
Arya merenungi ucapan Hidayat barusan. Namun tetap saja ia tidak bisa menerima bahwa hatinya juga memiliki rasa kepedulian terhadap Kirana. Lama ia duduk di kursi tunggu rumah sakit setelah kepergian Hidayat, tapi ia juga tidak bisa pergi begitu saja sebelum memastikan keadaan Kirana.
Arya berjalan menuju ruang tempat Kirana dirawat. Ia sedikit mengintip dari pintu yang hanya setengah tertutup. Tampak Kirana menangis tersedu-sedu sambil memeluk lututnya. Hati Arya mulai terenyuh, namun bukan berarti ia membenarkan apa yang telah diperbuat gadis itu.
Arya juga mendengar beberapa kali ponsel Kirana berdering, dan Kirana hanya mengabaikannya saja.
Ponsel Kirana terus berbunyi, membuat Arya begitu penasaran tentang siapa yang menelepon. Teka-teki yang dikatakan Hidayat tadi tentang Kirana, membuatnya berani untuk masuk.
"Angkatlah, mana tahu itu penting..." Suruh Arya.
Kirana tercengang mendapati Arya tiba-tiba sudah berada di hadapannya. Ia buru-buru menyeka air matanya, lalu membalikkan ponselnya yang masih berdering.
"Kenapa kamu ada disini?" Tanya Kirana dengan nada cuek.
"Jangan salah paham, sebagai rekan seharusnya kita memang harus saling peduli, bukan?" Ucap Arya seraya mendekat.
Kirana tersenyum sinis sambil membuang muka. "Tidak perlu..."
Ponsel Kirana kembali berdering, dan ia masih tetap mengabaikannya.
"Angkatlah..." Suruh Arya lagi.
"Tidak penting..." Jawab Kirana acuh tak acuh.
"Darimana kamu bisa tau itu tidak penting, sementara kamu tidak mengangkatnya sama sekali? Cobalah angkat..." Bujuk Arya.
Kirana membalikkan ponselnya, dan ia melihat nomor Ayu yang menelepon. Ia melirik ke arah Arya dengan wajah tak nyaman, lalu mengangkat telepon itu ragu-ragu.
"Assalamualaikum, Sayang..."
Mendengar ucapan Kirana, tatapan Arya melekat padanya. Ia semakin menajamkan pendengarannya, meskipun tingkahnya berpura-pura acuh agar Kirana bisa lebih leluasa mengobrol dengan lawan bicaranya lewat telepon itu.
Kirana terlihat gelagapan ketika mendengar sesuatu di telponnya. "Kenapa, Sayang? Ada apa?"
Arya semakin ingin tahu dengan siapa Kirana menelepon. Ia segera berjalan kearah Kirana lebih dekat lagi.
__ADS_1
"Ayu?" Panggil Kirana, dan mendengar nama itu disebut, Arya sedikit lega.
"Tolong jangan buat Kakak khawatir, Sayang... Tenanglah, dan coba cerita sama Kakak apa yang terjadi..." Bujuk Kirana, walau sebenarnya ia terlihat begitu khawatir.
"Kak Kiraaannn... Kak Kiran cepat pulang... Ayah, Kak... Ayah..." Terdengar suara Ayu menjerit memanggilnya. Anak itu seperti sedang terisak-isak, membuat wajah Kirana terlihat tegang mendengarnya.
"Ayah? Ada apa dengan Ayah, Sayang? Ayah baik-baik saja, kan?"
"Ayah nggak mau buka mata lagi, Kak... Orang-orang banyak datang ke rumah kita, mereka bilang ayah kita sudah tidak ada... Ayo, Kak, pulang..."
Air mata Kirana berjatuhan dengan deras membasahi pipinya. Ponsel dalam genggamannya yang masih menempel di telinganya terjatuh dan terhempas di atas tempat tidurnya saat ini. Ia bergeming, dengan mata tak berkedip.
"Ada apa? Siapa yang menelepon?" Tanya Arya ikut panik melihat perubahan sikap Kirana.
Kirana tak menyahut. Ia masih diam di posisinya, sementara air matanya mengalir tak henti-hentinya.
"Kiran...?" Panggil Arya, namun Kirana tetap bergeming tanpa menghiraukannya. "Kiranaaa..."
Arya mengguncang bahu Kirana, bahkan dari pelan hingga guncangan yang sedikit kuat, namun Kirana tak kunjung menggubrisnya.
"Semua perjuanganku sia-sia..." Ucap Kirana pelan seolah menyesali keadaannya.
"Semuanya sia-sia..." Pekik Kirana dengan jemari yang kuat meremas selimutnya.
Melihat hal itu, Arya memeluk erat tubuh Kirana yang menggigil hebat. "Tenanglah, Kiran..."
Kirana terisak. Ia telah menguasai dirinya kembali ketika mendapatkan pelukan hangat dari mantan kekasihnya itu.
"Ayah... Ayaaaah... Ayah maafin Kiran, Yah..." Tangisnya pecah. Ia terlihat menyesali dirinya, dan beberapa kali Arya mencoba menenangkannya.
***
Hidayat sampai di rumah, dan ia tidak melihat satu pun cahaya dari dalam rumah, termasuk di kamarnya. Hanya saja ia sedikit lega mendapati motor almarhum Abang iparnya yang dipakai Maira telah terparkir di dalam.
Hidayat berusaha bersikap tenang. Ia tahu tidak akan mudah bagi Maira untuk bisa menerima perbuatannya itu. Tiba-tiba Hidayat terpikir oleh perkataan Maira beberapa waktu lalu, bahwa akan sulit baginya menerima Hidayat jika memiliki perempuan lain di luar sana.
__ADS_1
Ia mulai gelisah. Rasa takut kehilangan muncul begitu saja. Ia bergegas mengetuk pintu kamar dan memanggil-manggil istrinya itu.
"Assalamualaikum, Mai... Maira, tolong buka pintu sebentar, Abang perlu bicara..." Ucap Hidayat sambil menekan handle pintu, namun ternyata pintu kamar sama sekali tidak terkunci.
Jantung Hidayat berdegup kencang. Keberanian dirinya menciut seketika, ia tidak tahu apa yang ada dalam pikiran istrinya saat ini. Dia menghidupkan lampu kamar, dan ternyata Maira malah tertidur di atas tempat tidur.
Hidayat perlahan membuka almamaternya, lalu membawa hatinya yang lelah berbaring di samping Maira. Ia tahu istrinya itu belum tidur, namun ia tidak ingin mendengar atau menjelaskan apa-apa malam ini.
Cukup lama Hidayat terjaga. Matanya tak bisa tidur barang sekejap pun. Pikirannya masih pada apa yang akan terjadi nanti, namun ia juga tidak ingin mengganggu suasana hati Maira.
Sisa demam semalam masih ada, ditambah permasalahannya membuat kepalanya terasa berat kembali. Ia kemudian tertidur sendirinya.
Tak terasa sudah subuh, dan masih terdengar suara imam di masjid membacakan zikir usai sholat. Hidayat terbangun dari tidurnya. Tubuhnya kian berat, dan ia merasa kedinginan. Namun ketika ia menoleh ke sisi kanan, ia tidak lagi melihat Maira di sampingnya.
Hatinya mulai gelisah kembali. Rasa takut kehilangan membuat ia kuat untuk bangkit. Ia mencari-cari keberadaan Maira di seluruh sisi ruangan, namun Maira sama sekali tidak terlihat. Hidayat berjalan ke kamar mandi dengan sempoyongan, dan disana juga tidak ada Maira.
Ia berpikir untuk menunaikan shalat subuh terlebih dahulu, karena di masjid sudah tidak terdengar lagi imam memimpin doa.
Usai melaksanakan shalat subuh, Hidayat mencari Maira ke dapur. Ia sangat yakin bahwa Maira pasti sedang menyiapkan sarapan.
Dugaannya benar, di dapur Maira tampak sibuk menata makanan di meja makan. Ia perlahan mendekati istrinya itu.
"Maira kok tidak bangunkan Abang? Hampir saja Abang shalat subuh kesiangan..." Ujar Hidayat memulai percakapan di antara mereka pagi ini.
Maira tidak menggubrisnya. Ia hanya sibuk dengan pekerjaannya saja.
"Maira masak apa? Masih ada yang bisa Abang bantu?" Tanya Hidayat terus berusaha, namun tetap saja Maira diam seribu bahasa, bahkan menoleh kepadanya sekalipun juga tidak.
"Mai..." Hidayat berjalan ke depan Maira, namun Maira malah mengelak begitu saja.
"Maira boleh marahi Abang... Maira boleh meneriaki, memaki, bahkan boleh pukul Abang sekalipun, tapi tolong jangan diami Abang... Abang nggak bisa didiami, Mai..." Ucap Hidayat berputus asa.
Air mata Maira tumpah seketika mendengar ucapan Hidayat. Hatinya begitu sakit mengingat kelakuan suaminya itu semalam.
.
__ADS_1
.
.