Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku

Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku
53. Suasana Menegangkan


__ADS_3

Hidayat berbaring di paha Maira. Ia terlihat begitu letih, mereka baru saja sampai di rumah setelah tiga hari berada di kampung Rizki. Maira tersenyum, mengapit dagu Hidayat dengan gemas, lalu berkali-kali mengecup kening suaminya itu.


"Menginap di rumah Rizki sangat berkesan bagi Abang, bagaimana menurut Maira?" Tanya Hidayat menengadah ke wajah Maira.


"Sama... Keluarga Rizki sangat mengutamakan kebersamaan dan kekompakan... Jarang sekali ditemui hal-hal seperti itu, walaupun di kampung-kampung sekalipun..." Tutur Maira.


"Iya... Abang jadi teringat masa-masa keluarga Abang susah dulu... Nggak ada yang mau membantu dari kerabat dekat, mencibir banyak... Apalagi ketika kak Rianur ditimpa masalah hutang online..." Hidayat tampak sendu menceritakan kisah keluarganya.


Maira terlihat prihatin. Ia mengelus-elus pipi Hidayat dengan lembut.


"Untung ada kak Zahra... Kak Zahra satu-satunya yang mengerti kak Rianur... Marahnya hanya sesaat, selebihnya rasa iba dan dukungan agar kak Rianur nggak down..."


"Jangankan Maira, bang Ajiz saja tidak tahu tentang hal itu... Kak Zahra memang panutan... Rasanya bagai memenangkan undian ketika mengenal kak Zahra... Bahagia luar biasa jika bersama kak Zahra... Maira tidak habis pikir, kok ada ya manusia seperti kak Zahra?" Timpal Maira.


"Kalau tentang kak Zahra, tidak akan habis-habis waktu menceritakannya..." Ujar Hidayat sembari mengalungkan lengan Maira ke lehernya.


"Abang..."


"Eum..."


"Bolehkah Maira menerbitkan cerita kak Zahra menjadi sebuah novel?"


"Malahan Abang pernah meminta Maira untuk melakukannya..." Jawab Hidayat.


"Iya, sih... Tapi nanti kalau Maira udah bergelar Dr. Maira Fatimah, M.Pd."


"Iya, benar... Maira harus fokus dulu ke sana... Cuma tinggal dua bulanan lagi, kan..."


"Iya, Abang, insya Allah... Terima kasih, suamiku tercinta... Terima kasih Abang telah memberikan dukungan kepada Maira sepenuhnya... Terima kasih telah menjadi penyemangat Maira juga dalam beberapa bulan terakhir untuk menyelesaikan semuanya..." Ucap Maira sambil menggamit bagian-bagian wajah suaminya, dimulai dari pipi Hidayat yang sedikit berisi, telinganya, bahkan hidungnya tak lepas dari permainan jemari Maira.


"Sama-sama, Sayang... Abang sudah melewati hal serupa setahunan yang lalu, dan Maira selalu ada di sisi Abang sehingga Abang memperoleh semua ini..." Ucap Hidayat sembari mengecup tangan Maira.


Maira tersenyum. Ia kembali mengelus rambut Hidayat, namun tiba-tiba ia meringis. "A-abang, kaki Maira kesemutan deh kayaknya..."


Hidayat buru-buru bangkit. "Aduh, Maaf, Sayang... Pasti karena Abang kelamaan ya, tidur di paha Maira..."


Hidayat memijit kaki Maira pelan-pelan. Raut wajahnya terlihat khawatir dan merasa bersalah, sementara Maira malah menyembunyikan bahagianya.


Hari terus berlalu. Maira dan Hidayat dapat melupakan sejenak keinginan besar mereka untuk memiliki anak. Mereka baru saja mendapat kabar bahagia dari Arya dan Kirana, bahwa pasangan artis itu telah menyambut kelahiran anak pertama mereka di rumah sakit As-syifa.


Hari ini bertepatan dengan hari wisudanya Maira. Seharusnya Arya dan Kirana akan meramaikan wisuda Maira, namun ternyata diluar dugaan Kirana merasakan mules di perutnya.


Skedul mereka berganti ke rumah sakit, membuat Maira dan keluarganya lah yang berjanji datang untuk meramaikan penyambutan kelahiran bayi Kirana setelah acara wisuda nanti.


"Assalamualaikum, Abang..." Ucap Maira lewat ponselnya.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam, Sayang..."


"Abang masih meeting?" Tanyanya dengan sabar.


"Sudah selesai... Ini Abang mau berangkat ke sana... Ayah dan ibu kita sudah sampai disana, kan?"


Maira mendengar kasak-kusuk, dan kemudian suara mesin motor Hidayat menyala.


"Sudah, Bang... Abang hati-hati, ya..."


"Iya, Sayang..."


"Assalamualaikum..."


"Wa'alaikum salam... Eh, Mai..."


Baru saja Maira hendak menurunkan ponsel di telinganya, Hidayat kembali memanggil.


"Kenapa, Bang?"


"Maaf membuat Maira menunggu..."


"Iya, tidak apa-apa, Abang... Maira masih sama, akan selalu menunggu Abang..." Jawab Maira sambil tersenyum.


"Assalamualaikum, Sayang..." Terdengar salam mengakhiri dari suaminya di seberang.


Maira menyimpan ponselnya setelah membuat nada ponselnya itu hening, lalu ia kembali ke tempat keluarganya berkumpul.


"Dimana suamimu, Nak? Sepertinya acara sudah mau dimulai..." Tanya Bu Zainab terlihat gugup.


"Sebentar lagi sampai, Bu... Tadi Maira dengar abang sudah di motornya..." Jawab Maira.


Selang seperempat jam berlalu, Maira mulai dilanda kegelisahan. Hidayat seharusnya sudah berada disana, namun sampai detik ini suaminya itu belum juga kunjung menampakkan batang hidungnya.


"Maira tenang, ya, Sayang... Nanti Hidayat kalau sudah sampai, akan Ibu suruh langsung mendampingi Maira ke dalam... Kami tunggu Maira disini...


Acara wisuda berlangsung, namun Maira tampak gugup. Ia berharap Hidayat telah berada di kumpulan keluarganya yang menunggu di luar gedung, karena sedari tadi ia gelisah memikirkan suaminya itu.


Ketika acara usai, Maira dengan cepat mencari keberadaan orang tuanya dan mertuanya. Harapannya hampa, melihat di sekeliling tidak ada sosok suaminya.


"Bang Hidayat belum sampai juga, Bu?" Tanya Maira dengan kekhawatiran yang tak berubah.


"Belum, Nak... Ibu sudah berkali-kali mencoba menghubungi nomor teleponnya, namun sama sekali tidak ada jawaban... Terakhir ponselnya mati..." Terang Bu Zainab dengan kekhawatiran yang sama.


"Astaghfirullah hal'azhiim... Abang kemana, ya? Maira jadi cemas..." Ucap Maira sambil menggigit bibirnya.

__ADS_1


Maira mencoba menelpon beberapa kali. Jantungnya berdetak lebih kencang ketika mendengar nomor Hidayat tidak aktif.


"Astaghfirullah hal'azhiim, ya Allah lindungilah suami hamba..." Ucap Maira memohon.


Ponsel Maira berdering. Ia tersentak dan segera mengangkat teleponnya. "Assalamualaikum, Abang..."


"Wa'alaikum salam, Maira..."


"I-ini?" Wajah Maira berubah kecewa. Ia salah menyangka, bahwa yang meneleponnya ternyata bukanlah suaminya. Ia perlahan menurunkan ponselnya dari telinganya, lalu melihat siapa yang telah menelepon.


"Bang Arya, maaf... Maira pikir suaminya Maira..." Ucap Maira lesu.


"Bagaimana wisuda Maira? Sudah selesai?" Arya bertanya dengan suara terdengar parau.


"Alhamdulillah sudah, Bang... Bagaimana dengan kak Kiran, Bang? Dedek bayi sudah lahir?"


"Alhamdulillah sudah, Mai... Bayinya sehat..."


"Alhamdulillah..."


"Maira datang kesini sekarang, ya... Hidayat ada disini... Abang tunggu Maira di ruang UGD..."


"UGD? Kok UGD, Bang? Kak Kiran baik-baik saja, kan, Bang?" Tanya Maira dengan kekhawatiran yang semakin menjadi-jadi.


"Nanti Abang jelaskan, ya... Sekarang Maira langsung kemari saja sama ibu dan ayah..."


"Baiklah, Bang..."


"Maira hati-hati... Assalamualaikum..."


"Iya, Bang... Wa'alaikum salam..."


"Kenapa, Mai?" Ibunya Maira tak sabar menunggu penjelasan darinya.


"Kata bang Arya, bang Hidayat sudah ke sana, Bu... Mungkin ada sesuatu yang terjadi, sehingga bang Arya minta bang Hidayat untuk segera ke sana... Maira kok jadi menggigil begini ya?" Jelas Maira berpikir positif.


"Ya sudah, sekarang kita ke sana..." Ajak Umayyah.


Tidak ada momen bahagia setelah acara wisuda Maira, yang ada hanya suasana tegang dan penuh teka-teki.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2