Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku

Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku
67. Melahirkan


__ADS_3

Jumpa fans di gedung Cipta Karya disambut antusias oleh penggemar novel Zahrana. Terlihat raut kesedihan di wajah mereka karena ketidakhadiran sosok yang mereka gemar di gedung itu menyambut kedatangan mereka ke sana.


Arya memperkenalkan Maira dan Hidayat kepada mereka sebagai adik dan adik iparnya Zahrana sekaligus yang ikut andil dalam penerbitan buku terbaru Zahrana. Mereka menyambut dengan senang hati, dan tetap menginginkan tanda tangan Maira yang begitu ramah. Tak segan pula mereka meminta foto kepada Maira.


Maira sedikit bercerita tentang sosok almarhumah kakak iparnya itu dalam kata sambutan yang ia sampaikan. Dalam senyuman di bibirnya, ada air yang mengalir di pipinya dari matanya yang sendu. Ia sangat terharu akan banyaknya orang yang menyayangi kakak iparnya itu.


Tidak mengulur waktu, produser film yang memiliki kerabat dengan Arya segera mengundang Maira dan Hidayat secara langsung untuk datang ke kantornya.


"Terima kasih sudah memenuhi undangan dari saya, Maira, Hidayat..." Ucap pak produser.


"Sama-sama, Pak... Saya dan istri saya juga sangat senang atas undangan dari Bapak..." Jawab Hidayat sembari tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Novel ini sangat menarik. Sangat memukau dan mampu menghipnotis pembacanya... Almarhumah sangat pandai sekali menyampaikan banyak makna kehidupan lewat novel-novel karangannya... Yang sangat tidak habis pikir oleh Om, kok bisa Maira melanjutkan novel ini dengan sangat teliti dan tidak putus dari episode-episode sebelumnya yang ditulis sendiri oleh almarhumah? Ini begitu nyambung, walaupun pada akhirnya pemeran utama malah ditiadakan dan dibuat menjadi sad ending... Pembaca bahkan sama sekali tidak kecewa walaupun mereka sangat terpukul dengan kepergian tokoh utamanya..." Tutur produser panjang lebar.


"Maaf, Om, ini memang kisah nyata Almarhumah dengan almarhum suaminya..." Ujar Maira terdengar lirih. Hidayat segera mengambil jemari istrinya itu untuk menguatkan hatinya.


"Hah? Benarkah?" Tanya produser itu dengan wajah terpana penuh keterkejutan.


"Benar, Om..." Jawab Arya menyela. "Aku juga sangat terkejut ketika mengetahui dari Hidayat tentang novel Bukan Salah Ibu Menyusui milik Zahrana adalah kisah nyata dirinya sendiri dengan seseorang yang bernama Ari... Dan dari novel terbaru ini aku sudah sangat yakin tentang kenyataannya..."


"Amazing..." Pak produser menghembuskan napas berat dan memaksakan senyumnya. "Pantas saja siapa pun yang membacanya, maka ia akan merasa hidup di dalam novel itu..."


"Kak Zahra memang seperti yang ada dalam novel itu, Om... Tidak ada rekayasa sedikit pun tentangnya ia tuliskan..." Ujar Hidayat terdengar sendu.


"Benarkah?" Lelaki paruh baya itu semakin memperlihatkan raut takjub di wajahnya.


"Saya sama sekali tidak berbohong, Om... Kami sangat kehilangan sosok beliau. Teladan yang beliau tinggalkan masih menyisakan perih di hati kami... Serasa kecewa, namun kami yakin Allah begitu mencintai kak Zahra sehingga ia dipanggil terlebih dahulu..." Terang Hidayat.


****


Hampir tengah malam, Maira terbangun karena merasa perutnya begitu mulas. Ada tanda-tanda bayinya akan terlahir, dan ia tak henti-henti meringis. Ia memegangi perutnya sambil beristighfar, namun ia belum juga memberitahu suaminya rasa nyeri yang ia rasakan saat ini.


Ia mulai gelisah dan menimbulkan suara-suara dari posisinya. "Kenapa tidak tidur, Sayang?"

__ADS_1


Hidayat terbangun sembari mengucek matanya. Ia menyalakan lampu di meja samping tempat tidurnya.


"Sepertinya Maira mau lahiran deh, Bang..." Jawab Maira terdengar lemah.


"Hah, sekarang?" Hidayat terperanjat. "Bukankah tiga hari lagi ya, Sayang?"


Hidayat mulai panik dan mengelus-elus perut Maira. Rasa kantuknya lenyap seketika setelah mendengar pernyataan Maira.


"Abang tidak suka anak kita lahir lebih awal, ya?" Sungut Maira.


"Bukan begitu, Sayang..." Jawab Hidayat semakin terlihat panik.


"Terus?" Maira semakin ketus. Rasa nyeri membuat ia menjadi bersikap sensitif terhadap suaminya itu.


"Abang cuma cemas. Abang khawatir ini tidak baik buat Sayang dan anak kita..."


"Ih nggak apa-apa, Abang... Insya Allah nggak ngaruh... Ayo, Abang, Maira sudah tidak tahan..." Rengek Maira meringis kesakitan.


"Iya, iya... Maira tunggu sebentar, ya, Abang siap-siap dulu..."


Tengah malam dibuat heboh oleh kepanikan Hidayat, ditambah antusiasnya dua ibu yang menyambut kelahiran cucu mereka, lebih lagi ibunya Maira. Ini menyangkut putrinya dan juga calon cucu pertamanya.


Hidayat mengeluarkan mobil yang baru beberapa Minggu ini ia beli. Melihat wajah Maira yang pucat dan nafas yang memburu, ia semakin panik. Ia melajukan mobil dengan laju di tengah hujan yang turun deras di luaran sana.


"Tahan, Sayang... Maira pasti kuat, Nak..." Ucap Bu Zainab menenangkan di tengah kecemasan yang sebenarnya juga melanda hatinya.


"Sakit, Bu..." Rintih Maira.


"Iya, Sayang... Ini hanya sebentar kok... Sebentar lagi hanya akan ada nikmat di antara kita semua... Kamu harus kuat demi anakmu..." Timpal ibunya.


Mereka sampai di rumah sakit As-Syifa. Baru saja Hidayat berusaha membantu Maira turun dari mobil, ia dikejutkan oleh air yang keluar dari balik pakaian istrinya itu.


"Sayang ngompol ya?" Tanya Hidayat dengan polosnya.

__ADS_1


"Ngompol?" Bu Zainab dan ibunya Maira saling pandang untuk sesaat.


"Ketuban Maira pecah, Bu..." Ucap Maira meringis kesakitan.


"Astaghfirullah, Hidayat..." Geram Bu Zainab melihat kepolosan putra bungsunya itu, sementara dua ayah tersenyum dalam rasa kekhawatiran.


"Ini yang pertama bagi Hidayat, Besan... Wajar, dan kita harap maklum..." Ujar Ayahnya Maira ketika melihat wajah Bu Zainab bersungut-sungut.


"Benar-benar, nih Anak... Ayo ambil kursi roda sana..." Suruh Bu Zainab masih terlihat berang.


"Iya, Bu..." Hidayat segera berlarian mencari kursi roda untuk Maira.


Pihak rumah sakit cepat tanggap menangani proses bersalin Maira. Hidayat diizinkan mendampingi Maira di dalam. Proses lahiran anak pertama mereka berjalan dramatis.


Hidayat menggenggam jemari Maira sambil membisikkan nama Allah berulang kali. Ia gemetar, ikut merasakan sakit melihat kesakitan yang ditanggung istrinya itu.


Anak pertama yang lahir dengan normal membuat mereka berdua terlihat bahagia dipenuhi rasa haru, terlebih suara tangisan bayi yang begitu mendayu sesaat setelah Maira berteriak mengeja.


"Selamat, Ayah, Bunda, bayinya perempuan cantik dan sehat..." Ucap Dokter dengan lembut.


"Alhamdulillah, Sayang, anak kita perempuan... Terima kasih sudah banyak berkorban selama ini demi anak kita, Sayang..." Bisik Hidayat di telinga Maira. Tak terasa air matanya juga menetes merasakan kebahagiaan yang bertubi-tubi Allah beri untuknya dan keluarganya.


Maira tersenyum. Ia sudah terlihat lega meski keringat masih banyak membasahi wajahnya.


Bayinya yang sudah bersih diserahkan perawat kepadanya. Dengan tangan gemetar Hidayat menyambut bayi merah itu. Air matanya kembali bergulir. Ia melantunkan Iqamah di telinga bayi itu dengan penuh khidmat.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2