
Para ayah begitu asik bermain dengan cucu mereka, sementara para ibu malah menyibukkan diri untuk urusan anak mereka masing-masing. Ibunya Maira sibuk membantu Maira di brankar rumah sakit, sedangkan Bu Zainab mengomel terhadap Hidayat.
"Masa ketuban pecah dibilang ngompol? Kamu ini nggak belajar, hah...? Ini yang melahirkan istrimu loh, Yat... Sempat terjadi apa-apa tadi sama menantu dan cucu Ibu, Ibu bakal marah besar sama kamu..."
Yang lain hanya tersenyum membiarkan Bu Zainab mengomeli putra bungsunya itu. Mereka merasa lucu saja, sebab Hidayat juga menanggapi dengan guyonan omelan ibunya.
"Ibu, Hidayat panik... Hidayat tahu kok ketuban, tapi dalam kepanikan saat itu, Hidayat nggak kepikiran..." Jawab Hidayat berusaha membela diri.
"Alah, alasan... Jangan-jangan selama Maira mengandung, kamu malah sering mengabaikannya, ya?" Tuduh Bu Zainab seakan tidak memercayai ucapan Hidayat.
"Astaghfirullah hal'azhiim, Bu... Hidayat nggak gitu kok..." Sangkal Hidayat mulai terlihat serius.
"Iya, Bu... Bang Hidayat benar-benar menjadi suami siaga untuk Maira..." Bela Maira. "Sebenarnya Maira belum ingin beli mobil, tapi demi Maira, Bang Hidayat ngotot mau beli... Bahkan, Abang sampai ambil cuti setelah dokter bilang kalau Maira bakal lahiran dalam Minggu ini..."
Mendengar penjelasan Maira, barulah Bu Zainab merasa tenang.
"Tinggal sama kita aja orang tua kita ya, Mai... Biar lihat setiap hari bagaimana Abang memperlakukan istri Abang ini..." Ucap Hidayat sembari mendekat kearah Maira.
"Iya... Mau ya, Yah, Bu?" Tanya Maira sambil menatap orang tua dan mertuanya bergantian.
Orang tuanya malah saling tatap, lalu menghela napas berat. "Untuk saat ini mau, tapi nggak bisa seterusnya, Sayang..."
"Iya, Nak... Kami tidak mungkin meninggalkan kampung..." Sambung Bu Zainab pula.
"Emmm, okee..." Hidayat menghela napas berat berlagak kecewa. "Tapi, Ibu dan Ayah dua bulan berikutnya harus stay di rumah kami..."
"Kenapa?" Tanya Bu Zainab.
Hidayat dan Maira saling melirik sambil tersenyum. "Ada kado dari almarhum bang Ajiz yang mesti kami berikan..."
"Kado apa, Yat?" Tanya Ayah mereka bersamaan.
"Alhamdulillah, Ayah dan Ibu sudah terpanggil haji tahun ini..." Jawab Hidayat dengan suara terdengar serak dan mata berkaca-kaca.
Ayah dan ibu mereka ternganga mendengar ucapan Hidayat. Mereka terlihat tak percaya mengetahui itu semua.
"Tahun ini?" Tanya ayahnya Maira dengan wajah kagum dan mata memerah.
"Iya, Yah... Ayah senang, kan?" Sambung Maira sembari menatap ayahnya.
__ADS_1
"Ayah senang sekali, Nak..." Jawab ayahnya berhamburan memeluk dirinya.
"Maa Syaa Allah, Alhamdulillah, Allahu Akbar..."
Bu Zainab dan ibunya Maira yang berdekatan saling memeluk satu sama lain. "Kita akan ke Tanah Suci, Bu Zainab..."
Bu Zainab mengangguk. "Anak-anak kita memang hebat, Besan..."
Umayyah melangkah kearah Hidayat yang menatapnya dengan haru, lalu memeluk putra bungsunya itu dengan sangat erat. "Terima kasih, Yat... Ayah bangga sama kamu, Nak..."
Hidayat perlahan mengurai pelukannya. "Ini hadiah dari almarhum bang Ajiz, Yah... Hidayat dan Maira hanya melanjutkan saja... Bang Ajiz sangat peduli dengan mimpi besar Ayah dan Ibu..."
"Nak Ajiz?" Bu Zainab terperangah mendengar penjelasan Hidayat.
"Iya, Bu..." Angguk Maira menimpali. "Ya, walau sempat terhenti ketika bang Ajiz mengalami kebangkrutan, tapi Alhamdulillah berkat kak Zahra semua pulih kembali..."
"Kakakmu bangkrut?" Ayah Maira begitu terkejut mendengar ucapannya.
"Nanti sepulang Ayah dan Ibu dari Mekkah, Ayah dan Ibu akan lihat sendiri bagaimana mereka menyembunyikan semuanya dari kita..." Sela Hidayat.
"Bagaimana caranya?"
***
Beberapa bulan kemudian.
Maira dan Hidayat berdiri berdampingan di sebelah onggokan tanah pemakaman Ajiz, menatap batu nisan sambil tersenyum lega.
"Ini pemakaman pamanmu, Nak, Paman Ajiz, suami bibi Zahra..." Ucap Maira pada bayi lima bulanan dalam gendongan suaminya itu.
"Iya, Sayang... Walau kamu tidak pernah berjumpa dengan mereka, tapi kamu akan mengenal baik mereka nantinya lewat cerita kami..." Sambung Hidayat berbisik di telinga anaknya.
"Dikubur berdampingan tidak menjamin manusia juga berdampingan di akhirat kelak... Tapi, walaupun kak Zahra dan bang Ajiz dikubur dengan jarak jauh di tanah bumi, Maira yakin mereka sudah bertemu lama di sana, Bang..." Ujar Maira.
"Iya, Abang juga yakin itu... Keinginan bang Ajiz untuk pulang dan menginap di rumah kami untuk terakhir kali sudah menjadi pertanda untuk kita, Mai... Sudah menjadi amanat untuk Abang... Ya, walau Abang pernah mengelak dan berusaha keras untuk menolak... Maafin Abang untuk semua kesalahan Abang, Sayang... Baru kali ini Abang berani mengutarakannya di depan makam bang Ajiz..." Ujar Hidayat penuh penyesalan.
"Maira bahkan sudah melupakannya dari lama, Abang... Maira membayangkan bahwa diri Maira adalah ratu Bilqis, dan Abang raja Sulaiman..." Maira menghempas napas dengan keras. "Ya, walaupun sebenarnya kisah mereka jauh lebih menakjubkan, tapi tetap saja kisah kita juga terasa istimewa bagi Maira..."
Hidayat mengangguk, lalu ia merangkul Maira. "Kita kembali ke rumah, ya, Sayang... Bukankah Sayang harus siap-siap buat kita balik ke kota?"
__ADS_1
"Iya, Abang..." Maira berjalan mengikuti langkah suaminya meninggalkan onggokan tanah yang tertanam jasad kakaknya sejak beberapa tahun yang lalu.
Mereka masuk rumah sederhana milik orang tua Hidayat. Tampak seluruh keluarga telah berkumpul menunggui mereka.
"Dek Bilqis boleh sama kak Faiza aja, Aunty Mai?" Putri sulung Rianur yang sudah cukup gadis berlari mengejar kedatangan mereka.
"Oh Tentu, Sayang..." Jawab Maira seraya memberikan anaknya pada Faiza dengan hati-hati.
"Hati-hati, Nak, nanti adek jatuh..." Seru Rianur yang sibuk memasangkan ikat pinggang Faiz dari kejauhan.
"Iya, Ma..."
"Ayo, Mai, Ibu sudah tidak sabar menonton film kakakmu..." Ujar Bu Zainab terdengar antusias.
"Iya, Bu... Maaf sudah membuat Ibu menunggu lama..."
"Ah, tidak begitu... Ibu saja yang terlalu berlebihan... Padahal filmnya juga besok..." Ucap Bu Zainab kemudian sambil cengengesan.
Mereka sore itu berangkat ke kota. Sebelumnya sempat menyinggahi kedua orang tua Maira terlebih dahulu.
Di kota pun pagi-pagi buta keluarga besar Arya Irawan dan juga pak Miko sudah menunggu kehadiran mereka.
Maa Syaa Allah, pemandangan yang begitu mengharukan. Kebersamaan mereka dalam suasana yang bahagia, bersatu dalam empat keluarga besar, keluarga Marwan, keluarga Rasyid, keluarga Irawan beserta keluarga pak Miko yang juga turut berkumpul di sana.
Bu Yanti dan suaminya yang telah dianggap keluarga juga turut hadir memenuhi undangan kebersamaan mereka pada hari itu, dan mereka akan menonton filmnya Zahrana bersama-sama di bioskop.
Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan nama. Maka sebelum kematian itu datang, kita sendiri yang akan memutuskan kelak nama kita akan dikenang baik atau buruknya oleh orang yang kita tinggalkan di dunia.
Sesungguhnya nama Zahrana Habibah Marwan dikenal sangat baik oleh orang-orang yang ditinggalkannya. Mereka yang masih hidup begitu menangisi kepergiannya, dan mereka begitu bahagia atas pencapaian Zahrana semasa hidup. Begitu juga dengan apa yang ia tinggalkan , begitu berjasa dan sangat bermanfaat. Tidak hanya itu, bahkan kisahnya yang ia tinggalkan dalam sebuah novel yang ia tulis menjadi teladan bagi mereka.
.
.
.
.
Tamat...
__ADS_1