
"Maira..." Hidayat terjaga dari tidurnya. Setelah pingsan tadi, dokter memberi ia suntikan obat agar bisa beristirahat sejenak.
Keringat dingin bercucuran di dahinya. Ia menoleh ke sekelilingnya, tidak ada siapa-siapa disana. Hatinya mulai terasa pedih kembali, mengingat kesalahpahaman yang terjadi di antara dirinya dan Maira. Ia berpikiran buruk, rasa takut ditinggal pergi oleh Maira membuat ia panik dan gelisah.
Hidayat menyingkapkan selimut yang membaluti tubuhnya, lalu bergerak hendak turun dari tempat tidur.
"Abang mau kemana?" Tiba-tiba Maira muncul dari balik pintu dengan membawa jinjingan kresek di tangannya.
"Ma-Maira..." Hidayat baru menyadari bahwa ia tengah berada di ruang rawat rumah sakit, bahkan ia baru ngeh ada selang infus tertempel di tangannya.
"Abang masih lemas, istirahatlah dulu..." Suruh Maira sembari meletakkan bawaannya di atas meja kecil dekatnya.
Hidayat kembali meluruskan kakinya. Ia terus menatap gerak-gerik Maira dengan matanya yang sayu. Wajahnya masih begitu pucat, dan keringatnya masih menempel di keningnya.
Maira membuka makanan yang sudah disediakan rumah sakit untuk Hidayat, lalu dibawanya ke suaminya itu.
"Abang makan dulu, ya..." Ujar Maira, lalu menyuapi Hidayat dengan pelan.
Hidayat menurut, namun pandangannya tak lepas dari wajah Maira. Ia terus makan dengan lahap setiap suapan Maira kepadanya. Sesekali ia berkedip, hanya saja ia tidak berhenti untuk memandangi istrinya itu.
Usai makan, Maira membersihkan tubuh suaminya itu. Ia menyeka keringat yang masih melekat di dahi Hidayat.
"Kenapa melihat Maira begitu?" Tanya Maira yang sebenarnya sudah merasa canggung sedari tadi.
"Jika karena Abang sakit Maira masih mau bersama Abang, biar Abang sakit saja terus... Abang tidak mau Maira pergi..." Ujar Hidayat memelas.
"Siapa juga yang mau pergi? Maira nggak kemana-mana..." Ucap Maira seraya memalingkan wajahnya dari tatapan Hidayat. Ia menyeka air matanya yang tiba-tiba jatuh begitu saja setelah dari tadi lamanya ia tahan.
"Maira, tolong dengarkan penjelasan Abang... Semua yang Maira lihat semalam..."
"Kenapa Abang tidak cerita sebelumnya kalau Abang sudah punya kekasih? Kenapa Abang harus jadikan Maira penghalang di antara kalian?" Potong Maira cepat.
Hidayat tercenung, lalu menatap Maira sendu. "Jika Abang mengatakannya, lalu apa Maira akan menolak perjodohan kita?"
"Hah?" Maira tercengang. Ia gugup mendengar pertanyaan Hidayat yang begitu menohok hatinya.
"Tidak ada jawaban?" Tanya Hidayat lagi sembari mengangkat dagu Maira agar mata istrinya itu menatap ke wajahnya. "Bukankah Maira menyukai Abang sudah dari lama?"
"Maira tahu, tidak? Betapa bersyukurnya Abang jika mengingat hal itu, dimana Maira bertahan bersama Abang meski Abang memperlakukan Maira layaknya orang lain setelah kita menikah... Karena kalau tidak, Abang tidak akan pernah merasakan indahnya berbagi kebahagiaan dengan Maira setelah rasa ini tumbuh hanya untuk Maira seutuhnya..." Tutur Hidayat seraya menggenggam kedua tangan Maira.
"Tapi, bagaimana dengan kak Kiran..." Ucap Maira sedih.
__ADS_1
"Kirana masa lalu Abang, Mai... Dan soal tadi malam-"
"Ayah Kak Kiran meninggal, Bang..." Potong Maira.
"Hah?" Hidayat tercengang, menatap Maira dengan penuh tanda tanya.
"Bang Arya yang menelepon... Tadi Maira panik sekali, Abang tiba-tiba saja pingsan... Maira takut, cemas kalau kejadian kak Zahra terulang kedua kalinya, dan kali ini terjadi pada kehidupan kita..." Sungut Maira.
Hidayat tersenyum, "terus kata dokter Abang punya penyakit parah, nggak?"
"Ih, Abang..." Maira merengut mendengar olok-olok suaminya itu.
"Iya, iya, Maaf... Abang bercanda... Abang juga tidak pernah merasa sakit apa-apa selama ini, dan juga nggak ada riwayat penyakit apa pun sebelumnya..." Ujar Hidayat sedikit terkekeh.
"Maira pasti sangat cemas, ya?" Tanya Hidayat sambil mengelus pipi Maira dengan lembut.
"Sangat..." Jawab Maira sembari mengangguk.
"Terus, kok Abang bisa sampai ke rumah sakit?"
"Maira minta tolong sama Bu Yanti, dan suami Bu Yanti yang anterin..." Mendengar hal itu Hidayat malah tersenyum-senyum sendiri.
"Kenapa Abang senyum-senyum begitu?" Maira meliriknya dengan curiga.
"Iiih... Abang tahu nggak Maira cemas... Suhu tubuh Abang tinggi, bahkan lebih tinggi dari kemarin malam..." Omel Maira bersungut-sungut.
"Tadinya Bu Yanti mau nungguin juga, tapi setelah dokter bilang Abang cuma demam tinggi, Maira suruh Bu Yanti pulang bareng suaminya... Nggak enak, mereka kan juga ada kesibukan..."
"Iya... Terima kasih, istriku..." Ucap Hidayat sambil mengecup tangan Maira yang masih dalam genggamannya.
Maira merasa tersanjung mendengar Hidayat memanggilnya dengan sebutan istriku, rasa bersalah karena telah mengintimidasi tanpa mendengar pengakuan Hidayat terlebih dahulu kembali hadir dalam dadanya.
"Bang Arya sudah menjelaskan semuanya sama Maira. Ternyata semalam Abang datang ke rumah sakit karena membuka pesan dari Maira rupanya... Padahal Abang sudah berniat untuk tidak datang, dan menelepon bang Arya untuk melihat keadaan kak Kiran... Harusnya Maira mendengar penjelasan dari Abang, sehingga tidak ada salah paham di antara kita..." Tutur Maira tampak merasa bersalah sekali.
Hidayat mengangguk, lalu menarik tubuh Maira ke dalam dekapannya. "Maafin Abang, Mai... Memang semua awalnya kesalahan Abang... Abang yang bodoh karena mau saja dimanfaatin sama Kirana..."
Maira keluar dari dekapan Hidayat, lalu menatap suaminya itu dengan wajah penuh keseriusan. "Bang Arya bahkan merasa bersalah telah berpikir buruk tentang kak Kiran, kenapa sekarang jadi Abang yang berpikiran buruk kepadanya? Apa dia pernah memaksa Abang terhadap sesuatu keinginannya?"
"hah?" Hidayat terpelongo mendengar ucapan Maira.
"Bang Arya memaksa kak Kiran agar mau diantar ke rumahnya semalam, dan ternyata selama ini ia bekerja keras demi ayahnya yang sakit, memenuhi keperluan adik tirinya dan juga untuk ibu tirinya... Kasihan sekali kak Kiran..." Ungkap Maira terlihat begitu mengkhawatirkan Kirana yang bahkan menjadi orang ketiga dalam rumah tangganya.
__ADS_1
"Tapi, dia nggak seperti Maira terhadap Abang..." Sangkal Hidayat.
"Dia mencintai Abang... Maira melihat sendiri-"
"Memangnya Maira rela?" Potong Hidayat cepat.
"Eh?" Maira tercengang, terlihat kebingungan sendiri mendengar pertanyaan Hidayat.
"Maira rela ngga?" Goda Hidayat.
"Nggak... Abang milik Maira, dan nggak akan Maira lepas kecuali Abang yang menginginkan pergi demi perempuan lain..." Ketus Maira menahan diri dari rasa malunya.
Hidayat tersenyum, lalu menarik pinggang Maira ke dalam dekapannya. Ia mengecup pipi Maira begitu lama. "Maira yang memenuhi kebutuhan hati Abang, mana mungkin Abang menginginkan perempuan lain?"
Tak lama, pintu terdengar diketuk dari luar. Maira segera mengambil jarak dari Hidayat.
"Assalamualaikum..." Tampak Bu Yanti dan suaminya di ambang pintu.
"Wa'alaikum salam..." Jawab mereka berdua, sementara Maira terlihat gugup dan canggung atas kedatangan tetangganya itu.
"Gimana keadaanmu, Yat?" Tanya suami Bu Yanti seraya mendekat.
"Alhamdulillah, Pak, sudah lumayan... Hanya saja masih sedikit pusing..." Jawab Hidayat dengan santainya.
"Alhamdulillah... Bu Yanti sedari tadi tidak tenang memikirkan keadaanmu, makanya kami buru-buru kembali..." Tutur beliau.
"Terima kasih sekali, Pak, Bu... Maaf sudah merepotkan..." Ucap Hidayat sungkan.
"Ibu malah senang Maira memanggil kami... Kami jadi merasa kalau kami ini memang keluarga untuk kalian berdua... Mengingat kejadian nak Zahra, kami jadi sedih, kenapa saat jenazahnya saja yang datang kami baru tahu. Padahal kita tetangga dekat..." Ucap Bu Yanti menyesali.
"Maafkan Hidayat soal itu, Bu... Tapi kami memang tidak pernah tahu keadaan kak Zahra sebelumnya... Sebelum ashar waktu itu, dan hanya semalam kak Zahra bertahan di rumah sakit, makanya kami tidak sempat memberitahu kepada siapapun kecuali keluarga di kampung... Bang Ajiz sangat terpukul sekali, sehingga ia tidak dapat berbuat apa-apa..." Tutur Hidayat terlihat begitu sedih mengenang kembali almarhumah kakaknya.
"Astaghfirullah, maaf, Nak... Ibu tidak bermaksud membuat nak Hidayat bersedih mengingat nak Zahra lagi..."
"Tidak apa-apa, Bu... Ibu pasti kecewa, karena kak Zahra pasti sudah ibu anggap seperti keluarga sendiri juga..." Ucap Hidayat sambil tersenyum.
.
.
.
__ADS_1
.