
Ayu tertidur di bahu Maira sebelum filmnya habis, dan Hidayat segera mengangkatnya untuk dipindahkan ke kamar. Maira mematikan televisi, lalu berjalan mengikuti suaminya. Ia menyelimuti tubuh Ayu dan mengecup keningnya, kemudian mematikan lampu kamar dan berjalan bergandengan tangan dengan Hidayat ke kamar mereka.
Maira begitu kepikiran dengan perubahan sikap Hidayat setelah menonton Kirana di layar televisi, namun ia tahan untuk tidak bertanya-tanya.
Mereka langsung merebahkan diri ke tempat tidur, saling menggenggam tangan dan bertatapan untuk beberapa saat.
"Bisakah hanya kita berdua tanpa harus ada Kirana?" Tanya Hidayat terdengar getir.
"Heh?" Maira menatap wajah Hidayat dengan lekat dan dahi mengernyit.
"Dengan adanya Ayu, kita bertambah ramai... Abang senang Maira punya teman di rumah, tapi kenapa tidak cukup Ayu saja? Abang sama sekali tidak keberatan dengan kehadirannya. Hanya saja, Abang tidak ingin menikah lagi... Please, Mai... Apa yang bisa Abang berikan kepada Kirana, sementara semuanya telah Abang berikan pada Maira...?" Pinta Hidayat memelas.
"Abang... Percaya sama Maira, kalau Abang sanggup bersikap adil nantinya... Kak Kiran begitu mencintai Abang, dan rela berbuat apapun demi bisa bersama Abang... Maira nggak mau dia terus-menerus mengganggu kehidupan rumah tangga kita, memeluk Abang sesuka hatinya. Membuat Abang merasa tidak nyaman, tapi Abang juga tidak sanggup menolaknya... Maira tahu Abang menganggapnya rapuh, sehingga Abang tidak bisa menghindar darinya. Iya, kan?..." Maira terus meyakinkan bahwa keputusannya benar. Ia menggenggam tangan Hidayat dengan penuh kasih.
Hidayat merapatkan tubuhnya ke posisi Maira, lalu melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya itu. "Bisakah kita sekarang mencobanya?"
Maira tercengang, menatap Hidayat semakin intens. Jantungnya berdegup kencang merasai deru nafas Hidayat yang hangat menyambar mukanya. Wajah Hidayat semakin dekat, menyatukan bibir mereka, lalu tanpa sadar membuat Maira perlahan memejamkan matanya.
Jantung Hidayat tak kalah keras detaknya. Membuat ia merasa berada di awang-awang ketika mengecap manis dan sejuknya bibir Maira untuk pertama kalinya. Mereka hanyut dalam kenikmatan duniawi, saling bertukar rasa, menggebu dan tak merasakan apa-apa selain kenikmatan.
Hidayat tak mampu menguasai dirinya. Tangannya mulai bergerilya ke dada istrinya, memancing hasrat Maira untuk menginginkan lebih. Namun ketika Hidayat hendak membuka jilbab yang masih menutupi kepala Maira, dengan sigap Maira menahan lengannya.
Mata mereka yang semula terpejam, spontan terbuka. Tampak mata Maira memerah dan mengeluarkan setetes air bening di sela-sela tepinya. Maira segera bangkit dan duduk memunggungi Hidayat, membuat suaminya itu tiba-tiba menjadi kebingungan dengan sikapnya yang cepat berubah.
"Kenapa, Mai?" Hidayat bertanya dengan hati-hati sambil menarik lembut bahu Maira agar menghadap kepadanya.
"Maafin Maira, Abang... Maaf..." Ucap Maira sambil terisak-isak.
__ADS_1
Hidayat semakin dibuat kebingungan. "Ada apa Memangnya? Maira sudah sah menjadi istri Abang... Apa yang salah? Kenapa Maira menangis?"
"Bohong... Bohong jika Maira tidak tersakiti oleh keputusan yang Maira buat sendiri... Tapi Maira harus apa? Maira tidak bisa melakukannya sekarang, Bang... Maira tidak bisa melakukannya sementara hati Maira gelisah karena esok adalah hari pernikahan suami Maira sendiri dengan perempuan lain... Mana mungkin Abang bisa merasakan kenyamanan, kenikmatan, sementara hati Maira sungguh berlawanan dari kenyataan..." Ucap Maira tersedu-sedu.
Hidayat menghembuskan napas berat setelah mendengar penuturan Maira. Wajahnya berubah masam, dan melihat itu Maira segera mengambil tangan Hidayat, lalu menggenggamnya begitu erat.
"Beri Maira kesempatan, Bang... Maira janji, esok semua pasti akan baik-baik saja... Maira sangat yakin bahwa Maira bisa menerima semuanya..." Ucap Maira dengan wajah memelas pasrah.
Hidayat tertunduk lesu. Hatinya luluh melihat air mata Maira yang berlinang membasahi kedua pipinya.
"Kita tidur sekarang, ya... Esok biarlah menjadi misteri... Abang baik-baik saja..." Ucap Hidayat pasrah.
Maira malah semakin memperkuat tangisnya. Dadanya merasa sesak, memikirkan betapa jahatnya ia sekarang. Berkali-kali ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa Hidayat tidak pernah merasa ia dendam jika berbuat ini semua, namun tetap saja ia merasa begitu.
Hidayat mendekap Maira dengan sangat erat. Ia berusaha menenangkan perasaan Maira, karena ia tahu apa yang istrinya itu rasakan sekarang.
***
Maira menyambut mereka dengan senyuman yang dipaksakan, namun begitu tulus, membuat ibunya malah menangis ketika mendekapnya. Seiring dengan itu, Bu Zainab melayangkan telapak tangannya ke pipi Hidayat.
"Kenapa kamu melakukan ini, hah?" Tanya Bu Zainab berapi-api, sehingga semua keluarga melihatnya dengan penuh keterkejutan.
Maira bergegas memeluk Bu Zainab. "Ini bukan salah Abang, Bu... Ini atas kemauan Maira sendiri... Maira butuh teman, Bu... Maira yang minta..."
Maira terisak-isak di dalam pelukan mertuanya itu, lalu berjalan mendekati Hidayat. Ia meraba pipi suaminya yang memerah setelah kena tampar.
"Maafin Maira, Bang... Gara-gara Maira ibu jadi marah sama Abang... Maafin Maira..." Ucap Maira sambil berkali-kali mengusap pipi Hidayat, membuat semua keluarganya menjadi kebingungan.
__ADS_1
Hidayat hanya tersenyum, lalu menurunkan tangan Maira dari pipinya. "Tidak apa-apa, Mai... Tidak apa-apa... Kita ajak keluarga bicara di dalam, ya... Kasihan Ayu, nanti dia kebangun... Dia kan baru tidur..."
"Ayu? Jadi perempuan itu namanya Ayu? Dan kalian sudah tinggal bersamanya selama ini?" Terka Muslim sambil menatap Hidayat lekat.
"Enggak, Bu... Enggak... Enggak begitu, Bang... Ayu yang dimaksud bang Hidayat gadis kecil... Dia masih kelas tiga SD..." Bantah Maira cepat, sementara Hidayat hanya bisa diam membiarkan Maira menjelaskan semuanya kepada keluarga mereka, karena jika ia yang bicara juga percuma.
"Kita bicara di dalam ya, Bu... Maira akan jelaskan semuanya..." Bujuk Maira berusaha menenangkan Bu Zainab yang masih dikuasai amarah.
Waktu terus berjalan. Mau tidak mau mereka terpaksa menuruti kemauan Maira setelah mendengar cerita tentang Kirana dan juga Ayu, kecuali tentang hubungan Hidayat dengan Kirana sebelumnya. Malam ini mereka berkumpul di masjid untuk melaksanakan akad nikah antara Hidayat dengan Kirana.
Hidayat menatap Maira dengan wajah penuh penyesalan, dan Maira malah berusaha menguatkannya agar tetap semangat.
"Tidak bisakah hari ini berhenti disini saja? Abang tidak mau menikah dengan Kirana, Mai..." Keluh Hidayat membuat perasaan Maira seketika hancur.
Maira berusaha menahan air matanya, meski kerongkongannya tersekat dan terasa pedih. Ia tersenyum sambil mempererat genggamannya ke tangan suaminya itu.
"Bukankah semalam Abang bilang hari esok adalah misteri? Tapi kenapa sekarang Abang jadi gelisah? Percayalah, Bang, semua akan baik-baik saja... Maira akan bersikap baik nantinya jika kak Kiran sudah menjadi istri Abang juga..." Bujuk Maira meyakinkan Hidayat. Air matanya mengalir begitu saja, lalu ia seka dengan ibu jarinya sendiri untuk membuktikan bahwa ia kuat malam ini.
Sudah lewat setengah jam dari seharusnya acara dimulai, namun Kirana belum kunjung sampai. Berkali-kali Maira menelepon dengan rasa khawatir, namun ia tidak mengangkatnya.
Tak lama, sebuah mobil berhenti di pekarangan masjid. Jantung Maira berdetak kencang saat Kirana turun dari dalamnya. Semua keluarga terlihat sedih, menyaksikan kedatangan Kirana.
Kirana menatap Hidayat dengan memancarkan senyum manisnya, membuat hati Maira semakin teriris.
.
.
__ADS_1
.
.