
Hidayat istirahat ketika azan isya mulai terdengar. Ia shalat di mushola kampusnya. Selesai sholat, ia hendak kembali ke kelas. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia segera membuka tasnya untuk melihat siapa yang menelepon.
Ketika ia melihat layar ponselnya, ia seketika bermuka masam. Sebelumnya ia berharap yang menelepon adalah Maira, namun kenyataannya yang menelepon tidak lain adalah nomornya Kirana.
Dengan malas ia mengusap layar ponselnya untuk mengangkat telepon. "Halo, assalamualaikum..."
"Wa'alaikum salam, benar ini dengan saudara Hidayat?"
Wajah Hidayat berubah tegang. Ia semakin mendengarkan dengan seksama. "Benar, ini dengan siapa? Kenapa nomor ponsel ini bisa berada pada Anda?"
"Kami dari rumah sakit As-syifa diminta menghubungi Anda, karena cuma nomor Anda yang tersimpan di dalam ponsel korban..."
"Korban?" Hidayat tercengang. Ia semakin dibuat kebingungan oleh suara seseorang yang meneleponnya.
"Pemilik ponsel ini baru saja mengalami kecelakaan. Saat ini ia masih dalam setengah sadar, dan terus memanggil nama Anda... Kami berharap agar saat ini Anda bisa datang untuk membesuk pasien..."
Hidayat dilema. Meski ia merasa khawatir akan keadaan Kirana, namun tetap saja ia ragu, apalagi kelasnya belum usai.
Hidayat teringat Arya. Setidaknya, ia tahu bahwa Arya dulunya memiliki perasaan terhadap Kirana. Meski sekarang entah, tetap saja ia yakin Arya tidak akan menolak untuk menggantikan dirinya datang ke rumah sakit. Selain menjaga perasaan Maira, ia juga tidak mau memberi harapan apa-apa lagi terhadap Kirana.
Hidayat segera mencari nomor Arya di layar ponselnya, lalu menelepon aktor muda yang telah dianggapnya saudara itu.
"Assalamualaikum, Yat..." Sapaan akrab terdengar dari seberang.
"Wa'alaikum salam, Bang..." Hidayat mendadak terlihat ragu-ragu.
"Ada apa, Yat? Kok tumben menelepon?"
"Emm... Sebenarnya Hidayat mau minta tolong kepada Abang... Tapi... Emm jangan tanya apa pun, atau bagaimana pun, Bang..."
"Minta tolong apa? Kok Abang jadi curiga, ya..." Tanya Arya terdengar menanggapi ucapan Hidayat sambil bergurau.
"Kirana barusan kecelakaan, Bang... Sekarang dia ada di rumah sakit As-syifa. Abang bisa melihat keadaannya ke sana?"
__ADS_1
"Kirana?"
"Iya, Bang... Please, Bang... Hidayat mohon... Kasihan dia..." Pinta Hidayat memelas.
"Baiklah... Abang akan ke sana, tanpa bertanya apa pun dan bagaimana pun... Tapi sebagai imbalannya, kamu harus jawab jujur jika nanti Abang meminta penjelasan dari kamu, bagaimana?"
"Eh?" Hidayat tertegun. Ia merasa ditantang oleh persyaratan yang diajukan Arya kepadanya.
"Bagaimana, Yat?" Ulang Arya lagi.
"Baiklah, Bang... Tidak perlu Abang bertanya, Hidayat akan ceritakan semuanya kepada Bang Arya..." Jawab Hidayat tanpa ragu-ragu.
Hidayat menelan ludahnya dengan kasar. Belum ia menjelaskan kepada Arya, ia malah telah lebih dahulu merasa gugup. Ia kepikiran, entah dari mana ia harus memulai ceritanya nanti.
Hidayat hendak menyimpan ponselnya kembali ke dalam tasnya, namun notifikasi pesan masuk di bagian atas layar ponselnya, membuat ia mengurungkan niatnya. Ia bersemangat karena merasa yakin bahwa pesan itu dari Maira.
"Assalamualaikum, Abang... Maira izin mampir bertemu kak Kirana, ya... Kebetulan kami bertemu di simpang tiga... Insya Allah Maira usahakan untuk pulang lebih awal dari Abang..."
"Kirana kecelakaan, dan Maira sedang bersamanya?" Perasaan khawatir akan keselamatan istrinya membuat ia buru-buru bangkit menuju parkiran motor.
"Yat, kemana?" Teriakan seseorang menghentikan langkahnya.
"Ah, kebetulan kamu disini, An... Tolong urus absenku, An... Ada sesuatu yang membuat aku tidak bisa melanjutkan kelas hari ini..." Pinta Hidayat tergesa-gesa sambil mengeluarkan kartu absensinya, lalu menyodorkan kartu itu kepada temannya yang terpelongo melihat sikapnya.
Hidayat melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya semakin kalut setiap kali mengingat isi pesan dari Maira tadi.
Sesampainya ia di rumah sakit, ia langsung mencari keberadaan Maira.
***
Maira shalat isya di mushola rumah sakit. Tadi ketika di hadapan Kirana ia begitu kuat dan berani, namun ketika di hadapan Allah ia mengadukan segalanya. Ia rapuh, menangis sambil berdoa agar hatinya ditetapkan pada jalan yang benar mengenai rumah tangganya dengan Hidayat. Berharap badai yang menerpa cepat berlalu, dan itu hanya singgah sebagai bumbu penyedap dalam rumah tangganya.
"Maira tidak ingin percaya, ya Allah, tapi itulah kenyataannya... Bang Hidayat memang tidak menerima Maira waktu itu... Ya Allah, pemilik hatiku, jangan Engkau biarkan hati ini menerima orang yang salah dan melepas orang yang benar... Jika memang Bang Hidayat adalah jodoh Maira dunia dan akhirat, maka perjelas lah kepada Maira bahwa ia benar-benar yang terbaik untuk diri Maira dan akidah Islam Maira... Juga perkara orang ketiga, ampunilah ia ya Allah, dan sadarkan ia bahwa merusak kebahagiaan orang lain itu salah... Serta, tolong beri juga ia kebahagiaan di sisi lainnya tanpa menoleh kepada kami lagi... Aamiin ya Allah..."
__ADS_1
Maira membuka mukena yang ia pakai dengan perlahan. Sendinya terasa ngilu setelah apa yang ia dengar dan ia saksikan tadi. Betapa gilanya Kirana berbuat hanya untuk merusak kebahagiaan seseorang, dan juga untuk memenuhi obsesinya kepada Hidayat.
Maira kembali ke ruangan dimana Kirana ditangani oleh dokter. Orang yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang dialami Kirana juga telah pulang, sementara ia harus tetap menunggu sampai keadaan Kirana dipastikan sudah baik-baik saja.
Maira teringat akan suaminya. Sambil berjalan, ia mengorek isi tasnya untuk mencari ponselnya. Ia berencana hendak menelepon Hidayat untuk memberitahu keberadaannya sekarang, agar Hidayat tidak khawatir jika ia belum kunjung pulang.
Alangkah terkejutnya Maira ketika dirinya telah berada di pintu masuk ruangan Kirana dirawat. Matanya memerah dan berkaca-kaca melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.
"Maira?" Hidayat yang berada dalam pelukan Kirana juga terkejut. Ia buru-buru melepaskan diri dari cengkeraman Kirana yang memang sengaja membuat bara api di antara mereka berdua.
Tangan Maira yang memegang ponsel di telinganya tiba-tiba terayun. Hampir saja ponsel itu jatuh dari genggamannya.
Ponsel Hidayat yang juga berada di dalam genggamannya sendiri berdering. Ia melihat di layar ponselnya nomor Maira lah yang menelepon.
"Maira..." Panggil Hidayat seraya berjalan hendak mengejar posisi Maira, namun Kirana dengan sigap menahan lengannya.
Air mata Maira mengalir deras. Hatinya semakin perih melihat kenyataan tanpa harus mendengar penjelasan apa-apa. Ia merasa sudah cukup tahu semuanya, dan ia tidak perlu tahu apa-apa lagi. Ini baginya sudah terlalu menyakitkan.
Hidayat menyentak kan tangan Kirana, lalu menoleh pada Maira. Ia sedikit terhuyung mendapati Maira sudah tidak berada disana lagi.
"Mulai hari ini jangan pernah hubungi aku lagi, Kiran... Aku minta maaf karena aku salah memberi janji yang tidak pasti kepadamu, tapi aku sadar bahwa Maira pantas untuk dicintai, dan artinya kita putus..." Ucap Hidayat penuh emosional.
"Tapi, Yat..." Mendengar kata putus, air mata Kirana tumpah ruah. Ia menggeleng cepat sambil tersedu-sedu.
"Aku sudah mantap dengan keputusanku, bahwa aku tidak ingin punya hubungan apa-apa lagi dengan kamu... Cuma Maira, istriku, yang aku cintai..." Ucap Hidayat menepis bantahan Kirana, lalu bergegas keluar mengejar Maira.
.
.
.
.
__ADS_1