
Sejak mendengar penjelasan Arya, Hidayat lebih memerhatikan Maira. Istrinya itu menjadi lebih bahagia dan juga tidak terlalu memikirkan tentang anak lagi, walau ada saatnya bagi Maira merenung ketika tidak sengaja melihat ibu-ibu hamil ataupun anak-anak bayi di sekitarnya.
"Sayang, hari ini jadi pergi beli kado untuk Rizki?" Hidayat memeluk Maira dari belakang, di saat istrinya itu sedang berkemas membersihkan meja makan.
"Jadi, Bang..." Jawab Maira seraya berbalik menghadap ke tubuh suaminya. "Bagusnya beli apa ya, Bang, buat Rizki?"
"Emmm, pokoknya sesuatu yang spesial... Dia kan karyawan terlama, bahkan sampai jadi kepercayaan bang Ajiz dulunya..." Jawab Hidayat sambil mengapit kedua lengan Maira.
Maira menarik lengan Hidayat kearah sofa. "Nggak kerasa udah hampir dua tahun saja kita nikah, ya, Bang... Rasanya senang sekali bisa sama-sama terus..."
"Iya... Nanti habis wisuda Maira kita jalan-jalan, ya..."
"Jalan-jalan kemana, Bang?" Tanya Maira bersemangat.
"Sayang maunya kemana?" Hidayat bertanya balik.
"Ke kampung aja deh... Maira belum mau kemana-mana... Di dekat Abang saja udah membuat Maira bahagia..."
"Nggak mau ke luar negeri?" Tanya Hidayat berusaha memancing.
"Umroh?" Canda Maira menanggapi.
"Maira mau umroh?"
Maira menyeringai. "Kenapa kayak berat gitu ya, Bang, perasaan Maira? Itu adalah hal yang Maira impikan selama ini, bisa ibadah umroh bareng sama suami Maira... Memijak tanah suci sebelum punya keinginan untuk pergi ke negara-negara lainnya..."
"Berat gimana maksudnya, Sayang?" Hidayat menatap Maira dengan lembut sambil mengelus pipi istrinya itu.
"Kita tanpa almarhumah kak Zahra dan almarhum bang Ajiz bukanlah apa-apa, sebagai berusaha untuk membalasnya, mimpi mereka telah banyak yang kita wujudkan bersama-sama... Kita bahkan menikmati hasil jerih payah mereka berdua. Hanya saja, kita belum mewujudkan satu impian keduanya..."
"Memberangkatkan ayah dan ibu kita naik haji?" Sambung Hidayat.
"Iya... Itu mimpi mereka... Dan rasanya tidak pantas jika Maira menginginkan lebih dari yang mereka berikan..."
"Benar, Sayang... Kak Zahra sangat menginginkan kesuksesan pada dirinya agar bisa membantu meringankan beban orang tua kita dan saudara-saudaranya, dan Alhamdulillah kita telah mewujudkan itu... Kak Rianur, bang Mus dan juga kedua orang tua kita sudah menjadi orang terpandang di kampung kita sekarang... Tapi satu lagi, memberangkatkan ayah dan ibu kita ke Mekah untuk naik haji..." Tutur Hidayat sendu.
"Berapa lama lagi kita akan menunggu untuk itu, Bang?"
"Dua tahun lagi kok, Mai..."
__ADS_1
"Hah, dua tahun lagi?" Tanya Maira dalam keterkejutannya.
"Iya, Sayang..."
"Kok bisa, Bang? Bukankah naik haji harus nunggu bertahun-tahun dulu lamanya?" Tanya Maira terlihat tak percaya.
"Iya, benar begitu... Alhamdulillah sejak bang Ajiz menikah dengan kak Zahra, bang Ajiz telah mendaftarkan haji plus dan juga menyiapkan tabungan haji untuk keempat orang tua kita..." Jelas Hidayat membuat Maira takjub dan menutup mulutnya yang ternganga.
"Masya Allah... Benarkah itu, Bang?"
"Iya, Sayang... Maaf selama ini Abang belum memberitahu Maira... Untuk urusan keuangan yang begitu banyak lika-likunya, biar Abang saja... Abang nggak mau membebani Maira sampai Maira pusing karenanya... Apalagi kita pernah mengalami masa-masa sulit yang disebabkan oleh kelakuan Abang juga..." Tutur Hidayat terlihat merasa bersalah.
"Nggak... Maira sudah melupakan itu semua... Sekarang Maira sudah bahagia sama Abang, dan lebih bahagia lagi karena sebentar lagi orang tua kita akan menjajaki kota Mekkah... Alhamdulillah ya Allah... Nggak berhenti hamba bersyukur kepada-Mu..." Mata Maira berkaca-kaca. Ia begitu bahagia sampai menitikkan air matanya.
Hidayat yang melihat senyum lebar istrinya itu segera merangkulnya ke dalam dekapannya. "Allah maha baik ya, Sayang... Ia beri kita banyak kebahagiaan dan juga kecukupan dalam materi dan kesehatan..."
***
Maira dan Hidayat mengitari salah satu Mall mewah di kota tempat tinggal mereka. Setelah mereka membeli kado untuk Rizki, mereka berjalan ke tempat penjualan baju. Sejak tadi Maira begitu antusias memilihkan kemeja dan beberapa pakaian untuk Hidayat. Sesekali ia mencobanya ke tubuh suaminya itu, lalu tersenyum bahagia.
"Ya Allah, semuanya bagus-bagus... Abang mau yang mana?" Tanya Maira kebingungan.
"Abang kebiasaan deh... Maira tanya, jawabnya malah balik nanya..." Omel Maira bersungut-sungut.
"Iya-iya... Warna putih lengan panjang sama krem itu saja gimana?" Ucap Hidayat mengalah.
"Emmm... Tapi yang salmon polos ini juga bagus, Bang... Ini juga ambil ya?" Pinta Maira memohon manja.
"Baiklah... Abang juga suka lihatnya..."
"Yeeeyyy... Terima kasih, Abang..." Ucap Maira kegirangan.
"Jadi, yang Abang pakai pas acara Rizki nanti yang mana?" Tanya Hidayat menyenangkan hati istrinya itu.
"Yang ini, ini, juga ini..." Tunjuk Maira ke tiga kemeja yang telah dipilihnya tadi.
"Kok banyak?"
"Kan kita disana juga tiga hari, Bang... Jadi, satu hari satu baju... Malamnya Abang baru pakai baju kaos sama celana training panjang..." Ujar Maira.
__ADS_1
"Oke..."
Maira memberikan pakaian yang telah ia pilih ke pramuniaga untuk diserahkan ke kasir.
"Oh ya, Bang... Kita nanti tidurnya di rumah Rizki saja ya, Bang... Nggak enak kalau kita pakai acara nginap di hotel segala... Kita tidurnya susun paku aja tuh di ruang tengah rumahnya... Terakhir kita ke sana, rumah panggung orang tuanya lumayan besar juga menurut Maira... Alan dan yang lainnya tidur bareng Abang ya..." Celoteh Maira panjang lebar.
"Terus Maira tidur dimana?" Tanya Hidayat terlihat curiga.
"Di kamar ponakannya dong..." Sahut Maira sembari tertawa kecil.
"Nggak bisa... Kita tidur di hotel saja..." Tolak Hidayat dengan tegas.
"Tapi, Bang..."
"Nggak ada tapi-tapian... Kalau nggak, kita datang pas hari H nya saja..." Potong Hidayat cepat.
"Nggak mau..." Geleng Maira memberengut.
"Berarti deal kita nginap di hotel..." Ucap Hidayat.
"Emmm, Abang..."
"Jelas Abang nggak bisa tidur kalau tidak ada Maira di sisi Abang... Sejak ibu datang pertama kali setelah pernikahan kita, kapan kita pisah tidurnya, hmmm?" Rajuk Hidayat dengan wajah tampak tertekan.
Maira menyeringai usil. Ia menggamit lengan Hidayat dengan cepat, dan kemudian menyeret suaminya itu ke kasir.
Sampai di luar Hidayat masih memberengut, karena ia belum mendapatkan jawaban dari istrinya itu.
"Perasaan Maira di kampungnya Rizki nggak ada hotel deh, Bang... Cuma ada penginapan kecil, dan itu juga lumayan jauh dari rumahnya... Kan nggak enak. Nanti dikira sok atau blagu sama keluarga mereka..." Bujuk Maira meyakinkan Hidayat. Ia berkata dengan lembut kepada suaminya itu agar bisa dimengerti.
"Nggak kebayang sama Abang kita tidurnya pisah, Sayang..." Ucap Hidayat memelas.
"Cuma dua malam kok, Bang... Palingan kita tidur hanya empat jam dalam semalam... Ya, Bang? Ya? Please..." Maira memohon, membuat Hidayat tidak berani lagi menolaknya.
.
.
.
__ADS_1
.