Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku

Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku
58. Demi Anak Kita


__ADS_3

Maira menyibakkan tirai jendela kaca di ruang rawat inap Hidayat. Pagi ini gerimis di luar sana, membuat hatinya terasa semakin sesak. Ia teringat hujan deras beberapa bulan lalu. Pagi pula, dan ia merengek agar Hidayat mau mandi hujan bareng dirinya.


Segala macam cara ia lakukan untuk segera hamil, dan salah satunya mandi hujan.


"Ayo, Abang... Sekali ini saja, pleaseee..."


"Gimana kalau ternyata Sayang belum juga kunjung hamil, tapi malahan menjadi demam? Hujannya deras, Sayang..."


"Kita coba saja, Bang... Maira pernah denger, katanya kalau kita belum juga dikasih keturunan sama Allah, maka kita coba cara yang ini... Ayolah, Abang... Sekali saja ya..."


Lama membujuk, akhirnya Hidayat menurut, dan ujung-ujungnya mereka berakhir mesra di kamar. Bercocok tanam penuh cinta mengikuti petunjuk yang didengar oleh Maira.


Maira menyeka air matanya. Ia menoleh ke belakang, pada suaminya yang masih bergeming di atas ranjang rumah sakit. Flash back kisah mereka berakhir tatkala hati Maira semakin pedih mengingat momen indah itu.


Ia perlahan mendekat ke arah Hidayat. Duduk di samping suaminya itu, lalu menggenggam tangannya.


"Abang, lihat... Di luar sedang hujan... Abang masih ingat, kan? Biasanya kita akan tertawa mengingatnya... Walau terkadang Maira ingin sekali mengulang, namun mengingat janji Maira hanya sekali saja, Maira jadi urung... Tapi sekarang, kita sudah tidak perlu hujan-hujanan lagi, Bang... Sekarang Maira sudah hamil anak kita... Kita berhasil, Abang, kita berhasil..." Maira berucap dengan semangat, namun tetap saja air matanya tak berhenti mengalir dari ruas-ruas tepi matanya.


"Abang, udah dua Minggu Abang nggak bangun... Udah banyak yang datang jenguk Abang kesini... Mereka semua rindu Abang... Mahasiswa-mahasiswi juga sudah tidak terhitung membesuk Abang kesini. Mereka sudah tidak sabar menunggu Abang masuk kelas mereka lagi..." Isak Maira. Ia tertunduk lesu meratapi kesedihan yang tak tertahankan di dalam hatinya.


"Aallloooh..."


Erangan pelan dari bibir Hidayat mengejutkan Maira. Ia tersentak seketika, lalu menoleh cepat ke wajah suaminya itu. Maira bangkit sambil menutup mulutnya yang ternganga melihat mata Hidayat sedikit terbuka. Air bening mengalir tipis di tepi mata Hidayat.


"A-abang... Abang sudah sadar?" Maira tersenyum girang sambil menyeka air matanya yang ikut keluar.


"Ibu...! Ayah...! Ibu...! Ayaaaah...!" Seru Maira mengarahkan wajahnya ke pintu.


Orang tua dan mertuanya berhamburan masuk ke dalam. "Kenapa, Mai?" Tanya mereka serempak.


"Abang... Abang sudah sadar, Yah, Bu..." Sahut Maira bersemangat.


Keempat orang tua itu berlarian menuju ke posisi Hidayat terbaring. Mereka terlihat begitu senang mendengar kenyataan bahwa Hidayat telah sadar kembali.


Maira menggenggam tangan Hidayat dengan kuat, sementara minim sekali balasan dari suaminya itu. Mata sayu milik Hidayat tak berhenti mengeluarkan buliran bening yang hangat. Ia terlihat ingin berkata-kata, namun suaranya tak kunjung keluar dari mulutnya.


"Abang, Abang cerita sama Maira apa yang sakit... Abang jangan buat Maira cemas begini..." Desak Maira tak sabaran.


"Sayang, sabar, Nak... Suamimu baru saja sadar..." Bujuk ibunya Maira menenangkannya.


"Tapi, Bu..."


Dari pintu tampak dokter datang bersama dengan beberapa perawat masuk menuju ke posisi Hidayat.


Maira terisak pilu melihat suaminya yang tidak berdaya dalam kesakitan. Ia membiarkan dokter memeriksa keadaan suaminya, lalu bergegas keluar ruangan untuk melepas tangisnya. Ia bersandar di dinding dan terisak-isak disana.

__ADS_1


"Maira..." Kirana bersama Arya datang. Mereka terlihat cemas karena mendapati Maira menangis di samping pintu ruang rawat Hidayat.


"Kak Kiran..." Maira menghamburkan dirinya ke dalam dekapan Kirana.


"Apa yang terjadi, Mai? Hidayat baik-baik saja, kan?" Tanya Arya semakin panik.


Maira tidak menjawab. Ia hanya semakin terisak di dalam pelukan Kirana, membuat istri Arya itu mempererat pelukannya dan mengusap-usap bahu Maira dengan lembut.


"Tenang, Mai..." Ucap Kirana berusaha menghibur.


Arya menggeser posisinya lebih dekat kearah pintu. Ia mendongakkan kepalanya melihat situasi di dalam, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat mata Hidayat telah terbuka.


"Hidayat sudah sadar, Mai?" Tanyanya terdengar begitu bahagia.


"Benarkah?" Tanya Kirana.


Maira perlahan merenggangkan tubuhnya dari dekapan Kirana. Ia mengangguk sendu.


"Lalu, mengapa Maira bersedih?" Kirana menatapnya dengan bingung.


"Iya, harusnya ini kabar membahagiakan, bukan?" Sambung Arya.


"Iya, Bang... Tadinya Maira bahagia... Sangat, sangat bahagia... Tapi, Bang Hidayat diam saja... Abang sama sekali tidak membalas genggaman tangan Maira... Maira jadi takut, Kak, Bang... Maira takut kalau suami Maira tidak pulih kembali seperti semula..." Jelas Maira tersedu-sedu.


Arya tertegun. Hal yang ditakutkan Maira mengena di hatinya, membuat ia merasakan ketakutan yang sama.


"Tapi, Kak..."


"Ayo kita ke dalam... Kita harus optimis... Dan kamu, harusnya jangan tinggalkan dia di saat-saat ini..." Tegas Kirana meyakinkan Maira.


Arya mengangguk. "Benar, Mai... Kita semua harus support Hidayat agar cepat pulih, terutama kamu istrinya... Kamu lupa kalau saat ini kamu sedang hamil? Perlahan-lahan, sampaikan kabar gembira ini padanya... Dia pasti akan senang dan semangat untuk cepat pulih seperti biasanya..."


Maira tertegun memandangi perutnya yang masih datar.


"Ayo, Mai..." Ajak Kirana dengan lembut.


Maira mengangguk. Ia menyeka air matanya dan tersenyum. "Terima kasih, Kak Kiran, Bang Arya... Maira beruntung punya kalian di sisi Maira..."


"Sama-sama, Mai... Kita sudah seperti saudara..." Jawab Kirana disambut anggukan kepala Arya.


***


Setelah mendengar penjelasan dokter, semua keluarga memberi ruang bagi Maira untuk bisa leluasa mengobrol dengan Hidayat yang baru saja sadar dari komanya.


"Maira tadi kenapa tinggalkan Abang? Abang kan kangen..." Ucap Hidayat terdengar lesu.

__ADS_1


"Kan Abang mau diperiksa dokter, makanya Maira keluar... Abang nggak tahu sih bagaimana takutnya Maira..." Celetuk Maira sambil mengedipkan matanya berkali-kali agar tak menangis di hadapan suaminya itu.


"Maafin Abang ya, sudah membuat Maira khawatir... Abang janji tidak akan mengulanginya lagi..." Ikrar Hidayat masih terlihat lemah.


"Eumm..." Angguk Maira semakin kuat menahan tangisnya.


"Sayang..."


Mendengar panggilan Hidayat, Maira tak kuasa lagi. Ia menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil.


"Sayang, hey..." Panggil Hidayat berusaha hendak bangkit.


"Jangan, Abang baring saja..." Cegah Maira di sela tangisnya.


"Nggak, Abang bosan..." Tolak Hidayat bersikukuh hendak duduk.


"Nggak boleh, Abang..."


"Tadi kata dokter kan boleh, Sayang..."


"Kalau gitu biar Maira bantu..." Ucap Maira memberengut, lalu bangkit membantu suaminya itu untuk duduk bersandar.


"Terima kasih, Sayang..."


"Eummm..."


"Sini, sini..." Panggil Hidayat sembari menepuk-nepuk sisi kanannya agar Maira duduk disana.


Maira menurut, dan Hidayat perlahan menarik bahu Maira agar menyenderkan kepala ke bahunya.


"Abang tahu Maira cemas, tapi Alhamdulillah Abang kan baik-baik saja sekarang..." Tutur Hidayat lembut.


"Tetap saja..."


"Iya, iya... Abang minta maaf... Ke depannya Abang janji akan lebih hati-hati..."


"Demi anak kita?" Maira mendongakkan wajahnya ke wajah suaminya itu.


"Iya..." Hidayat mengangguk. "Hah...?"


Maira menunduk dengan senyum malu-malu.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2