Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku

Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku
43. Satu Menit


__ADS_3

Setelah Ayu kemarin sorenya dijemput Arya dan Kirana, pagi ini keluarganya juga harus kembali ke kampung. Maira terlihat muram, namun mau tidak mau ia harus tersenyum di depan keluarga besarnya itu.


"Seminggu lagi Ibu akan datang buat menghadiri resepsi pernikahan bang Arya dan kak Kirana, kan?" Tanya Maira tak lepas-lepas memeluk ibu mertuanya sedari tadi.


"Insya Allah, Sayang... Tapi kalau datang, ya nggak bisa lama... Rumah di kampung kosong..." Jawab Bu Zainab sambil menciumi pipi Maira.


"Abang datang juga, kan?" Tanya Hidayat kepada Muslim.


"Sepertinya tidak, Yat... Kak Rianur juga tidak bisa datang malah..." Jawab Muslim.


"Kenapa, Bang, Kak? Padahal kita kan belum lepas kangen-kangenan..." Sela Maira sambil memberengut pada Rianur.


"Minggu depan anak-anak sekolah sudah mulai ujian tengah semester, Mai... Kami nggak bisa ambil izin..." Terang Rianur.


"Hemmm... Ya, mau gimana lagi kalau gitu, Kak... Besok kalau kami ada senggang, biar kami saja yang pulang kampung..." Ujar Maira memahami.


"Oh ya, Mai... Mardiah sudah hamil, kamu kapan kasih Ibu cucu, Nak? Ibu dan ibumu sudah ingin menimang cucu dari kalian loh..." Tukas Bu Zainab sambil menggamit dagu Maira.


Hidayat dan Maira saling berpandangan. Mereka tiba-tiba berubah gugup mendapatkan pertanyaan begitu.


"Kalian menundanya?" Terka Rianur.


"Eh? E-enggak kok, Kak..." Jawab Maira terbata-bata. "Be-belum dikasih saja..."


"Kami memang belum merencanakan juga, Bu, Kak... Aku lagi sibuk mengurus tesis, sementara Maira juga sebentar lagi menyusul... Aku tidak ingin Maira kewalahan nantinya. Tapi, kalau Allah kasih cepat, kami juga tidak menolaknya... Bukankah begitu, Mai?" Hidayat menatap Maira menunggu jawaban dari istrinya itu.


Maira termangap. Pipinya memerah seketika mendapati pertanyaan dari Hidayat, sementara ia tidak memiliki persiapan untuk menjawabnya. "Eee i-iya begitu, kak, Bu..."


"Hmmm begitu..." Mereka mangut-mangut mendengar penuturan Hidayat yang juga dibenarkan oleh Maira.


"Nah, itu nak Fajar sudah datang..." Seru Ibunya Maira.


"Kami pulang, Yat, Mai... Jaga diri kalian baik-baik... Yang akur, dan saling percaya..." Pesan ayahnya Maira sambil merangkul anak dan menantunya itu.


Hidayat dan Maira memandangi kepergian keluarganya kembali ke kampung dari teras rumah sambil bergandengan satu sama lain.

__ADS_1


"Kita ke kios sekarang?" Tanya Hidayat sembari menoleh pada Maira.


"Maira siap-siap dulu..." Angguk Maira seraya berjalan hendak masuk ke dalam rumah, namun ia tidak bisa melangkah lebih jauh karena lengannya masih ditahan oleh suaminya itu.


"Abang, lepas dulu..." Rengek Maira.


"Masa Abang ditinggal sendiri? Barengan dong..." Protes Hidayat dengan bersikap manja.


"Iiih... Abang kan mau panaskan motor, sedangkan Maira mau ke dalam ambil tas sama bekal..."


Hidayat menyeringai. Ia perlahan melepaskan tangan Maira.


Setelah menghidupkan mesin motornya, Hidayat menyusul Maira ke dalam rumah. Tampak istrinya itu sedang berkemas memasukkan makanan ke dalam rantang susun di atas meja makan.


Hidayat memeluk Maira dari belakang. "Senang banget rasanya waktu dapat memihak kita..."


Mata Maira menyipit. Pikirannya berusaha mencerna makna kalimat yang diucapkan suaminya itu.


"Kamu juga senang, kan?" Tanya Hidayat sembari menghirup dalam-dalam aroma tubuh Maira.


"Abang tidak jadi punya dua istri..." Jawab Hidayat sambil menggenggam tangan Maira, dan kemudian dikecupnya.


"Beneran Abang senang? Abang tidak kecewa, kan?" Tuduh Maira penuh selidik.


"Astaghfirullah... Kenapa Maira bisa bicara begitu? Maira masih tidak yakin dengan perasaan Abang?"


"Tapi, kenapa raut wajah Abang berbeda ketika nonton film bareng Ayu kemarin? Abang terlihat menikmati sekali..." Ucap Maira memberengut.


Hidayat berubah murung.


"Jadi, benar Abang menyesal digantikan oleh bang Arya?" Tanya Maira tampak sendu.


"Maira, cemburu boleh... Tapi, jangan buruk sangka begitu..." Ucap Hidayat seolah membantah dugaan Maira terhadap dirinya.


"Terus?"

__ADS_1


"Waktu almarhum Bang Ajiz nonton, beliau juga menghayati film itu... Apa Maira pikir karena bang Ajiz juga menyukai Kirana?"


"Nggak mungkin... Bang Ajiz cinta mati sama kak Zahra..." Bantah Maira tidak setuju.


"Iya, memang tidak... Bang Ajiz begitu menghayati film itu karena kak Zahra lah yang menjadi penulis novelnya... Bang Ajiz merasa bersalah karena tidak pernah tahu dan juga bersikap tidak pernah mau tahu dengan novel-novel yang kak Zahra buat... Padahal, dari novel itulah mereka bangkit dari keterpurukan... Dan itu, cukup menjadi alasan bahwa mata bang Ajiz terlihat menghayati alur filmnya, padahal ada kak Zahra di benak bang Ajiz..."


Raut wajah Maira berubah muram dan dipenuhi rasa bersalah setelah mendengar penjelasan dari Hidayat. "Apa Abang juga memikirkan kak Zahra malam itu?"


"Apalagi yang ada dalam pikiran Abang? Ketika dilema melanda, Abang hanya memikirkan kak Zahra yang selalu bersikap tenang dalam menghadapi masalahnya... Abang merindukan kak Zahra... Kenapa kak Zahra yang baik, pengertian di antara kami, juga paling bijaksana pergi begitu cepat? Abang rindu... Sangat merindukan sosok kakak seperti kak Zahra... Dan yang paling menyedihkan sekali, hari-hari di lokasi syuting adalah hari-hari terakhir kebersamaan kami... Abang malam itu rasanya ingin sekali mencurahkan segala beban Abang kepada beliau, dan pasti kak Zahra punya solusi dalam permasalahan kita..."


Air mata Maira mengalir lebih deras. Ia sesenggukan. "Kenapa Maira jadi negatif thinking begini ya? Kenapa Maira tidak memikirkan itu sebelumnya? Maaf, Abang... Maafin Maira..."


Hidayat menyeka air mata Maira, lalu tersenyum sambil mengapit pipi Maira. "Itu tandanya hati Maira tidak berubah... Tidak masalah Maira cemburu, tapi jangan berburuk sangka lagi sama Abang... Perasaan Abang terhadap Kirana memang cepat hilangnya, tapi bukan berarti perasaan Abang bisa berubah-ubah setiap saat, ya... Bagi Abang cukup Maira, dan hanya Maira Fatimah penghuni hati Abang... Tidak ada penghuni lain yang menempati hati Abang..."


Maira tersenyum manja. Ia membenamkan pipinya ke dalam dekapan Hidayat, lalu mengangguk. "Iya, Maira percaya... Maafin Maira, Abang... Jujur Maira merasa aman sekarang semenjak kak Kiran menikah dengan bang Arya... Maira harap mereka bahagia seperti kita..."


"Aamiin ya Allah... Doa Maira pasti dikabulkan Allah... Istri Solehah milik Abang..." Ucap Hidayat mengamini harapan Maira, dan kemudian ia mengecup pucuk kepala istrinya itu dengan lembut.


"Sudah siap ke kiosnya? Atau mau lanjut ke kamar?" Bisik Hidayat menggoda Maira.


Jantung Maira berdegup kencang. Tiba-tiba ia merasa malu mendengar rayuan Hidayat.


"Maunya Abang bagaimana?" Balas Maira berbisik sambil menyembunyikan wajahnya ke dalam dada Hidayat. Bahkan ia sendiri tidak menyadari bahwa pipinya memerah.


"Emmm... Abang akan sabar menunggu malam... Ini yang pertama, dan Abang tidak ingin terburu..." Bisik Hidayat lagi semakin menggoda Maira.


Maira keluar dari dekapan Hidayat dan langsung memunggungi suaminya itu. "Ka-kalau gitu Maira lanjut siap-siap... Abang tunggu di depan saja... Satu menit..."


Hidayat menyeringai usil melihat tingkah Maira yang terlihat gugup karena kelakuan dirinya. "Oke, Abang tunggu di depan ya... Satu menit..."


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2