
Sepulang dari kios Maira membersihkan diri ke kamar mandi, dan kemudian ia langsung menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya yang lelah bercampur lemah.
Ia sudah tidak sanggup menahan rasa kantuk yang juga ikut menggerayangi, sehingga ia terlelap sebelum Hidayat pulang dari kampus.
Setengah jam kemudian suaminya barulah pulang. Hidayat melihat Maira begitu damai dalam tidurnya, walau sesekali wajah istrinya itu tampak melenguh dengan mata yang terpejam.
Hidayat membuka almamaternya, dan kemudian menggantungnya ke anger. Ia sudah terbiasa melakukan hal-hal kecil itu sendiri, apalagi ia tidak ingin membuat istrinya itu repot.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Hidayat langsung menuju ke tempat tidur dan berbaring di samping Maira. Ia mengelus-elus rambut Maira dengan lembut agar istrinya itu semakin nyenyak dan merasa nyaman.
"Setelah melakukannya Abang baru tahu kalau ternyata Maira sangat menderita jika bulanan Maira datang. Selama ini Maira tidak pernah bicara apa-apa, karena Maira pasti tidak ingin merepotkan Abang.... Juga pasti karena sikap Abang yang begitu jahat terhadap Maira... Maafin Abang, Mai..." Bisik Hidayat. Ia kemudian mengecup kening Maira begitu lama.
Hidayat merebahkan tubuhnya kembali sambil menghadap ke arah Maira. Ia memejamkan matanya dan ikut terlelap menemui alam mimpi.
***
"Pokoknya kita harus ke rumah sakit..." Tegas Hidayat setelah beberapa kali berdebat dengan Maira.
Maira menghela nafas panjang lalu berjalan ke arah Hidayat. Ia mengangkat kedua tangan suaminya itu setinggi dadanya, dan matanya menatap lekat wajah Hidayat dengan penuh kasih. "Apa karena almarhumah kak Zahra?"
Mata Hidayat memerah. Ia tampak mulai melunak dari beberapa saat sebelumnya. "Salah jika Abang merasa khawatir?"
Maira tersenyum sembari menggeleng pelan. "Maira juga mengkhawatirkan diri Maira sendiri, Abang... Jika Maira boleh meminta, Maira mau minta kepada Allah untuk mencabut nyawa Abang terlebih dahulu, namun jangan beri jarak yang panjang dengan Maira..."
"Kenapa?"
"Maira sangat yakin bahwa Maira tidak akan sanggup bertahan lama tanpa Abang... Tapi, Maira juga tidak mau membiarkan Abang sendiri di dunia ini jika Maira pergi terlebih dahulu... Maira khawatir, siapa yang akan menemani Abang... Entah jika Abang dengan mudah melupakan Maira... Yang jelas Maira tidak akan rela..." Tutur Maira sambil mengerucutkan bibirnya.
"Huh... Kemarin-kemarin saja sok-sokan mau dimadu..." Ledek Hidayat membalas ucapan Maira sembari nyengir.
"Iiiihhh... Nanti kalau bahas masa lalu, Abang gigit jari sendiri loh..." Celetuk Maira.
"Hehe... Iya, iya, maaf..."
"Emmm, kita nggak usah ke rumah sakit ya, Bang... Maira nggak sakit kok, juga nggak menyembunyikan penyakit apa pun... Maira Alhamdulillah sehat, Abang... Kalau soal pucat dan nyeri itu sudah biasa, namanya juga lagi dapet..." Bujuk Maira memelas.
__ADS_1
"Beneran Maira nggak sakit, kan? Jangan bohongin Abang... Abang tidak ingin menjadi bang Ajiz kedua..." Ketus Hidayat.
"Iya... Maira juga tidak ingin Abang menjadi almarhum Abangnya Maira..." Ucap Maira sendu.
"Maafin Abang, Mai..." Hidayat terlihat merasa bersalah mendapati kesedihan di wajah Maira karena ucapannya yang secara tidak sengaja telah membahas tentang Ajiz.
"Hidup kita tidak akan lepas dari kisah mereka... Takdir yang Allah berikan kepada kita, itu semua berkaitan penuh dengan kak Zahra dan bang Ajiz... Tanpa mereka, belum tentu kita bersua... Allah telah mengatur semuanya, dan Maira tidak pernah keberatan jika kita sesekali membahas mereka... Jadi, Abang tidak perlu merasa bersalah begitu... Andai sesal dapat merubah apa yang telah terjadi, mungkin bang Ajiz tidak akan pernah kehilangan kak Zahra begitu cepat, dan kita semua juga..."
Hidayat mengangguk. "Iya... Maira benar... Tapi, Maira harus janji sama Abang untuk tidak meniru keputusan kak Zahra yang menyembunyikan keadaannya dari suaminya sendiri dan juga kita semua... Maira harus segera memberitahu Abang apa pun rasa sakit yang Maira rasakan... Kita kerja keras di kios untuk kita juga..."
"Iya, Abang, Maira janji..." Ikrar Maira sambil mengapit pinggang Hidayat.
Hidayat tersenyum. Ia menarik bahu Maira ke dalam dekapannya. "Rasanya bahagia sekali hidup Abang sekarang..."
"Kita jadi pergi bulan madu, kan, Bang?" Tanya Maira mencoba mengalihkan suasana di antara mereka.
"Jadi dong... Minggu depan kita berangkat..." Jawab Hidayat bersemangat.
"Minggu depan?" Maira tercengang mendengar jawaban suaminya yang begitu meyakinkan.
"Sudah siap, Mai? Ada yang harus Abang bawa ke depan, nggak?" Tanya Hidayat sambil memasang tali sepatunya di sofa depan. Ia tampak telah rapi dengan tas selempang kulit berwarna coklat kemerahan bergantung di dadanya. Celana jeans coklat muda dan baju kemeja panjang yang dilipat setengah lengannya membuat ia terlihat begitu keren.
"Sudah, Bang... Nggak ada lagi kok..." Sahut Maira datang dari arah kamar melangkah ke posisi Hidayat.
Hidayat terpana melihat istrinya itu dari bawah hingga ke atas. Gamis krem berpadu coklat muda pada pasmina yang melekat di tubuh Maira, ditambah high heels coklat yang sama dengan tas jinjingnya, membuat ia begitu cantik dan elegan. Setiap hari perasaan Hidayat hanya jatuh cinta pada Maira. Segala pada diri Maira begitu istimewa dan sempurna di matanya.
"Ayo kita berangkat, Bang..." Ajak Maira yang tidak menyadari keanehan sikap suaminya.
Hidayat tak menyahut. Ia masih sibuk menatap istrinya dengan wajah terkesima bangga.
"Abang?" Panggil Maira sembari menggoyangkan lengan Hidayat.
"Eh i-iya, Sayang?" Jawab Hidayat tergagap.
"Abang lihatin apa sih?" Tanya Maira ikut celingukan ke belakangnya.
__ADS_1
Hidayat menarik lembut dagu Maira agar kembali melihat kepadanya. "Abang lihatin istri Abang yang cantik ini... Mau pakai baju tidur, Mau pakai mukena, mau pakai baju gamis apa pun, tetap saja cantik... Dan khusus hari ini, Maira sangat cantik sekali..."
"Apa sih... Abang tumben pakai gombal segala... Ada apa nih?" Lirik Maira terlihat penuh selidik.
Hidayat terkekeh. Ia segera menarik bahu Maira dan kemudian mereka berdua berjalan menuju pintu keluar. "Nggak gombal, Mai... Abang serius... Maira cantik banget... Jadi nggak sabar sampai disana..."
"Memangnya ngapain sampai disana?" Celetuk Maira.
"Bulan madu..."
"Jalan-jalan juga, kan, Bang?"
"Iya, tentu... Sekarang kita berangkat, taksi udah nunggu di depan..." Hidayat mengunci pintu, lalu menarik koper besar, sedangkan tangan kanannya menggandeng tangan Maira menuju taksi online yang sudah menunggu mereka sejak beberapa menit yang lalu.
Sepanjang perjalanan Maira lebih sering memandangi wajah suaminya sendiri dibanding kearah pemandangan jalan, bahkan ketika mereka telah berada di atas pesawat.
"Maira nggak punya phobia apa-apa, kan?" Tanya Hidayat sambil menatap Maira dengan cemas.
"Eng-gak... Kenapa memangnya, Bang?" Jawab Maira dengan dahi mengernyit heran.
"Abang hanya ingin tahu, takutnya Abang malah mengajak Maira ke sesuatu yang membuat Maira ketakutan akan hal itu karena ketidaktahuannya Abang..." Jelas Hidayat seraya mengambil tangan Maira ke dalam genggamannya.
Maira tersenyum, ia membalas genggaman tangan Hidayat dengan tangannya yang satu lagi. "Andai bang Ajiz menanyakan hal serupa kepada kak Zahra sebelumnya-"
"Mungkin tidak akan ada kisah sweet yang begituan di antara mereka... Mungkin kak Zahra juga tidak akan pernah naik mobil sampai akhir hayatnya... Pada saat itu sangat romantis, Sayang... Haaahh..." Hidayat menghela napas panjang. "Abang dan bang Fajar saksinya betapa saling melengkapi mereka berdua waktu itu... Dan juga, Abang mungkin tidak kepikiran untuk bertanya kepada Maira tentang ini... Jadi, jangan sesali apa pun, karena Abang tahu kak Zahra bahagia bersama bang Ajiz..."
Mata Maira berkaca-kaca mendengar ucapan Hidayat. Ia mengangguk menanggapi hal itu, karena ia percaya bahwa ucapan suaminya benar.
.
.
.
.
__ADS_1