Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku

Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku
55. Kabar Gembira Dalam Kesedihan


__ADS_3

Jantung Maira berdegup kencang. Dadanya kembang-kempis menahan perasaan yang begitu tidak nyaman. Tak terputus shalawat nabi berdesir di bibirnya sejak telepon dari Arya yang memintanya agar segera menuju rumah sakit.


Ibunya yang melihat kegundahan di wajahnya segera mendekapnya dengan erat. "Tidak apa-apa, Nak... Serahkan semuanya kepada Allah..."


Mendengar hal itu Maira tak tahan untuk tidak mengeluarkan air matanya. "Astaghfirullah hal'azhiim... Astaghfirullah hal'azhiim... Astaghfirullah hal'azhiim..."


Walau Bu Zainab terlihat tenang, namun ia juga merasa gelisah. Ia melihat sesuatu yang membuat hatinya terasa sesak dalam raut wajah menantunya itu.


Mereka sampai di rumah sakit As-syifa, dan langsung menuju ke UGD.


"Assalamualaikum, Bang Arya..." Ucap Maira langsung menghadap Arya yang berdiri di pintu masuk UGD.


"Wa'alaikum salam..." Arya menatap Maira dengan tatapan kosong, lalu berjalan menuju keempat orang tua yang juga menatapnya dengan tanda tanya. Ia menyalami mereka satu persatu.


"Mana bang Hidayat, Bang?" Tanya Maira begitu tidak sabaran.


"Hidayat... Emmm..." Arya mulai gugup.


"Apa yang terjadi, Nak Arya?" Umayyah ambil alih. Beliau tak tahan untuk menyimpan kegelisahan yang sebenarnya beliau tutupi sedari tadi.


Arya menunduk. Ia tampak belum siap bicara apapun kepada keluarga Hidayat.


"Assalamualaikum..." Rizki datang bersama dengan karyawan kios lainnya.


"Wa'alaikum salam..." Jawab mereka serentak menoleh.


"Gimana keadaan bang Hidayat, Bang?" Alan langsung bertanya dengan panik.


"Bang Hidayat?" Maira tercengang untuk sesaat.


"Apa yang terjadi pada Hidayat, Nak? Dimana dia?" Tanya Bu Zainab dengan bibir bergetar.


Alan dibuat kikuk melihat kebingungan di wajah Maira dan orang tua serta mertuanya. Mereka tidak tahu jika ternyata Arya belum memberitahu Maira dan kedua orang tua serta mertuanya tentang kecelakaan yang menimpa Hidayat.


"Hidayat ada di dalam, Bu..." Pertahanannya goyah. Air matanya berlinang, namun sebisa mungkin ia tahan agar tidak jatuh. "Tadi Arya tidak sengaja melihat Hidayat turun dari mobil ambulans. Dia kecelakaan, Bu..."


Hening.


Maira ternganga. Tiba-tiba ia merasa dunianya runtuh. Ia menjadi lemah, lalu ambruk begitu saja.


Ketika ia tersadar, ia melihat ke sekelilingnya. Ia sudah berada di ruang rawat, ditemani ibu dan ibu mertuanya.


"Maira?" Panggil ibunya. Ada senyum, namun air mata juga mengalir membasahi kedua pipi ibu dan ibu mertuanya itu.


"Ibu..." Maira tersedu-sedu. "Ibu..."


"Tenang, Sayang... Tenang, Nak..." Ucap Bu Zainab sambil menggenggam tangan Maira.


"Abang, Bu..." Tangisnya semakin menjadi-jadi ketika terpikir suaminya lagi.


"Suami Maira sekarang sedang ditangani dokter... Maira harus tenang, ya, Sayang... Karena kita juga punya kabar gembira untuk Maira..." Tutur ibunya dengan suara yang begitu lembut.

__ADS_1


"Kabar gembira apa di tengah kesedihan ini, Bu?" Tanya Maira terlihat kecewa dengan keadaan.


"Maira hamil, Sayang... Sebentar lagi Maira akan jadi ibu, dan nak Hidayat akan jadi Ayah..." Jelas ibunya sambil tersenyum, namun juga dengan air mata yang tak berhenti berlinang.


Maira tercengang. Wajahnya yang muram dan matanya yang sayu tetap menandakan dirinya masih terpukul, meski kabar kehamilannya adalah hal yang paling ia tunggu selama ini.


Bu Zainab mengangguk sambil terus mengelus tangan Maira. Beliau sangat tahu bagaimana perasaan Maira yang begitu besar untuk putra bungsunya itu.


"Maira hamil ya, Bu...?" Ia tersenyum, namun meraung dalam senyumnya itu.


"Iya, Sayang..." Jawab Ibunya dan ibu mertuanya bersamaan.


"Alhamdulillah... Maira sekarang mau menemui Abang, Bu... Maira mau kasih tahu kalau di dalam rahim Maira sudah bersarang benih cinta kami..." Ucap Maira menceracau. Hatinya remuk. Ia sangat terpukul saat ini. Suami yang sangat ia cintai terbaring di ruang UGD dan belum ia ketahui bagaimana kondisinya.


Ibunya dan ibu mertuanya bersegera menahannya. "Tenang, Nak... Tenang... Ibu mohon..."


Bu Zainab sampai terisak-isak memeluk Maira. Hatinya sebagai ibu juga sangat hancur untuk saat ini. Ini bukan yang pertama kali ia melihat anaknya terbaring bertaruh nyawa di rumah sakit. Rasa trauma masih membekas di pikirannya, namun ia tahan demi menantunya itu.


"Untuk kali ini Ibu yakin, anak Ibu yang tengah berada di ambang maut akan selamat... Ibu percaya Allah akan memanjangkan umurnya... Ibu percaya Allah akan sehatkan ia, dan mengizinkan ia berkumpul lagi bersama kita... Tolong, Nak... Tolong kuatlah demi Ibu, demi suamimu, dan demi calon bayi kalian..." Rintih Bu Zainab memohon.


Maira terengah. Ia menarik lututnya ke dalam dekapannya sendiri, lalu menangis sejadi-jadinya. Puas menangis, Maira kembali tidak sadarkan diri.


***


Arya memasuki ruangan tempat Kirana dirawat. Di dalam telah berada Mamanya dan juga Ayu. Mereka tampak bahagia dengan keberadaan putra pertama Kirana dan Arya.


"Sayang, tadi Ayu kok dijemput sama Rizki? Kamu kemana memangnya?" Tanya Kirana ketika Arya berjalan kearahnya.


"Maira pingsan?"


"Iya, Alhamdulillah kabar baik, Sayang..." Jawab Arya berusaha tersenyum.


"Kabar baik bagaimana?" Tanya Kirana lagi semakin dibuat kebingungan.


"Maira hamil, Sayang..."


"Ya Allah... Beneran, Sayang?" Kirana sampai ternganga mendengar pernyataan suaminya itu.


"Iya... Sayangnya kehamilannya lemah, Sayang... Jadi, dia harus dirawat dulu..." Ujar Arya berusaha meyakinkan Kirana. "Tidak mengapa kalau mereka belum kemari, kan, Sayang? Kasihan Maira..."


"Aaa... Padahal aku mau ngucapin selamat buat dia... Dua kali selamat malah... Selamat untuk wisudanya, juga selamat untuk kehamilannya..." Protes Kirana.


"Nanti juga bisa, Sayang..."


"Aku telepon dia ah..." Ucap Kirana seraya mengangkat ponselnya yang ia letakkan di sisi kanannya.


"Eh, jangan dulu..." Cegat Arya dengan cepat.


"Kenapa?" Kirana sedikit terkejut melihat reaksi suaminya itu. Ia menatap Arya dengan curiga.


"Tadi, emmm... Tadi Maira masih pingsan, Sayang... Dia masih belum bisa diganggu... Kalau sudah baik-baik saja, nanti ibu dan ayah mereka bakal kemari kok..." Tutur Arya beralasan. Ia sendiri sangat tidak ingin istrinya itu tahu keadaan yang sebenarnya, karena ia tahu kabar itu akan menggangu kesehatan Kirana yang baru saja habis melahirkan.

__ADS_1


"Owh, begitu..." Ucap Kirana terlihat kecewa.


Mama Arya menatapnya juga dengan perasaan iba. Beliau sudah sangat mengenal putranya sendiri, dan apa yang disembunyikan Arya dari mereka.


"Kalau Ayu boleh lihat kak Mai-Mai nggak, Bang?" Tanya Ayu.


"Jangan dulu ya, Sayang... Mending Ayu main sama dedek bayi disini..." Larang Arya dengan lembut.


"Baiklah..." Jawab Ayu menurut.


"Kalau Mama, boleh?" Tanya mamanya.


"Boleh, Ma..."


"Bisa anterin Mama ke sana?"


Arya melirik Kirana.


"Nggak apa-apa, Sayang... Kan, ada Ayu..." Ucap Kirana seolah mengerti tatapan Arya.


"Terima kasih, Kiran..." Ucap mama Arya.


"Iya, Ma... Mama hati-hati... Mama kan masih capek..."


"Iya..." Belia mengembalikan bayi itu ke dalam gendongan Kirana.


"Ayo, Ma..." Ajak Arya.


Sampai di luar, mamanya menatapnya tajam penuh selidik. "Ada apa sebenarnya, Ar?"


Arya menghela nafas panjang. Ia menghenyakkan tubuhnya di kursi tunggu rumah sakit. "Hidayat kecelakaan, Ma..."


"Astaghfirullah hal'azhiim... Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" Mamanya begitu terkejut mendengar berita tentang Hidayat.


"Kata dokter, Hidayat mengalami cidera kepala berat, Ma... Dia masih koma..." Jawab Arya lesu.


"Ya Allah... Lalu bagaimana dengan Maira, Ar?"


"Maira masih lemah, Ma... Di masih di ruang perawatan... Mama nanti gantian jagain Maira sebentar ya, Ma... Biar ibu dan Ayah bisa nemuin Kirana... Kirana belum boleh tahu, Ma..." Pinta Arya memelas.


"Iya, Ar... Iya..."


"Doain Hidayat, Ma... Dia memang bukan anak Mama juga, tapi bagi Arya dia sudah seperti adik kandung Arya..." Pinta Arya Lagi sambil menggenggam tangan mamanya.


"Iya... Bagi Mama, mereka sudah seperti keluarga sendiri... Dari mereka Mama sadar arti keluarga..." Ungkap mamanya sambil mengelus-elus punggung Arya untuk menguatkan anak semata wayangnya itu.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2