Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku

Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku
59. Perdebatan Kecil


__ADS_3

Hidayat mengeratkan pelukannya ke tubuh Maira. Hatinya begitu bahagia melihat senyum istrinya yang berbeda dari sebelumnya. Lengkungan sempurna di bibir Maira membuat ia terharu akan kebesaran Allah dalam hidupnya.


"Jadi, kita tidak perlu hujan-hujanan lagi, kan?" Bisik Hidayat ke telinga Maira.


"Tergantung..."


"Loh, kok?"


"Kalau itu maunya anak kita bagaimana? Kan nggak mungkin ditolak, Abang..."


"Maunya anak kita?" Dahi Hidayat sampai mengernyit heran mendengar penuturan Maira.


"Iya... Biasanya dalam hamil itu ada ngidamnya, kan, Bang..."


"Iya..." Angguk Hidayat masih dalam kebingungan.


"Nah..."


"Masa ngidam minta mandi hujan? Setahu Abang, ngidam itu pengen makan mangga muda, atau apalah sejenis makanan..."


"Nggak harus makanan, Bang... Apa aja sesuatu yang diidamkan... Bisa jadi pengen jalan-jalan, melihat keindahan alam, beli barang-barang, atau..."


"Atau apa, Sayang?"


"Ingin terus di samping Abang..." Jawab Maira tersipu.


"Nah, yang ini setuju Abang..." Celetuk Hidayat kegirangan.


"Tapi, bisa jadi Maira nggak mau dekat-dekat sama Abang..." Potong Maira mematahkan semangat Hidayat.


"Loh, emang bisa begitu?"


"Ya, bisa saja... Namanya bawaan bayi... Itu terjadi karena faktor hormonal, Abang..." Jelas Maira.


"Emmm, yang ini jangan sampai terjadi... Abang tidak mau... Abang tidak akan bisa..." Protes Hidayat sambil menggeleng.


"Semoga saja, Abang... Ini pasti akan menyiksa Maira..."


"Menyiksa Abang lah..."


"Maira juga..."


Hidayat mengeratkan kembali pelukannya terhadap Maira. Ia tersenyum sendiri mengingat obrolan mereka saat ini.


"Tapi, jika saja Maira tidak suka dekat-dekat Abang, tolong Abang jangan jauh-jauh... Nggak suka dekat-dekat dengan Abang, bukan berarti nggak kangen Abang... Maira akan tersiksa pastinya jika sedetik saja tidak melihat wajah Abang..." Ucap Maira terdengar sambil menghela napas berat.


"Iya... Abang juga tidak mau jauh-jauh..." Jawab Hidayat seraya mengelus-elus kepala Maira yang bersandar di dadanya. "Kalau Abang kerja gimana?"


Maira mengeluarkan kepalanya dari dekapan suaminya itu dengan memasang wajah cemberut. "Sembuh saja belum, sudah memikirkan pekerjaan..."

__ADS_1


"Iya, maksud Abang nanti, Sayang..."


"Kalau nanti, ya nanti saja dipikirkan, Abang... Sekarang Abang harus fokus untuk sembuh dulu..." Omel Maira.


"I-iya, Sayang... Kok jadi galak begini sih? Kan Abang masih sakit, harusnya Maira manjain Abang dong..." Ucap Hidayat memberengut.


"Oh ya, Bang, tadi Maira juga udah kasih tahu Aldi kalau Abang sudah sadar... Katanya, dia sama ibunya bakal datang kesini buat jenguk Abang loh..."


"Aldi? Siapa Aldi?" Tanya Hidayat terlihat mengingat-ingat.


"Abang lupa?"


"Mahasiswa Abang?"


"Bukan... Itu loh, bocah yang Abang selamatkan kucingnya..."


"Owh, iya, Abang ingat..."


Maira melingkarkan tangannya ke pinggang Hidayat, lalu menyenderkan pipinya ke dada suaminya itu. "Lain kali Abang harus hati-hati, jangan buat Maira cemas lagi..."


"Qodarullah, Sayang... Kita nggak bisa mengelak darinya..." Ucap Hidayat sambil mengecup kepala Maira.


"Tetap saja Abang harus hati-hati..."


"Iya, lain kali Abang akan lebih hati-hati lagi..." Jawab Hidayat mau tidak mau harus mengiyakan.


Setelah dinyatakan benar-benar sembuh, Hidayat sudah diizinkan pulang ke rumah oleh dokter. Ia sangat senang bisa kembali ke tempat dimana ia dan Maira bernaung. Banyak kerabat dan tetangga berdatangan untuk menyambut kesembuhannya.


"Om Aat..." Faiz datang ke pangkuannya, lalu berceloteh panjang sambil memainkan bulu tipis yang tumbuh di dagunya.


"Sayang, Om Aat masih sakit..." Panggil Rianur terhadap anak bungsunya itu.


"Nggak apa-apa, Kak... Hidayat juga kangen Faiz. Faiza mana?"


"Tidur di kamar... Ibu melarang kakak membangunkannya..."


"Iya, pasti dia lelah berjam-jam di dalam mobil... Jam berapa kakak datang?"


"Belum lama sebelum kamu pulang dari rumah sakit." Rianur duduk di samping Hidayat seraya menarik Faiz dengan pelan ke pangkuannya. "Sekarang bagaimana keadaanmu? Sudah membaik, kan?"


"Alhamdulillah, Kak..." Angguk Hidayat terlihat kikuk.


Rianur menurunkan Faiz, lalu bocah itu berlarian ke arah depan tempat keluarga berkumpul. Rianur menghela napas panjang. Ia seakan diberi ruang untuk bicara dengan adik bungsunya itu.


"Air mata kami belum kering sejak kepergian Zahra, dan disusul Ajiz pula... Kamu membuat kami semua cemas, Yat..." Sesal Rianur dengan tatapan kosong ke depannya.


"Maaf, Kak..." Hidayat hanya bisa menunduk dan tak berani menyela. Dia sangat mengerti bagaimana perasaan kakak perempuannya itu. Rasa khawatir dan takut kehilangan untuk kesekian kalinya.


"Kamu jauh dari kami, Yat... Tolong, tolong hanya kabar gembira saja yang kami dengar dari sini... Sudah cukup kabar tentang Zahra dulu menyakiti kita..." Rajuk Rianur semakin terbawa perasaan.

__ADS_1


"Kak..." Hidayat menatap Rianur dengan tatapan memelas.


"Iya... Iya Kakak tahu ini Qodarullah... Tapi kami belum siap, Yat... Jangan kecewa jika kami begini, bersikap seolah tidak mengimani rukun iman ke enam... Kami hanya takut..." Sela Rianur.


Hidayat kembali mengangguk, mengalah dengan rasa bersalah. Tak lama, Muslim mendekat ke arah mereka dan duduk di samping Hidayat.


"Hebat kamu, Yat... Abang bangga sama kamu... Kamu bagai kak Zahra ke dua..." Ucap Muslim dengan sebenar-benarnya kekaguman.


"Mus..." Decak Rianur memelototi Muslim yang masih nyengir.


"Kenapa, Kak?" Tanya Muslim terlihat tak memiliki salah.


"Ini tidak lucu..."


"Yang bilang lucu siapa? Aku tahu Kakak cemas, kita semua juga... Tapi yang harus digarisbawahi dalam kejadian ini, Hidayat telah menyelamatkan nyawa seorang anak kecil dan juga seekor kucing..."


"Tapi, Mus..."


"Dan terpenting Hidayat sekarang baik-baik saja, kan...?" Potong Muslim.


"Setelah melewati masa kritis?" Ketus Rianur.


"Kak Rianur guru agama loh... Jangan berpikir sempit begini..." Balas Muslim tak kalah ketus. Sementara Hidayat hanya bisa pasrah mendengar perdebatan kedua saudaranya itu, apalagi ia sendiri berada di tengah-tengah mereka.


Rianur melempar bantal sofa ke dada Muslim, lalu bangkit hendak pergi.


"Ngambek?" Cibir Muslim.


"Siapa juga yang ngambek... Mau ke kamar lihat ponakanmu..." Ketus Rianur menghentakkan kakinya menjauh dari sana.


Muslim dan Hidayat tertawa kecil melihat tingkah kakak sulungnya itu.


"Makin parah perasa kakak kita itu, Yat... Ya Allah, pusing Abang jadinya..." Keluh Muslim.


"Kurang-kurangi lah Bang, berdebat dengan kak Rianur..."


"Buat jaga mental kak Rianur juga, Yat... Kalau nggak digituin, mental kakak kita bakal down... Pencemas sangat... Kadang Abang jadi kasihan, padahal hidup nggak sesusah dulu lagi..."


"Ya, karena kak Rianur masih belum ikhlas dengan kepergian kak Zahra juga, Bang... Tahu sendiri lah Abang, kak Zahra kesayangan kita semua..."


Muslim mengangguk. "Bukan hanya kak Rianur, Abang juga, Yat... Jika kita berantem, kak Zahra yang selalu jadi penengah... Abang rindu... Ingin sekali bertemu walau hanya dalam mimpi..." Muslim menghela napas berat. "Makanya kami selalu menurunkan ego kami jika ada perdebatan-perdebatan seperti tadi..." Tambahnya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2