
Di sebuah ruangan, tampak lelaki paruh baya terbaring lemah di atas tempat tidur. Beberapa alat penunjang hidup juga terpasang pada tubuhnya, menandakan ia sedang dalam keadaan sakit parah.
"Assalamualaikum, Ayah..." Seorang gadis dengan berpakaian syar'i memasuki ruangannya. Menyapanya dengan lembut dan wajah yang berseri.
Gadis yang tidak lain adalah Kirana Adila, segera mendekat ke samping lelaki itu terbaring. Ia menggenggam tangan tua yang lemah dan tak berdaya. Hanya mata sayu miliknya yang bergerak berusaha mengisyaratkan sesuatu.
"Ayah, sudah seminggu Kiran disini... Tapi, tetap saja Kiran berat meninggalkan Ayah. Kiran masih rindu dan ingin berlama-lama bersama Ayah..." Ucapnya menampakkan senyuman terpaksa. Terlihat mata Kirana memerah dan berkaca-kaca.
"Hanya saja, Kiran tetap harus kembali ke kota, Yah... Besok ada syuting, Film terbaru dan sangat ditunggu-tunggu oleh penggemarnya Kiran, Yah..."
Lelaki yang dipanggilnya ayah merespon dengan kedipan mata. Terlihat kesedihan dari matanya yang kosong dan hampa.
"Kiran mengerti, ayah pasti menginginkan Kiran tetap memakai pakaian seperti ini walau Kiran sedang syuting sekalipun. Tapi, Yah... Kiran nggak punya peran untuk perempuan berhijab lagi, sementara Kiran harus peranin semua yang Kiran bisa, selagi itu menghasilkan uang... Kiran ingin Ayah cepat sembuh, dan kita akan kumpul sama-sama lagi..."
Kirana tak mampu membendung air matanya. Ia menempelkan telapak tangan Ayahnya ke pipinya. "Ayah cepat sembuh... Kirana capek, Yah... Kiran ingin berhenti, lalu Kiran menikah dengan lelaki yang mencintai Kiran..."
Air mata ayah Kirana juga menetes. Ia seakan mengerti apa yang dirasakan oleh putrinya, namun ia begitu lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa.
"Menangis begini tidak akan membuat ayahmu sembuh, Kiran..." Seruan seorang wanita paruh baya terdengar begitu bengis dari arah pintu, membuat Kirana tertunduk lesu.
"Sana pergi... Uang yang kamu kasih kemarin sudah hampir habis, dan kamu bilang kamu sudah tidak punya simpanan lagi, kan?" Ucap wanita itu sambil berjalan kearahnya, lalu menarik paksa lengan Kirana untuk bangkit.
"Tapi, Bu..." Kirana mencoba hendak protes, namun tubuhnya didorong hingga terjerembab ke kaki ayahnya.
"Kamu mau menunggu kematian ayahmu dulu, hah?" Ketus wanita yang dipanggilnya ibu.
Kirana menoleh kearah wajah ayahnya, lalu ia terisak-isak. Ia begitu hancur melihat lelaki nomor satunya terbaring lemah dan tidak berdaya di atas tempat tidur.
"Cepat, Kiran... Mobil sudah menunggumu di depan..." Hardik ibunya lagi seraya menarik lengan Kirana dengan kasar.
"Tunggu, Bu..." Ucap Kirana terdengar memelas. Ia berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman ibunya itu.
"Kak Kiraaan...!" Seorang gadis kecil dengan pakaian seragam merah putih berlari menghampiri, membuat ibunya urung untuk memaksa Kirana bangkit.
__ADS_1
"Ayu?" Kirana mengusap air matanya, lalu tersenyum sambil merentangkan tangannya menyambut gadis itu.
"Ayu sudah pulang sekolah?" Tanya Kirana seolah tidak terjadi sesuatu.
"Sudah... Oh ya, tadi Ayu lihat ada mobil di depan, Kakak mau pergi sekarang?" Tanya Ayu terlihat sedih, sementara ibunya melipat tangan ke dadanya.
"Iya, Sayang... Hari ini Kakak harus berangkat. Besok, Kakak ada syuting..." Jawab Kirana begitu lembut.
"Yaaa, padahal Ayu mau ajak teman-teman sekolah Ayu buat ketemu Kakak besok. Mereka semua fans banget sama Kak Kiran..." Ucap Ayu terlihat kecewa.
"Oh, ya? Hmm gimana, ya?" Kirana tampak seolah berpikir keras, lalu tersenyum hendak mengeluarkan ide. "Gimana kalau Ayu kasih teman-teman Ayu buku kecil yang udah ada tanda tangan Kakak saja sebagai gantinya...?"
"Hmmm, nggak apa-apa deh, Kak... Setidaknya rasa kecewa mereka sedikit terobati dengan itu..."
Kirana berpamitan kepada ayahnya, lalu keluar dari ruangan itu bersama Ayu. Sementara perempuan yang dipanggilnya ibu tersenyum sinis terhadap ayahnya. Terlihat sorot kemarahan dari mata ayah Kirana kepada ibunya, namun ia tidak berdaya melakukan apapun.
"Kamu lihat sendiri bagaimana sayangnya Kiran terhadap Ayu, kan? Jadi, berhentilah berharap kalau Kirana akan menyerah dengan semua ini. Dia akan tetap menjadi tulang punggung, dan bekerja keras untuk membiayai hidupku dan Ayu... Sampai kapanpun, Kirana hanya tau kalau Ayu adik tirinya. Anak yang lahir dari pernikahan ayahnya dengan ibu tirinya. Bersyukurlah kamu tidak mati, Mas... Karena dengan adanya kamu, aku masih bisa memperalat putri kesayanganmu itu..."
Hidayat tersenyum-senyum sendiri. Ini baru saja dimulai, dan masih banyak lagi hal indah lainnya yang akan ia jalani bersama Maira. Memandangi wajah Maira saja sudah membuat dirinya begitu bahagia, apalagi jika terus berada di sisi istrinya itu.
Waktu baru saja memasuki Maghrib, tapi kelasnya belum usai untuk hari ini. Setelah istirahat untuk sholat sebentar, ia harus kembali mengikuti mata kuliah.
Hidayat begitu tidak sabaran. Ia sering kali melihat jam tangannya, sesekali curi-curi kesempatan untuk membuka ponselnya.
Karena ia menunggu, waktu menjadi terasa lama olehnya. Kelas hari ini usai tepat pukul delapan malam. Ia keluar dari ruangan dengan senyuman lebar.
Sesampai di parkiran motor, langkahnya terhenti seketika. Perempuan yang tidak asing baginya tiba-tiba telah berada disana, menunggu dirinya sambil memainkan ponselnya di motor Hidayat.
Wajah Hidayat berubah tegang. Beberapa hari ini ia sempat melupakan gadis itu, dan sibuk meyakinkan perasaannya sendiri terhadap Maira.
Perlahan ia melangkahkan kakinya menuju motornya. Menghindar pun juga tidak ada gunanya saat ini.
"Kirana...?"
__ADS_1
Gadis itu menoleh dengan cepat, lalu berlari mengejar posisi Hidayat. "Aku kangen... Kamu juga, kan?"
Wajah yang tertutup masker itu menengadah, menatap wajah Hidayat yang gugup.
Hidayat tercengang, hatinya gemetar. Awal baru untuk hubungan pernikahannya dengan Maira telah terjalin, namun ia lupa mengakhiri hubungan asmaranya dengan Kirana.
"Ka-kamu kapan datang?" Tanya Hidayat mengalihkan perhatian Kirana yang hampir memeluk dirinya.
"Baru saja..."
"Tidak langsung pulang?"
Kirana menggeleng. "Biasanya juga begini, kan? Sampai di kota ini, aku langsung menemui kamu... Selama di rumah, kita kan tidak pernah komunikasi sama sekali..."
"Kalau gitu, sekarang aku antar pulang, ya?" Bujuk Hidayat. Ingin sekali rasanya ia berterus terang, namun melihat wajah Kirana yang lelah, ia menjadi serba salah.
"Aku lapar... Aku ingin makan bareng kamu..." Terlihat wajah Kirana cemberut.
"Bagaimana kalau dibungkus saja? Kamu bisa makan di apartemen, terus langsung istirahat..." Bujuk Hidayat berusaha mengelak dari suasana yang begitu tidak mengenakkan baginya. Baru kali ini ia merasa risih dan tidak nyaman berada di dekat Kirana.
Apa cinta ini telah luntur? Mengapa semua berubah canggung? Dan mengapa ia merasa ketakutan? Takut Maira akan tahu tentang hubungannya dengan Kirana, lalu semua berubah mengerikan.
"Rasanya aku menyerah, Yat... Aku ingin cerita semuanya ke kamu malam ini..." Ucap Kirana sendu.
Mungkin ini juga waktu yang tepat untuk membicarakannya dengan Kiran...
.
.
.
.
__ADS_1