Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku

Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku
61. Tak Terhingga


__ADS_3

"Jahat, ya..." Kecam Hidayat pada perut Maira yang masih datar.


"Kok jahat sih, Yah?" Tanya Maira dengan dahi mengernyit heran.


"Di antara banyak kemauan, kenapa harus tidak ingin melihat wajah Ayahnya sendiri?" Ucap Hidayat memberengut.


Maira tertawa kecil.


"Abang jelek ya, Sayang?" Tanya Hidayat terlihat begitu tidak percaya diri.


"Siapa bilang?"


"Lah, kalau tidak jelek, mengapa kemauan anak kita begitu?"


"Entah... Anak kita ini ada-ada saja ya, Bang..." Timpal Maira.


"Iseng benget..." Gerutu Hidayat. "Aaahhh, untung saja tidak sampai dua minggu..."


"Alhamdulillah... Sekarang Maira sudah bisa memandangi wajah Abang lagi dengan leluasa..." Ucap Maira sembari mengecup pipi Hidayat berkali-kali.


"Iya, ini yang Abang rindukan... Delapan hari berasa setahun saja... Tapi, cinta Maira ke Abang tidak berkurang, kan?" Tanya Hidayat sambil menatap lekat wajah Maira dengan raut curiga.


"Ya enggak lah, Bang... Mana mungkin..." Tepis Maira cepat.


"Syukurlah..." Hidayat berucap lega. Ia merebahkan kepalanya ke paha Maira. "Karena hari ini libur, Abang mau kasih tiga permintaan untuk Sayang..."


"Nggak mau tiga..." Rengek Maira.


"Terus Sayang maunya berapa?"


"Tak terhingga..."


"Emmm, baiklah... Tapi tidak satupun yang boleh membuat Sayang kelelahan..." Ucap Hidayat bersyarat.


"Nggak boleh keluar rumah ya, Bang?" Tanya Maira terlihat kecewa.


Hidayat bangkit dari rebahan. Ia mengusap-usap pipi Maira yang sedikit tembem dari sebelumnya. "Memangnya Sayang ada keinginan untuk keluar hari ini?"


Maira mengangguk pelan penuh harap.


"Kemana, Sayang?" Tanya Hidayat dengan lembut.


"Ke panti asuhan..."


"Ke kios..."


"Kios? Ngapain? Nanti Maira kecapean..."


"Duduk saja di meja kasir, Bang... Maira kangen pengen main ke sana... Sejak persiapan wisuda, Maira nggak pernah lagi ke kios bang Ajiz dan kak Zahra... Mentang-mentang sekarang kita udah buka dua cabang di jalan Teratai sama di jalan Raya Baru..." Sungut Maira. "Boleh ya, Bang? Ya?"

__ADS_1


Hidayat tampak berpikir sejenak.


"Abang, please..." Pinta Maira memohon.


"Ya sudah... Tapi, Maira harus janji nggak boleh kerja-kerja... Tangan Maira kan sering gatel mau kerja ini kerja itu kalau sudah sampai disana..."


"Iya, janji..." Ikrar Maira bersemangat.


"Ya sudah, ayo kita pergi..."


"Yeee, terima kasih, Abang..." Ucap Maira kegirangan seraya mengecup pipi Hidayat.


Maira dan Hidayat berangkat ke kios. Kali ini Hidayat tidak mengendarai motornya, melainkan ia memesan taxi online.


"Apa kita sudah harus memiliki mobil, Sayang?" Bisik Hidayat ke telinga Maira.


"Nanti saja, Bang... Motor di rumah ada dua..." Jawab Maira.


"Tapi Sayang nggak boleh naik motor..."


"Abang saja yang melarang Maira naik motor. Kata dokter sih nggak apa-apa tuh..."


"Ngeri, Sayang... Nanti gimana-gimana sama calon bayi kita, gimana?" Tanya Hidayat lagi meringis cemas membayangkan apa yang ditakutkan nya.


"Kalau Abang ngeri, ya sudah, kita pesan taxi online saja terus... Dari ini kita juga bisa bagi-bagi rezeki kepada mereka... Alhamdulillah materi kita berlebih kan, Bang?"


"Hehe... Alhamdulillah iya, Sayang..." Jawab Hidayat cengengesan.


Maira mengitari setiap jengkal sudut kios. Ia memerhatikan barang-barang yang tersusun rapi di atas rak, sementara pelanggan begitu ramai yang berbelanja. Alan dan karyawan lainnya terlihat kewalahan melayani pelanggan, sehingga Hidayat langsung turun tangan untuk membantu.


"Sayang, ngapain?" Tanya Hidayat cemas.


"Cuma lihat-lihat kok, Bang..." Jawab Maira tersipu.


"Janjinya apa tadi di rumah?" Tegas Hidayat mengingatkan.


"Iya, iya, Maira duduk..." Dengan bersungut-sungut kecil Maira berjalan menuju meja kasir, namun di dalam hatinya ia begitu bahagia mendapatkan perhatian lebih dari suaminya yang sangat ia cintai.


Baru saja duduk, ia sudah disodorkan seikat uang seratus ribuan oleh suaminya. "Sayang, kembalikan lima pulu..."


"Baik, Abang..." Maira mengambil uang di tangan Hidayat, lalu menggantinya dengan selembar uang lima puluh ribu.


"Terima kasih, Sayang..."


Pelanggan silih berganti datang hingga siang. Sewaktu Zuhur masuk, mereka mengunci kios untuk sementara seperti biasa, lalu menggantungkan papan kecil bertuliskan 'Waktu Shalat '.


"Terima kasih, Bang, Neng... Untung saja Abang sama Neng Maira datang hari ini, kalau nggak, pasti banyak pelanggan yang kecewa karena ketidaksanggupan kami melayani pembeli seramai tadi..." Ucap Alan.


"Kami yang terima kasih, Alan... Kalian semua sudah dapat dipercaya, dan juga menjaga kios ini sebagaimana kepemilikan kalian pribadi yang patut kalian jaga dan kalian kembangkan..." Tutur Hidayat disambut senyum dan anggukan kepala Maira menyetujui penuturan suaminya.

__ADS_1


"Sayang, Abang sama yang lain ke masjid ya... Sayang nggak takut sendirian di dalam, kan?"


"Nggak, Abang... Kayak sekali aja Maira disini..." Jawab Maira dengan mencebikkan bibirnya.


"Hehe, iya, mana tahu..." Hidayat cengengesan. "Oh ya, nanti Abang sekalian cari makan siang, Sayang mau makan apa?"


"Emmm, nasi putih pakai sambal ijo, Bang... Tapi sambalnya pisah ya... Terus beliin Maira seporsi capcay kuah bakso... Itu aja..."


"Yakin itu aja?"


"Iya... Eh, emmm, mau minuman sarang burung walet juga deh, Bang..."


"Oke, Sayang, Abang pergi dulu... Assalamualaikum..."


"Wa'alaikum salam, Abang hati-hati... Semuanya juga..."


Sepeninggal suaminya dan karyawan kios, Maira melaksanakan shalat zhuhur di dalam kios. Sambil menunggu, usai sholat Maira membaca Alquran. Tak lama terdengar pintu kios berderik, Maira menyelesaikan bacaannya dan segera menyusul ke depan.


"Assalamualaikum..." Ucap suaminya dan karyawan kios serentak.


"Wa'alaikum salam..." Jawab Maira menyambut kedatangan mereka dengan senyuman. "Gimana, Bang, pesanan Maira ada?"


Maira menyambut tentengan di tangan Hidayat.


"Ada, Sayang... Yok kita makan di dalam..." Ajak Hidayat sembari merangkul bahu Maira.


"Terima kasih, Abang..." Ucap Maira kegirangan.


Mereka duduk di lantai beralaskan karpet makan siang bersama di antara rak-rak toko. Sesekali terdengar senda gurau anak-anak menyanjung keromantisan Hidayat dan Maira.


"Neng nggak mau lauk?" Tanya Alan berbasa-basi setelah membuka nasinya yang terbungkus.


"Nggak, Lan, Terima kasih... Ini aja sudah cukup kok..."


"Kalau gitu daging rendang ini aja, Sayang..." Tawar Hidayat sembari menyodorkan nasi bungkus miliknya.


"Nggak, Bang... Enek..." Tolak Maira sambil menggeleng manja.


"Ya sudah, makan yang banyak, ya... Biar dedek bayi nggak nangis di dalam... Kasihan..." Ucap Hidayat sembari mengelus perut Maira.


"Ya Allah, Mak... Carikan anak Mak ini jodoh secepatnya..." Kelakar Tio disambung tawa riuh mereka.


"Nggak bang Ajiz dan kak Zahra, nggak bang Hidayat dengan neng Maira, dua couple ini romantisnya nggak ada obat..." Ucap Alan berseloroh.


"Dulu saya kalau ngeliat bang Ajiz dan kak Zahra juga suka kayak kalian... Mereka hobi sekali panas-panasin saya..." Ujar Hidayat sambil mencuci tangan dalam kobokan. "Makan, makan... Nggak akan habis kalau cerita tentang almarhum dan almarhumah..." Ujarnya lagi seraya memimpin doa.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2