Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku

Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku
60. Bawaan Bayi


__ADS_3

Kehamilan Maira sudah memasuki trimester kedua, dan Hidayat juga sudah sepenuhnya pulih kembali paska kecelakaan beberapa waktu lalu. Karena Maira baru saja wisuda, mereka memutuskan untuk menjaga janin dalam kandungan Maira sebaik-baik mungkin. Maira diminta untuk tidak melakukan pekerjaan luar terlebih dahulu, juga pekerjaan berat di dalam rumah oleh Hidayat.


Maira mencoba bertahan dalam kebosanannya. Biasanya ia disibukkan kuliah dan kios setiap hari, namun sekarang ia hanya menjadi perempuan rumahan yang ditinggal kerja oleh suaminya setiap pagi hingga terkadang sampai lewat magrib.


Untuk menghapus rasa bosannya, Maira kembali membaca novel yang ditulis almarhumah Zahrana tentang kisah hidup almarhum kakak dan kakak iparnya itu sejak mulai berumah tangga hingga maut memisahkan mereka. Di ujung tulisan, Maira kembali mengingat sambungan yang pernah diceritakan Hidayat kepadanya.


Maira berpikir untuk memulai sambungannya. Ia berusaha memberikan tulisan terbaik untuk sepenggal kisah haru dan sad ending kehidupan kakak dan kakak iparnya di dunia.


Sebuah judul yang memang sudah lama ia pikirkan, SURGA CINTA DALAM BISMILLAH. Betapa indahnya kisah cinta yang dimulai dengan kalimat pendek bermakna luas itu.


Ia mulai kembali ke masa lalu, dimana Hidayat mengantarkan Zahrana ke rumahnya kala itu, sementara Ajiz ke luar kota untuk berbelanja barang kios.


Kata demi kata telah tertulis dengan rapi. Suasananya begitu hidup tertuang dalam lembaran kertas yang masih kosong.


Tanpa ia sadari sudah berjam-jam ia menulis. Ponselnya berdering. Mulanya ia begitu bersemangat hendak menerima panggilan telepon, karena ia tahu bahwa itu dari suaminya. Namun ketika baru saja matanya melihat tampilan layar ponselnya yang utuh terdapat photo suaminya itu, tiba-tiba saja ia merasa mual.


"Owweek...." Maira berjalan cepat menuju kamar mandi. Ia muntah-muntah di wastafel, namun yang keluar dari mulutnya hanya berupa cairan saja.


Beberapa kali begitu, dan baru ia sadari ketika melihat wajah suaminya lah ia menjadi mual.


"Yaa Allah, masa begini sih?" Keluh Maira bergumam. "Ah, nggak mungkin... Masa aku mual kalau liat Poto Abang? Kan nggak lucu..."


Ponselnya berdering kembali setelah beberapa kali ia gagal menjawabnya. Dengan membuang muka, Maira mencoba menggeser tombol hijau di layar sentuh ponselnya itu.


"Assalamualaikum, Sayang... " Terdengar panggilan Hidayat dengan suara cemas.


"Wa'alaikum salam, Abang...?" Jawab Maira tak bisa menyembunyikan suaranya yang serak.


"Kok Maira baru mengangkat telepon Abang? Maira nggak apa-apa, kan?"


"Maira mual, Bang? Nggak apa-apa, namanya juga lagi hamil, Bang..."


"Beneran? Apa Abang harus pulang sekarang?"


"Memangnya sudah waktunya Abang pulang?"


"Belum, Sayang... Sebenarnya Abang nelpon Maira mau ngasih tau kalau Abang bakal pulang terlambat hari ini... Abang ada jadwal mendadak menggantikan pak Tri..." Jelas Hidayat terdengar ragu-ragu.


"Nggak apa-apa kok, Bang... Maira aman kok... Abang tidak perlu khawatir, Maira insya Allah baik-baik saja... Nanti kalau ada apa-apa, Maira akan kabarin Abang secepatnya..."


"Tapi, Abang pulangnya malam loh, Sayang... Apa Abang tolak saja, ya?"


"Jangan dong, Bang... Pak Tri selama ini baik banget, apalagi pas Abang lagi sakit. Masa cuma gara-gara Maira mual Abang menolak permintaan tolong pak Tri sih? Kan nggak enak..." Omel Maira.

__ADS_1


"Tapi Abang khawatir... Lagian, pak Tri pasti mengerti..."


"Enggak, nggak boleh... Pak Tri kalau nggak ada kegiatan mendesak, pasti juga tidak akan mau merepotkan Abang..."


"Iya juga sih... Tadi Abang lihat memang begitu..."


"Nah..."


"Ya sudah, Maira hati-hati ya di rumah... Kalau ada apa-apa, jangan lupa kabarin Abang, dan juga jangan tunggu Abang. Maira harus cepat tidur, jangan begadang... Kasihan bayi kita..."


"Iya, Abang Sayang..."


"Love you, Sayang... Assalamualaikum..."


"Love you more, Abang... Wa'alaikum salam..." Maira tersenyum-senyum sendiri, namun ketika ia melihat wallpaper ponselnya, perutnya kembali bergejolak. "Oweeeekk..."


Berulang kali Maira keluar masuk kamar mandi. "Beneran karena lihat wajah Abang deh... Aahh... Ya Allah, kenapa tiba-tiba begini sih?"


***


Hidayat sampai di rumah sudah hampir tengah malam. Ia memasuki kamarnya dan melihat istrinya telah tertidur pulas. Ia segera membersihkan diri, lalu ikut tidur di samping istrinya itu.


Maira memang sangat sensitif terhadap bunyi-bunyi ketika ia tertidur, walaupun Hidayat telah berusaha keras untuk pelan-pelan menaiki tempat tidur mereka.


"Maaf, Sayang..." Ucap Hidayat merasa bersalah karena tidak sengaja telah membangunkan istrinya itu.


"Oweeeekk..." Maira bergegas menuju kamar mandi, sementara Hidayat dibuat panik olehnya dan segera menyusul.


"Sayang nggak apa-apa, kan?" Tanya Hidayat dengan raut wajah yang sangat cemas.


Maira menggeleng. Ia menegakkan kepalanya dan menghadap ke kaca. Pantulan wajah Hidayat di cermin membuat ia kembali mual. Hidayat mengusap-usap punggung Maira, namun Maira malah menepisnya.


"Abang tunggu di tempat tidur saja..." Pinta Maira.


"Kenapa?" Hidayat merasa ada yang aneh pada istrinya. Biasanya Maira sangat senang jika ia usap punggungnya saat mual.


"Maira nggak tahan lihat wajah Abang, maaf... Weeek..."


"Hah?" Hidayat ternganga.


Setelah beberapa saat, Maira kembali menyusul Hidayat ke tempat tidur. Meski masih dalam keadaan kebingungan, Hidayat tetap menghargai keputusan istrinya. Ia memunggungi Maira, dan Maira duduk tepat di belakangnya.


"Abang, maaf..." Ucap Maira dipenuhi rasa bersalah.

__ADS_1


"Nggak apa-apa... Tapi, kalau dekat Abang tidak masalah, kan?" Jawab Hidayat berusaha untuk tidak menampakkan kesedihannya.


Maira menggeleng dengan wajah tertunduk lesu. Ia lupa kalau suaminya tidak dapat melihat wajahnya.


"Sayang, jawab dong..."


"Heh?" Maira mengangkat wajahnya.


"Kalau Abang deket-deket Sayang tidak mengapa, kan?" Ulang Hidayat bertanya.


"Nggak apa-apa kok, Bang... Maira peluk dari belakang juga tidak masalah..." Ucap Maira seraya melingkarkan tangannya ke pinggang Hidayat.


Hidayat tersenyum. Ia menggenggam tangan Maira yang berada di perutnya. "Sekarang kita tidur, Maira pasti kelelahan..."


Maira mengangguk.


"Ngadep ke sana, biar Abang yang peluk Maira dari belakang..." Suruh Hidayat.


Maira menurut. Ia membaringkan tubuhnya membelakangi suaminya itu, dan disusul pelukan kasih dari suaminya.


"Berapa lama Abang bakal disiksa begini, hmmm?"


"Nggak lama kok, Bang... Palingan juga dua mingguan... Habis trimester kedua ini..." Jawab Maira dengan santainya.


"Astaghfirullah... Itu lama, Sayang..."


Maira cekikikan.


"Jangan ketawa... Abang tersiksa tau... Abang kan jadi nggak leluasa melihat wajah Maira..." Sungut Hidayat.


"Maira juga... Abang tahu? Membayangkan wajah Abang saja bisa membuat Maira mual..."


"Astaghfirullah hal'azhiim..." Hidayat menghela napas berat. Ia kemudian mengelus-elus perut Maira. "Jangan lama-lama dong, Nak... Kamu nggak kasihan sama Ayah?"


"Maaf, Ayah..." Ucap Maira seolah mewakili.


"Ini pasti hukuman atas kesalahan Abang selama ini..." Gumam Hidayat mengeluh pasrah.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan komplain ya... Ini cuma ngadi-ngadi Author saja🤭


__ADS_2