Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku

Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku
52. Pernikahan Rizki


__ADS_3

Sore hari Hidayat dan Maira terlihat begitu letih ketika sampai di perkampungan tempat kediaman Rizki dan keluarganya. Acara pernikahan karyawan terlama di kiosnya itu akan diadakan esok pagi, namun rumah panggung mereka yang masih terlihat kokoh telah ramai dipadati para tetangga.


Di halaman rumah telah berdiri tenda-tenda yang di bawahnya telah berjejer kursi plastik untuk tamu dan juga tenda pelaminan. Sementara di samping rumah digunakan para ibu-ibu memasak makanan untuk jamuan pesta. Anak-anak tetangga ikut meramaikan rumah itu, serta para muda-mudinya sibuk mendekor bagian kamar pengantin.


"Assalamualaikum..." Ucap Hidayat bersama Maira.


"Wa'alaikum salam..." Rizki dan keluarganya begitu antusias menyambut kedatangan mereka, karena memang sebelumnya mereka telah pernah datang ke sana dalam acara pertunangan Rizki dengan calon istrinya.


"Ayo masuk, Nak Maira, Nak Hidayat..." Sambut ibunya Rizki sembari menarik lengan Maira dengan bangganya memasuki rumah mereka yang berjenjang ke atas. "Rizki, siapkan air hangat untuk induk semang mu, biar Ibu dan Lela menyiapkan hidangan..."


"Nggak usah repot-repot, Bu... Maira kalau mandi mau pakai air dingin saja..." Ucap Maira begitu santun. Mereka duduk bersila di atas tikar lipat anyaman plastik yang membentang di tengah-tengah rumah yang dindingnya masih kayu.


"Ah, tidak repot, Nak... Kalian yang sudah mau repot-repot datang kemari, dan ibu sangat senang sekali... Ibu merasa bahagia karena Rizki punya induk semang yang baik seperti nak Hidayat dan Nak Maira..." Ucap Ibunya Rizki dengan mata berkaca-kaca.


"Kami juga senang sekali bisa mengenal Rizki dan keluarganya, Bu... Kita begitu dekat tanpa merasa asing satu sama lain..." Tutur Maira terdengar tulus.


Ibunya Rizki mengangguk senang.


"Ayah mana, Bu?" Tanya Hidayat celingak-celinguk ke luar jendela kayu yang masih terbuka di belakangnya.


"Tadi ada urusan ke rumah pak RT, sebentar lagi pulang... Beliau tadi juga sudah tidak sabaran menunggu kedatangan Nak Hidayat dan Nak Maira..." Jawab ibunya Rizki.


Setelah mengobrol santai, Maira dan Hidayat membersihkan diri, dan kemudian mereka ikut nimbrung ke dalam keramaian. Maira dengan mudahnya akrab bergaul bersama ibu-ibu tukang masak, sementara Hidayat membantu para pemuda memasang tenda yang masih belum berdiri.


Sesekali Hidayat memerhatikan istrinya dari kejauhan. Ia tersenyum, bangga melihat Maira yang begitu cantik luar dalam. Senyuman ramah dan tulus terpancar dari aura wajah manis istrinya.


"Neng Maira nggak akan lari kok, Yat..." Tiba-tiba Abangnya Rizki datang menggoda Hidayat.


"Eh, Bang Nasrul..." Hidayat menyeringai. Ia seakan terjebak oleh candaan yang dilontarkan lelaki dengan paras wajah hampir mirip Rizki itu. Ia menunduk malu-malu karena tertangkap basah sering mencuri pandang ke arah Maira.


"Emm, anak-anak mana, Bang?" Tanya Hidayat mengalihkan perasaannya.


"Pergi ngaji ke MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah)... Palingan habis isya baru pulang... Mereka shalat magrib dan isya jamaah dulu di masjid..." Jawab Nasrul.

__ADS_1


"Owh... MDA-nya yang di atas masjid ya, Bang...?"


"Iya, benar..."


"Waktu kesini pertama kali, aku tidak sempat shalat di masjid... Nanti Maghrib mau ke sana saja shalatnya..." Ujar Hidayat.


"Barengan saja, Yat... Dekat jalan kaki... Atau kalau mau, pakai motor butut Abang saja..."


"Nggak usah, Bang... Jalan kaki saja, kita pergi juga ramai-ramai..." Tolak Hidayat berusaha menyetarakan dirinya. Sejak ia datang, bahkan waktu pertama kali mereka begitu diagungkan oleh keluarga Rizki.


***


Suasana rumah mulai terdengar sepi. Orang rumah sudah tidur, tinggal orang tua Rizki yang sesekali berjaga karena besok hari pernikahan putra bungsunya. Hidayat membaringkan tubuhnya di antara lelaki lainnya di tengah-tengah rumah. Mereka tidur beralas karpet tebal dan selimut ala kadarnya.


Hidayat begitu gelisah. Bukan tempat yang sempit atau alas tidur yang tidak nyaman, melainkan pusat pikirannya tertuju pada istrinya yang berada di dalam kamar bersama istri Nasrul dan kedua anaknya.


Ia bangkit sedikit untuk menoleh pada Alan yang berada di sampingnya. Karyawannya itu tampak tertidur pulas. Ia melenguh, lalu membaringkan tubuhnya kembali.


Matanya sulit terpejam. Ia jadi tidak mengerti sendiri, mengapa ia bisa gelisah begini. Padahal dulunya sewaktu masih bujangan, ia bahkan tidak masalah tidur berdempetan dengan kawan-kawan sama lajang dengannya di kampung.


"Abang belum tidur?" Tanya Maira tanpa bersuara. Ia hanya menggerakkan bibirnya, namun Hidayat bisa mengerti ucapannya itu.


Hidayat menggeleng sendu. Matanya yang memerah menjelaskan bahwa ia sangat lelah dan mengantuk.


"Tidurlah... Maira akan temani..." Ucap Maira lagi.


Hidayat mengangguk pasrah. Ia menarik selimutnya hingga menutupi semua tubuhnya. Setidaknya malam ini ia bisa melihat wajah istrinya, walau ia tidak bisa tidur di samping istrinya itu.


Subuh nya Hidayat terbangun. Terlihat beberapa orang sudah tidak berada di posisi mereka. Ia bergegas mencari ponselnya. Ternyata ia bisa tertidur semalaman karena ada Maira yang menemaninya di balik layar.


"Abang sudah bangun rupanya..." Ucap Maira sedikit berbisik, mengingat suasana yang masih gelap di luaran sana. Ia menghampiri posisi Hidayat, lalu melipat selimut suaminya itu. "Abang mau mandi? Atau mau langsung ke masjid..."


"Dingin, Sayang... Abang langsung ke masjid saja..." Jawab Hidayat di sela-sela menguap.

__ADS_1


"Ya, sudah, Abang siap-siap sekarang... Rizki dan yang lainnya masih bergantian di kamar mandi belakang... Abang ambil wudhu di toilet masjid saja... Maira ambilkan tas sabun dulu..."


Waktu terus berjalan. Keluarga besar karyawannya itu tampak sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara pernikahan Rizki yang diadakan di masjid.


Acara nikahan berjalan dengan lancar dan khidmat. Di masjid hanya dihadiri oleh keluarga inti Rizki dan istrinya saja, juga oleh Maira dan Hidayat beserta karyawan kios lainnya yang ikut hadir disana.


Acara berlanjut di pelaminan. Para tamu undangan mulai hadir silih berganti. Menyalami dan berphoto dengan kedua mempelai.


"Oh ya, Ki... Ini kado dari bang Arya dan Kirana... Mereka pasti sudah nelpon kamu, kan?" Hidayat menyodorkan sebuah kado kepada Rizki.


"Iya, Bang... Dua hari yang lalu bang Arya menelepon. Saya berdoa agar proses lahiran kak Kirana berjalan lancar." Ucap Rizki.


"Aamiin..."


Malamnya mereka berkumpul bersama, hanya Rizki yang tak nampak batang hidungnya, karena malam ini ia sudah berada di kediaman keluarga istrinya.


"Terima kasih Nak Hidayat sampai detik ini masih sudi memperkerjakan Rizki di tempat nak Hidayat dan Nak Maira..." Ucap ayahnya Rizki dengan mata tampak berbinar.


"Rizki pemuda baik, jujur dan amanah, Yah... Almarhum bang Ajiz yang telah mempekerjakannya dulu..." Balas Hidayat berusaha merendah diri.


"Iya... Besar sekali jasa almarhum, dan tetap saja ada jasa nak Hidayat... Dulu kami susah... Bersyukur sekali Rizki bisa mengadakan pesta pernikahan yang cukup besar seperti ini... Dulu ketika pernikahan Nasrul, kami hanya sanggup mengadakan syukuran kecil-kecilan saja..." Tutur Ibunya Rizki menimpali.


"Itu karena Rizki yang pandai-pandai mengatur keuangannya, Bu..." Ucap Maira.


"Iya, Nak... Dia orangnya memang begitu... Dia yang bantu renovasi rumah sedikit demi sedikit. Acara pernikahan ini juga uangnya, dia kumpulkan selama tujuh tahunan terakhir. Semenjak ia kerja dengan almarhum Ajiz... Ya, memang waktu itu sempat kepakai saat ia berhenti kerja karena kios almarhum Ajiz kebakaran..." Cerita Ibu.


Hidayat dan Maira saling pandang. Ada rindu menelisik, menyusuri ruang hati mereka.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2