
Kehamilan Maira sudah memasuki tahap akhir, dan orang tuanya beserta orang tua suaminya telah berada di rumah peninggalan almarhum kakaknya yang saat ini mereka huni. Prediksi dokter ia akan melahirkan dalam Minggu ini, dan ia diharuskan untuk selalu membatasi kegiatan yang begitu berat.
Maira dijadikan bak ratu oleh kedua ibunya itu. Ia tidak diizinkan melakukan apapun pekerjaan rumah, termasuk hanya sekedar cuci piring.
"Hitung-hitung olahraga, Bu..." Kata Maira menjawab kekhawatiran mertuanya.
"Maira sudah olahraga setiap pagi keliling komplek bersama Hidayat, dan tidak ada lagi olahraga di rumah..." Tegas Bu Zainab.
"Tapi, Bu..."
"Pokoknya Maira harus istirahat... Ibu tidak mau terjadi apa-apa sama menantu dan cucu ibu..." Potong Bu Zainab seraya menarik Maira dengan lembut ke sofa, lalu sama-sama menoleh ke arah luar karena mendengar suara motor Hidayat memasuki pekarangan rumah.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikum salam..." Jawab Maira seraya berdiri menyambut tangan Hidayat.
"Wa'alaikum salam..." Jawab Bu Zainab bersamaan dengan ibunya Maira yang menyusul dari dalam kamar.
"Lihatlah, Abang, bahkan kedua ibu kita tidak mengizinkan Maira walau hanya sekedar menyapu beranda rumah..." Adu Maira.
"Memang begitu kah, Bu?" Tanya Hidayat mengarah kepada ibunya.
"Jadi, jika kami tidak disini, kamu akan membiarkan istrimu mengerjakannya?" Omel Bu Zainab sembari melototi Hidayat.
"Tidak, Ibu... Hidayat akan selalu menjaga Maira dan calon anak kami... Terima kasih Ibu sudah banyak membantu..." Ucap Hidayat mengalah. Ia mencium tangan ibunya, lalu berganti tangan ibu mertuanya.
"Ayah mana, Bu?" Hidayat celingukan mencari ayah dan ayah mertuanya yang baru semalam datang ke rumah itu.
"Di belakang... Ayahmu dan ayah mertuamu sedang berkunjung ke makam kakakmu, Nak..." Jawab Bu Zainab.
"Ibu tidak ikut?" Tanya Hidayat seraya duduk di sofa mengikuti Maira.
"Sudah..."
"Tadi kami sudah kesana untuk sekedar menyapa dan mendoakan... Para ayah lagi ngobrol sambil menikmati waktu senja..." Sambung ibunya Maira seraya ikut duduk.
"Abang mau mandi? Biar Maira siapkan baju ganti..." Ucap Maira.
"Sebentar lagi, Mai..." Jawab Hidayat. "Oh ya, malam ini bang Arya akan datang bersama keluarga kecilnya, anak-anak kios juga..."
"Hmmm, apa Ibu bilang..." Ujar Bu Zainab.
"Iya, Besan... Untung kita masak lebih tadi..." Sahut ibunya Maira membenarkan perkataan Bu Zainab.
__ADS_1
"Kapan ibu masak?" Sela Hidayat.
"Belum lama sebelum kamu datang kami baru selesai..."
"Emmm, pantesan ada bau-bau wangi dari dapur... Harusnya ibu tidak perlu repot-repot, kan tinggal pesan online saja..."
"Kamu pikir masakan kami tidak seenak masakan online- online itu?" Sergah Bu Zainab berlagak berang.
Hidayat menyeringai. "Bukan begitu, Ibu... Pasti ibu masih kecapean, dan harusnya hari ini istirahat saja... Lain kali kami bisa kok mencicipi masakan Ibu... Ya, walaupun Hidayat, Maira, bang Arya, Kirana, pokoknya kami semua sangat merindukan masakan ibu sih..."
"Alah, Yat... Ibu dan ibumu cuma masak sedikit buat tambah-tambah masakan yang kami bawa dari kampung kok... Ibu bawa rendang daging sapi, ibumu bawa keripik singkong teri kacang. Jadi, kami cuma masak nasi, sayur bening, sama sambel terasi..." Tutur ibunya Maira.
"Jadi, ibu bawa rendang?" Tanya Hidayat kegirangan.
"Iya..." Angguk ibunya Maira terheran-heran.
"Wah, kalau nasi anget pakai rendang dicampur sama keripik buatan ibu pasti enak..." Seru Hidayat. "Abang mandi, Mai... Nggak sabar mau nyobain masakan ibu-ibu kita..."
Maira tersenyum sambil melirik kedua ibunya. "Memang dari kemarin-kemarin Abang ingin makan begituan, Bu... Alhamdulillah hari ini ada... Maira ke kamar dulu ya, Bu..."
***
Usai isya tamu Hidayat berdatangan hampir serentak. Mereka duduk lesehan di ruang tamu minimalis di atas karpet tebal. Suara Zaim membuat suasana rumah semakin ramai. Bu Yanti dan suaminya yang merupakan tetangga paling dekat juga diajak berkumpul di rumah peninggalan almarhum Ajiz.
"Maa syaa Allah... Senang sekali jika ramai-ramai begini, ya, Bu..." Ucap Bu Yanti dengan kagum.
"Alhamdulillah, Bu Yanti... Harta tak perlu berlebih-lebih, tapi keluarga adalah kekayaan yang berlimpah ruah... Sama halnya dengan situasi saat ini, Bu... Tempat boleh sempit, hati jua yang dilapangkan..." Tutur Bu Zainab dengan tersenyum bijak.
"Benar kata, Bu Zainab... Saya dibawa-bawa jadi keluarga seperti ini saja merasa terharu, Bu..."
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh..." Arya berucap dari pojok tempat ia duduk, diapit ayah dan ayah mertua Hidayat.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatuh..." Jawab mereka serempak, dan suasana mulai terdengar hening menunggu Arya kembali mengeluarkan kata-kata.
"Alhamdulillah, sebenarnya kedatangan Arya selain untuk bertemu ayah dan ibu dari kampung, Arya juga ingin menyampaikan kabar gembira bagi kita semua..."
Semua mata menatap Arya penuh tanda tanya dan rasa ke penasaran yang tinggi.
"Alhamdulillah, novel Zahrana best seller lagi..." Belum sempat ia meneruskan ucapannya, kerongkongannya terasa tersekat, sementara seluruh orang di dalam ruangan itu semakin hening dengan wajah terpana.
"Maa syaa Allah..." Ucap mereka hampir bersamaan.
"Sudah Hidayat duga, kak Zahra memang hebat..." Ucap Hidayat dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Ada lagi novel kakakmu, Yat? Novel yang mana? Kok Ibu tidak tahu?" Tanya Bu Zainab rentetan menatap Hidayat yang duduk jauh berhadapan dengannya.
Hidayat berdiri dan berjalan membungkuk di antara mereka mendekati ibunya.
"Ini kejutan untuk Ibu..." Kata Hidayat seraya memeluk ibunya, dan Bu Zainab terdengar mengerang bahagia.
Semua orang yang berkumpul di rumah minimalis itu ikut menitikkan air mata haru.
"Buku kak Zahra yang Hidayat temukan waktu itu telah diterbitkan, Bu... Sebelumnya Maira juga telah menamatkannya, dan kemudian Bang Arya menjadikannya sebuah novel yang indah di tangan penerbit..." Tutur Hidayat sembari menyeka air mata ibunya, sementara air matanya ia biarkan berlinangan.
"Terima kasih, Maira Sayang..." Ucap Bu Zainab sambil menggenggam tangan Maira yang berada di sisi kirinya, lalu menoleh ke arah Arya yang juga sedang menatapnya dari sudut ruangan. "Terima kasih, Nak Arya..."
Arya tersenyum sambil mengangguk. "Pihak PH juga sudah menghubungi Arya, Bu... Menanti kapan kita bersedia jika novel ini ditayangkan di bioskop..."
Bibir Umayyah tak berhenti mengucapkan syukur. Malam ini ia kembali mengenang putrinya yang telah almarhumah. Baru tadi sore ia berusaha menahan tangisnya di pemakaman Zahrana, namun malam ini ia tak kuasa menahan air matanya.
"Apa dengan di filmkan kita akan melihat Zahra?" Tanya Umayyah bersemangat.
"Kita akan melihatnya dari sosok orang lain, Yah... Kami akan cari orang yang benar-benar bisa menjiwai karakter Zahrana..." Ikrar Arya.
"Kalau begitu, lakukanlah..." Perintah Umayyah sembari menghela napas berat.
"Insya Allah, Yah... Lusa akan ada jumpa fans, dan Maira siap-siap, ya..." Ujar Arya dengan hati yang mantap.
"Hah?" Maira tercengang. "Ke-kenapa Maira, Bang?"
"Iya, Mai... Abang yakin kamu pasti bisa mengatasi semuanya, karena kamu adalah salah satu penulis novel ini..." Jawab Arya berusaha meyakinkan Maira.
"Tapi..." Maira menoleh pada Hidayat.
"Abang akan temani Maira..." Jawab Hidayat sembari mengangguk menyetujui permintaan Arya kepada istrinya.
Cukup lama berbincang-bincang, para perempuan mulai menghidangkan makanan. Suara mulai bising memuji aroma masakan, dan sejenak melupakan perasaan haru yang baru saja melanda suasana saat ini.
.
.
.
.
.
__ADS_1