Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku

Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku
28. Protagonis Dan Antagonis


__ADS_3

Sudah lewat pukul lima sore, namun pelanggan kios masih ada yang berdatangan. Salma, karyawati yang dipilih Maira untuk menemaninya dari ia datang ke kios hingga pulang, telah ditunggui suaminya di depan.


"Alhamdulillah, akhirnya kelar juga, Sal... Tungguin sebentar, ya, kita angsur tutup dulu... Kasihan kang Deri nungguin kamu..." Ujar Maira merasa tak enak.


"Tidak apa-apa kok, Neng... Kang Deri dia mah paham saja, nggak bakal marah..." Sahut Salma menepis rasa bersalah Maira.


"Ki, mulai tutup sekarang..." Perintah Maira sambil berkemas di meja kasir.


"Baik, Neng..." Semua bergerak merapikan barang-barang yang berantakan, lalu memasukkan pajangan di luar ke dalam kios.


Maira mengambil ponselnya, dan berniat mengirimkan pesan kepada Hidayat. "Assalamualaikum, Abang... Maira balik dulu, ya..."


Tak lama, ponsel Maira berdering. Ia melihat layar ponselnya dipenuhi foto suaminya, menandakan bahwa suaminya itu menelepon. Maira buru-buru mengangkatnya. "Assalamualaikum, Abang..."


"Wa'alaikum salam... Udah tutup, Mai?"


"Baru mau mulai... Abang masih ada kuliah?"


"Masih... Sepertinya Abang pulang terlambat malam ini... Maira hati-hati, ya..."


"Iya. Abang juga... Assalamualaikum..."


"Wa'alaikum salam..."


Maira menyimpan ponselnya kembali, lalu keluar setelah berkemas.


Setelah kios di tutup, mereka berkumpul di depan rolling untuk saling tunggu-menunggu, sementara Rizki mengunci rolling door kios.


"Duluan saja, Sal... Aku sudah selesai juga..." Suruh Maira sembari menerima kunci rolling dari Rizki.


"Baik, Neng..." Sahut Salma seraya mendekati suaminya yang telah lebih dahulu menuju ke motornya.


"Maaf, ya, Kang Deri sudah menunggu lama..." Ucap Maira sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya sendiri.


"Tidak apa-apa, Neng... Sekali-sekali juga Salma telat, biasanya Kang Deri yang sering telat jemput Salma, sampai-sampai pada ikut nungguin semua..." Ucap Deri tak mempermasalahkan keterlambatan mereka sore ini.


Suasana semakin gelap. Cahaya jingga setelah gerimis mulai menghilang di ufuk barat, mereka berangsur meninggalkan kios dengan sepeda motor yang mereka kendarai masing-masing.


Baru keluar dari pertigaan hendak menuju jalan raya, seorang perempuan mencegat Maira dengan melambaikan tangannya. Maira sedikit memicingkan matanya untuk melihat jelas, karena suasana sudah mulai gelap.

__ADS_1


"Kak Kiran?" Ucap Maira memastikan.


"Hai, Maira..." Sapa Kirana sambil tersenyum.


"Ada apa, Kak?" Tanya Maira seraya menepikan motornya.


"Bisa kita ngobrol sebentar?" Tanya Kirana sambil menatap tajam wajah Maira.


Maira hendak menjawab, namun suara azan magrib terdengar berkumandang. "Shalat dulu, ya, Kak... Di dekat sini ada masjid..."


Kirana mengangguk ragu-ragu. Walau ia sudah merencanakan ini dari awal, tetap saja ia merasa tidak nyaman setelah bertemu langsung dengan istri dari lelaki yang ia cintai.


Kirana dibonceng Maira menuju masjid. Tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka selama dalam perjalanan. Ia semakin tidak nyaman merasakan ketulusan dari Maira. Ia berharap, bahwa Maira tidak lebih baik daripada dirinya. Namun kenyataannya, Maira begitu sempurna. Tidak salah jika Hidayat dengan begitu mudahnya mencintai Maira secepat itu.


Walau begitu, tetap saja Kirana tidak rela. Ia telah terlanjur mencintai Hidayat karena sikapnya.


Usai sholat, mereka menuju tongkrongan sederhana yang tidak jauh dari sana.


"Lama tidak bertemu, Kak..." Ucap Maira ramah.


Kirana hanya tersenyum, lalu menyedot jus di hadapannya. "Tapi, aku sering bertemu suami kamu..."


Kirana berusaha menyembunyikan rasa gugupnya. Ia heran, walau ia telah memulai untuk memanas-manasi perasaan Maira, tetap saja Maira berpikir positif terhadap dirinya.


"Iya... Perkenalan kami sangat jauh satu sama lain, dan itu yang membuat dia tidak menyukai perjodohan di antara kalian..." Ucap Kirana tak Menghentikan niatnya.


Maira terpelongo. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Kirana dengan penuh tanda tanya.


"Kamu tidak ingin bertanya?" Kirana mencoba untuk membuat Maira terprovokasi.


Maira menelan ludahnya sendiri. Hatinya mulai terasa perih, namun sepenuhnya ia bertahan untuk tetap percaya bahwa ucapan Kirana hanya main-main.


"Yang datang dan perlu bicara bukannya Kak Kiran, lalu mengapa aku harus ada pertanyaan? Bicara saja dengan leluasa, aku akan dengar... Tapi kalau sekiranya sudah tidak ada yang perlu dibicarakan, aku pulang..." Maira menahan diri untuk tidak terpancing, walau ia menyadari maksud tidak baik telah terpancar dari aura wajah Kirana.


Wajah Kirana berubah masam. Ia tidak menyangka bahwa Maira bukanlah perempuan cengeng dan lembek, walau dia tahu bahwa Maira begitu mencintai Hidayat, namun tidak ada respon yang sangat ditunggu-tunggunya dari Maira.


"Sepertinya memang sudah tidak ada lagi yang ingin Kak Kiran katakan. Jadi, saya bisa pulang sekarang, kan? Sebentar lagi suami saya akan sampai di rumah kami..." Ucap Maira terdengar sengaja menekankan kata suami saya, lalu bangkit meninggalkan Kirana yang mulai dikuasai amarah.


Kirana meletakkan beberapa lembar uang di atas meja, kemudian dia sedikit berlari mengejar posisi Maira.

__ADS_1


Maira tidak menggubrisnya. Ia terus berjalan menuju parkiran motor.


"Kami saling mencintai, Maira... Harusnya kamu tidak menerima perjodohan kalian waktu itu. Dengan menikahi kamu yang tidak dicintainya, sama saja memberikan pesakitan di hati Hidayat, lelaki yang sama-sama kita sayangi..." Ujar Kirana membuat Maira menoleh cepat kepadanya.


"Aku tidak butuh masa lalunya... Yang aku butuh, cintanya sekarang dan untuk selamanya yang telah aku miliki..." Tegas Maira.


Kirana terperangah mendengar ucapan Maira.


"Aku pikir sosok protagonis di layar kaca yang dipuji-puji banyak orang itu sesuai dengan faktanya, tapi ternyata pikiranku salah... Aslinya sosok Kirana Adila pemilik karakter antagonis di dunia nyata..." Tambah Maira lagi. Ia segera menghidupkan motornya dan bersiap hendak pergi.


"Kamu akan merasakan sakit lebih dari semula, saat kamu baru menikah dengannya..." Ucap Kirana seraya berlari kearah jalanan.


Bunyi klakson panjang serta decitan rem mobil memekakkan telinga, membuat Maira terkejut dan segera menepikan kembali motornya.


"Astaghfirullah..." Ucap Maira seraya bergegas menghampiri Kirana yang telah tergeletak tak sadarkan diri di tengah jalan.


"Tolooong..." Pekik Maira kepada setiap orang disana. Pengendara mobil yang menabrak Kirana segera keluar dengan panik. Ia beserta beberapa orang yang juga berada disana membantu mengangkat tubuh Kirana ke dalam mobilnya.


"Tolong antar dia ke rumah sakit terdekat, Pak..." Pinta Maira dengan tubuh gemetaran.


"Adik ini keluarganya?" Tanya pemilik mobil yang menabrak Kirana.


"Eh? Sa-saya..."


"Tolong temani saya membawanya ke rumah sakit, Dik... Saya janji, saya akan tanggung jawab..." Potong orang itu memelas.


Maira pasrah melihat wajah si sopir yang dipenuhi rasa bersalah dan ketakutan. "Saya akan mengikuti mobil Bapak dari belakang..."


"Terima kasih, Dik..." Ucap sopir itu seraya masuk ke dalam mobilnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2