
Hidayat dan Maira duduk berhadapan di atas tempat tidur. Meski sudah hampir jam sebelas malam, Maira tetap menunggu Hidayat untuk menceritakan kelanjutan kisah kakak mereka.
"Sisanya menyedihkan, Maira..." Ucap Hidayat terdengar getir.
"Abang pasti sedih, ya, jika harus menceritakan kembali? Kalau begitu tidak perlu, Bang... Toh Maira juga tahu akhirnya seperti apa..." Ucap Maira pasrah.
"Abang mau sekali menceritakannya kepada Maira... Malahan Abang berharap agar Maira melanjutkan tulisan kak Zahra sampai kisah mereka berakhir di dunia ini... Maira pasti lebih paham cara menuliskannya..." Bantah Hidayat.
Maira menatap Hidayat seolah tak yakin dengan ucapan suaminya itu. Bagaimana mungkin ia bisa melanjutkan tulisan Zahrana? Sementara ia tidak berada di sisi kakak dan kakak iparnya itu di hari-haru sebelum mereka meninggal.
"Kak Zahra menutupi segala deritanya. Bahkan bang Ajiz tidak pernah diberitahu kak Zahra bahwa ia phobia naik mobil..."
"Kak Zahra phobia naik mobil?" Tanya Maira terlihat tak percaya.
"Umm..." Angguk Hidayat. "Kami pikir kak Zahra sudah tidak takut lagi sejak menikah dengan bang Ajiz, rupanya kak Zahra hanya berusaha keras menyembunyikan rasa takutnya di depan bang Ajiz agar bang Ajiz tidak khawatir... Tapi, Maira tahu? Ketika kami naik travel bang Fajar waktu itu, tragedi kecelakaan beruntun membuat Kak Zahra ketakutan setengah mati. Dan, Abang lah yang memberitahu bang Ajiz kepada kak Zahra..."
Maira tertegun. Ia tidak menyangka kisah kakak iparnya itu sangatlah mengharukan. Ia pikir, sangat jarang ada perempuan seperti itu di dunia nyata, namun baru ia menyadari bahwa selama ini ada di dekatnya.
"Sebelum kak Zahra masuk rumah sakit, bang Ajiz sempat marah besar kepada kak Zahra. Dan bahkan, bang Ajiz hampir saja menjatuhkan talak untuk Kak Zahra..."
Maira ternganga. Hal ini baru ia dengar, dan ia tidak pernah menyangka ada peristiwa seperti itu terjadi di antara abangnya dengan kakak iparnya.
"Apa karena kak Zahra selalu menyembunyikan semuanya dari bang Ajiz kah, Bang? Apa mungkin bang Ajiz sampai begitu?" Tanya Maira terlihat tak percaya.
Hidayat menggeleng, kemudian ia memberanikan diri menatap Maira yang menunggu kelanjutan cerita darinya. "Karena orang ketiga..."
"Orang ketiga? Siapa memangnya, Bang? Siapa yang menjadi pengacau dalam rumah tangga mereka?" Desak Maira terlihat geram.
"Bang Arya, Mai..."
__ADS_1
"Haahh...?" Maira semakin tercengang. Ia tidak menyangka bahwa Arya yang dikenal sangat baik olehnya, tega menjadi perusak rumah tangga kakak dan kakak iparnya.
"Karena kesalahpahaman..." Ucap Hidayat seraya mengambil ponselnya. Hidayat membuka video di ponselnya, lalu memperlihatkannya pada Maira.
Video yang pernah direkam oleh Hidayat waktu kakaknya bertemu dengan Arya terakhir kali di kafe Kampoeng Rotan. Pertemuan yang membuat Ajiz salah paham dengan Zahrana kala itu. Dan dengan video itulah membuat rumah tangga kakak mereka kembali terselamatkan.
Maira mengusap air matanya. Ia tersedu-sedu ketika melihat betapa tegasnya Zahrana menolak Arya di dalam Vidio itu.
"Bang Ajiz kenapa sampai marah, Bang? Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Maira sambil sesenggukan.
Hidayat menceritakan kelanjutan kisah kakak mereka. Saat-saat Ajiz telah salah paham dan marah besar kepada Zahrana kala itu.
"Maira kok jadi kecewa, ya? Padahal tidak ada satu pun yang musti diragukan dari kak Zahra, tapi bang Ajiz semudah itu memaki kak Zahra karena kesalahpahaman saja... Harusnya bang Ajiz tanya dulu... Cari tau dulu kebenarannya..." Ucap Maira terlihat kesal dengan air mata berderai banyak di pipinya.
"Jadi kalau kita melihat sesuatu yang membuat kita marah, kita harus tanya dulu kebenarannya, kan?" Tanya Hidayat menatap Maira begitu lekat.
"Iya, dong... Tidak semua yang kita lihat, sama kenyataannya dengan pemikiran kita... Kecewa boleh, tapi jangan sampai memutuskan sesuatu di saat diri kita lagi dikuasai amarah, kalau tidak ingin menyesal di kemudian hari..." Jawab Maira begitu yakin.
Maira mengambil kedua tangan Hidayat. Ia menggenggamnya erat sambil menatap wajah Hidayat yang sendu. "Maira akan tulis sesuai dengan yang Abang ceritakan... Maira mohon izin ya, Bang..."
"Iya, Abang izinin..."
Hidayat membalas genggaman tangan Maira, lalu ia menatap Maira begitu canggung. Ada hal yang masih memenuhi dadanya saat ini. Maira mencoba bertanya dengan isyarat, membalas tatapan Hidayat dengan alis mata mengernyit.
"Jika rumah tangga kita dihadapkan pula dengan kesalahpahaman begitu, apa Maira masih tetap percaya Abang?" Tanya Hidayat ragu-ragu.
"Kenapa Abang bertanya hal ini?"
"Emmm... Kita, masih memiliki kehidupan masing-masing meski kita telah menikah. Abang terlalu sibuk dengan tesis dan kios... Sementara Maira juga begitu... Abang hanya takut saja..."
__ADS_1
"Tapi, Abang beneran sudah menerima Maira sepenuh hati, kan...?" Potong Maira cepat.
"Iya..." Angguk Hidayat tanpa keraguan.
"Lalu apa lagi yang harus Maira khawatirkan? Maira percaya sepenuhnya kepada Abang, dan Maira harap Abang juga begitu pada Maira..." Ucap Maira sambil tersenyum.
"Terima kasih, Maira..." Hidayat mengapit pipi Maira, lalu mendekatkan dahi istrinya itu ke bibirnya. Ia mengecup kening Maira begitu lama.
Maafkan Abang, Maira... Abang saat ini belum siap... Abang tidak tahu harus memulai dari mana, karena jika Abang meminta hak Abang sekarang, Abang hanya akan merasa bahwa diri Abang benar-benar serakah...
Abang percaya bahwa sepenuhnya cinta Abang hanya untuk Maira, dan Abang sangat yakin bahwa ini tidak salah...
Abang janji, secepatnya Abang akan selesaikan hubungan Abang dengan Kirana... Semoga tidak ada kesalahpahaman di antara kita, Maira...
Hidayat melepaskan Maira, lalu mengusap-usap pipi Maira dengan lembut.
"Kita tidur sekarang, ya? Udah tengah malam..." Bujuk Hidayat berusaha mengelak dari suasana yang begitu canggung.
Maira mengangguk. Ia membaringkan tubuhnya terlebih dahulu, dan kemudian Hidayat menyusul untuk tidur di sampingnya. Hanya menatap wajah Hidayat sebentar, Maira pun tertidur.
Merasa Maira sudah lelap, Hidayat kembali membuka matanya dengan perlahan-lahan. Ia terus mengamati wajah Maira yang polos dengan perasaan bersalahnya. Walau hanya tentang hubungannya dengan Kirana, namun itu bukan sebuah permasalahan sepele. Ia bahkan merasa takut jika saja Maira tahu lebih awal.
Sudah hampir setengah jam Hidayat masih uring-uringan. Ia begitu gelisah karena perasaannya yang tidak menentu. Ia melihat wajah Maira begitu teduh tertidur di sampingnya. Hidayat mengecup kening istrinya itu dengan pelan, lalu memeluknya dari samping hingga ia merasa nyaman dan mulai tertidur pulas.
.
.
.
__ADS_1
.