Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku

Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku
45. Tentang Hidayat Junior


__ADS_3

Sepulang dari masjid, Hidayat langsung menuju ke kamar. Ia mendapati Maira baru saja selesai shalat.


Maira membuka mukenanya, dan tampak rambutnya yang masih sedikit basah tergerai sepinggang. Hidayat terpana. Ia menelan kasar ludahnya, lalu berjalan cepat menuju sudut kamar tempat jemuran mukena Maira berdiri kokoh disana.


Hidayat melepas peci hitam di kepalanya, lalu ditaruhnya di jemuran berbentuk menara itu. Ia juga membuka baju muslim koko dan sarung yang dikenakannya, lalu ia jemur dengan anger dan ia gantung ke jemuran yang sama.


"Kok Abang terburu-buru? Biasanya tungguin Maira selesai dulu baru berganti..." Maira melihat dengan terheran-heran sambil menyusul Hidayat ke posisi jemuran untuk menjemur sajadah dan mukena yang baru saja ia gunakan.


Walau tidak dapat jawaban, Maira tetap menyodorkan tangannya ke hadapan Hidayat, kebiasaan yang selalu ia lakukan usai shalat subuh. "Maira minta maaf, Abang..."


"Abang juga..." Ucap Hidayat sembari menyambut tangan Maira, lalu mengecup kening Maira yang sekarang tidak tertutup kain sehelai pun.


"Maira..."


"Ummm?"


"Abang boleh minta yang semalam lagi, nggak?" Tanya Hidayat mencoba merayu. Ia melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya itu.


"Hah?" Maira terlihat tegang seketika. "Abang yakin?"


"Kenapa? Kita 'kan sudah halal... Boleh, ya... Nikmat soalnya..." Bujuk Hidayat memelas.


Maira menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia merasa malu membayangkan bagaimana indahnya cinta mereka semalam, lalu melihat wajah Hidayat yang begitu menggoda.


"Tapi, pelan-pelan ya, Bang... Masih sakit soalnya..." Bisik Maira malu-malu.


"Oke... Abang janji pelan-pelan..."


Hidayat mengangkat tubuh Maira ke tempat tidur. Mereka seperti pengantin baru yang berbahagia menikmati indahnya cinta. Hidayat menyeringai melihat kepolosan wajah istrinya itu.


Dunia benar-benar sudah terang, dan mereka baru saja usai olahraga di kamar. Berkeringat pagi memang lebih menyehatkan.


"Terima kasih, Sayang..." Ucap Hidayat sambil mengecup kening Maira, dan Maira hanya tersenyum sambil memainkan jakun Hidayat dengan jari telunjuknya.


"Kalau nggak ingat hari ini kita punya kesibukan, mungkin Abang masih bertahan memeluk Maira seperti ini..."


"Emmm, haruskah kita pergi bulan madu?" Tanya Maira asal.


"Maira ingin kita pergi bulan madu?" Tanya Hidayat menanggapi guyonan Maira.


"Memangnya bisa? Abang ada waktu?"


"Tentu ada... Kita akan pergi tiga hari, sekalian belanja... Disana kan ada tuh tempat-tempat wisata terkenal dan juga indah..." Tutur Hidayat terlihat bersemangat.

__ADS_1


"Terus kuliah kita gimana, Bang?" Maira mendongakkan kepalanya menatap Hidayat dengan kebingungan.


"Kita izin selama lima hari... Abang akan bantu Maira untuk mengurus semuanya..."


"Mmmm, pasti akan menyenangkan..." Ucap Maira sambil tersenyum menghayal.


"Pasti... Apalagi kalau kita akan menghabiskan waktu dua puluh empat jam berdua selama disana... Abang akan urus tiket keberangkatan kita dan juga langsung pesan kamar terbaik dan romantis... Pokoknya Maira tenang saja, Abang akan membuat Maira bahagia selama Maira bersama Abang..." Ucap Hidayat berikrar.


Maira mengangguk, lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Hidayat.


"Mai, kita mandi sekarang, ya..."


"Abang duluan?"


"Barengan..."


"Hah?" Maira terbelalak mendengar ucapan suaminya.


"Iya... Kita mandi bareng..."


"Maira malu, Abang..." Protes Maira keberatan.


"Rasulullah saja pernah mandi bareng loh bareng istrinya... Maira pakai basahan, Abang pakai boxer..." Bujuk Hidayat.


***


Hidayat terlihat begitu ceria, membuat kelima karyawannya terbengong-bengong ketika berhadapan dengan dirinya di kios.


"Bahagia sekali nampaknya, Bang..." Tegur Rizki sambil bersikap santai.


"Memang..."


"Cieee... Abang bahagia kenapa sih?" Alan yang mengangkat kardus kosong ke belakang ikut nimbrung ketika melewati meja kasir tempat Hidayat bersemedi.


"Kalian pada kepo ya... Kebiasaan..." Omel Hidayat sambil menyeringai lebar.


"Nggak biasa soalnya, Bang... Biasanya selalu tegang saja, tapi sekarang auranya beda jauh... Kami jadi curiga nih... Ada kabar baik apa sih, Bang?"


"Ada lah pokoknya..." Jawab Hidayat berpura-pura cuek.


"Tetap saja ada kaitannya sama neng Maira... Apalagi coba yang bisa buat Bang Hidayat tersenyum lebar begitu kalau bukan tentang neng Maira..." Sela Irul dari depan.


"Em, benar kata Irul..." Sahut Hidayat sembari tertawa lebar.

__ADS_1


"Jadi bagaimana, Bang? Apa akan ada penerus Tuan Hidayat? Hidayat Junior gitu?" Sorak Rizki antusias.


"Hus, ngomong apa kamu, Ki? Belum Ada kepikiran sampai ke sana... Kalau memang ada, aku traktir makan kalian semua..."


"Beneran, Bang?" Tanya mereka serempak.


"Ya, benar lah..."


"Yaa Allah, semoga Hidayat Junior cepat tercipta..." Ucap Irul layaknya orang berdoa menengadah ke atas, sementara yang lainnya mengaminkan.


Hidayat tersenyum senang. Dalam hatinya ia begitu bangga walau baru semalam ia mencoba bercocok tanam, namun sudah tidak memungkiri bahwa ia juga menginginkan sosok Hidayat Junior segera terlahir.


"Sudah, sudah... Sekarang kembali bekerja... Sepertinya pelanggan pertama kita hari ini telah datang..." Seru Hidayat seraya berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan untuk menyambut pelanggan kios.


Hari ini Hidayat cukup sibuk. Pelanggan dekat maupun jauh berdatangan ke kios untuk belanja dan membuat barang-barang di rak menjadi lengang. Ketika kios sudah mulai sepi menjelang tengah hari, Hidayat duduk beristirahat di kursi kasir, ia juga membiarkan yang lainnya beristirahat sejenak sebelum merapikan kembali rak yang acak-acakan.


"Hamil? Apa mungkin Maira bisa hamil secepat itu? Kami kan hanya beberapa kali saja melakukannya semalam, ditambah tadi subuh... Besok pas bulan madu, aku akan berusaha lebih keras lagi..." Ucap Hidayat membatin sambil tersenyum-senyum. Ia tidak sadar sedang diperhatikan oleh semua karyawannya. Mereka saling sikut sambil ikut tersenyum-senyum melihat tingkah Hidayat begitu.


Tiba-tiba wajah almarhumah kakaknya yang sedang tersenyum melintas dalam bayangannya. Wajah Hidayat berubah tegang seketika. Ada rasa takut yang menggerayangi hatinya.


"Kak Zahra dan Maira nggak jauh beda..." Hidayat menggeleng keras. Ia segera bangkit dan kemudian mengenakan jaket Levis yang bergantung di belakangnya.


"Ki, aku jemput istriku dulu, ya... Titip kios sebentar..." Pesan Hidayat sambil berjalan cepat keluar dari kios, membuat semua karyawannya terpelongo.


"Bang Hidayat memang aneh..." Decak Irul sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menatap kepergian Hidayat yang terburu-buru.


"Benar... Kadang melamun sambil tersenyum-senyum sendiri, kadang juga muram, dan kadang menghilang begitu saja..." Sambung Denis.


"Namanya juga masih muda... Pikiran bang Hidayat banyak... Harusnya cuma mikirin diri sendiri, tapi sekarang udah harus mikirin rumah tangganya, keluarganya di kampung, juga keluarga neng Maira... Belum lagi kuliah bang Hidayat yang sudah mau di ujung..." Jelas Rizki terlihat iba pada adik ipar almarhumah bosnya dulu.


"Emang sih... Berat dari pada kita... Kita cuma mikirin uang gaji yang habis buat kos, makan, rokok, hura-hura... Dan cuma si Irul yang paling banyak tabungan per bulannya..." Tunjuk Alan pada Irul.


"Makanya, hemat..." Celetuk Irul.


"Aku nggak bisa seperti kamu, Rul... Ajarin aku hemat juga dong... Mana tahun depan udah niat banget buat halalkan si Santi lagi..." Keluh Rizki.


Mereka tertawa melihat wajah Rizki yang cemberut.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2