
Arya tampak melamun di balkon kamarnya. Ia terlihat frustasi karena sebatang rokok diapit antara jari tengah dan telunjuknya, namun tak kunjung ia hisap. Tampilannya begitu kusut. Sedari tadi ponselnya berdering, ia tampak tak berminat untuk mengangkatnya.
Dobrakan pintu kamarnya membuat ia terkejut seraya menoleh cepat kearah pintu.
"Katanya kamu mau menikahi aku, lalu kenapa masih disini? Kenapa kamu tidak mengangkat telepon dariku?"
Ocehan panjang dari Kirana tak terdengar di telinganya. Ia hanya terpana melihat kedatangan Kirana yang dipikirnya hanyalah sebuah ilusi.
"Arya... Arya... Aryaaa..." Kirana mengguncang bahu Arya sambil meneriaki namanya.
Arya tersentak. "Ki-Kiran?"
"Kenapa? Kamu kira aku hantu? Kenapa menatapku begitu?" Kirana duduk di hadapan Arya, lalu merampas rokok di tangannya. Kirana mematikan api rokok itu di dalam asbak yang ada di meja kecil samping mereka.
"Kenapa kamu bisa sampai di rumahku? Bukankah malam ini kamu akan menikah?" Tanya Arya terheran-heran.
"Lalu, kamu tidak ingin menyaksikannya?" Balas Kirana dengan ketus.
"Apa? Menyaksikan pernikahanmu? Aku baru saja kamu tolak, lalu bagaimana mungkin aku sanggup menjadi tamu untuk pernikahan perempuan yang menolak ku? Aku punya harga diri..." Ucap Arya beralasan.
"Kalau begitu, kamu yang mengucapkan akad nanti malam..." Cetus Kirana mengejutkan Arya.
"Maksudmu?"
"Bukankah kamu ingin menikah denganku? Ayo, siap-siap..." Perintah Kirana dengan wajah menantang.
Arya tersenyum sumbang. "Tunggu deh... Sedari tadi ku kira kamu ngawur..."
"Aku tidak ngawur... Aku sudah memberitahu saudara dekatku, paman juga tanteku... Mereka akan datang ke pernikahan kita nanti malam..." Ujar Kirana begitu meyakinkan.
"Aku belum mempersiapkan apa pun..." Protes Arya masih dalam ketidakpercayaannya.
"Tidak perlu mempersiapkan apa pun, yang penting kamu nya siap menikahi aku..." Bantah Kirana.
"Aku siap..." Jawab Arya cepat.
"Tapi satu sarat untukmu..." Kirana menatap Arya penuh selidik.
"Apa Memangnya?"
"Jawab jujur, apa alasan kamu mengajakku untuk menikah?" Tanya Kirana terlihat mengharapkan jawaban yang baik dari Arya.
__ADS_1
"Jika aku mengatakan demi Maira dan Hidayat, apa kamu akan mempertimbangkan kembali?" Arya menatap Kirana dengan ragu-ragu.
"Tapi kenapa harus demi mereka?" Raut wajah Kirana berubah sendu.
"Bohong jika aku bilang rasa cinta di masa lalu masih besar untukmu, Kiran... Tapi jujur, setelah aku tahu bagaimana kamu berjuang selama ini, rasa bersalah mengganggu kenyamanan hidupku..." Tutur Arya.
Kirana terlihat urung, membuat Arya dilema.
"Tapi kamu harus percaya, cinta itu akan kuat setelah pernikahan, jika kita mulai dengan niat baik..." Sambung Arya cepat untuk meyakinkan Kirana.
"Aku berharapnya juga begitu, karena jujur perasaanku saat ini masih untuk Hidayat..." Ungkap Kirana.
Arya termangu. Ada perasaan aneh di dalam hatinya ketika mendengar pengakuan Kirana. Mungkinkah ia cemburu?
"Pikirku memang begitu, tidak salah jika kamu melamar aku karena Maira..." Ucap Kirana lagi sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Aku pun bingung, kenapa Maira begitu kekeh menginginkan pernikahanmu dengan suaminya sendiri?" Ujar Arya.
"Karena aku terlalu ganjen, sehingga dia tidak mau suaminya berdosa karena aku... Sama halnya seperti ibuku..." Kirana menghela napas berat, begitu pun Arya, ia terlihat simpati mendengar penuturan Kirana yang tiba-tiba bercerita tentang ibunya.
"Almarhumah ibuku merelakan ayah menikah lagi dengan ibunya Ayu karena ibu tidak mau ayah malu. Hampir setiap saat ibunya Ayu meneror keluarga kami, meminta pertanggung jawaban untuk kehamilannya. Dia mengaku-ngaku kalau ayah telah menghamilinya, padahal dia telah hamil dengan lelaki lain sebelumnya, lelaki yang menelepon ayah waktu itu..."
Arya tidak tahu harus berbuat apa, namun yang pasti ia sangat merasa bersalah karena tidak pernah mengerti dengan Kirana selama ini.
"Kamu..."
"Aku baru saja tahu dari tanteku... Mendengar aku akan menikah dengan lelaki yang sudah beristri, dia menjadi kecewa... Tanteku bilang, aku akan seperti ibu tiriku yang telah merusak kebahagiaan perempuan lain... Dituding sebagai pemilik watak antagonis saja hatiku panas, apalagi jika sampai seseorang memanggilku pelakor..." Tutur Kirana terlihat dipenuhi penyesalan.
"Berhias lah... Aku akan segera datang ke sana... Aku perlu memberitahu om ku juga sebagai keluarga satu-satunya yang aku miliki selain ibu... Ibuku terlalu sibuk. Jika ia tidak datang, jangan kecewa... Selama ini aku juga tidak dekat dengannya, makanya aku senang bisa mengenal Bu Zainab dan ibunya Maira..." Tutur Arya sembari menatap Kirana dengan wajah yang begitu tulus.
***
Hidayat menelan kasar ludahnya sendiri. Ia begitu gugup melihat Kirana telah datang dengan gaun putih yang ditaburi full Payet. Jantungnya berdegup kencang. Seketika tangannya terasa dingin. Ia menggenggam tangan Maira begitu erat, seolah mengisyaratkan penolakannya.
Maira menahan air matanya agar tak jatuh di malam berbahagia bagi Kirana. Ia membalas genggaman tangan Hidayat untuk menguatkan suaminya itu
"Akhirnya calon pengantin wanita datang juga..." Ucap seorang tamu undangan.
"Terima kasih, Mai, kamu sudah banyak membantuku..." Kirana datang menghampiri Maira dan memeluknya.
Maira hanya tersenyum berat, sedangkan keluarga Hidayat menatap Kirana begitu tajam.
__ADS_1
"Oh, ya, kenalkan ini Tante dan Pamanku, Mai..." Ucap Kirana sambil menunjuk seorang perempuan dan lelaki paruh baya di sampingnya.
Maira tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Saya Maira, Tante..."
"Apa pernikahan ini sudah bisa kita mulai?" Tanya bapak penghulu kepada mereka. Seketika semua menjadi tegang.
"Sudah, Pak..." Sahutan terdengar dari pintu masuk masjid. Arya beserta rombongannya telah berdiri disana dengan wajah penuh suka cita.
"Bang Arya...?" Hidayat tercengang menatap Arya yang berjalan kearahnya.
"Abang berhasil, Yat... Abang berhasil mendapatkan kembali cinta Abang yang pernah hilang..." Ucap Arya sambil mendekap kedua bahu Hidayat. "Terima kasih sudah memberitahu Abang malam itu, sehingga Abang berani melamar Kirana..."
"Ja-jadi?" Hidayat menatap lekat wajah Arya seolah tak percaya.
"Sana, ganti pakaianmu... Abang tidak ingin ada dua mempelai pria malam ini..." Suruh Arya seraya mendorong bahu Hidayat.
"Maksud bang Arya apa?" Tanya Maira terlihat kebingungan dengan suasana antara suaminya dan Arya.
"Kirana ini tunangan Abang, Mai... Hanya karena kesalahpahaman, kami menjaga jarak tanpa adanya keputusan. Namun ketika Abang ingin kembali, ternyata Kirana membuka lebar kesempatan untuk Abang..." Terang Arya menjelaskannya kepada Maira.
Maira masih dilanda kebingungan, ia menoleh perlahan kearah Kirana yang tersenyum-senyum kepadanya.
Kirana mengangguk. "Aku mungkin mau saja menikah dengan lelaki yang tidak mencintaiku, tapi aku tidak akan mau menikah dengan lelaki yang tidak aku cintai, Mai..."
"Maksud Kak, Kiran...?" Tanya Maira masih dalam ketidakpahamannya.
"Ya, saat ini perasaan kami mungkin masih jeda, tapi siapa yang tahu besok kami akan saling jatuh cinta lagi... Karena tidak sulit bagiku untuk jatuh cinta pada sosok Arya Irawan..." Jawab Kirana sambil menoleh pada Arya yang tersenyum haru menatapnya.
"Kak Kiran..." Maira terlihat kehabisan kata-kata. Air matanya meleleh, namun untuk pertama kalinya ia bisa tersenyum bahagia kembali.
"Di antara dua pilihan, aku lebih memilih menerima Arya yang mau berkomitmen untukku, dibanding aku harus menyakiti perasaan perempuan lain... Maafin aku selama ini telah menjadi benalu dalam rumah tangga kalian, Mai..." Ucap Kirana mengakui kesalahannya. Tampak setetes air bening mengalir di sela-sela matanya.
Maira mengangguk, lalu memeluk Kirana begitu erat.
.
.
.
.
__ADS_1