
"Aku tidak pernah menyangka, hal yang tidak aku suka sebelumnya malah menjadi hal yang paling aku candu kan sekarang ini... Ternyata tidak sulit mencintainya, yang sulit itu bila jauh darinya sedetik pun, bahkan hanya untuk memikirkan jika ada masanya kami berjauhan... Terima kasih, Allah, telah Engkau labuhkan aku di dermaga hatinya... Tempat ternyaman, juga tempat terindah yang pernah aku rasakan..."
Hidayat tersenyum bila memikirkan bagaimana perjuangan Maira meluluhkan hatinya. Ia tidak tahu apa jadinya jika ia masih saja keras kepala, sementara ia mendengar keluarga kecil Arya sangat berbahagia saat ini. Menikah karena tujuan dan niat yang baik, bismillah percaya Allah juga akan memberikan yang terbaik, maka setiap orang akan merasakan kebahagiaan karenanya.
Setelah genap tiga hari mereka di kota ini, mereka sudah harus packing kembali untuk bersiap pulang. Hidayat mendekati Maira, ia mengelus kepala Maira dengan lembut.
"Sudah puas bulan madunya? Atau mau Abang perpanjang sampai lusa?"
"Terima kasih, Abang... Maira sudah puas, walau sejatinya manusia memiliki rasa tak pernah puas... Tetap saja Maira sudah merindukan rumah... Ini bukan tempat kita, dan tentu Maira tidak terikat disini..." Jawab Maira sambil menghentikan kesibukannya, lalu berbalik menghadap ke tubuh suaminya itu.
"Iya, Abang juga sudah merindukan rumah..." Ucap Hidayat sembari mengusap-usap kepala Maira dan mengecup pipi Maira dengan lembut.
Bulan madu mereka berakhir memuaskan. Hubungan mereka berdua semakin dekat dan mereka saling ketergantungan satu sama lain.
Beberapa bulan berlalu, dan kebahagiaan selalu menemani kehidupan rumah tangga mereka. Rezeki mengalir bagai air deras, dan perencanaan Hidayat untuk membuka cabang di kampungnya pun terlaksana. Suami Rianur yang mengelola, karena ia juga kasihan melihat kakak dan kedua ponakannya harus ditinggal pergi jualan setiap hari oleh Edi.
Ia juga baru saja menamatkan program studinya, dan menunggu beberapa bulan lagi untuk Maira menyusul.
"Alhamdulillah bang Arya dan kak Kirana akan memiliki anak ya, Bang..." Ucap Maira sambil tersenyum, namun di balik itu ia menyimpan rasa gundah dalam hatinya.
"Maira nggak kecewa, kan, kalau kita belum juga? Lagian usia kita juga masih muda kok... Allah tahu mana yang terbaik untuk kita, dan kita hanya perlu bersabar dalam doa dan ikhtiar kita..." Ujar Hidayat sembari menatap Maira dan menggenggam erat tangan istrinya itu.
"Iya, Abang... Maira percaya kok..." Jawab Maira seraya menyenderkan kepalanya ke bahu Hidayat. "Kata dokter kita juga baik-baik saja, dan tidak ada yang perlu dicemaskan... Mungkin memang belum rezeki..."
"Benar, Sayang... Untuk saat ini Maira fokus saja sama kuliah Maira dulu. Nanti setelah Maira wisuda, barulah kita cari solusinya bersama-sama..." Bujuk Hidayat menyenangkan hati Maira yang gelisah.
Maira mengangguk. Ia kemudian kembali menegakkan kepalanya dan menatap Hidayat dengan mata sedikit menyipit.
"Kenapa?"
"Maira bawa apa ya, Bang, untuk kado acara tujuh bulanan kak Kiran besok malam?" Tanya Maira terlihat cemas.
"Apa saja... Nanti Abang temani Maira belanja..." Jawab Hidayat menenangkan hati istrinya itu.
"Oke... Terima kasih, Abang..." Ucap Maira terdengar girang.
__ADS_1
***
Sebelum membungkusnya ke dalam kertas kado, Maira terlihat asik melihat-lihat barang yang dibelinya untuk dibawa ke rumah Kirana dan Arya. Sesekali ia tersenyum sambil menciumi pakaian-pakaian bayi di hadapannya, juga memandang dengan gemes peralatan bayi yang ia beli sendiri.
"Perasaan dari tadi belum ada yang dibungkus juga..." Ucap Hidayat yang sebenarnya sudah sedari tadi memerhatikan tingkah istrinya itu.
"Abang? Abang sini deh... Lihat ini, bajunya cantik-cantik semua... Mana kaus kakinya juga lucu-lucu..." Seru Maira sambil melambaikan tangannya ke arah Hidayat yang masih bergeming di pintu kamar.
Hidayat mendekat. Ia mengecup pucuk kepala Maira, lalu merebahkan kepalanya di atas paha Maira. Ia bergelung di atas tempat tidur dengan berbantalan paha istrinya itu.
"Abang kok malah tiduran sih? Lihat dulu ini..." Rengek Maira sambil berusaha payah mengangkat kepala Hidayat dari pahanya.
"Iya, Abang kan udah lihat tadi..." Jawab Hidayat sambil bertahan tak ingin bangkit.
"Abaaang..."
"Nanti Maira dosa loh..."
"Eh? Kenapa jadi bawa-bawa dosa?" Tanya Maira kebingungan.
"Habis, Maira nggak izinin Abang tidur di paha Maira... Kan ini nyaman..." Dengus Hidayat sambil mengapit erat paha Maira.
"Nanti saja, Mai... Besok juga bisa... acaranya juga malam besok ko..."
"Heeeh..." Maira mendengus pasrah, dan kemudian mengelus-elus rambut Hidayat.
"Emmm, kan ini enak... Abang bisa ketiduran beneran sebentar lagi..." Ucap Hidayat kesenangan.
"Maunya Abang..."
Hidayat tersenyum, namun dalam benaknya ia teringat almarhumah kakaknya. Ia yakin sikap istrinya saat ini persis dengan sikap kakaknya ketika membelikan kado untuk anaknya Santi dulu. Perasaan Maira pastinya juga sama, sangat berharap segera mendapatkan momongan.
Hidayat memejamkan matanya, dan tanpa sadar ia terlelap di pangkuan istrinya itu. Dengkuran halusnya membuat Maira menggeleng-gelengkan kepala. Setelah Hidayat benar-benar terlelap dalam tidurnya yang nyenyak, Maira dengan hati-hati menggeser posisi Hidayat di atas tempat tidur.
Maira mulai berkemas dan membungkus satu persatu peralatan beserta pakaian bayi yang bertebaran memenuhi sebagian tempat tidur mereka, lalu ia menyusul suaminya ke alam mimpi.
__ADS_1
^^^
Jam sudah menunjukkan hampir subuh, dan Hidayat belum juga kunjung pulang. Maira berkali-kali melirik jam dinding dengan raut wajah yang cemas. Ia bahkan telah menamatkan satu juz bacaan Alquran, namun hatinya masih terasa gundah.
Tak lama mesin motor Hidayat terdengar memasuki pekarangan rumah, membuat Maira mulai tersenyum kembali. Ia bersiap hendak menyambut kepulangan suaminya itu ke depan.
Hidayat menyelonong masuk tanpa mengucapkan salam. Ia mengabaikan Maira yang hendak mengulurkan tangan kepadanya. Ia malah menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.
"A-abang kenapa baru pulang?" Tanya Maira terlihat takut-takut.
"Memangnya kenapa? Kamu tidak senang, hah?" Hardik Hidayat.
"Ta-tapi..."
"Ah sudahlah..." Hidayat mengibaskan tangannya. "Aku sudah bosan hidup dengan kamu... Kamu tidak bisa memberi aku keturunan. Jangan-jangan kamu itu mandul seperti abangmu..."
Maira ternganga. Ucapan Hidayat berasa menusuk ke dalam jantungnya yang terdalam. Air matanya mengalir deras begitu saja.
"A-abang kenapa bicara begitu?" Protes Maira tersedu-sedu.
"Memang kenyataannya begitu, kan?" Ucap Hidayat sinis.
Maira semakin tersedu-sedu.
"Sudahlah, sekarang menyerah lah... Aku akan pergi dari rumah ini, dan kamu silahkan menikmati semuanya. Aku tidak peduli... Buat apa banyak harta, tapi tidak menghasilkan kebahagiaan? Bersama kamu, aku tidak akan pernah bisa memiliki keturunan..." Kecam Hidayat dengan suara keras.
"Tapi, Bang..."
"Aku tidak ingin mendengar apa-apa lagi... Hari ini aku putuskan untuk pergi dari rumah ini..." Potong Hidayat seraya berjalan ke kamar untuk mengemasi barang-barang miliknya.
"Abang, Abang... Beri Maira kesempatan, Bang... Maira janji, Maira akan berusaha keras dan melakukan pengobatan apapun..." Ucap Maira memohon. Ia terus mengikuti langkah Hidayat, namun suaminya itu sangat keras hati dan begitu acuh.
.
.
__ADS_1
.
.