
Arya terlihat fokus membaca di saat anaknya telah tertidur pulas. Ia bahkan tidak menyadari bahwa ia telah membaca buku yang diberikan Hidayat hampir setengahnya, dan ia juga tidak menyadari kedatangan Kirana dari rumah sakit.
"Sayang, kamu lagi baca apa?" Tanya Kirana terheran-heran.
Arya terus fokus. Ia bukan mengindahkan pertanyaan istrinya sendiri, melainkan karena ia seakan telah masuk ke dalam buku yang sedang ia baca.
"Sayang?"
"Hah?" Meski menyahut sekali, namun Arya tidak berhenti menatap buku bacaannya.
"Sayang?" Kirana mulai menggoyangkan bahu Arya.
"Astaghfirullah hal'azhiim, iya, Sayang?" Arya menoleh pada Kirana yang menatapnya dengan heran.
"Kamu lagi baca apa sih?"
"Heh? Ini... Emmm..." Arya hanya bisa mengangkat buku di tangannya.
"Pentingkah? Apa lebih penting dari segala hal? Biasanya kamu bahkan tidak memberi aku nafas terlebih dahulu sepulang dari rumah sakit... Kamu nanya ini itu dan begitu cemas..." Omel Kirana.
"Ini buku tentang kisah Zahrana dan Ajiz, Yank... Maaf..." Jelas Arya dengan raut wajah dipenuhi rasa bersalah.
"Zahra?" Kirana terpukau. Ia mengambil buku di tangan Arya dengan ragu-ragu setelah melihat anggukan kepala suaminya itu. "Kamu udah kelar bacanya?"
"Belum. Baru sampai Zahra chatting dengan aku..."
Kirana membuka lembaran-lembaran halaman buku berisi novel nyata kisah Zahrana. "Ini siapa yang nulis, Sayang?"
"Kata Hidayat Zahra sendiri, namun beberapa episode terakhir Maira..."
"Kapan kamu dapat buku ini?"
"Tadi Hidayat sendiri yang ngantar... Pas lagi Zaim rewel, dan dia juga yang udah nimang Zaim sampai tidur pulas, Yank..." Jawab Arya.
Kirana menoleh pada anaknya yang tertidur di samping Arya. "Kamu masih lama kelar bacanya?"
"Kenapa?"
"Aku ingin baca juga..."
"Hah?" Arya tercengang. Ia berubah gugup seketika.
"Iya, Sayang, aku penasaran... Boleh, kan?"
"Ta-tapi..."
__ADS_1
"Apa yang kamu cemaskan, Sayang?" Tanya Kirana berlagak curiga.
"Eh?"
"Ini tentang almarhum dan almarhumah, kan?"
"Iya, tapi..."
"Jika tentang masa lalu kamu dengan almarhumah ada di dalamnya, itu tidak akan ngaruh kok, Sayang... Aku hanya ingin tahu bagaimana Zahrana menjadi istri yang begitu mencintai suaminya semasa hidupnya... Ehmm, Hidayat juga pernah cerita kalau Zahrana sendiri adalah tipe perempuan yang ingin ia jadikan istri jika Zahrana bukanlah kakak kandungnya..." Tutur Kirana meyakinkan Arya agar tidak meragukan dirinya.
"Maksud Sayang bagaimana?"
Kirana tersenyum. Ia menggenggam tangan Arya seolah menenangkan. "Aku nggak marah jika tahu bagaimana perasaan kamu terhadap Zahra, Sayang... Hal wajar, secara dia perempuan sempurna di mata banyak lelaki untuk dijadikan seorang istri, dan almarhum bang Ajiz yang beruntung mendapatkan dirinya... Aku juga tidak menertawakan kamu tentunya, jika kamu telah gagal dalam berusaha mendapatkan hatinya... Demi Allah aku hanya sangat ingin membaca tentang kisah hidup Zahrana... Aku mengenal baik dirinya meski kami tidak begitu lama saling mengenal... Dia teladan untuk para wanita manapun, dan aku ingin belajar seperti dirinya... Bukan hanya dari cerita Hidayat, tapi aku melihat sendiri ketulusan ada dalam dirinya..."
Arya tersenyum. "Terima kasih, Sayang..."
"Aku ingin baca..."
"Boleh, bacalah..." Angguk Arya.
"Nanti, setelah kamu selesai..."
"Kenapa begitu?"
"Bukan begitu, Sayang..."
"Iya, aku paham..." Potong Kirana. "Alhamdulillah kata dokter aku hanya flu biasa, dan tidak masalah jika Zaim menyusu denganku... Nanti kalau masuk waktu ashar, aku akan menghentikan kamu..."
Arya tersenyum, lalu mengecup kening Kirana begitu lama. "Terima kasih, Sayang... Aku benar-benar ingin membacanya... Kisah mereka begitu sweet, romantis, dan layak diakui sebagai pasangan yang sempurna..."
***
Azan ashar membuat Arya menghentikan bacaannya sebelum Kirana datang memanggil. Matanya terlihat memerah dan sedikit berair, bahkan hidungnya juga terasa berat olehnya sendiri.
"Aku ke masjid, Yank..." Pamit Arya sembari meletakkan buku itu di meja samping tempat tidurnya.
"Kamu udah kelar bacanya?" Tanya Kirana menatapnya penuh harap.
"Belum. Masih jauh, Yank..."
"Tapi kok udah meler saja?"
"Zahra licik... Dia menyembunyikan permasalahan keluarganya dari suaminya, bersamaan dengan musibah yang menimpa suaminya pada saat itu... Dan barusan aku baca, dia menyembunyikan penyakitnya dari semua orang termasuk Hidayat... Terakhir di lokasi syuting, dia bohong sama kita kalau dia mau ke toko buku... Dia hari itu mendatangi rumah sakit untuk mengetahui kenapa perutnya sering sakit, Yank..." Jawab Arya lemas.
"Ya Allah, aku penasaran..." Gumam Kirana.
__ADS_1
"Aku nggak bisa bacanya cepat-cepat, Yank... Aku bahkan mengulangi bacaan ketika aku merasa terharu dalam kalimatnya, karena pada saat aku membaca, aku merasa itu sangat nyata terjadi di depan mataku sendiri..." Jelas Arya terlihat kesal dengan perasaannya sendiri.
"Aku mengerti, Sayang... Nggak apa-apa, aku akan sabar menunggu... Zaim juga sudah bangun, dan untungnya udah nggak rewel... Kamu berangkat, aku juga akan shalat..."
Arya mengangguk lalu bersiap hendak ke masjid.
Sepeninggal Arya ke masjid, Kirana melirik buku di atas meja. Ia menghela napas panjang lalu mengangkat anaknya yang asik main sendirian di atas tempat tidur.
"Masya Allah, anak Mama pintar sekali... Zaim Mama nggak rewel, malah ketawa-ketawa..." Ucap Kirana menggoda bayinya yang semakin tertawa dalam pangkuannya.
"Sayang main dulu, ya... Zaim Mama jangan nangis... Mama mau sholat ashar, ya, anak shaleh Mama papa..." Bujuk Kirana sambil meletakkan baby Zaim kembali ke atas kasur, lalu ia memberikan permainan gigitan bayi berbentuk buah semangka yang kenyal-kenyal seperti jelly.
Seperti sudah terbiasa ditinggal shalat, bayi itu sama sekali tidak rewel. Ia sangat asik menggigit permainan yang diberikan Kirana sambil mengoceh dengan bahasa bayi yang tidak bisa dimengerti oleh orang dewasa.
Kirana selesai shalat dan berdoa, tak lama Arya juga pulang dari masjid.
"Kamu udah minum obat, Sayang?" Tanya Arya sembari mengecup kening Kirana.
"Sebentar lagi, Sayang... Aku baru saja selesai shalat. Kamu mau makan atau minum sesuatu?"
"Emmm, boleh deh, Yank... Kapucino dingin saja, makanannya apa yang ada saja, Yank..."
"Baiklah, aku titip Zaim sebentar ya..."
"Iya, Sayang..."
Kirana berjalan meninggalkan Arya dan Zaim menuju dapur, sementara Arya berbaring menghadap bayi mungil yang menatapnya sambil tertawa-tawa.
"Anak Papa anteng aja ya sekarang... Tadi rewel banget, kenapa, hmm?" Kata Arya sambil mengecup pipi gembul anaknya berkali-kali, dan membuat anaknya itu semakin heboh tertawa.
Tak lama Kirana datang membawa nampan berisi segelas kapucino dingin dan sepiring roti. "Kamu mau lanjut baca, Yank...?"
"Iya, Sayang, tidak mengapa, kan?"
"Nggak apa-apa, kamu kan juga lagi free... Lagian aku juga sudah tidak sabar buat baca juga... Habis, aku penasaran sih... Aku tarok ini di balkon, ya..."
"Iya, Sayang, terima kasih..." Jawab Arya seraya menyusul.
.
.
.
.
__ADS_1