
Hidayat menjemput Ayu ke sekolah sebelum ia menjemput Maira ke kampusnya. Beberapa hari Ayu tinggal bersamanya, membuat hubungan mereka lebih dekat. Seperti anak dengan ayah, dan keluarga mereka seperti sempurna, walau Ayu hanya memanggilnya Abang dan panggilan kepada Maira hanyalah kakak.
"Abang nggak ke kampus? Kata kak Mai-Mai bang Hidayat pergi ke kampus hari ini..." Tanya Ayu terlihat girang atas kedatangan Hidayat ke sekolahnya.
"Nanti, jam empat Abang kuliah... Memangnya Ayu tidak senang Abang yang jemput?" Tanya Hidayat pura-pura cemberut.
"Senang sekali..." Jawab Ayu sembari menggandeng tangan Hidayat.
"Kalau begitu sekarang kita jemput kak Mai-Mai... Ayu mau?" Hidayat membawa Ayu ke dalam gendongannya.
"Mau dong... Habis itu kita ke kios, kan, Bang?"
"Ayu mau ke kios?"
"Iya... Bang Rizki, bang Alan dan semuanya menyenangkan... Kak Sal juga baik..." Ujar Ayu tampak riang, ia leluasa berbicara dengan lelaki yang padahal baru ia kenali. Bahkan bagai murai berkicau dengan keduanya jika mereka bersama di rumah.
Dari sekolah Ayu, Hidayat langsung melajukan motornya ke kampus Maira, dan ternyata istrinya itu telah menunggu di depan gerbang.
"Sudah dari tadi, Mai?"
"Baru saja..." Jawab Maira sambil menyalami Hidayat.
"Kok dua teman kamu nggak kelihatan? Biasanya selalu pantengin terus..." Ujar Hidayat dengan dahi mengernyit, lalu melajukan kembali motornya setelah Maira naik.
"Ada mereka jadi masalah, nggak ada juga masalah... Gimana sih Abang?" Oceh Maira sambil menggamit pinggang Hidayat.
Hidayat tertawa kecil sambil mengapit tangan Maira yang bergelayut di pinggang kirinya. "Mana tahu Ayu kangen mereka juga..."
"Iya... Kak Sila dan kak Beni juga baik..." Sahut Ayu sambil menengadah ke wajah Hidayat, karena posisinya memang berada di depan.
"Benar, Ayu kangen mereka?" Tanya Maira sedikit mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Ayu di depan.
"Iya, habis mereka lucu sih..." Jawab Ayu sembari menoleh sedikit ke belakang, sementara Hidayat sengaja melambatkan laju motornya agar mereka bertiga bisa mengobrol santai.
"Ayu mau ke mall?" Tanya Hidayat menawarkan.
"Mall?" Maira dan Ayu serentak bicara.
__ADS_1
"Iya, kita jalan ke Mall yuk... Abang mau belikan sesuatu buat dua perempuan kesayangan Abang disini..." Ujar Hidayat seraya menggenggam tangan Maira yang masih bertengger di pinggangnya.
"Mau, Bang, mau... Udah lama Ayu nggak main ke Mall. Terakhir bareng ibu dan ayah..." Ucap Ayu tiba-tiba terdengar sedih.
Maira mengusap pipi Ayu dari belakang. Ia sangat mengerti kesedihan gadis kecil itu, ditambah lagi Ayu tidak mengetahui apa sebenarnya yang telah menimpa keluarganya.
Hidayat dan Maira membawa Ayu ke Mall kota dengan masih berseragam sekolah. Mereka terlebih dahulu membelikan Ayu baju disana untuk dipakainya sebagai baju ganti, lalu jalan-jalan mengitari Mall, juga singgah ke tempat-tempat bermain.
Ayu terlihat gembira di hari ini. Ia tampak melupakan semua kesedihannya bersama Hidayat dan Maira.
***
Sepulang Hidayat dari kampusnya, ia disambut Maira dan Ayu di dalam rumah. Dua perempuan yang telah menjadi kesayangannya itu tampak ceria dan begitu bahagia. Hidayat merangkul Maira dan membimbing Ayu ke dalam. Mereka duduk bertiga di sofa ruang tengah.
"Abang sudah shalat?" Tanya Maira sembari membantu Hidayat melepaskan almamaternya.
"Sudah tadi di mushola kampus... Maira dan Ayu sudah?" Balas Hidayat bertanya.
"Sudah dong, Abang... Seperti biasa, kami shalat bareng..." Sahut Ayu cepat.
"Bagus..." Puji Hidayat seraya mencubit hidung Ayu, lalu mengecup kening Maira dengan cepat.
Hidayat menghela napas berat setelah Maira tak lagi menoleh kepadanya. Walau seharian tadi mereka menghabiskan waktu bersama, tetap saja pikirannya masih terasa kalut, dan apa pun yang dilakukannya tidak ada yang terasa ringan.
Usai Mandi, Hidayat langsung menuju ruang makan. Dari pintu ia melihat kedekatan dua perempuan penghuni rumah. Saling melempar senyum dan tertawa bersama. Hidayat ikut tersenyum senang melihat itu, kenapa bisa secepat itu istrinya mengambil hati gadis kecil yang sama sekali belum dikenalnya? Kenapa? Lalu ia kembalikan pada dirinya, bagaimana Maira dengan mudah membuat ia jatuh cinta, lalu dapat membuat ia melupakan masa lalunya begitu saja.
"Lagi menertawakan apa nih?" Tanyanya sembari mendekat.
"Ih, Abang kepooo...!" Seru Ayu dibarengi tawa Maira.
"Jangan bilang-bilang, ya, Yu... Cukup jadi rahasia kita berdua..." Ucap Maira sambil mengedipkan matanya kearah Ayu.
"Sekarang main rahasia-rahasiaan dari Abang, ya..." Ucap Hidayat berlagak cemberut.
Ayu tertawa melihat muka manyun yang dibuat-buat Hidayat. "Nggak ada, nggak ada... Ayu cuma muji masakan kak Maira doang kok... Gitu aja Abang sampai ngambek... Uuuu..."
"Ya sudah, yuk kita makan... Nanti katanya Ayu mau ditemani nonton, kan?" Suruh Maira sembari mengingatkan.
__ADS_1
"Oh iya..." Sahut Ayu cepat.
"Nonton? Nonton apa Memangnya?" Tanya Hidayat sambil menatap lekat wajah Ayu dan Maira bergantian.
Maira tersenyum. Ia terus menyendoki nasi beserta lauknya ke dalam piring untuk Hidayat dan Ayu, lalu terakhir untuk dirinya.
"Tadi Ayu lihat iklan filmnya kak Kiran di tv, katanya tayang perdana di layar televisi... Kayaknya seru... Itu pas kak Kiran pakai hijab, kan kak Kiran aslinya suka pakai hijab..." Celoteh Ayu terlihat girang.
Hidayat menatap Maira dengan rona wajah berbeda. Keceriaannya tiba-tiba memudar mendengar nama Kirana menjadi topik pembicaraan mereka.
"Film Bukan Salah Ibu Menyusui ditayangin di FmTV, Bang... Maira jadi pengen nonton lagi..." Sambung Maira seraya menundukkan wajahnya.
"Abang juga mau temani kami nonton, kan?" Tanya Ayu tampak berharap.
Hidayat mengangguk dan berusaha menyahuti dengan senyuman.
"Yeeeyyy... Terima kasih, Abang..." Ucap Ayu kegirangan.
Usai makan malam Ayu dan Hidayat diminta Maira untuk menunggunya di depan tv, sementara ia sendiri merapikan meja makan.
Beberapa saat menunggu, Maira melihat kedekatan antara suaminya dengan Ayu. Ia tersenyum mengingat suaminya itu begitu mudah dekat dengan anak-anak, apalagi dengan dua anak kakak iparnya di kampung.
"Udah mulai filmnya?" Maira ikut duduk di samping Ayu, mengapit gadis kecil itu berada di tengah-tengah mereka.
"Bentar lagi, Kak... Ini masih iklan, film sebelumnya baru saja habis..." Jawab Ayu tampak bersemangat.
Jantung Hidayat berdegup kencang ketika film dimulai. Ada rasa rindu yang sangat dalam ia rasakan terhadap almarhumah kakaknya. Kakak yang selalu mengerti dirinya lebih dari siapapun, dan pernah bercerita kepadanya tentang Maira, juga berharap ia mau menerima perasaan Maira suatu hari nantinya setelah hari itu.
Hidayat terkenang kebersamaannya dengan Zahrana ketika masa-masa syuting film yang ditontonnya sekarang. Masa-masa yang tidak pernah ia sadari bahwa itu hari-hari terakhir mereka bersama.
Dalam sepanjang film berlangsung, Maira memerhatikan bagaimana Hidayat menghayati film itu. Ia merasa sedikit berbeda, karena pemeran utama wanitanya bakal menjadi madunya esok malam.
.
.
.
__ADS_1
.