera bangkit dan melupakan kesedihannya.
Atas kasus penganiyaan berat yang dilakukan ibu tirinya terhadap ayahnya yang menyebabkan kematian, membuat ibu tirinya itu dihukum sepuluh tahun penjara.
Kirana terlihat membaik dan merasa sedikit lega atas keputusan hakim. sebelum ibu tirinya dibawa ke sel tahanan, ia menemui Kirana terlebih dahulu.
"Ibu akan menjalani hukuman ini, Kiran... Tapi, tolong jaga Ayu, Nak... Jangan sampai dia tahu kejahatan ibunya? Demi Allah, Ibu khilaf, Kiran..." Rintih ibu tirinya Kirana.
__ADS_1
Bagi Kirana air mata ibu tirinya hanyalah air mata buaya. Ia masih terlihat marah jika berhadapan dengan ibu tirinya itu. Kirana tidak menyahut, dia melengos pergi meninggalkan ibu tirinya yang merintih dan menangis ditahan pihak yang berwajib.
Maira yang hatinya lembut begitu iba. Ia segera mengejar Kirana dan memanggilnya. "Bagaimana, Kak Kiran? Apa Kak Kiran akan menjaga Ayu?"
"Siapa bilang? Aku bahkan tidak Sudi melihatnya lagi..." Jawab Kirana begitu acuh. Ia menoleh kepada Hidayat dengan memperlihatkan senyuman manisnya. Harapannya semakin besar setelah Maira berhasil membujuk Hidayat menjadikan dirinya sebagai seorang madu.
Maira melihat jelas tatapan Kirana pada suaminya, dan ia juga tahu bagaimana respon Hidayat. Suaminya itu masih keberatan dengan keputusan yang telah ia ambil. "Kalau begitu, biarkan Ayu bersama kami, Kak... Aku akan menjaga Ayu semampuku..."
Maira menoleh kembali kepada Hidayat. Ia menatap suaminya itu seolah minta persetujuan, namun Hidayat malah membalas tatapannya dengan mata sayu dan sendu.
"Terserah kamu... Tapi, aku sudah muak... Aku tidak akan membiayai sepeser pun keperluannya... Kenyataannya dari hasil tes DNA-nya, dia memang bukan anak kandung ayahku... Aku benci ibunya, dan kamu pikir aku sanggup melihatnya setelah apa yang telah diperbuat oleh ibunya kepada ayahku dan aku selam ini?" Ujar Kirana membuat Maira tak berkutik lagi.
"Kalau begitu aku akan jemput Ayu ke sekolahnya... Kak Kiran tidak perlu memikirkan apa-apa dulu. Banyak istirahat dan berdoa, supaya pikiran Kak Kiran lebih tenang..." Ucap Maira hendak kembali ke posisi Hidayat yang berdiri berdampingan dengan Arya menatap mereka dari sedikit kejauhan.
"Walau apa pun itu, aku tetap berterima kasih kepada kamu, Mai... Terima kasih sudah mempercayaiku, juga memberi aku kesempatan untuk memiliki Hidayat..." Ucap Kirana membuat langkah Maira terhenti.
Maira tertegun sesaat, lalu memaksakan senyumnya di balik remuk jantungnya mendengar ucapan Kirana.
.
.
.
.
__ADS_1