
Hidayat menatap Kirana dari kejauhan. Ia dilema, kebingungan untuk menentukan keadaan yang menjadi sulit ketika ia telah menyadari perasaannya terhadap Maira. Ia juga tidak enakan jika harus berterus terang kepada Kirana untuk mengakhiri semuanya hubungan mereka.
Dia memutuskan untuk menemui Kirana di kesempatan kali ini, lalu bicara besok, besok-besoknya atau kapan ia merasa siap.
"Assalamualaikum..." Ucap Kirana sambil tersenyum menyambut kedatangan Hidayat kearahnya yang menunggu di samping motor Hidayat terparkir.
"Wa'alaikum salam..." Jawab Hidayat memaksakan senyumnya.
"Aku tahu hari ini kamu keluar lebih awal... Kamu pasti bosan, kan? Selepas magrib nanti kita main ke taman, yuk..." Ajak Kirana seraya menggamit lengan Hidayat.
Hidayat perlahan melepaskan tangannya dari genggaman Kirana, membuat gadis itu murung kebingungan.
"Apa seminggu aku tinggal, kamu sudah mencintainya?" Tanya Kirana sendu.
"Kiran..." Hidayat bersiap untuk bicara, namun dengan sigap Kirana menggeleng.
"Bukan, kan? Pasti karena kamu kesulitan oleh ibumu... Tidak apa-apa kok, Yat... Tidak masalah... Aku masih dengan pendirianku, dan aku akan tetap pada pendirianku..." Ucap Kirana hanya untuk menguatkan dirinya sendiri.
"Kiran..."
"Ayo, Yat, kita ke taman..." Potong Kirana cepat. Ia seperti tidak ingin mendengar apa-apa dari mulut Hidayat.
"Aku antar kamu ke apartemen, ya... Hari ini aku ada lembur... Tadi barang belanja masuk, dan kami belum sempat membongkarnya... Banyak pelanggan yang memesan barang itu, sementara stok di gudang habis..." Bujuk Hidayat.
"Malam ini tidak lagi?" Tatapan Kirana semakin terlihat menyedihkan. Matanya berkaca-kaca, sepertinya ia benar-benar terluka.
"Maaf, Kiran..." Ucap Hidayat seraya menaiki motornya.
"Baiklah... Lusa aku tidak ada syuting, aku harap kita bisa jalan..." Ucap Kirana menurut, lalu naik ke motor Hidayat.
Selama di atas motor, mereka hanya diam seribu bahasa. Tidak ada gurauan seperti yang lalu. Kirana melingkarkan tangannya ke pinggang Hidayat, dan dia mulai menyenderkan dagunya ke pundak Hidayat. Wajahnya cemberut, air matanya bergulir membasahi pipinya. Ia bisa merasakan perubahan sikap kekasihnya itu.
Hidayat hanya menoleh sebentar ke perutnya yang kebas diapit tangan Kirana. Walau ia ingin berterus terang, namun ia bisa mempercayai Kirana perempuan baik-baik yang melakukan semua itu demi ayahnya. Dia melihat betul air mata ketulusan bercampur kepedihan pada gadis itu.
Sesampai mereka di apartemen, Kirana turun dari motor Hidayat, lalu ia berlalu tanpa pamit.
Hidayat hanya melongo. Ia tahu ini melukai hati Kirana, dan dalam pikirannya, ia merasa bersalah pernah melukai hati Maira. Ketergesaannya dalam memilih keputusan kala itu, menjadi kekasih Kirana, membuat kisahnya hampir sama dengan kisah almarhumah kakaknya.
__ADS_1
Ia akan menyakiti perasaan Kirana lebih jauh, juga membohongi istrinya lebih lama. Kenapa Zahrana lebih berani berterus terang dibanding dirinya dalam situasi seperti ini? Kadang, bahkan hampir setiap saat, setiap kali apabila Kirana tiba-tiba saja muncul. Maka ia akan bertanya-tanya demikian.
Hidayat mampir terlebih dahulu ke masjid terdekat. Azan magrib sudah terdengar memanggil dengan syahdu. Hatinya masih gelisah, semakin lama ia menahan-nahan untuk tidak bicara pada Kirana, semakin lama pula ia menyelingkuhi istrinya.
Usai sholat, Hidayat singgah ke warteg untuk membeli makan malam beserta cemilan dan minuman. Setelah itu ia langsung ke kios. Ia dan istrinya beserta karyawan kios sudah janjian disana untuk lembur malam ini.
Hidayat sampai di kios berbarengan dengan kelima karyawannya, sementara Maira telah berada di dalam kios seorang diri. Ia tidak pulang setelah kios tutup tadi sore.
Rolling door kios terbuka. Maira muncul menampakkan senyum manisnya dari dalam.
"Assalamualaikum..." Ucap Hidayat bersamaan dengan yang lainnya.
"Wa'alaikum salam..." Jawab Maira seraya menyambut tangan Hidayat.
"Abang udah shalat?"
"Sudah... Maira?"
"Sudah juga..."
"Kalian semua sudah shalat juga, kan?" Tanya Maira sambil menoleh pada Rizki dan yang lainnya.
"Tolong bantu bawa makan malam kita, Ki..." Pinta Hidayat sambil menunjuk ke motornya.
"Siap, Bang..."
Mereka masuk ke dalam kios, lalu memulai pekerjaan.
"Ini perdana buat Maira bongkar barang belanja, kan?" Tanya Hidayat begitu lembut. Wajahnya mulai berseri kembali. Ia seakan melupakan segalanya jika berada di sisi istrinya itu.
"Iya..." Jawab Maira sembari mengangguk.
"Maira pegang nota saja, ya... Nggak usah capek-capek... Cek list nomor barang yang kami sebutkan. Oke..." Ujar Hidayat.
"Oke..." Sahut Maira menurut.
"Bismillahirrahmanirrahim..." Ucap mereka bersamaan, lalu mulai memainkan gunting membuka dus yang tersusun rapi di hadapan mereka.
__ADS_1
"Dua puluh pack shampo bayi anggur..." Seru Rizki seraya mengeluarkan barang yang disebutnya itu dari dus besar, lalu disusun oleh karyawan lainnya di rak. Sementara Zahrana sibuk mencari nama barang yang disebutkan, kemudian ia cek list jika sesuai dengan yang tertulis. Begitu sampai selesai.
Sesekali terdengar canda di antara mereka, tertawa riuh membangkitkan suasana dan semangat kerja mereka.
"Melihat Abang dengan Neng Maira, kami jadi teringat sama kak Zahra dan bang Ajiz..." Ucap Irul terlihat sedih.
Maira termangu mendengar ucapan Irul. Dia juga terlihat sendu. Melihat wajah Maira yang sedih, Hidayat segera mengusap kepalanya.
"Nggak hanya kita yang kehilangan, Maira... Tapi banyak orang, termasuk mereka... Kakak-kakak kita memang luar biasa, meninggalkan kepedihan buat orang-orang yang mereka tinggalkan..." Ucap Hidayat menenangkan Maira.
Maira tersenyum. Ia mengangguk menanggapi ucapan Hidayat. Hatinya sedikit lega, memiliki Hidayat, dan menjadi istri yang sudah dianggap.
Lembur malam ini selesai. Mereka menikmati makanan yang tadinya sudah dibeli Hidayat. Masih hangat dan enak. Mereka seperti satu keluarga, tanpa membedakan siapa dan apa status mereka satu sama lainnya.
"Besok buka jam delapan saja, ya...!" Seru Hidayat sebelum mereka keluar.
"Baik, Bang..."
Hidayat mengunci rolling door kios, lalu merangkul Maira sambil tersenyum kearah motornya yang terparkir tepat di depan kios. Sementara karyawannya telah dahulu pergi dengan motor mereka masing-masing.
"Maira mau jalan-jalan dulu sebelum pulang?" Tanya Hidayat sambil memasangkan helm ke kepala Maira.
"Kapan-kapan saja, Bang... Sudah malam, lagian Abang pasti lelah..." Tolak Maira.
"Bener?" Tanya Hidayat begitu memanjakan Maira.
"Iya... Pulang ke rumah saja bareng Abang sudah lebih dari jalan-jalan bagi Maira..."
Hidayat menaiki motornya dan kemudian disusul oleh Maira. Tampak sekali kebahagiaan di wajah mereka, dan tanpa dibuat-buat.
Tidak mereka sadari, Kirana memerhatikan dari dalam mobilnya di posisi yang agak jauh. Hati Kirana begitu sakit melihat kebahagiaan Hidayat bersama Maira. Ia sudah menduganya, hanya saja ia tidak ingin meyakini kenyataannya.
Air mata Kirana mengalir membasahi pipinya. Untuk malam ini ia hanya bisa pasrah dan tidak dapat berbuat apa-apa. Ia berharap kenyataan besok apabila bertemu Hidayat, ia akan mendengar bahwa cinta Hidayat masih untuknya.
.
.
__ADS_1
.
.