
Subuh-subuh buta Maira membuka tingkap kecil di sebelah jendela kaca kamarnya. Ia memejamkan matanya sambil menghirup udara segar. Hawa dingin menusuk sampai ke tulangnya.
Pintu kamar berderik. Hidayat datang dari luar menuju ke posisinya.
"Kok buka jendela, Sayang? Masih gelap loh... Memangnya nggak dingin?" Tanya Hidayat sambil memeluknya dari belakang.
"Maunya anak kita, Bang..." Ucap Maira masih tetap bergeming.
"Owh... Anak Ayah ada-ada saja, ya... Kasihan ibu, Nak..." Hidayat mengelus perut Maira yang sudah mulai membuncit. Sudah memasuki tujuh bulanan kandungan Maira. "Sayang sudah shalat?"
"Sudah, Bang... Habis shalat dedek pengen ngerasain hawa luar... Ya sudah, Maira turuti... Sebentar lagi Maira siapkan minum untuk Abang, ya..."
"Tidak apa-apa, Sayang... Abang bisa sendiri, lagian Abang masih mau menemani disini..." Ucap Hidayat semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Maira.
"Abang jangan ilfil, ya..."
"Ilfil? Kenapa ilfil, Sayang?" Tanya Hidayat sembari menunduk memerhatikan wajah polos istrinya.
"Iya, soalnya sejak hamil Maira jadi ngerasa kalau Maira aneh... Manja, apa-apa minta tolong sama Abang, sedikit-sedikit ngambek..." Ucap Maira merasa minder.
"Abang senang... Nggak ada yang salah, Abang juga nggak keberatan..."
"Tapi Maira berlebihan, dan anehnya, Maira nggak bisa kalau nggak kayak begitu..." Ucap Maira dengan bibir manyun.
"Nggak apa-apa, Sayang... Dengan begitu Abang merasa sangat dibutuhkan oleh istri Abang sendiri... Abang jadi lebih percaya diri karenanya, dan sekaligus belajar menjadi suami siaga menjelang persalinan Sayang nanti..."
"Tapi Abang kan jadi capek... Siang udah kerja, pulangnya malah harus menghadapi sikap Maira... Pasti Abang bosan, kan?"
"Astaghfirullah, Sayang... Mana ada Abang bosan... Sayang jangan aneh-aneh deh, Abang tidak suka dengarnya..." Ucap Hidayat berlagak seperti orang marah.
"Maaf, Abang..."
"Jangan berpikiran seperti itu lagi, ya... Janji sama Abang... Sayang cukup pikirkan kesehatan Sayang dan juga anak kita... Kalau Sayang banyak pikiran seperti ini kan bisa berdampak tidak baik terhadap anak kita di dalam..." Tutur Hidayat dengan lembut sembari mengusap-usap bahu Maira.
__ADS_1
"Iya, Abang, Maira janji..." Maira mengangguk, lalu berbalik menghadap ke tubuh suaminya itu. "Oh ya, Bang, semalam Maira udah selesaikan kisah kak Zahra dan Bang Ajiz loh..."
"Oh ya? Abang boleh lihat?" Tanya Hidayat terlihat bersemangat.
"Mau lihat atau baca?" Goda Maira.
"Dua-duanya, Sayang..."
Maira terkekeh. Ia kemudian berjalan menuju laci bufet samping tempat tidur mereka dan diikuti oleh Hidayat. "Ini, Bang..."
Hidayat membuka lembaran buku yang disodorkan Maira kepadanya. Tampak dua tulisan tangan berbeda di bagian seperempat terakhir, dan itu tulisan tangan istrinya, sementara tiga perempat pertama adalah tulisan almarhumah kakaknya.
Pov berganti nama menjadi orang ketiga pelaku utama. Hati Hidayat remuk seketika. "Bagaimana Sayang bisa menulisnya? Mengingatnya saja hati Abang terasa pedih..."
"Butuh waktu lama untuk Maira bisa menamatkan ini, Bang... Bahkan untuk menulis satu kalimat saja air mata Maira sudah bercucuran..."
"Abang harus membacanya..." Ucap Hidayat terlihat begitu yakin.
"Iya, harus... Hanya Abang yang tahu tentang mereka, dan Abang wajib koreksi dimana letak kurangnya setelah Abang membacanya..." Harap Maira menatap lekat wajah Hidayat.
"Iya. Sini Maira masukkan ke dalam tas kerja Abang..." Ucap Maira sembari mengambil kembali buku itu dari tangan Hidayat, lalu ia masukkan ke dalam tas kerja suaminya itu.
***
Hidayat duduk di meja kerjanya. Ia membuka buku yang diberikan Maira tadi pagi. Halaman pertama dari tulisan istrinya ia baca. Bayangan masa lalu mampir dalam benaknya. Hatinya terasa teriris.
"Di antara kami, Abang yang bermasalah, Yat... Ada pada diri Abang yang menyebabkan kami sulit memiliki keturunan... Sepulang kita dari kampung, Kakakmu menemukan obat kuat milik Abang... Dan sangat menakjubkan dari sikap dan pemikiran kakakmu, dia nggak kecewa sama sekali terhadap kekurangan pada diri Abang, Yat... Dia hanya kecewa karena Abang menggunakan obat itu... Kakakmu malah mengkhawatirkan efek samping yang mungkin terjadi jika Abang terus-terusan menggunakan obat itu..."
Hidayat menekan hidungnya yang terasa perih dengan punggung jemarinya. Momen ketika Ajiz bercerita tentang kehidupan mereka setelah buku Zahrana tertinggal kembali menguasai pikirannya.
Ia merasa lebih takjub lagi dengan tulisan Maira yang begitu membuatnya mampu masuk ke dalam cerita, dan merasa ia berada di antara kakak dan kakak iparnya untuk menyaksikan kisah mereka dengan matanya sendiri.
"Benar, ini benar-benar seperti nyata... Aku serasa terhipnotis setiap kali membacanya... Aku ngerasa bang Ajiz dan kak Zahra hidup lagi ketika membaca ini... Ya Allah, tempatkan mereka di sisi-Mu yang paling indah..."
__ADS_1
Hidayat sampai lupa waktu. Ia terus membaca hingga halaman terakhir, dan tanpa ia sadari tisu telah banyak bertebaran di sekitar meja kerjanya.
"Ya Allah, ini sangat menyakitkan... Ya Allah, ini benar-benar menyakitkan... Hamba kira hamba tidak akan menangis... Hamba kira hamba yang paling tegar di saat kehilangan mereka... Astaghfirullah... Astaghfirullah... Astaghfirullah hal'azhiim..."
Hidayat berkali-kali beristighfar di sela tangisnya, dan berkali-kali pula ia mencabut tisu di depannya untuk mengusap matanya yang basah.
"Bang Arya harus membaca ini..." Ucapnya seraya bergegas memasukkan buku itu ke dalam tasnya, namun ketika ia berdiri, ia terperangah. Di sekitar mejanya telah dipenuhi putih-putih tisu bekasnya. Ia terhenyak, tidak menyangka ia begitu cengeng.
"Iya, aku ingat... Ini semua karena Maira... Dia yang membuat aku begitu kuat dan tegar saat itu..." Gumamnya lirih. "Alhamdulillah ya Allah, telah Engkau bukakan pintu hati hamba untuk menerima istri hamba begitu cepat... Istri Sholehah yang seharusnya tidak pernah keluar air matanya karena keegoisan hamba... Ampunilah hamba ya Allah..."
Hidayat mulai berkemas, lalu bersiap hendak pergi. Ia mengendarai motornya menuju rumah Arya.
Sesampainya ia disana, suara tangisan bayi membuat ia tertegun. Suara motornya yang berhenti tepat di pekarangan rumah terdengar oleh Arya. Aktor tampan itu keluar sambil menggendong bayinya yang masih menangis.
"Yat, kebetulan kamu datang..." Serunya dari ambang pintu.
Hidayat tersenyum, lalu bergegas menghampiri. "Kenapa memangnya, Bang...?"
"Kiran sedang ke rumah sakit untuk menemui dokter THT, dan Zaim sedari tadi tak henti menangis, Yat..."
"Kemari lah, anak baik, anak shaleh..." Ucap Hidayat seraya mengambil bayi mungil itu dari gendongan Arya.
"Ayo masuk, Yat... Duduklah sebentar, Abang mau buatkan susu untuk Zaim..."
Hidayat menurut. Ia mengekor dari belakang menuju ke dalam rumah. Sementara Arya ke belakang, Hidayat duduk di sofa sambil menimang bayi Zaim.
"Tumben banget datang siang-siang begini juga tanpa Maira, Yat? Maira apa kabar?" Arya datang dengan membawa sebotol susu untuk anaknya.
"Ada perlu sama Abang... Rasanya ini sangat penting dan tidak bisa ditunda-tunda..." Jawab Hidayat sembari mengambil botol susu di tangan Arya dan memberinya pada Zaim dalam gendongannya.
.
.
__ADS_1
.
.