Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku

Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku
50. Tujuh Bulanan Kirana


__ADS_3

"Abang, Maira mohon... Jangan tinggalkan Maira, Bang... Abaaang..."


Hidayat menyeka keringat yang membasahi dahi Maira. Tampak istrinya itu kecemasan, dan dengan wajah yang tegang. Napasnya turun naik tak beraturan, ia bergeming kaku menatap kosong kearah depannya.


"Kenapa, Sayang? Ada apa?" Tanya Hidayat terlihat begitu mengkhawatirkannya.


Maira mengumpulkan kembali kesadarannya. Ia perlahan menoleh ke sampingnya, ke tempat Hidayat yang menggamit lengannya dengan cemas. "A-abang?"


"Iya, ini Abang... Maira mimpi buruk, ya?" Tanya Hidayat lagi dengan begitu lembut. Ia mengelus-elus rambut Maira, dan merapikan anak rambut istrinya itu yang acak-acakan.


Maira mengangguk lemah. Air matanya meleleh. Ia sesenggukan. "Ini lebih dari buruk, Abang... Rasanya Maira tidak akan sanggup jika mimpi ini berubah menjadi kenyataan..."


"Sst, jangan nangis... Sini Abang peluk..." Bujuk Hidayat membawa Maira ke dalam dekapannya. "Maira nggak baca doa dulu semalam sebelum tidur Memangnya?"


"Hah?" Maira terlihat berpikir-pikir. Ia mengusap air matanya dengan raut kebingungan. "Sepertinya Maira lupa deh, Bang... soalnya habis bungkus kado-kado itu, Maira langsung baring di sebelah Abang..."


"Tuh kan, pantas saja Maira mimpi buruk..."


"Ih, serem... Besok Maira akan berusaha keras untuk tidak lupa lagi baca doa sebelum tidur..." Ucap Maira bergidik.


"Mimpi apa Memangnya, Sayang?" Tanya Hidayat mulai terlihat penasaran dengan mimpi yang membuat istrinya itu ketakutan setengah mati seperti itu.


"Pokoknya serem... Maira nggak mau ingat-ingat lagi..." Geleng Maira sambil memejamkan matanya.


"Ya sudah, sekarang kita tidur lagi, ya... Baru jam satu..." Ajak Hidayat sembari membaringkan tubuh Maira dan kemudian kembali mendekap istrinya itu ke dalam dadanya.


Hidayat menepuk-nepuk bahu Maira dengan lembut agar istrinya itu kembali tertidur. Ia sangat yakin mimpi Maira ada kaitannya dengan mereka yang belum juga kunjung mendapatkan anak.


Setelah memastikan bahwa Maira telah tertidur pulas kembali, barulah Hidayat bangkit dari tidurnya. Ia menarik selimut hingga menutupi leher istrinya itu, lalu mengecup kening Maira begitu lama.


Hidayat sengaja membiarkan Maira tidur, sementara ia pergi menunaikan shalat malam. Ia tahu Maira sedang tengah halangan.


Ia begitu khusyuk dalam shalatnya, dan setelah itu ia berdoa meminta segala hajat yang menjadi keinginan hatinya, kebahagiaan untuk orang-orang tersayangnya, terutama istrinya yang sangat menginginkan sosok buah hati.


"Allah ya Mujib, karuniai kami anak yang Sholeh dan shalihah, yang taat kepada perintah-Mu dan Rasulullah, yang berbakti kepada kedua orang tuanya, yang tampan, cantik, sehat, pintar dan hafiz Al-Quran, serta sabar kan hati kami dalam penantian ini, ya Allah... Aamiin Allahumma Aamiin..."

__ADS_1


Hidayat berjalan menuju tempat tidur, ia memerhatikan wajah istrinya begitu damai dalam tidurnya. Ia perlahan berbaring di belakang tubuh Maira, dan memeluknya dari belakang.


***


Usai shalat magrib, Maira dan Hidayat berangkat menuju ke rumah Arya. Disana kedua orang tua mereka sudah menunggu, karena memang Arya yang menginginkan agar orang tua Hidayat dan orang tua Maira langsung menuju ke rumahnya saja jika dari kampung.


"Hidupmu sudah mapan, Yat... Sudah jadi dosen juga, cabang kios lumayan besar, kenapa belum beli mobil? Kasihan Maira naik motor terus..." Celoteh Arya sambil tersenyum menyeringai.


"Aku udah saranin juga sama Maira, Bang. Maira nya yang belum mau... Katanya terlalu boros untuk sekarang, soalnya Maira lebih senang naik motor. Apalagi kami masih berdua..." Jawab Hidayat menanggapi guyonan Arya.


"Memang begitu, May?" Tanya Kirana ikut nimbrung.


"Benar, Kak... Nanti kalau kami punya anak, Maira mau juga beli mobil. Untuk sekarang biarlah pakai motor saja... Sayang punya motor dua, tapi jarang kepakai. Lagian Maira lebih nyaman dibonceng pakai motor sama bang Hidayat, rasanya kami lebih dekat..." Tutur Maira sambil tersenyum-senyum malu.


Arya tertawa. "Benar, benar..."


"Kak Mai-Mai, Bang Hidayat..." Asik mengobrol, tiba-tiba Ayu datang dari kamarnya berlarian menuju posisi mereka.


"Hai, Ayuu... Apa kabar, Sayang?" Maira sedikit berjongkok untuk menciumi pipi gadis kecil itu.


"Alhamdulillah kami juga baik, Sayang... Kapan main ke rumah kakak, hmmm?"


"Kapan ya, kak Kiran?" Ayu berbalik menghadap Kirana.


"Loh, kok tanya Kakak? Ayu kapan mau main ke rumah kak Maira memangnya?" Jawab Kirana merasa tersudut, takut dikira membatasi Adiknya itu.


"Pengen sih... Tapi Ayu lagi ujian sekarang..." Ucap Ayu berlagak kecewa.


"Oh iya, Ayu ujian ya... Hmm, nggak apa-apa deh... Besok kalau ujiannya sudah selesai, kak Mai-Mai dan bang Hidayat akan jemput Ayu... Kita pergi main bareng, gimana?"


"Oke, Kak..."


Acara berlangsung. Sederet rangkaian kegiatan islami mengisi acara tujuh bulanan kandungan Kirana. Pasangan artis mudah itu tampak berbahagia, ditambah pula mereka dikelilingi oleh orang-orang terkasihnya.


"Mai, mau kah kamu mengelus perutku?" Pinta Kirana berharap banyak pada Maira.

__ADS_1


"Bolehkah, Kak?" Mata Maira berbinar-binar mendengar permintaan Kirana yang sebenarnya sangat ingin ia lakukan, hanya saja ia merasa sungkan dan takut perempuan hamil itu tidak nyaman karenanya.


Kirana mengangguk sambil tersenyum.


Maira dengan tangan gemetar meraba perut buncit Kirana. Tiba-tiba matanya memerah dan berkaca-kaca. "Semoga menjadi anak yang Sholeh, sehat, tampan ya, Nak..."


"Aamiin Allahumma Aamiin... Dan semoga cepat menular kehamilan aku ke kamu ya, Mai..." Ucap Kirana.


"Aamiin ya Mujib..."


Dari kejauhan Hidayat memerhatikan mereka. Ia tersenyum, namun kerongkongannya tersekat melihat Maira. Ia teringat bagaimana terkadang Maira begitu menginginkan buah hati hadir di antara mereka.


"Senang melihat mereka akur, Yat?" Arya datang dari arah belakangnya.


"Abang tidak melihat kesedihan di wajah Maira?" Tanya Hidayat sendu.


"Kesedihan? Kenapa? Kalian sedang tidak bertengkar, kan?" Arya bertanya dengan raut keterkejutan.


"Kami sedang tidak bertengkar kok, Bang... Hanya saja Maira bersedih hati karena kami belum juga kunjung dikaruniai anak... Maira sampai bermimpi-mimpi dalam tidurnya..." Jelas Hidayat.


Arya menghela napas panjang. Ia juga tidak mengerti harus apa jika anak adalah alasan Maira bersedih hati.


"Bantu doa ya, Bang... Semakin banyak yang mendoakan, insya Allah semakin besar peluang Allah mengabulkannya..." Ucap Hidayat berharap.


"Iya, Yat, Abang akan selalu berdoa untuk kalian..." Jawab Arya sembari merangkul bahu Hidayat. "Tapi, kamu jangan lengah... Perhatian kamu harus seratus persen untuk Maira, walau sesibuk apapun kamu di luaran sana. Jangan biarkan pikiran Maira kosong, ajak dia bicara, bersenda gurau, jalan-jalan atau apa saja yang menyenangkan hatinya. Mungkin dengan begitu, berdua denganmu saja membuat ia tetap bahagia, dan membuat Maira yakin tanpa anak kamu akan tetap mencintainya untuk selamanya... Terkadang alasan seorang istri ingin memiliki anak, karena takut suaminya akan berpaling ke perempuan lain. Ia juga bisa merasa dirinya tidak sempurna di mata suaminya sendiri dan orang-orang di sekitarnya..."


Hidayat mangut-mangut. Setelah mendengar penjelasan Arya, ia menjadi sadar bahwa keinginan besar Maira untuk memiliki anak, karena sikapnya sendiri sebagai suami yang kejam di masa awal-awal pernikahan mereka.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2