
Seperti Ajiz yang marah besar kepada Zahrana hanya karena kesalahpahaman, mungkin seperti itulah kemarahan Maira terhadap Hidayat jika mengetahui hubungannya dengan Kirana yang benar-benar ada, bahkan mungkin lebih besar kemarahan Maira kepadanya. Hidayat merasa cemas setiap kali membayangkan hal itu.
Ia terlihat begitu frustasi. Segala pekerjaan sama sekali tidak tertarik baginya saat ini. Seorang kuli pasar memberikan surat tanda terima dari ekspedisi yang membawa barang belanjaannya, sama sekali tidak ia respon. Ia terus merasa bersalah dengan kegundahan hatinya sendiri.
"Bang, barang baru bongkar sekarang?" Tanya Rizki.
"Nanti saja, Ki... Hari ini Abang ada urusan..." Jawab Hidayat tampak tidak bersemangat. Mendengar hal itu, Rizki segera putar badan dan menyusun potongan-potongan dus yang baru turun dari mobil ekspedisi tadi di depan kios.
Hidayat melihat ponselnya, beberapa pesan dari Kirana ia abaikan sedari tadi, dan kini ponselnya berdering. Kirana yang menelepon.
Dengan malas Hidayat mengangkat panggilan telepon Kirana. "Assalamualaikum, Kiran..."
"Wa'alaikum salam... Yat, hari ini bisa jemput aku ke lokasi syuting, nggak? Kebetulan aku lagi nggak bawa mobil..."
Kirana terdengar meminta dengan manja dari seberang, membuat Hidayat merasa tidak nyaman.
"Jam berapa?" Tanyanya terlihat malas.
"Hari ini kamu masuk kuliah jam berapa memangnya?"
"Jam empat..."
"Kalau begitu, jam dua ya?"
"Sepertinya nggak bisa, Kiran... Hari ini barang kios masuk, dan aku musti jemput istriku juga ke kampusnya..." Jawab Hidayat tanpa ragu-ragu.
Kirana terdiam mendengar alasan Hidayat menolak permintaannya. "Kalau begitu aku ke kampusmu malam nanti, ya? Aku rindu..."
"Tapi, Kiran..."
"Assalamualaikum..." Kirana memutuskan panggilan telepon di antara mereka.
"Kiran, tunggu... Halo... Halo, Kiran...?" Hidayat menurunkan ponselnya dari telinganya. "Wa'alaikum salam..."
"Lagi sibuk, Yat?" Arya tiba-tiba telah berada di hadapannya.
"Bang Arya?" Hidayat tercengang dengan mata membelalak.
"Kenapa terkejut begitu, Yat? Lagi mikirin apa sih? Kata Rizki kamu juga aneh hari ini. Ada apa?" Tanya Arya rentetan, lalu tanpa di suruh ia langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kasir tempat Hidayat bermalas-malasan hari ini.
"Abang sudah dari tadi?" Balas Hidayat bertanya dan mengabaikan pertanyaan Arya.
"Baru saja..."
"Abang kok kemari? Tidak syuting kah hari ini?" Tanya Hidayat lagi. Ia sepertinya mencemaskan Arya yang bisa saja mendengar percakapannya dengan Kirana barusan.
__ADS_1
"Hari ini Abang libur..." Jawab Arya santai.
"Biasanya Abang selalu diperankan menjadi pasangannya Kiran..."
"Iya, memangnya kenapa?" Tanya Arya tanpa curiga.
"Bukannya Kiran hari ini ada syuting film, ya, Bang?"
"Loh, kok kamu tahu?"
"Hah?" Hidayat terperangah. Ia merasa terjebak oleh pertanyaannya sendiri. "I-tu... Emm... Saya sempat lihat thriller film terbarunya di YouTube, Bang... Perasaan Hidayat Abang nggak ada di film itu..."
Wajah Hidayat sampai memerah ketika mencoba memberi penjelasan kepada Arya.
"Emang thriller film terbarunya udah keluar saja, ya? Perasaan syutingnya baru beberapa hari ini deh..." Ucap Arya kebingungan.
Hidayat menelan ludahnya sendiri dengan kasar. Ia semakin tersudut oleh perasaannya sendiri.
"Apa mungkin bukan film terbarunya kali ya, Bang? Mungkin saja film yang udah lama, tapi Hidayat nggak pernah nonton sebelumnya..." Kilah Hidayat mencoba mengalihkan pemikiran Arya.
"Mungkin saja, Yat... Tapi dia memang ada syuting film loh sekarang..."
"Oh, ya? Padahal asal saja tadinya..." Ujar Hidayat berusaha menutupi ketakutannya.
Hidayat menghitung uang itu, lalu ia masukkan ke dalam laci.
"Ini tiga lima lagi, Ki..." Hidayat menyodorkan uang kembaliannya kepada Rizki yang masih menunggu di hadapannya.
"Itu barang baru, Yat? Atau barang mau dikirim ke pelanggan?" Tanya Arya sambil menunjuk ke arah barang-barang yang disusun Rizki tadi.
"Barang baru, Bang..."
"Nggak dibongkar?"
"Tanggung, Bang... Sudah pukul sepuluh, sebentar lagi mau jemput Maira..." Jawab Hidayat sambil mengangkat tangannya untuk melihat jam.
"Dasar... Maira kan pulangnya jam dua, kalau kamu bongkar sekarang juga biasanya bakal selesai jam segitu, Yat..."
"Takut telat jemput bidadari Hidayat, Bang... Kasihan..." Gurau Hidayat diiringi tawanya yang lebar.
"Ah, mentang-mentang punya istri..." Ledek Arya sambil membuang muka.
"Eh, tapi, Bang? Memang Abang masih jomblo sekarang? Atau jangan-jangan Abang masih memikirkan kak Zahra?" Tanya Hidayat mulai terlihat serius.
"Apa sih, Yat?" Elak Arya.
__ADS_1
"Ayolah, Bang.... Sesekali cerita kenapa?" Paksa Hidayat sambil menggamit lengan Arya yang tergeletak di atas meja.
"Yang pasti belum bertemu, Yat... Abang nggak milih-milih kok... Tapi, setidaknya seperti almarhumah kakakmu lah, Yat..."
"Semuanya ada pada Maira, Bang... Dia seperti kak Zahra..." Ucap Hidayat sambil tersenyum senang.
"Kamu sih... Kenapa nggak sisain Maira untuk Abang? Cari kek yang lain..." Gurau Arya sembari terkekeh.
"Oh, tidak bisa..."
"Dasar..."
"Oh ya, Bang... Kalau dengan Kirana gimana? Abang memang tidak pernah meliriknya sekali saja? Bukankah dia cantik, baik pula..." Tanya Hidayat berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
"Perempuan seperti dia tidak layak dicintai, Yat..." Ketus Arya. Wajahnya langsung berubah total menjadi terlihat kesal.
"Abang punya masa lalu kah dengannya?" Hidayat bertanya dengan hati-hati. Ia merasa tertarik untuk tahu ada apa, dan maksud apa di balik ucapan Arya yang sampai segitunya.
"Abang malas membahas ini, Yat..." Arya menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sendu dari tatapan Hidayat.
"Maaf, Bang... Hidayat kira, kita keluarga..." Ucap Hidayat terdengar kecewa.
"Yat, please..."
"Hidayat tidak mau Abang seperti ini... Abang cuma melihatkan tawa, tapi sebenarnya Abang terluka... Dengan Abang curhat ke kak Zahra, Hidayat merasa cuma kak Zahra yang Abang anggap... Hidayat? Ayah dan Ibu? Semuanya yang menganggap Abang sebagai keluarga bagaimana?"
"Zahrana cerita kalau Abang pernah curhat padanya?" Tanya Arya terlihat penasaran.
"Tidak pernah... Hidayat tahu dari buku kak Zahra... Di dalam buku itu, kak Zahra menuliskan bagaimana awal kalian berkenalan... Abang pernah patah hati, lalu nyaris bunuh diri... Iya, kan?" Tanya Hidayat seolah menyudutkan Arya.
"Apa memalukan sekali diri Abang ini, Yat? Dulu ketika Abang cinta-cinta monyet, Abang begitu labil. Tapi ketika Abang menyukai almarhumah kakakmu, Abang percaya bahwa itu cinta yang luar biasa. Abang sanggup tidak memiliki, meski Abang mencintai..." Terang Arya berkecil hati.
"Bukan begitu, Bang... Kak Zahra sama sekali tidak menuliskan sesuatu yang membuat diri Abang tersudut. Di dalam bukunya, kak Zahra hanya menuliskan bagaimana kisah cintanya dengan bang Ajiz, lalu ada Abang sebagai malaikat penyelamat baginya di saat mereka terpuruk... Bermula dari kenyamanan, hingga kak Zahra sadar bahwa itu sebuah kesalahan..." Tutur Hidayat memberi penjelasan kepada Arya yang tampak bersedih hati.
"Kak Zahra mu lah malaikat bagi Abang, Yat... Dia menyadarkan Abang dari banyak kekeliruan yang membuat Abang down..."
"Cerita lah, Bang... Walau tidak yakin bisa membantu Abang, setidaknya Abang mencoba untuk mempertimbangkan bagaimana perasaan Abang setelah berbagi cerita kepada Hidayat..."
.
.
.
.
__ADS_1