Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku

Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku
46. Tentang Perempuan


__ADS_3

Hidayat menunggu di depan gerbang kampus Maira dengan raut wajah terlihat tidak sabaran. Sesekali ia melirik jam tangannya berharap waktu cepat berlalu. Ia bahkan tidak peduli telah menunggu sampai lebih dari satu jam.


Azan Zuhur sudah terdengar berkumandang, dan ia belum melihat tanda-tanda Maira akan keluar dari kampusnya. Ia memutuskan untuk shalat di masjid terdekat dari sana terlebih dahulu, karena memang belum jamnya Maira pulang.


Usai sholat, Hidayat kembali ke depan kampus Maira. Ia melihat istrinya itu telah berada disana menunggu dengan gelisah.


"Maira..."


Maira tersentak, menoleh padanya dengan wajah yang gugup.


"A-abang?"


"Maira sudah pulang? Abang dari tadi loh nungguin Maira disini?" Ucap Hidayat seraya turun dari motornya.


Maira menyalami tangan Hidayat. Wajahnya terlihat pucat, dan ia masih bersikap gelisah.


"Maira kenapa? Kok wajah Maira pucat sekali? Maira sakit, ya?" Tanya Hidayat rentetan sambil mengapit pipi Maira menyelidiki.


"Maira baik-baik saja kok, Bang... Ayo kita pulang sekarang..." Desak Maira terlihat risih.


"Nggak, kita ke rumah sakit dulu... Abang nggak mau kalau Maira sembunyikan apa pun dari Abang... Ingat, nggak ada penyakit yang nggak bisa disembuhkan kalau kita mau berusaha untuk sembuh, kecuali kalau Allah yang menghendaki..." Tegas Hidayat tampak begitu posesif.


"Apa sih, Bang? Maira lupa kalau Maira harusnya udah dapat sekarang, mana Maira nggak bawa roti lagi..." Kilah Maira dengan dahi mengernyit heran melihat tingkah suaminya.


"Roti? Maira lapar?" Tanya Hidayat lebih tidak mengerti dengan ucapan Maira.


"Astaghfirullah hal'azhiim... Maira lagi halangan, Abang... Dan Maira nggak bawa pembalut... Maira malu kalau tiba-tiba tembus... Nanti orang-orang akan mengira Maira jorok lagi..." Tutur Maira berbisik ke bahu Hidayat.


"Jadi, Maira halangan?" Hidayat menghembuskan nafas lega.


"Ummm..." Maira mengangguk. "Kita pulang sekarang ya, Bang... Maira udah risih nih..."


"Ayo, Naik... Hati-hati..."


Hidayat melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju rumah. "Berapa lama, Mai?"


"Apanya yang berapa lama, Bang?" Tanya Maira seraya mendekatkan telinganya ke bahu Hidayat.


"Halangannya..."


"Kenapa memangnya? Biasanya Abang nggak pernah nanya-nanya tuh..." Ketus Maira usil mengingat kejadian semalam dan subuh tadi.


"Katanya mau bulan madu... Kalau ada palang merah begini mana bisa Abang lewat?" Jawab Hidayat sembari terkekeh.


"Iiih, sekarang Abang dah mulai genit ya..." Kata Maira sambil mencubit kecil pinggang Hidayat.


Hidayat semakin melebarkan tawanya. Ia sedikit menggeliat merasai cubitan Maira yang menggelikan. "Sama istri sendiri apa salahnya, Mai..."


"Tetap saja genit..." Ucap Maira ngedumel.

__ADS_1


"Jadi, kapan selesainya...?"


"PR buat Abang..." Ketus Maira berpura-pura ngambek.


"Loh, kok?"


"Sudah seharusnya Abang tahu tentang Maira sampai ke akar-akarnya, biar Maira bisa merasa Abang lebih perhatian sama Maira..." Ketus Maira terdengar jutek. "Emm, juga tentang apa yang dialami wanita gitu..."


"Hehe... Iya, iya... Abang akan cari tahu semuanya... Emmm, tapi Abang tahu sedikit banyak kok tentang perempuan..." Cengir Hidayat menanggapi ucapan Maira dengan guyonannya.


"Apa Memangnya?"


"Perempuan itu kalau lagi halangan bawaannya pemarah... Nih contohnya istri Abang..." Jawab Hidayat asal.


"Iiiih, Abang..." Maira semakin cemberut. Ia kembali mencubit kecil pinggang Hidayat, sehingga suaminya itu menggeliat karenanya. Hidayat kemudian mengambil tangan Maira dengan tangan kirinya, lalu ia lingkarkan ke pinggangnya.


"Maira peluk Abang... Biar hati Maira sedikit tenang... Abang memang tidak terlalu tahu, bahkan Abang tidak bisa merasakan apa yang Maira rasakan... Tapi, Maira harus percaya bahwa Abang akan bersedih jika Maira merasakan sakit..." Tutur Hidayat begitu lembut.


Maira tersenyum di balik punggung Hidayat. Ia melingkarkan tangannya yang satu lagi ke pinggang suaminya itu, lalu memeluknya dengan erat. "Terima kasih, Abang..."


Keasikan ngobrol sampai tak sadar mereka telah hampir memasuki pagar rumah. Maira turun dengan hati-hati. Ia merasa lemah karena hari pertama ia kedatangan tamu bulanannya.


Maira bergegas masuk ke dalam rumah. Ia mengorek laci dan lemari pakaiannya mencari sesuatu di dalam sana. Rautnya tampak kebingungan.


"Kenapa, Mai?" Tanya Hidayat ikut khawatir.


"Emmm, kayaknya pembalut Maira habis deh, Bang..." Adu Maira dengan kening berkerut.


"Memangnya Abang mau?" Balas Maira bertanya dengan ragu-ragu.


"Kenapa sampai tidak mau pula? Maira aneh..."


"Abang nggak malu?"


"Nah, kenapa mesti malu? Di kios banyak yang beli begituan laki-laki... Bang Eko Rantau Selamat, Bang Cun, pokoknya banyaklah..." Ujar Hidayat dengan polosnya.


"Mereka kan buat jual lagi, Bang... Beda sama Abang..." Protes Maira.


"Apa salahnya, Mai...? Memangnya Maira mau keluar buat beli sendiri? Cara jalan Maira saja udah rapat gitu kakinya..." Kelakar Hidayat sambil mengedipkan mata ke bagian bawah anggota tubuh istrinya itu.


"Abang, iiihhh..." Maira memberengut. "Ya udah, tolongin Maira beli ya, Bang..." Pintanya menyerah.


"Oke, Abang keluar dulu... Tunggu sebentar, ya..."


"Ummm.. " Angguk Maira dengan lemah.


Baru beberapa langkah sebelum mencapai pintu, Hidayat berbalik ke arah Maira. "Maira biasanya pakai merek apa?"


"Ch*** yang nggak pakai sayap..." Sahut Maira malu-malu.

__ADS_1


Hidayat tersenyum melihat wajah Maira yang tertunduk tak berani menatapnya lama. Ia segera pergi karena mengingat betapa tersiksanya Maira saat ini menahan letih bercampur geli di selangkangannya.


Sesampai di warung, Hidayat celingak-celinguk melihat ke rak yang tersusun di ruang sempit dipenuhi barang harian di dalamnya.


"Cari apa, Yat?" Tanya ibu-ibu pemilik warung kepadanya, meski pada saat bersamaan orang-orang cukup ramai berbelanja disana.


"Ch*** yang nggak pakai sayap satu pack besar, Bu..." Pinta Hidayat tanpa mengindahkan tatapan orang yang memandangnya dengan perasaan salut.


"Nggak ada yang pack besar, Yat... Adanya yang isi delapan pads saja..." Jawab ibu itu terlihat menyesali.


"Emmm... Beli lima pack, Bu..." Ucap Hidayat.


"Waaah... Buat dijual lagi, Yat? Kok banyak sekali kamu membelinya? Apa yang di kiosmu sudah habis?" Tanya pembeli lain yang sudah begitu mengenali dirinya.


"Buat Maira, Bu..." Jawab Hidayat dengan santainya.


"Tapi, kok sebanyak itu?" Tanya ibu-ibu yang lainnya.


"Memangnya perempuan biasanya ngabisin berapa banyak, Bu?" Tanya Hidayat tanpa rasa malu.


"Dua pack isi delapan pads biasanya udah banyak tu, Yat..."


"Dua pack? Memangnya perempuan itu berapa lama akan datang bulan, Bu...?" Tanya Hidayat begitu polos, membuat para ibu-ibu di warung tersenyum-senyum sendiri.


"Kalau untuk perempuan normal biasanya tiga sampai tujuh hari lah, Yat... Coba saja kamu cari di google atau buku-buku tentang itu... Kadang setiap perempuan beda-beda juga, Yat..."


"Owh, begitu ya, Bu... Kalau begitu saya beli dua pack saja dulu, Bu..." Ujar Hidayat.


"Nggak sekalian syirupnya, Yat?" Tanya ibu pemilik warung.


"Syirup?" Hidayat tercengang.


"Iya... Maira biasanya beli itu juga kalau lagi halangan... Buat pereda nyeri..." Jelas ibu itu lagi.


Hidayat tertunduk sejenak. "Ya udah, beli itu sekalian, Bu..."


"Sebentar, Yat..." Jawab ibu pemilik warung seraya mengambilkan barang belanjaan Hidayat.


Ibu pemilik warung menyodorkan kantong kresek berisi barang pesanan Hidayat, dan Hidayat membalas menyodorkan rupiah yang telah ia siapkan. "Terima kasih, Bu... Ibu-ibu, saya duluan... Assalamualaikum..."


"Wa'alaikum salam..." Sahut ibu-ibu disana bersamaan. Belum jauh Hidayat melangkah, terdengar suara-suara ibu-ibu itu memuji dirinya.


"Saya yang sudah tiga belas tahun menikah, belum sekalipun suami saya membelikan pembalut untuk saya... Ya Allah, beruntung sekali perempuan-perempuan yang memiliki suami seperti Hidayat..."


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2