
Maira berjalan sambil merangkul Hidayat masuk ke sekolah Ayu. Setelah melakukan perbincangan dengan kepala sekolah, Maira diizinkan untuk membawa Ayu untuk beberapa hari sambil menunggu surat pindah yang dibuatkan sekolah ke sekolah Ayu yang baru nanti.
Ayu dipanggil oleh wali kelasnya dan kemudian dipertemukan dengan Maira dan Hidayat.
"Hai, Sayang... Kamu Ayu, kan?" Sapa Maira sambil merangkul bahu Ayu.
"Iya, benar... Kakak siapa, ya?" Tanya Ayu terdengar lesu.
"Kakak dan Abang ini adalah teman dekat kakaknya Ayu... Nama Kakak, Maira... Dan Abang ini suaminya Kakak, nama beliau Bang Hidayat... Tadi ibunya Ayu berangkat keluar kota untuk urusan pekerjaan. Jadi, Kak Maira dan bang Hidayat yang jemput Maira sekarang..." Tutur Maira begitu lembut.
"Kak Kiran memangnya kemana? Kenapa bukan kak Kiran saja yang jemput Ayu? Apa kak Kiran masih marah sama Ayu dan Ibu?" Tanya gadis itu terlihat begitu sedih.
"Tidak, Sayang... Kak Kiran ada syuting film sekarang... Dia sangat sibuk sekali, makanya kak Kiran tidak bisa jemput Ayu... Ayu jangan sedih begini, Sayang... Nanti ibu dan kakaknya Ayu jadi khawatir..." Bujuk Maira menenangkan Ayu.
Ayu mengangguk. Ia berusaha tersenyum di depan Maira dan Hidayat, walau hatinya masih saja merasa sedih.
Mereka bertiga pulang ke rumah, dimana Hidayat dan Maira tinggal bersama. Ayu masih terlihat murung, dan Maira berusaha memberi ia ruang untuk sejenak melepaskan kepedihannya.
"Nah, ini kamar untuk Ayu... Ayu sekarang istirahat dulu, ya... Ayu pasti capek... Kak Maira akan masak untuk kita makan malam ini..." Ujar Maira begitu lembut.
Ayu hanya diam. Ia menatap ke sekeliling kamarnya dengan tatapan kosong. Melihat kondisi Ayu yang masih terpukul dengan keadaannya beberapa hari ini, Maira membiarkannya untuk istirahat dan menenangkan diri.
Maira berjalan meletakkan perlengkapan Ayu ke atas kasur, lalu ia hendak keluar dari kamar tamu.
"Terima kasih, Kak Maira..." Ucap Ayu membuat langkah Maira terhenti dan kemudian menolak kembali kepada Ayu.
Maira tersenyum, lalu menyahuti ucapan gadis itu. "Sama-sama, Sayang..."
Di sisi lain Arya merasa tidak tenang. Belum lagi memikirkan bagaimana perasaan Maira jika sampai ia benar-benar dimadu oleh Kirana. Selepas berbaring sejenak, ia memutuskan untuk menemui Hidayat.
Kedatangan Arya yang begitu tiba-tiba membuat Hidayat tidak terlalu kaget. Ia seolah sudah menebak tujuan kedatangan aktor muda itu ke rumahnya.
"Kenapa tidak bicara di dalam saja, Bang?" Tanya Hidayat sembari bersandar di kursi taman samping rumah.
"Sekalian mengademkan pikiran, Yat... Rasanya akhir-akhir ini Abang tidak nyaman dengan permasalahan yang menimpa kamu, Maira dan Kirana... Cinta tiga segi macam apa ini, Yat? Apa ini lebih baik dan boleh dibenarkan daripada tentang Abang dengan rumah tangga almarhumah kakakmu dulu?" Arya bertanya dengan nada datar, namun menyimpan makna yang seolah sindiran untuk Hidayat.
Hidayat tersenyum getir. "Tanyakan pada Maira, Bang... Dia yang menginginkan ini..."
__ADS_1
"Memangnya kamu tidak?" Arya menatap Hidayat penuh selidik.
"Apa karena hubungan Hidayat dengan Kirana di masa lalu membuat Abang begitu curiga?" Hidayat membalas sembari menatap Arya begitu tajam.
"Entahlah... Ini serasa tidak real, Yat... Melainkan sebuah drama yang sering Abang perankan..." Ucap Arya seraya menghela napas berat.
"Hidayat berharapnya begitu, Bang..."
Lama mereka saling berbincang, dan tanpa mereka sadari Maira telah berdiri di belakang mereka.
"Maira sudah dari tadi?" Tanya Hidayat terlihat gugup.
"Baru saja..." Jawab Maira santai. Ia segera mengalungkan tangannya ke leher suaminya itu. "Kita makan bareng yuk, Bang..."
Maira menoleh kepada Arya, mengajak lelaki yang telah ia anggap saudara itu untuk ikut serta ke dalam.
"Dengan senang hati, Mai... Kalau Maira tidak mengajak Abang, maka Abang makan sendiri ke dalam..." Ujar Arya berseloroh.
"Tentu, Abang... Kita keluarga..." Jawab Maira sembari tertawa kecil. "Ayo, Bang... Keburu Ayu tertidur dalam keadaan lapar..."
Arya berjalan mendekati Kirana. Mereka tidak sengaja bertemu di lokasi syuting, padahal Kirana sedang tidak ikut berperan dalam film terbaru yang diperankan Arya kali ini.
"Kiran, bagaimana kabarmu?" Tanya Arya berbasa-basi.
"Baik..." Jawab Kirana datar, namun ia terlihat tidak begitu menanggapi Arya yang terus memerhatikan dirinya.
"Bisa kita bicara sebentar?" Ajak Arya sedikit canggung.
"Maaf, aku sudah jadi calon istri orang..." Sahut Kirana begitu percaya diri menolak ajakan Arya yang tampak berharap.
"Please, Kiran... Sebentar saja..." Pinta Arya terlihat sungguh-sungguh.
Kirana tampak berpikir sejenak. "Bicara disini saja..."
Arya tersenyum senang, lalu mengangguk cepat. Ia mengikuti langkah Kirana ke kursi santai yang berada di bawah pohon depan taman.
"Mau bicara apa?" Tanya Kirana tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Menikahlah denganku, Kiran..." Ucap Arya membuat Kirana ternganga sembari menatapnya lekat.
Kirana lalu menyunggingkan senyum yang tampak seolah mengejek. "Nikah?"
Arya mengangguk. "Iya..."
"Aku tidak salah dengar, kan?" Tanya Kirana sambil memandang dengan sebelah mata.
"Aku minta maaf untuk masa lalu kita, Kiran..."
"Sudahlah... Masa lalu biarlah berlalu... Sudah tidak ada lagi yang harus dibahas dari itu... Lagian, aku menolak ajakanmu... Aku sudah menjadi calon istri orang, dan orang itu sangat aku cintai..." Ujar Kirana membuat batasan pada Arya.
"Kamu yakin kalau kamu mencintainya?"
Kirana terdiam. Ia merasa terpojok oleh pertanyaan Arya yang begitu menohok. "Apa menikah harus ada cinta? Aku nyaman dengannya. Dia mempercayaiku dengan penuh ketulusan, dan memberiku ruang tanpa batasan... Lagian ketika ia menikahi istrinya waktu itu, ia juga tidak mencintai istrinya... Tapi sekarang dia sudah jatuh cinta... Aku yakin akan sama halnya nanti dengan perasaan kami... Menikah dulu, cinta itu kemudian..."
"Lalu, kamu akan menyakiti perasaan Maira? Jelas-jelas perempuan yang begitu baik, tapi malah kamu manfaatkan kebaikannya... Sadarlah, Kiran..." Ucap Arya tampak habis pikir dengan pemahaman Kirana.
"Dia rela kok dimadu..." Ketus Kirana tak peduli.
"Rela bagi people pleaser itu menyakitkan, Kiran... Dan kamu memanfaatkan seorang people pleaser... Aku rasa kamu masih punya hati, Kiran... Dan aku harap kamu bisa lebih memikirkan perasaan orang lain walau sedikit saja... Kamu juga perempuan, dan entahlah jika suatu hari nanti kamu akan memiliki anak perempuan... Pikirkan jika itu terjadi padamu, atau keturunanmu kelak..." Tutur Arya masih berusaha keras mencuci pikiran Kirana agar dapat mempertimbangkan keputusannya.
"Kamu tidak mengerti..."
"Aku paling mengerti, Kiran..." Potong Arya cepat. "Aku paling mengerti bagaimana bersalahnya aku yang membuat kamu begini... Aku minta maaf, karena aku tidak pernah ada untukmu ketika itu... Yang berpikir jika dengan uang perempuan lebih mudah tunduk... Aku sekarang bahkan mengerti, kamu lebih berani berkeluh kesah kepada Hidayat dibanding kepadaku, karena kamu tidak ingin merepotkan aku..."
Kirana terdiam. Tiba-tiba matanya mengembun, dan hatinya terasa pedih.
"Aku salah, Kiran... Aku salah..." Ucap Arya memelas.
.
.
.
.
__ADS_1