
Arya Irawan, aktor muda yang terkenal itu terlihat begitu senang. Wajahnya berseri, dan ia tampak bersemangat dengan sekuntum bunga dalam genggamannya, juga cincin berlian yang telah siap untuk ia pasangkan pada seseorang.
Ia telah berdiri di tempat dimana ia akan melamar pujaan hatinya. Tempat yang begitu indah dan mewah. Dipenuhi berbagai hiasan, bunga-bunga, juga lilin yang menyala menerangi malam bertabur bintang di langit.
Ponselnya berdering, dengan bahagianya ia mengangkat panggilan telepon itu.
"Kiran tidak di apartemennya?" Wajah Arya berubah tegang. Ia kemudian mengakhiri panggilan itu, lalu melakukan panggilan lainnya. Beberapa kali ia mencoba menelpon, namun sama sekali tidak mendapat jawaban.
Arya mulai panik, ia memutar badan meninggalkan tempat yang seharusnya menjadi tempat penuh kenangan indah olehnya sampai kapanpun. Ia terus berlari melewati lorong demi lorong hingga tak sadar menabrak seseorang di depan sebuah kamar.
"Sorry..." Ucap Arya dengan napas sesak, lalu mengulurkan tangannya ke hadapan perempuan yang tak sengaja ia tabrak.
"Nggak apa-apa, terima kasih..." Perempuan itu membalas uluran tangan Arya, lalu menoleh kepadanya.
Arya tercengang, begitupun perempuan yang tidak lain adalah Kirana Adila.
"Kiran?"
"A-Arya?"
Arya perlahan melepaskan tangan Kirana, lalu bergegas bangkit dan berdiri sambil menatap Kirana tak percaya.
"Arya..." Mata Kirana memerah, membalas tatapan Arya dengan wajah memelas pasrah.
Arya menatap kostum Kirana. Pakaian kurang bahan, dengan rok mini sebatas paha, lalu stoking jala yang sudah robek di bagian paha depannya.
Sadar Arya menatapnya begitu menjijikkan, Kirana menutupi bagian dadanya dengan tas jinjing yang ia pegang.
"Apa ini, Kiran? Kenapa kamu ada disini? Bukankah aku sudah meminta agar kamu berdiam di apartemen kamu untuk hari ini?" Tanya Arya terlihat kecewa.
"A-Arya..." Bibir Kirana bergetar hendak menjelaskan sesuatu, namun tiba-tiba pintu kamar tempat ia keluar tadi terbuka lebar. Tampak seorang lelaki paruh baya berdiri disana dengan bertelanjang dada, dan hanya memakai bokser setinggi paha.
"Selesaikan permasalahan kalian di kamar lain, dan jangan membuat keributan di depan kamar saya..." Ucap orang itu dengan bengis, lalu kembali menutup pintu kamarnya dengan keras.
Air mata Kirana tumpah ruah. Harapannya pupus untuk bertahan tegar di hadapan Arya. Ia hanya bisa terisak sambil menundukkan kepalanya. Tangannya memeluk erat tasnya ke dadanya.
Arya menelan kasar ludahnya. "Aku kira kamu rumah yang memberi kenyamanan, tapi kamu tidak lain hanya kuburan, Kiran... Menyeramkan..."
__ADS_1
Setelah berucap begitu, Arya segera pergi meninggalkan Kirana yang hanya mematung disana.
^^^
Hidayat tercengang mendengar cerita Arya. Hal yang tiada pernah disangka-sangka olehnya selama ini, ternyata Kirana dan Arya pernah menjalani hubungan kekasih di masa lalu mereka.
"Tapi, kenapa Abang dan Kirana masih bisa beradu akting? Di antara kalian seperti tidak pernah terjadi apa-apa..." Ujar Hidayat masih dalam ketidakpercayaannya.
"Bagaimana bisa Abang masih mau melihat wajahnya, Yat? Sementara hati Abang benar-benar patah olehnya. Abang kecewa, tapi Abang tidak tahu harus berbuat apa dan mencurahkan segala perasaan Abang kepada siapa... Abang membatalkan semua job, dan kemudian menyendiri di rumah nenek Abang. Abang buat akun, lalu curhat di media sosial... Dan beruntungnya kakak kamu yang merespon curhatan Abang... Apa Zahrana menceritakan detail bagaimana percakapan awal kami?" Tanya Arya seraya menoleh pada Hidayat yang terus memerhatikan dirinya, menyimak setiap ceritanya.
"Kematian..." Jawab Hidayat singkat.
Arya tergelak, namun perasaannya tidak bisa ia bohongi. Wajahnya menampakkan kesedihan. "Kamu benar, Yat... Abang belum lupa itu... Banyak dia menasehati Abang, Yat... Mengajari Abang ilmu agama, sampai Abang merasa nyaman dengannya. Abang mulai bersikap biasa-biasa kembali, dan melupakan kesedihan Abang bersama tulisan-tulisannya yang terlihat seperti syair di mata Abang... Kesempatan pertemanan kami semakin besar ketika dia memperkenalkan karya-karya tulisnya kepada Abang..."
Arya menghela napas berat, sementara Hidayat tak berhenti menginginkannya agar terus melanjutkan ceritanya.
"Sampai ketika Abang memperlihatkan novelnya ke produser, ternyata Kirana lah yang diminta untuk memerankan tokoh Habibah nya, karena hubungan kami dan permasalahan kami tidak pernah dipublikasikan ke media. Apa boleh buat, Abang harus profesional dan menerimanya. Kamu kira ini mudah bagi Abang?"
Hidayat tertegun melihat gelengan kepala Arya. "Ini sulit, Yat... Hanya saja ada kakakmu disana, sehingga Abang bisa mengendalikan perasaan Abang... Abang terus menelaah perasaan Abang sendiri, dan Abang yakin bahwa Abang benar-benar telah jatuh cinta pada kakakmu waktu itu..."
"Sekarang bagaimana maksud kamu, Yat?"
"Perasaan Abang terhadap Kirana?"
"Biasa saja... Kami bahkan tidak pernah mengobrol, kecuali dalam naskah..." Jawab Arya santai.
"Umm..."
"Ah, ya... Sekali waktu kami menghadiri pernikahan kamu, Yat..."
Ucapan Arya membuat Hidayat tercengang. Ia berubah gugup ketika Arya mengaitkan Kirana dengan dirinya.
"Kamu dulu sering chat dengannya, Yat?"
"Eh?" Hidayat semakin ketakutan. Ia dibuat tegang oleh pertanyaan Arya yang sebenarnya terkesan biasa saja.
"Ada juga sih, Bang..." Jawab Hidayat berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
__ADS_1
"Sekarang tentu sudah tidak, ya?"
"Apa sih, Bang?" Ucap Hidayat berusaha mengelak. "Emmmm tapi, Bang... Sebenarnya apa yang dia lakukan di kamar itu?"
"Menurutmu?"
Hidayat merasa tercekik ketika ditatap Arya sedemikian rupa. Namun dalam benaknya, ia tidak berhenti bertanya-tanya. Dan ia juga tidak mengerti mengapa ia masih berempati terhadap Kirana, meski ia juga tidak bisa percaya mengapa Kirana sampai melakukan hal demikian.
Hidayat nyengir untuk mengelak dari tatapan aneh Arya. "Entahlah, Bang... Hidayat kira dia perempuan baik-baik... Tapi, Abang tidak tahu apa alasannya berbuat begitu sampai mengkhianati hubungan kalian?"
"Tidak ada alasan yang mengharuskan dia sampai berbuat begitu, Yat... Uang? Abang rasa dia berkecukupan... Dan Abang sering menguras dompet Abang demi dia..." Ucap Arya terlihat dalam keadaan emosi terbawa suasana hatinya sendiri.
"Hah?"
"Mungkin dia butuh uang, Bang? Apa Abang sudah mengenal dirinya lebih jauh?" Tanya Hidayat lagi.
"Dia tidak pernah mau bercerita apa pun soal keluarganya, Yat... Abang pikir, dengan Abang melamarnya malam itu, dia akan luluh dan mau mengenalkan Abang kepada keluarganya... Abang benar-benar serius untuknya... Tapi, ya itu... Dia begitu tertutup dari dulu. Akun sosialnya saja private..."
Hidayat mangut-mangut. "Ibu pernah bilang, jangan pernah membenci sesuatu terlalu berlebihan. Mana tahu apa yang kamu benci, malah jadi itu yang terbaik bagimu..."
"Abang tidak membencinya..." Ucap Arya cepat. "Ah, sudah ngomongin tentang dia, Yat... Berasa jadi perempuan kita..."
Hidayat terkekeh. "Nggak terasa sudah hampir masuk waktu Zuhur, Bang... Rizki bolak-balik anterin nota saja nggak ingat sudah berapa kali sedari tadi..."
"Sudah ada tiga puluh juta dari tadi, Yat..." Ucap Arya terlihat yakin.
"Ah, masa iya, Bang?" Hidayat segera membuka laci di hadapannya. "Maa syaa Allah... Ternyata sudah sebanyak ini... Alhamdulillah..."
Arya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aneh kamu, Yat... Kok malah kamu jadi yang nggak fokus, ya? Abang saja bisa sadar sudah berapa kali anggotamu kemari memberikan uang cas..."
.
.
.
.
__ADS_1