Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku

Teruntuk Suami Yang Tidak Mencintaiku
56. Kertas Ucapan


__ADS_3

Maira sudah kembali sadar dari pingsannya. Tampak olehnya dua orang tak dikenalnya ikut menunggu dirinya disana. Seorang bocah kecil dengan buket bunga dalam genggamannya, juga seorang perempuan muda di belakangnya dengan menjinjing keranjang yang berisi seekor kucing oranye di dalamnya.


"Halo, Tante cantik..." Sapa bocah itu dengan wajah yang tegang dan gugup.


Maira tersenyum. "Halo juga..."


Maira terus menatap lekat bocah itu.


"Adik tampan ini anak siapa? Kok bisa ada disini?" Tanya Maira seolah dunianya baik-baik saja.


Bocah kecil itu perlahan mendekat kearahnya. "Namaku Aldi, Tante... Aku mau ucapin terima kasih sama o-om ganteng yang udah selamatkan Uten ku.. Tapi kata mama, dokter belum bolehin kita menemui O-om..."


Air mata Maira berderai, namun ia tetap tersenyum menatap bocah bijak di depannya.


"Ini punya O-om... Kata mama, bunga ini mau dikasih o-om buat Tante..." Ucap bocah itu seraya menyodorkan buket bunga yang dipesan Hidayat sebelum tragedi kecelakaan menimpanya.


"Buat Tante, ya?" Tanya Maira begitu senang menerima buket bunga itu. Hanya saja ia terus menyeka air matanya yang tak henti-henti keluar dari matanya yang telah sembab.


"Tapi, Uten itu siapa, Sayang?" Tanya Maira kebingungan.


Bocah itu segera melirik ke mamanya, dan perempuan itu mendekat.


"Ini yang namanya Uten. Dia ini kucing kesayangan kami..." Ungkap perempuan itu.


"Owh, jadi bang Hidayat kecelakaan karena menolong dia?" Tanya Maira sambil tersenyum menahan kepahitan yang terasa di dalam dadanya.


"Maafkan saya, saya lengah menjaga anak saya... Tidak seharusnya ini terjadi... Jika suami Kakak tidak disana, mungkin anak saya yang terbaring di rumah sakit ini... Kata saksi yang melihat kejadian, anak saya hendak menyebrang untuk menjemput Uten. Tapi karena beliau baru saja keluar dari toko bunga dan melihatnya, beliau menahan anak saya, hingga beliau sendiri yang mengalami kecelakaan itu..." Tutur mama bocah itu menjelaskan kejadian yang sebenarnya dialami Hidayat.


Maira terisak-isak mendengar cerita perempuan itu, juga keluarganya yang menahan tangis setelah mengetahui cerita yang sebenarnya.

__ADS_1


"Maaf Aldi, Tante... Aldi nakal..." Ucap Bocah itu merasa bersalah.


"Maafkan saya, Kak... Saya sangat menyesal dengan adanya kejadian ini... Dari sejak kecelakaan tadi, Aldi banyak murung, dan ia tidak pernah melepaskan buket bunga ini dari genggamannya..." Ucap mama Aldi dipenuhi rasa bersalah yang teramat dalam.


Maira menyeka air matanya. "Saya jatuh cinta pada suami saya karena kebaikan dan ketulusannya... Ini qodarullah, dan saya tidak berhak marah atas kejadian ini... Saya hanya takut suami saya kenapa-kenapa... Tolong doakan agar suami saya kembali pulih, karena saya percaya semakin banyak orang yang mendoakan, insya Allah akan cepat Allah mengabulkannya..."


***


Happy graduation, my wife... I love you so much...


Selamat, Sayang, untuk gelar Magister yang Maira peroleh... Semoga ilmunya bermanfaat hingga akhir hayat nanti...


Di hari bahagia ini bisa-bisanya Abang terlambat, Abang minta maaf, ya...


Ketahuilah, Sayang, Abang menjadi besar kepala setiap kali Maira mengalah... Tapi, demi Allah Abang tidak bermaksud membuat Maira selalu mengalah kepada Abang...


Abang sungguh-sungguh menyayangi Maira, dan demi masa depan kita Abang menjadi sedikit egois...


Love love istri tercinta, tercantik Abang...


Hidayat menyelipkan emoticon berbentuk senyuman dalam tulisannya.


Maira melipat kembali kertas ucapan yang baru saja ia baca, kemudian mengecup lama bunga yang ia dapat dari bocah tadi dengan air mata berurai. Ia memeluk buket bunga itu ke dalam dadanya. Ia terisak-isak. Hatinya begitu merindukan suaminya, karena ia dan keluarganya belum bisa menemui Hidayat untuk saat ini.


Ia sendiri di ruangannya. Keluarganya memberi ia ruang setelah mendengar ucapannya pada mama Aldi tadi. Keluarganya percaya bahwa ia sanggup bersabar dalam ujian yang saat ini menimpa Hidayat.


"Sudah masuk waktu isya, Sayang... Ibu mau shalat dulu... Kamu yang kuat bertahan dalam rahim Ibu, Nak... Ibu akan jaga kamu, walau saat ini Ayah tengah berjuang sembuh disana..." Ucap Maira berbisik ke perutnya yang masih datar.


Setiap usai shalat Maira tidak henti-hentinya mendoakan kesembuhan suaminya. Ia lebih banyak menangis, dan sesekali tersenyum kepada perutnya yang telah berisi janin di dalamnya.

__ADS_1


Malam itu Rianur dan keluarga kecilnya telah datang, juga bersama Muslim dan istrinya. Mendapat kabar tentang Hidayah, bisa tidak bisa mereka terpaksa harus mengusahakan untuk datang.


Dua beradik itu tampak terpukul melihat adik bungsu mereka terbaring lemah di dalam ruang ICU. Hati mereka hancur mengingat baru beberapa tahun lalu mereka kehilangan salah satu saudara mereka, Zahrana Habibah Marwan. Mereka tidak ingin rasa sakit yang sama terjadi untuk saat ini.


"Cepat sembuh, Yat... Bang Mus yakin kamu kuat..." Ucap Muslim dari balik jendela kaca. Ia tidak mampu membendung air matanya melihat tidak berdayanya Hidayat dengan berbagai alat penunjang hidup terpasang di tubuhnya.


"Ya Allah, sembuhkan adik kami..." Ucap Rianur terisak-isak. Bang Ed mengelus bahu Rianur dengan lembut untuk menguatkannya. Ia sendiri sangat terpukul melihat adik iparnya terbaring disana, apalagi istrinya adalah saudara kandung Hidayat.


Dua hari berlalu, belum ada perkembangan apa pun pada kesembuhan Hidayat. Keluarga sudah diizinkan membesuk satu persatu. Rianur, dan Muslim juga sudah ke dalam bergantian dengan pasangan mereka masing-masing. Hanya Arya yang masih belum siap memberitahu Kirana tentang apa yang telah menimpa Hidayat.


"Kalian pulanglah terlebih dahulu..." Suruh Umayyah.


"Tapi, Yah..." Rianur mencoba membantah.


"Kalian punya tanggung jawab lain yang lebih penting, meskipun nyawa adik kalian jauh lebih penting... Disini masih ada ibu dan Ayah, serta mertua Hidayat... Nanti kalau ada perkembangan terhadap kondisi asik kalian, Ayah akan langsung kabari..." Tutur Umayyah memberi pengertian.


Mau tidak mau Rianur dan Muslim menuruti ucapan ayahnya. Ia juga tidak bisa berlama-lama disana sampai menunggu Hidayat tersadar. Izin dari sekolah tempat mereka mengajar pun juga hanya tiga hari, apalagi mereka telah pegawai negeri sipil.


Malam itu Rianur dan Muslim langsung pulang bersama pasangan mereka. Tubuh lelah bukan alasan untuk diam, melainkan perasaan khawatir akan kondisi Hidayat yang belum sadarkan diri membuat mereka tidak banyak bicara.


Maira pun begitu. Ia seringkali lemah, walau sebisa mungkin bersikap tegar di hadapan orang tua dan mertuanya. Ini ujian yang paling berat ia rasakan semenjak menjalani hidup berumah tangga dengan Hidayat.


Sudah lima hari mereka masih di rumah sakit, dan sampai detik ini pun Hidayat masih belum sadarkan diri.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2