
Hari hampir pukul delapan malam, Maira mengganti sprei tempat tidurnya dengan warna mustard kesukaan Zahrana. Sesekali ia menengok ke dinding kamar melihat angka yang tertempel melingkar disana. Seiring jarum di tengahnya berjalan, maka jantungnya semakin berdebar tak karuan.
Ia begitu gugup. Suasana sepi rumah semakin membuat hatinya terasa tak menentu, mengingat ucapan Hidayat tadi pagi terhadap dirinya. Darah dalam tubuhnya semakin mengalir begitu kencang ke ubun-ubun tatkala telinganya mendengar mesin motor Hidayat memasuki pekarangan rumah.
Ia tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini, begitu gugup dan canggung.
"Assalamualaikum..."
"Wa-wa'alaikum salam..." Maira berdiri di samping tempat tidur menatap kedatangan Hidayat. Ia begitu tegang. Tubuhnya menggigil menahan perasaannya.
"Ummm wangi sekali..." Ucap Hidayat sambil menciumi aroma kamar, lalu berjalan ke arah Maira. Ia menyodorkan tangannya, dan kemudian disambut Maira dengan tangannya yang sedikit bergetar.
"Maira kenapa? Kok kelihatannya gugup sekali?" Tanya Hidayat kebingungan.
"Hah? Me-memangnya iya? Perasaan biasa-biasa saja kok, Bang..." Jawab Maira berusaha menetralkan perasaannya.
Hidayat tersenyum. Ia kini mulai menyadari mengapa raut wajah istrinya tak seperti biasa. Hidayat menarik lembut bahu Maira ke sofa.
"Maira sudah shalat?" Tanyanya sembari mengusap pipi Maira.
"Sudah... Abang bagaimana?"
"Sudah juga..."
Tangan Hidayat masih mengusap pipi Maira, sementara matanya tak berkedip menatap manik mata yang juga menatapnya dengan penuh kasih.
"Abang sayang sama Maira..." Ucapnya lirih.
Maira tersenyum sambil mengangguk. Ia menggenggam tangan Hidayat yang berada di pipinya, lalu menyandarkan kepalanya ke telapak tangan suaminya itu.
Hidayat perlahan bergeser, semakin membuat posisi mereka merapat satu sama lain. Ia masih sadar dengan dirinya, namun hal ini sudah tidak lagi punya alasan untuk ia tunda. Ini adalah salah satu kewajiban terbesarnya terhadap Maira, dan sejujur hatinya ia juga membutuhkannya. Ia lelaki normal dan sehat.
Hidayat mulai mengikis jarak di antara wajah mereka, dan Maira perlahan menutup matanya. Tangan Hidayat lainnya memegang tengkuk Maira, lalu ia menyatukan bibir mereka. Mereka sama-sama merasakan kenikmatan yang luar biasa. Ini bukan pertama kali mereka melakukannya, tapi tidak bohong jika mereka dapat menghitung bahwa ini adalah kedua kalinya.
Beberapa menit kemudian Hidayat melepaskannya, dan perlahan Maira juga membuka matanya.
"Maira sudah siap?" Tanya Hidayat sambil menatap lekat mata Maira.
__ADS_1
Maira mengangguk pelan-pelan.
"Kalau begitu Abang mandi dulu, ya... Maira tunggu Abang di tempat tidur sebentar... Abang tidak akan lama..." Ucap Hidayat seraya membuka almamaternya dan kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Tidak hanya Maira, ia juga sangat gugup. Ini juga pertama kali baginya melakukan hubungan yang lebih jauh.
***
Hidayat keluar dari kamar mandi. Baju piyamanya telah berada di tepi tempat tidur. Namun ia merasa heran, Maira malah duduk dengan berselimut disana.
Usai mengenakan piyama, ia bergegas naik untuk mendekati istrinya. Ia tidak ingin bertanya apa-apa, takut merusak suasana hati Maira saat ini. Ia sangat mengerti istrinya masih gadis polos walau mereka telah berbulan-bulan menikah.
Tubuh Maira terlihat tegang saat Hidayat mendekat kearahnya, tampak jemarinya begitu kuat meremas selimut di lututnya.
Hidayat menggamit pipi Maira, lalu mengecup keningnya dengan lembut. Beberapa saat kemudian terdengar bibirnya melafazkan doa di pucuk kepala istrinya itu, membuat hati Maira tersentuh. Doa yang seharusnya sudah lama ia dengar dari mulut Hidayat.
"Bolehkah Abang buka jilbab Maira?" Tanya Hidayat penuh kehati-hatian.
Maira mengangguk. Ia semakin gugup dan memejamkan matanya. Hidayat dengan pelan-pelan menarik jilbab Maira, tampak rambut Maira yang tergulung langsung jatuh.
Melihat kecantikan yang terpancar dari wajah Maira, Hidayat merasakan denyut jantungnya memburu. "Ma-Maira cantik sekali..."
Maira perlahan membuka kembali matanya. Ia melihat Hidayat tercengang menatap kearahnya. Ia tersenyum sambil menggenggam tangan Hidayat.
"Jika Maira cantik, maka Maira berjanji untuk menjaga kecantikan Maira hanya untuk Abang..." Ucap Maira membalas tatapan suaminya itu.
"Terima kasih, Maira... Abang sungguh mencintai Maira..."
"Maira juga..."
Hidayat menarik bahu Maira perlahan-lahan ke bantal. Ia mengecup kening Maira, lalu kedua pipinya, dan kemudian disusul dengan jemari tangannya yang mulai membuka satu persatu kancing baju istrinya itu.
Kali ini Hidayat sedikitpun tidak merasa terganggu, karena sama sekali tidak ada penolakan dari sikap Maira. Istrinya itu tampak menikmati nafkah yang ia berikan malam ini. Hanya saja ia sangat memaklumi, karena mereka sama-sama baru pertama kali merasakan kenikmatan duniawi.
Beberapa kali pelepasan terasa sempurna, dan mereka sudah sama-sama kelelahan. Keringat membasahi tempat tidur, membuat Maira terlihat tidak nyaman. Oblong putih yang sebelumnya tanpa corak sedikitpun, kini terlihat beberapa tanda bukti kesucian yang dimiliki Maira hanya untuk Hidayat semata.
"Terima kasih, Sayang... Abang sungguh-sungguh menyayangi Maira..." Ucap Hidayat sambil melingkarkan tangannya ke leher istrinya itu.
__ADS_1
Maira tersenyum dengan mata yang terpejam. Rasa malu belum kunjung hilang dari hatinya. Ia membenamkan wajahnya ke dada Hidayat yang basah.
Hidayat menarik tubuh Maira ke tepi tempat tidur bagian yang kering. Ia terlihat begitu kelelahan, lalu tak lama tertidur dalam satu selimut bersama Maira.
Dengkuran halus terdengar menelisik telinga Maira. Lambat-lambat ia bangkit dan mencari pakaiannya, lalu turun dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Masih terbayang olehnya surga duniawi yang baru saja ia rasakan.
Maira menitikkan air matanya di depan wastafel. Rasa bahagia bercampur haru membuat ia tak kuasa menahan perasaannya. Cukup lama ia menanti cintanya berbalas, dan malam ini ia merasakannya. Ia benar-benar merasa suaminya hanya mencintai dirinya. Perlakuan lembut yang ia terima begitu tulus.
Karena hari hampir tengah malam, ia hanya bersuci dan berwudhu saja. Ia kemudian kembali ke tempat tidur dan menatap suaminya itu hingga ikut tertidur di sampingnya.
Paginya Hidayat terbangun. Di luar masih terdengar orang mengaji dari toa masjid terdekat. Waktu subuh sudah hampir, namun Maira masih terlelap.
Hidayat tersenyum. Entah mengapa ia tidak ingin jauh dari Maira sedikitpun. Ia mengecup kening Maira begitu lama, membuat istrinya itu terbangun.
"Astaghfirullah hal'azhiim... Sudah jam berapa, Bang?" Maira tersentak dan berusaha bangkit dari tidurnya.
"Jeda di masjid... Belum azan kok... Maira kok seperti terkejut begitu?" Hidayat mengusap-usap kepala Maira. Ia memiringkan tubuhnya ke arah Maira dan menopang kepalanya dengan sikunya sendiri.
"Abang nggak ke mesjid?" Tanya Maira mengalihkan perasaannya karena perlakuan lembut dan penuh kasih dari suaminya itu.
"Iya... Ini Abang mau mandi, tapi rasanya nggak rela saja jauh-jauh dari Maira..."
"Kok gitu?"
"Nggak tau... Mungkin karena Abang benar-benar telah terpesona oleh kecantikan istrinya Abang ini..." Ucap Hidayat sambil mengecup kening Maira.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.... Abang tahu ayat itu, kan? Masih punya istri, belum lagi punya anak dan menjadi sultan..." Tutur Maira sambil mengapit pipi Hidayat yang berada di atas wajahnya.
"Astaghfirullah... Surat Al-Munafiqun ayat sembilan... Iya, Abang mandi terus langsung ke masjid... Terima kasih karena Maira sudah ingatkan Abang..." Ucap Hidayat seraya bergegas menuju kamar mandi.
Maira tersenyum melihat tingkah suaminya yang benar-benar terlihat merasa berdosa.
.
.
.
__ADS_1