
Maira tidak menyangka jika ternyata Hidayat adalah seorang suami yang sangat romantis. Tidak kaku dan begitu agresif dalam segala hal, begitu cepat dan tanggap dalam segi positif. Ia sangat kagum dengan tempat yang dicarikan Hidayat untuk mereka berbulan madu. Kamar yang bukan berada di hotel-hotel terbaik, melainkan hanya sebuah villa berukuran sedang, namun tetap saja membuat hati menjadi tenang jika berada di dalamnya.
"Bukan pantai?" Tanya Maira sembari berkeliling melihat-lihat sekitaran suasana villa.
"Maira memang mirip dengan kak Zahra, tapi kesukaan kalian kan tidak selalu sama... Kak Zahra memang suka pantai, karena hanya di pantai ia mendengar kebisingan yang alami, tapi jauh dari kebisingan mulut orang-orang julid... Kalau Maira sudah biasa dengan kebisingan, karena Maira perempuan sosialita yang suka berjalan ke sana-kemari untuk kepentingan pendidikan Maira. Makanya Maira membutuhkan hawa-hawa dingin lagi diam seperti suasana disini. Abang benar, bukan?" Hidayat melingkarkan tangannya ke pinggang Maira, lalu mengecupnya dengan lembut.
Maira tersenyum sambil mengangguk. "Terima kasih, Abang... Ini benar-benar yang Maira impikan..."
Maira berbalik. Walau ia mengitari villa, tetap saja matanya lebih sering memandangi wajah suaminya, bahkan sejak dari rumah.
"Maira kenapa melihat Abang begitu? Apa ada sesuatu? Atau Maira ingin sesuatu?" Tanya Hidayat terlihat keheranan.
"Memangnya nggak boleh Maira pandangi wajah suami Maira sendiri?"
"Ya, tapi kenapa? Abang jadi ngerasa ada yang salah sama diri Abang sendiri..." Ujar Hidayat sembari mematut dirinya sendiri.
"Maira suka... Rasanya Maira jatuh cinta terus jika lihat Abang... Abang kok ganteng banget sih?" Ucap Maira dengan memamerkan wajah imutnya.
"Emmm... Terpesona nih... Kita ke kamar saja yuk, biar Maira puas mandangin wajah suaminya Maira ini... Lagian mau Maghrib juga... Besok pagi sebelum menemui bos besar, Abang ajak Maira jalan-jalan ke puncak sana..." Hidayat menunjuk ke arah bukit yang tidak jauh dari belakang villa.
Maira mengangguk dengan penuh semangat dan wajah yang berbinar-binar. Ia terlihat sangat senang bisa menikmati hari berdua dengan Hidayat.
Mereka membersihkan diri, lalu bersiap hendak melakukan ibadah sholat Maghrib di kamar. Meski mereka sedang tidak berada di rumah, tetap saja mereka membaca beberapa ayat Alquran ketika usai melaksanakan shalat.
"Maira mau makan malam disini atau di luar?" Tanya Hidayat sambil membuka peci hitam yang dikenakannya.
"Emmm di luar saja gimana, Bang? Sambil menikmati pemandangan malam dan juga cari angin segar... Abang tidak capek, kan?" Usul Maira terlihat ingin.
"Tidak... Ayo siap-siap..." Hidayat bangkit dari duduknya dan diikuti oleh Maira.
Mereka seperti sepasang kekasih yang sedang diner di tempat romantis. Tempat yang begitu indah dengan pencahayaan remang-remang, dipenuhi hiasan bunga-bunga juga lilin yang menyala di sekelilingnya. Hidayat dan Maira duduk saling berhadapan di meja kecil yang telah dipenuhi beberapa makanan di atasnya.
__ADS_1
"Abang mempersiapkan ini dari kapan?" Bisik Maira begitu takjub dengan suasana di sekitarnya.
"Bos besar yang merekomendasikan tempat ini, Mai... Kemarin Abang sempat kasih tahu beliau bahwa kita akan liburan beberapa hari sambil belanja, dan beliau langsung menawarkan diri untuk mencarikan tempat terbaik di kota ini..." Jawab Hidayat panjang lebar.
"Bos besar baik sekali ya, Bang..."
"Alhamdulillah, Mai... Berkat kakak-kakak kita yang baik, kita juga dikelilingi oleh orang-orang yang baik pula..." Ujar Hidayat seraya mengambil tangan Maira.
Maira mengangguk. "Ada kalanya kita merindu matahari yang telah terbenam, namun tetap saja bumi tidak akan pernah berputar mundur untuk mengulang kembali waktu yang telah terbuang..."
"Benar... Apa pun tentang masa lalu, Abang harap kita tetap bersama selamanya... Jangan bosan dengan Abang yang biasa-biasa ini, ya..."
"Mana bisa Maira bosan terhadap Abang? Kalau ia, udah dari kemarin-kemarin..." Celetuk Maira sambil mencebikkan bibirnya.
Hidayat menyeringai. "Oh ya, Abang ada sesuatu untuk Maira..."
Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari jaketnya, lalu menyodorkannya kepada istrinya itu.
"Buka saja... Abang harap Maira suka..."
Maira membuka kotak itu dengan hati-hati dan rasa penasaran. Betapa terkesimanya ia ketika melihat sebuah gelang emas putih bangle yang bagian tengahnya terdapat huruf kapital H dan M.
"Masya Allah, cantik sekali, Abang..." Ucap Maira takjub dengan mata berkaca-kaca.
"Maira suka?"
"Suka, Abang... Maira suka sekali..." Jawab Maira sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba lolos begitu saja. Tangisnya adalah tangis bahagia karena mendapat kejutan dari suami tercintanya itu.
"Kalau Maira suka, lalu kenapa Maira malah menangis?" Tanya Hidayat seraya berdiri dan kemudian berjalan mendekati Maira ke posisinya.
"Maira senang... Maira nggak nyangka akan diberi kejutan begini, bahkan Maira tidak pernah memimpikan ini sebelumnya..." Ucap Maira di sela tangisnya. "Terima kasih, Abang... Maira terharu sekali rasanya..."
__ADS_1
Hidayat tersenyum. Ia mengecup kening Maira begitu lama. "Sama-sama, Sayang... Perlakuan istimewa buat perempuan yang istimewa pula, tidak ada salahnya, bukan?"
***
Untung mereka pengantin baru yang juga baru merasakan kenikmatan duniawi, sehingga setiap waktu luang selalu mereka habiskan untuk hal itu, dan bahkan usai sholat subuh Hidayat telah merayu Maira untuk kembali ke atas kasur. Maira walau malu-malu tetap saja melayani suaminya itu dengan senang hati.
"Abang tidak lupa kalau kita mau ke puncak bukit belakang villa, kan?" Bisik Maira ketika mereka masih saling berpelukan dalam satu selimut.
"Tentu saja tidak, Mai... Sebentar lagi, ya... Abang masih ingin seperti ini..." Ucap Hidayat sembari mengeratkan pelukannya. Ia juga seringkali mengecup pucuk kepala Maira dengan mata yang terpejam.
Hidayat tertidur, sementara Maira masih terjaga dalam dekapannya. Maira perlahan keluar dari pelukan suaminya itu, lalu mengendap-endap masuk ke dalam kamar mandi. Ia tahu betapa lelahnya suaminya saat ini.
Usai mandi, Maira mendapati Hidayat telah duduk bersandar di atas tempat tidur. "Abang kok sudah bangun?"
"Iya... Tidur Abang gelisah, takut kesiangan..." Jawab Hidayat seraya turun dari sana.
"Kalau begitu Maira siapkan baju untuk Abang, ya... Habis ini Maira mau shalat Dhuha dulu... Abang kalau butuh apa-apa bisa tunggu Maira sebentar, kan?" Ucap Maira seraya berjalan ke arah lemari pakaian.
"Iya, Mai... Lagian habis ini Abang juga mau shalat..." Jawab Hidayat.
Setelah selesai beberes, Mereka langsung menuju puncak bukit belakang villa. Mereka sengaja tidak sarapan terlebih dahulu karena di atas puncak telah ada yang menyiapkan sarapan untuk pengunjung.
Dari bawah mereka selalu berpegangan tangan, bahkan merasa tidak menyadari bahwa tangan mereka telah mulai kebas dan berkeringat karenanya.
Hidayat tersenyum senang melihat betapa bahagianya Maira ia perlakukan seperti ini.
.
.
.
__ADS_1
.