Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku

Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku
38. Permintaan Kirana


__ADS_3

Kirana menemui Maira ke sekolah baru Ayu. Kedatangannya membuat Ayu sumringah, dan menyambutnya dengan mata yang berbinar-binar.


"Kak Kiran? Kak Kiran akhirnya datang..." Ayu berlari memeluk Kirana, namun Kirana malah mengabaikannya dan kemudian mendorong Ayu agar menjauh darinya.


"Ayu masuk kelas dulu, ya... Teman-teman baru pasti sudah sangat penasaran menantikan kehadiran Ayu..." Bujuk Maira sambil berjongkok di hadapan gadis kecil itu.


Ayu tidak menyahut. Ia menatap Kirana dengan sendu, sementara Kirana sama sekali tidak menoleh kepadanya. Hatinya begitu terluka, lalu berlari ke dalam kelas barunya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku pikir kedatangan Kak Kiran untuk Ayu, tetapi sepertinya tidak begitu..." Ucap Maira.


"Memang bukan... Aku ada hal penting yang perlu dibicarakan dengan kamu..." Ucap Kirana seraya berjalan mendahului Maira ke taman sekolah.


Maira dengan sabar mengikuti dari belakang. Ia masih kepikiran dengan Ayu yang pastinya kembali sedih setelah mendapat perlakuan dari Kirana tadi. Padahal beberapa hari tinggal bersamanya, Ayu sudah mulai ceria kembali.


"Kak Kiran mau bicara apa?" Tanya Maira dengan sopan.


"Kamu begitu baik, apa kamu akan menghukum aku nantinya setelah aku jadi madumu?" Tanya Kirana penuh selidik.


"Maksud, Kak Kiran?" Maira menatap Kirana Dengan kebingungan.


"Apa iya ada perempuan yang rela suaminya menikah lagi? Apa rencanamu di balik ini semua?" Kirana menatap wajah Maira dengan sorot mata tajam penuh kecurigaan.


"Aku juga tidak ingin Kak Kiran menikah dengan bang Hidayat... Dia suamiku, dan istri mana yang rela suaminya menikah lagi?"


"Lalu kenapa kamu mengatakan hal itu? Kamu tidak berubah pikiran, kan?" Tanya Kirana terlihat cemas.


"Tidak... Aku tidak berubah pikiran... Sama sekali tidak... Tapi, hapuskan pikiran buruk sangka dalam benak kak Kiran terhadapku... Tidak ada maksud lain di balik ini semua..." Tegas Maira.


"Jadi, kamu beneran rela?"


Maira terdiam. Hatinya seketika bagai teriris sembilu. Matanya yang tajam memerah dan berkaca-kaca. "Sekarang Kak Kiran maunya gimana?"


"Bisakah kamu membuat kedua orang tua kalian hadir di pernikahan kami nanti? Juga, karib kerabat dekat kalian..." Pinta Kirana tanpa rasa malu.


Maira tiba-tiba kebingungan. Ia bahkan tidak pernah terpikir akan hal itu sebelumnya, seperti anak kecil yang menganggap pernikahan itu mudah, karena memang kenyataan ia belum merasakan pernikahan yang sesungguhnya dengan suaminya sendiri.


"Wali nikah cukup dari keluarga perempuan, kenapa harus dihadirkan pula keluarga kami? Ini sangat menyulitkan aku, Kak..." Ucap Maira dipenuhi keraguan.

__ADS_1


"Jadi, maksud kamu aku menikah dengan Hidayat diam-diam?" Tanya Kirana dengan wajah tampak berang.


"I-ini hanya sementara, Kak..." Jawab Maira seolah membenarkan ucapan Kirana.


Kirana menggeleng. "Aku tidak mau... Pokoknya aku mau keluarga kalian menjadi saksi pernikahan aku nantinya..."


Maira tertegun mendengar paksaan Kirana demi egonya. Ia tahu itu tidak mungkin, karena sama saja ia mencoreng nama baik suaminya sendiri di hadapan keluarganya, juga keluarga mertuanya. Bahkan, besar kemungkinan semua keluarga menentang keras keinginannya.


Mereka pastinya akan marah besar kepada Hidayat dan menuduh suaminya yang tidak-tidak, ditambah lagi kedua orang tuanya sendiri pasti akan bersedih mendengar hal ini.


Sepulang dari sekolah Ayu, Maira langsung pulang ke rumahnya. Ia sempatkan menelepon Rizki untuk memberitahu bahwa ia tidak dapat ke kios. Ia juga minta tolong agar Rizki yang menjemput Ayu nantinya.


Maira tertatih, berjalan tanpa semangat dari kamar mandi. Ia melirik ponselnya yang ia taruh di atas tempat tidur. Lama ia merenung, lalu pada akhirnya ia tetap melakukan panggilan pada ibu mertuanya.


Mula ia tampak biasa-biasa. Berbasa-basi sambil tertawa-tawa kecil bercanda dengan ibu mertuanya lewat panggilan telepon.


"Ibu, bagaimana dengan poligami?" Maira bertanya lewat ponselnya kepada ibu mertuanya.


"Poligami? Kenapa Maira bertanya begitu, Nak?"


"Tidak, Maira hanya ingin minta pendapat Ibu... Bukankah dalam agama kita tidak melarangnya, Bu?" Maira mengusahakan senyumnya seiring air mata menggenang di pelupuk matanya.


"Emmm..." Maira menghela napas dengan susah payah karena ia sudah mulai menangis. Tapi ia tahan juga agar ibu mertuanya itu tidak curiga.


"Kenapa, Nak? Apa kalian baik-baik saja disana?"


"Baik kok, Bu... Bang Hidayat begitu menyayangi Maira... Beberapa hari yang lalu Abang sempat dirawat di rumah sakit..."


"Dirawat?" Potong Bu Zainab terdengar terkejut oleh ucapan Maira.


"Iya, Bu, Abang demam tinggi... Dan sekarang Abang sudah sangat sehat..." Jawab Maira menghapus kekhawatiran Bu Zainab.


"Alhamdulillah... Pasti Maira begitu repot, ya?"


"Tidak kok, Bu... Maira hanya sangat mengkhawatirkan keadaan Abang saja..." Maira menghentikan ucapannya. Ia kembali berpikir sejenak sebelum menyambung perkataannya.


"Tapi benar, kan, sekarang sudah baik-baik saja?" Tanya Bu Zainab memastikan.

__ADS_1


"Benar, Bu..."


"Jadi, kenapa Maira terdengar murung? Biasanya begitu semangat setiap kali bicara sama ibu..."


"Maira nggak murung kok, Bu... Hanya saja Maira ada yang ingin dibicarakan dengan Ibu..." Ucap Maira ragu-ragu.


"Bicara saja, Nak... Ibu akan mendengarnya..."


"Maira... Emmm..." Maira kembali ragu. Ia berkali-kali menggigit bibir bawahnya, menekan dahinya dengan kepalan tangannya sendiri.


"Maira butuh teman, Bu... Maira ingin Bang Hidayat menikah lagi..." Ucap Maira menahan suaranya yang parau.


"Hah? Astaghfirullah hal'azhiim..."


Berulang kali Maira memelas, memohon kepada Bu Zainab kerelaan hati agar mengizinkan Hidayat menikah lagi, lalu meminta ibu mertuanya itu untuk datang bersama keluarga menghadiri pernikahan Hidayat nanti.


Maira tersandar lemah di sofa kamarnya. Hatinya masih terasa pedih setelah ia juga menelepon ibunya ke kampung. Pertanyaan yang sama ia terima, apa Hidayat tidak cukup satu memiliki istri?


***


Hidayat segera memasuki kamarnya. Ia terlihat begitu mengkhawatirkan keadaan Maira setelah mendapat telepon dari Rizki bahwa istrinya itu tidak datang ke kios.


Hidayat terperangah mendapati Maira tertidur di sofa. Ia mendekati posisi Maira, lalu memerhatikan wajah istrinya begitu lekat. Hatinya seketika terasa pedih karena ia tahu bagaimana perasaan Maira yang sebenarnya.


Hidayat membawa tubuh Maira dengan perlahan ke dalam dekapannya, lalu mengangkat Maira begitu hati-hati ke atas kasur.


Hidayat tak kuasa menahan perasaannya, ia ikut tertidur di samping Maira sambil memeluk.


"Jangan lakukan ini pada Abang, Mai..." Rintih Hidayat berbisik di samping istrinya itu. Ia benar-benar tidak menginginkan hal itu terjadi.


Maira menyimpan rasa sakitnya sendiri. Ia terbangun ketika Hidayat datang dan mengecupnya tadi, namun ia malah berpura-pura tidur agar tidak terjadi tangis-tangisan di malam ini.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2