Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku

Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku
34. Pulpen


__ADS_3

Baru dua hari Hidayat pulang dari rumah sakit, dan kini ia terlihat sudah sembuh benar. Maira menatapnya dengan pandangan ragu-ragu, seolah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.


"Ada apa?" Tanya Hidayat yang sangat mengerti dengan tatapan istrinya.


"Abang sudah jauh lebih baik, kan?" Balas Maira bertanya, masih dengan tatapan penuh selidik.


"Sudah... Maira butuh sesuatu dari Abang?"


"Iya, tapi Maira akan sedih kalau Abang tidak mengabulkannya..." Angguk Maira dengan bibir manyun.


"Mana bisa Abang tahu kalau Abang sanggup atau tidak jika Maira belum mengatakannya?" Ucap Hidayat seraya menarik kepala Maira dengan lembut ke dalam dadanya.


"Abang sanggup kok..." Jawab Maira sembari memainkan kancing baju Hidayat.


"Oke... Kalau Abang sanggup, Abang akan memenuhinya..." Ikrar Hidayat.


"Janji?"


"Iya, janji... Memangnya apa dulu?" Desak Hidayat.


"Emmm... Abang jangan marah, ya..."


"Mana bisa Abang marah sama Maira?" Jawab Hidayat sambil mengecup kepala Maira yang terbungkus jilbab berkali-kali.


"Maira... Emmm... Maira mau kita... Emm..." Maira masih terdengar ragu-ragu untuk mengutarakan keinginannya kepada Hidayat.


Hidayat penasaran. Ia mengeluarkan kembali wajah Maira yang bersembunyi di dadanya, lalu menatap lekat wajah cantik istrinya itu yang terlihat gugup.


"Maira mau apa? Katakan saja... Abang tidak akan marah, juga insya Allah akan menyanggupinya..." Ucap Hidayat dengan sabarnya.


"Maira, emmm... Maira mau kita datangi kak Kiran..."


"Hah? Abang nggak salah dengar?" Tanya Hidayat yang terkejut mendengar permintaan istrinya.


"Kasihan kak Kiran... Dia baru saja kehilangan ayahnya, Bang... Dan kata bang Arya, kak Kiran nggak bisa diajak bicara oleh siapapun saat ini... Bang Arya sebenarnya ingin sekali meminta Abang ke sana, tapi karena Abang masuk rumah sakit, bang Arya jadi urung... Juga sepertinya bang Arya merasa tidak enak sama Maira..." Tutur Maira.


"Abang mau, kan? Please..." Pinta Maira memohon.


"Maaf, Mai, kalau untuk ini Abang keberatan..." Tolak Hidayat.

__ADS_1


"Tapi, Bang..."


"Enggak, Mai... Jangan paksa Abang... Ini tidak benar..." Ucap Hidayat bersikeras atas penolakannya.


"Bang..." Maira menatap Hidayat dengan penuh permohonan.


"Enggak, Mai... Abang tidak mau lagi berurusan dengan dia..." Tegas Hidayat menolak keinginan istrinya itu.


Maira menangis. Hatinya begitu sedih dengan keadaan dimana ia berusaha ikhlas berbuat untuk kebaikan, meski di sisi lain ia akan tersakiti olehnya, namun itu ditentang oleh suaminya sendiri.


Hidayat dilema. Ia benar-benar tidak ingin ada lagi urusan dengan Kirana, namun paksaan Maira membuat ia ragu-ragu.


"Maira, dengarkan Abang..." Pinta Hidayat membujuk.


"Abang jahat..." Tuding Maira tersedu-sedu.


"Astaghfirullah hal'azhiim... Maira, Abang hanya tidak ingin ada kesalahpahaman lagi di antara kita karena dia... Maira pasti tahu, kan, betapa keras kepalanya Kirana jika itu tentang Abang? Abang tidak mau kejadian malam itu terulang kembali..." Ujar Hidayat masih kekeh dalam pertahanannya.


"Lalu, kenapa selama ini Abang bertahan membohongi Maira jika ujung-ujungnya Abang tidak menyelesaikan semuanya dengan kak Kiran? Maira yakin, ini lebih menyakitkan bagi kak Kiran dibanding Abang harus jujur dari awal kepadanya... Dan juga, Maira tidak akan pernah merasa tenang jika ada perempuan lain yang nyata-nyata Maira tahu dia memiliki rasa terhadap suami Maira..." Ketus Maira menatap Hidayat dengan penuh kekecewaan.


"Mai..."


"Tapi, Mai..."


"Ya, Bang, ya? Please..." Maira mengatupkan kedua tangannya memohon. Sementara air matanya tak kunjung reda, membuat Hidayat tertunduk luluh.


***


Kirana mengurung diri di ruang kerja ayahnya yang telah lama tidak dipakai. Ia terlihat begitu menyedihkan semenjak mendapat kabar tentang kematian ayahnya itu, ditambah lagi patah hati atas penolakan Hidayat beberapa malam lalu.


Ia tertunduk lesu di ruang minim cahaya lampu, seperti tak ada lagi semangat hidup dalam dirinya.


"Ayah, kenapa tidak bersabar sebentar saja menunggu Kiran bawa Ayah berobat ke luar negeri? Kiran lagi ngumpulin uang buat pengobatan Ayah, dan semua jadi sia-sia..." Isak Kirana.


Kirana terpana. Sebuah pulpen yang pernah ia hadiahi kepada ayahnya masih terletak di atas meja kerja ayahnya itu. Ia yang mengetahui fungsi pulpen segera menyambungkannya ke laptop.


Alangkah terkejutnya Kirana melihat SPY CAM memiliki sebuah video rekaman percekcokan antara ayahnya dengan ibu tirinya beberapa tahun lalu ketika ayahnya masih sehat.


Dada Kirana kembang kempis mengetahui semua kejahatan yang telah dilakukan ibu tirinya itu kepada ayahnya.

__ADS_1


^^^


Ayah Kirana mengaktifkan spy cam yang baru saja diterimanya dari Kirana sebagai hadiah ulang tahunnya. Ia tersenyum bangga melihat benda kecil berbentuk pulpen itu.


"Maunya anak gadisku..." Ucapnya senang. "Oke, Ayah akan memperlihatkan bagaimana Ayah bekerja sambil beristirahat kepadamu... Ayah tidak akan capek-capek, Nak... Ayah selalu menjaga kesehatan Ayah disini, begitu juga dengan kamu disana, oke..."


Ponsel di sisi kanannya terdengar berdering, ia menoleh untuk sesaat lalu kembali menghadap ke kamera.


"Tunggu sebentar, Ayah ada telepon..." Ucapnya seraya berdiri di belakang kursinya untuk menjawab panggilan itu.


Wajahnya yang semula ceria berubah tegang ketika baru saja meletakkan ponselnya di telinganya. "Anda siapa? Jangan memberi berita palsu tentang keluarga saya..."


Bersamaan dengan itu ibu tiri Kirana masuk membawa secangkir kopi untuknya, dan spontan menoleh pada muka penuh kemarahan yang terpancar di wajahnya.


"Kenapa Ayah melihat Ibu begitu?" Tanya istrinya ketakutan.


"Ayu anak siapa?" Ayah Kirana langsung bertanya dengan nada datar namun menyimpan kemarahan besar di dalam dadanya.


"Ke-kenapa bertanya?" Ucap istrinya gugup dan tubuh yang gemetaran.


"Jawab saja, Ayu anak siapa?" Ulang ayah Kirana bertanya dengan suara keras menghardik, membuat perempuan itu terkejut refleks memejamkan matanya.


Ayah Kirana mencengkram lengan istrinya itu, lalu menatap tajam penuh kemarahan. "Ayo kita tes DNA Ayu. Sempat dia bukan anakku, ku talak kamu, dan sedikitpun tidak akan ada harta untukmu dan juga anakmu..."


Ibu tiri Kirana tercengang. Ia menarik lengannya yang dicekal kuat oleh suaminya sendiri, meronta untuk dilepaskan.


"Lepas, Yah... Ayu anakmu..." Rintih Ibu tiri Kirana ketakutan.


"Berani-beraninya kamu menipuku hanya demi harta! Lihat saja apa yang akan terjadi padamu..." Ancam ayah Kirana seraya berjalan hendak keluar dari ruang kerjanya.


Ibu tiri Kirana terlihat panik. Ia menoleh ke sisi kiri dan kanannya, lalu melihat vas keramik yang terletak di atas meja. Ia buru-buru mengambil vas itu dan kemudian memukul kepala ayah Kirana di bagian belakang sampai vas itu pecah dan berserakan di lantai.


Ayah Kirana memegang kepalanya yang terasa berat, dan tak lama tubuhnya ambruk.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2