Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku

Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku
25. Demam


__ADS_3

Kirana berjalan menuju apartemennya. Hatinya masih saja terasa sakit setelah melihat keharmonisan Hidayat dan istrinya tadi. Rasanya ia ingin menyerah, namun di lain sisi hatinya, ia tak rela.


Sesampai di dalam apartemennya, Kirana langsung saja menghenyakkan tubuhnya ke atas kasur. Beberapa kali ponselnya berdering hanya ia abaikan begitu saja. Hatinya terlalu lelah jika harus mendengar ucapan ibu tirinya pula. Sebab, ia yakin tidak ada hal lain selain uang yang akan dibicarakan oleh ibu tirinya itu.


Kirana kembali mengenang masa-masa ia bersama Hidayat, masa dimana Hidayat belum menikah dan selalu membuat dirinya tersenyum. Ia memandangi foto kecil mereka yang beberapa hari ini selalu ia simpan dekat dengan jangkauannya.


"Aku tidak yakin dengan mudahnya aku bisa jatuh cinta kepadamu, Yat... Tapi, mengapa rasanya sakit jika melihat kamu dengan istrimu saling melontarkan senyum begitu? Kamu lupa dengan janjimu, kah? Kamu tidak sedang bersandiwara di depan siapa-siapa, Yat. Cuma kalian berdua disana..." Ucap Kirana dalam kesedihannya. Ia terisak sendiri mengingat cerianya Hidayat bersama Maira tadi.


"Ayah..." Kirana tersedu. Ia tak kuasa menahan perih di hatinya.


Di sisi lain, Hidayat terlihat begitu bahagia bersama Maira. Usai membersihkan diri, mereka langsung membaringkan tubuh di atas tempat tidur. Meski Maira menghadapi Hidayat dengan senyuman, namun hatinya masih bertanya-tanya, mengapa suaminya itu belum juga meminta hak kepada dirinya?


Ia pun juga tidak berani untuk menawarkan diri. Ia berharap yang membuka kerudungnya adalah suaminya sendiri jika mereka di kamar berdua, melihat mahkota terindah miliknya dengan bangga.


"Besok Maira ada kuliah pagi, sekarang kita tidur, ya... Maira pasti lelah..." Ajak Hidayat sembari menatap Maira dengan binar bening matanya. Jari telunjuknya juga sibuk mengusap-usap pipi Maira yang lembut dan halus.


Maira hanya tersenyum. Ia berusaha menyembunyikan rasa gugupnya karena penasaran dirinya terhadap sikap Hidayat.


Maira memejamkan matanya. Bohong jika ia merasa bahwa ia tidak lelah malam ini. Melihat kepolosan wajah Maira, Hidayat mengecup keningnya.


Gejolak perasaannya semakin menggebu-gebu. Jantungnya berdegup kencang, dan besar keinginannya untuk bisa memiliki Maira seutuhnya malam ini. Tapi ia tidak berdaya karena kebodohannya, kebohongan dirinya menghambat itu semua.


Hidayat menggenggam tangan Maira dengan sangat erat. Memeluk lengan istrinya itu, lalu tertidur dengan keringat bercucuran.


Di pertengahan malam, Maira terbangun karena merasa tangan kirinya begitu kebas. Ia tersentak melihat wajah Hidayat dipenuhi keringat, rambutnya yang tebal juga terlihat berkilau karena cahaya lampu. Terdapat titik-titik keringat di ujung rambut suaminya itu.


Maira mengerlingkan matanya menghadap kearah tangannya yang masih kaku dan terasa hangat. rupanya Hidayat mengunci tangannya itu dengan sangat erat. Ia mulai beringsut perlahan-lahan, lalu menyeka keringat di dahi suaminya.

__ADS_1


"Astaghfirullah..." Maira terkejut. Ia baru menyadari bahwa wajah Hidayat terlihat sangat pucat, dan suhu tubuhnya terasa sangat panas.


"Abang..." Panggil Maira panik.


"Emmm..." Hidayat melenguh sebentar, lalu kembali tertidur. Deru nafasnya tersengal.


"Yaa Allah, Abang demam..." Ucap Maira semakin terlihat cemas. Maira berusaha sekuat tenaganya membenarkan posisi tidur Hidayat. Hawa tubuh suaminya yang panas, membuat ia meneteskan air mata.


"Maira, maafin Abang..." Ucap Hidayat terdengar lemah dalam igauannya. "Maafin Abang, Mai....Maira jangan marah... Maria jangan tinggalkan Abang..."


Maira terpana sesaat, namun Hidayat tak kunjung membuka matanya. Hanya tetes air matanya yang menjelaskan kesedihan di hatinya. Walau ia dalam keadaan tidak sadar, namun wajahnya yang pucat, dan bibirnya yang kering membuat ia terlihat sempurna menyimpan kepedihan.


"Maira tidak kemana-mana... Maira akan tetap disini bersama Abang... Abang tunggu sebentar, ya... Maira ambil kompres dulu..." Ucap Maira begitu panik. Ia terlihat kehabisan akal menghadapi situasi seperti ini. Melihat suami yang dicintainya tengah terbaring sakit.


Ia bergegas mencari kotak obat, lalu kembali ke sisi Hidayat dengan tubuh gemetar. Ia meletakkan termometer pengukur suhu tubuh ke dalam mulut suaminya itu, lalu sambil menunggu, ia sesekali menyeka keringat Hidayat dengan handuk kecil.


"Abang kok bisa demam begini sih? Semalam Abang kan baik-baik saja..." Keluh Maira. Ia tidak kuasa menahan air matanya yang terus saja mengalir.


Maira merawat Hidayat dengan penuh kasih. Sesekali ia terisak, menyeka air matanya sendiri karena merasa tidak tega melihat suaminya begitu lemah.


Hampir sejam ia dibuat kalang kabut oleh keadaan Hidayat, dan sekarang suhu tubuh suaminya itu kembali normal. Ia mulai sedikit tenang.


Masih pukul setengah dua malam, Maira kembali membaringkan tubuhnya di samping suaminya. Ia berharap agar tetap terjaga untuk menjaga Hidayat yang sudah mulai tidur dengan tenang, namun tubuhnya yang lelah tidak mengizinkan. Ia tertidur kembali.


***


Azan subuh berkumandang. Hidayat terjaga dari tidurnya. Ia merasa di keningnya ada sesuatu, membuat ia sedikit risih. Perlahan tangannya menjangkau sesuatu yang menempel di keningnya itu.

__ADS_1


"Kain kompres?" Gumamnya kebingungan. Ia segera bangkit dari tidurnya, dan barulah ia merasa tubuhnya begitu aneh.


Hidayat menoleh ke samping, tampak Maira masih terlelap dalam tidurnya. "Memang sedikit lesu rasanya, tapi Abang tidak sadar kalau Abang semalam demam... Pasti Abang merepotkan Maira..."


Hidayat mengecup pipi Maira dengan sangat hati-hati. Ia takut mengganggu tidur istrinya yang masih terlihat kelelahan, lalu ia turun menuju ke kamar mandi.


Maira terbangun. Walau bagaimanapun ia sudah terbiasa bangun pagi. Ia melihat Hidayat tidak di sampingnya lagi. Ia bergegas menyusul ke kamar mandi. Ketika ia hendak mengetuk pintu kamar mandi, Hidayat telah terlebih dahulu membukanya dari dalam.


Maira terkejut dengan mata membulat, sementara tangannya masih mengambang sejajar dengan telinganya. Dadanya kembang kempis melihat sosok Hidayat berdiri di hadapannya dengan berbusana handuk bewarna coklat muda menutupi bagian pinggang hingga lututnya, hampir menyamai warna kulit suaminya yang kuning Langsat itu.


"Maira?" Panggil Hidayat membuat Maira tersentak lalu spontan membalikkan badannya membelakangi suaminya itu.


"Maaf, Maira kira... Emm..." Ucap Maira gugup. Wajahnya memerah pagi-pagi karena melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya pada diri Hidayat.


"Maira mau wudhu dulu, Bang..." Pamit Maira seraya menundukkan kepalanya berjalan di samping Hidayat menuju ke dalam kamar mandi.


Hidayat sampai terperangah melihat tingkah Maira. Ia tidak menyadari bahwa dirinyalah yang membuat Maira bertingkah aneh seperti itu.


Maira menutup pintu kamar mandi cepat-cepat, lalu mencuci mukanya di wastafel. Berkali-kali ia menghembuskan nafas panjang, berusaha mengendalikan perasaannya yang sempat melayang ketika melihat eloknya tubuh suaminya.


"Astaga, apa yang kamu pikirkan, Maira?" Gerutunya sambil memukul-mukul kecil kepalanya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2