
...Hati-hati pada sebuah...
...'Pertemuan' sebab beberapa...
...pertemuan tak selamanya...
...'Menetap'. Kalau tidak setuju...
...Itu urusan mu.....
...***...
Ku nikmati hembusan angin malam yang menusuk kulitku, ditemani secangkir cokelat panas disamping laptopku. Ku sampirkan jaket untuk mengurangi dingin yang memelukku. Angin malam ini ingin di nikmati keberadaannya serta dingin ini ingin diakui hadirnya.
Dengan rasa haus akan curahan hati yang belum bisa di dengarkan oleh siapapun aku mulai menarikan jemariku pada keyboard laptopku. Entah kenapa aku ingin menumpahkan semua yang kurasakan pada asa. Perihal dirinya yang diam-diam masih ditempat kemarin, sesosok bayangan yang selalu kusadari kehadirannya.
Malam semakin larut ku lihat bintang-bintang mulai meredup satu persatu. Ku tinggalkan sejenak laptopku yang masih menyala untuk menutup jendela kamar dan gorden. Kemudian aku kembali pada hal tentang dirinya. Ku tuliskan kembali perihal dirinya yang entah mengapa selalu berotasi pada hidupku.
Perihal dirinya..
Aku menyukainya. Tapi, aku begitu sadar bahwa aku bukan siapapun baginya.
Ku tuliskan namanya namun kembali ku hapus. Oh ayolah, ini hanya masa lalu atau mungkin bukan. Bagaimana mungkin orang yang sudah kamu anggap masa lalu masih sering berkeliaran dalam hidupmu. Yang benar saja. Ku hembuskan nafas perlahan sembari menyesap cokelat panasku. Ku perhatikan kembali tulisan ku dan mulai melanjutkannya.
Aku tak tahu alasan apa yang membuatnya hilang, dan aku tahu alasan apa yang membuatku tak ingin berhenti mencari..
Jari-jari ku berhenti seolah tahu bahwa akan ada rindu yang bertamu. Seketika itu juga memori tentang dirinya hadir tiba-tiba dan terputar tanpa seijinku. Pertemuan ku waktu kami masih kecil, pertemuan kami kembali sewaktu kami masih mengenakan putih abu-abu yang mau tidak mau, suka tidak suka sering bertemu dan bertatap.
Sampai saat ini kami dipertemukan lagi dan lagi dalam sebuah ketidaksengajaan yang seperti disengaja oleh penulis skenario hidup. Disengaja atau tidak aku tidak peduli ku pikir dunia ini luas seluas angkasa untuk sebuah pertemuan yang berulang. Cukup pergi saja dari rotasinya maka akan mengubah segalanya. Aku harap aku bisa.
Nyatanya tidak semudah itu.. kembali aku menuliskan perihal tentang dirinya. Hey. Sejak kapan aku menjadi hobi menulis tentang dirinya?
"Calista pacar lo tuh Agas Cokrodinoto bukan kak Mario Xaverius Erlangga."
Batinku tak terima. Ku gelengkan kepalaku dan kembali menuliskan perihal tentang dirinya. Biar ku klarifikasi sebentar. Aku Calista Hartawan sebelum Jatuh dan Cinta pada Agas Cokrodinoto sudah lebih dulu punya perasaan pada Mario Xaverius Erlangga. Karena waktu mempertemukan kami lebih awal. Disaat usia kami belia.
Tidak. Bukan. Sekarang perasaan ini tidak tumbuh begitu kuat, hanya samar yang kurasa. Setiap temu dan tatap hanya menghadirkan senyum yang tak membawa apapun. Tak juga berarti apapun.
Semua berubah ketika beberapa waktu lalu dirinya selalu melempar kode lalu menyembunyikan hati. Aku cukup paham akan dirinya. Aku cukup tau akan ragu yang berusaha dia tutupi. Ingin mencoba dekat namun seperti ada jarak. Kadang aku lelah dibuatnya. Dirinya dan teka-teki hatinya.
Bukan untuk menemukan hatinya untukku, tetapi memastikan dia bahagia tanpa aku.
Jari-jariku berhenti kembali pada akhir kalimat 'memastikan dia bahagia tanpa aku' aku meregangkan otot tanganku sejenak dan bersandar pada kursi portabelku seraya memejamkan mata sejenak. Dan lagi memori yang membuatku seperti terkena serangan jantung terputar tanpa seijinku.
Beberapa hari yang lalu Mario Xaverius Erlangga memposting beberapa foto di akun sosmednya bersama seorang perempuan yang jelas tidak aku kenal. Aku merasa hampa saat itu. Berkali-kali aku yakinkan hati bahwa rasa itu hanya sebuah rasa yang tidak akan tumbuh sampai mengakar.
****
"Non.. Bangun non sudah pagi. Nanti terlambat ke kampus" suara mbok Surti memanggilku ke dunia nyata. Sontak aku pun mengangkat kepalaku dan melirik jam weker yang ada dipojok kiri meja belajarku. Pukul enam lebih 15 menit. Dan aku tidur di kursi? Itu berarti aku ketiduran semalam.
"Iya mbok makasih ya mbok?" Kataku sembari meregangkan otot-ototku.
"Sama-sama non. Mbok permisi dulu ya mau siapin sarapan" katanya sembari mengacungkan jempol ke arah luar kamar.
"Oh iya mbok. Sekali lagi makasih yaa" kataku lagi yang dibalas anggukan serta senyum tulus dari mbok Surti sebelum keluar dari kamarku.
Aku pun beranjak dari kursi dan berjalan menuju balkon kamar. Menghirup aroma daun basah, rumput serta jalan yang basah. Sepertinya hujan telah singgah namun jejaknya masih tertinggal.
Ku dengar Ponselku berdering melantunkan lagu Photograph milik Ed Sheeran. Buru-buru ku langkah kan kaki dan menyambar ponselku yang ada diatas nakas coba tebak siapa? Aldira Respati. Seketika saja alisku menyatu. Diburu rasa penasaran aku pun menggeser panah kearah tombol hijau.
__ADS_1
"Apa?" Tanya ku tanpa basa-basi padanya.
"Berangkat agak cepetan ya gue mau curhat nih. Dan oh iya nanti naik mobil gue aja, jam 8'an gue kerumah lo" celotehnya panjang lebar dan lengkap dan tanpa sopannya langsung menutup sambungan secara sepihak. Aku pun cukup menggelengkan kepala akan sikapnya.
Beberapa jam kemudian sebuah mobil nissan march merah sudah bertengger manis di pekarangan rumahku. Si pemilik tentunya ikut sarapan denganku. Beruntung si Brandon sedang tidak diizinkan masuk kedalam jika ada tamu saja tentunya dan jika dia sedang sakit.
Selesai sarapan aku dan Aldira pun bergegas menuju kampus. Tapi hari ini Aldira memilih jalan yang lebih jauh dari kampus untuk mengulur waktu agar dia bisa mencurahkan isi hatinya.
"Lis?" Panggil Aldira dan refleks aku menoleh kearahnya yang sedang mengemudi.
"Bang Ijal gagal masuk Lis. Ini yang ketiga kalinya dia gagal.." katanya memulai ungkapan isi hatinya.
"Dir?" Kataku sembari mengelus pundaknya.
"Dia depresi banget Lis, dia stress kadang suka marah-marahin gue. Gue bingung Lis gue ga berani cerita ke nyokap gue, lo tau kan nyokap gue pengen banget punya mantu angkatan Lis" curhatnya lagi sembari meneteskan air mata dan aku sembari berdoa dalam hati semoga kami selamat sampai tujuan.
"Dir..? Udah ya? Dengan lo gak cerita ke nyokap lo, lo justru menyelamatkan hubungan kalian sementara waktu. Dan menurut gue lo harus terus ada disamping Bang Ijal. Saat ini yang dia butuhin cuma lo Dir" kataku menenangkannya.
"Tapi kadang gue gak kuat Lis.. sampai kapan?" Keluhnya lagi sembari menghapus airmatanya.
"Sekuat lo bisa" dan itu kata-kata terakhir ku sebelum kami turun dari mobil karena beberapa menit yang lalu kami sudah tiba di kampus.
Di lorong fakultas Kesehatan Masyarakat Axel berjalan ke arahku sebelumnya dia memanggil namaku. Lalu dia menyodorkan ponselnya padaku.
"Kenapa?" Tanyaku saat dia sedang menstalker salah satu akun sosmedku.
"Ini siapa Lis? Cantik" katanya lagi yang menunjukkan salah satu fotoku dan tepatnya fotoku bersama Anggia Yunifa.
"Oh. Itu temen sd gue namanya Anggia" jawabku. Seraya memberikan ponselnya kembali.
"Kenalin dong Lis? Ya?" Pintanya seraya mengikutiku menuju ruang kelas. Beruntung koridor tidak terlalu ramai kalau tidak wajah si Axel sudah ku masukkan ke dalam kantong belanjaan.
"Ah elah kenalan sendiri kek. Add aja itu instagramnya" kataku mulai kesal.
"Ck. Anak tahun berapa sih lo pedekate aja segala lupa caranya. Dengerin ya syamsuddin, lo tuh laki masa nanya caranya pedekate ke cewek. Sakit jiwa lo ya?" Cibirku sembari tertawa meledek.
"Yaaaah elo mah ga asik nih. Kan lo temennya doi jadi yang lebih tau doi ya lo" jawabnya tak terima.
"Tapi kan yang mau kenalan lo bukan gue" kataku sembari berlalu meninggalkannya dikelas dan pergi ke kantin menyusul Aldira.
***
Aku menikmati sepoi angin yang membelai kulit leherku. Hari ini cuaca cukup bersahabat dengan awan kelabu menutupi setengah sang surya. Meskipun kelabu aku sangat yakin hujan sedang tidak ingin berkunjung hari ini. Ku hirup secara rakus aroma dari secangkir expresso hangat yang menguar bebas di udara sebelum menyesapnya.
Hari yang indah bukan untuk meninggalkan sejenak beban hidupmu? Ayolah hidup memang memaksa kita dengan keras tapi bukan berarti kamu menyiksa diri untuk segala sesuatunya.
Pagi ini ditaman yang letaknya tidak jauh dari rumahku, aku sibuk memperhatikan orang-orang dengan segala kesibukannya. Ada yang bersemangat sekali berolahraga hanya untuk menyempurnakan program diet mereka, ada yang sekedar jalan-jalan mengelilingi taman dengan hewan peliharaan mereka masing-masing, ada juga yang hanya duduk santai sepertiku dengan pasangannya. Oh tidak. Aku sendirian hari ini. Agas sedang ada acara keluarga, nanti malam baru kami akan pergi bersama.
Biasanya disaat seperti ini dengan suasana yang mendukung aku mendapatkan banyak sekali inspirasi untuk tulisanku. Sungguh. Lihat saja apa yang ku bawa, laptop portable ku dan juga buku-buku dari para penulis favorit ku. Yang paling ku suka adalah karya O Henry yang berjudul "The Last Leaf" karya sastra lama yang cukup menyentuh kurasa.
Kalian tau? Awalnya aku hanya seorang gadis yang suka bermimpi dan berkhayal. Mengandai-andaikan sesuatu yang mustahil terjadi, menurutku. Sewaktu kecil aku selalu bertanya-tanya dalam hati apa sebenarnya mimpiku. Semua orang yang ku temui selalu menceritakan hal-hal mengenai impiannya. Tapi tidak denganku.
Aku tau semua orang di dunia ini dilahirkan mempunyai tujuannya masing-masing, serta talenta dan kelemahannya masing-masing. Satu paket lengkap. Bagaimana denganku? Aku payah dalam segala hal kurasa. Kalian tahu? Sampai saat ini aku sendiri pun tidak tahu apa kelebihan serta bakatku. Menyedihkan sekali bukan.
Tulisanku terhenti saat ponselku berdering. Beruntung sudah ku pasang earphone ketelingaku jadi aku tidak perlu repot mengabaikan tulisanku untuk menjawab telpon masuk.
"Iya Xel?" Jawabku pada seseorang disebrang sana tanpa berbasa-basi.
"...."
__ADS_1
"Udah lo follow belum ig nya doi?" Kataku sembari masih mengetik.
"...."
"Terus?" Kataku seraya berhenti mengetik dan lebih fokus mendengarkan.
"...."
"Ah. Bodoh. Kirim pesanlah lewat ig nya Xel, tulis 'Hai' aja gitu. Lo laki tapi mental kerupuk sih? Kopong" Cibirku greget dengan cerita Axel.
"...."
"Yooo" sambungan pun terputus.
Kemudian ku hempaskan diriku direrumputan sambil memandangi langit. Ada begitu banyak teka-teki dalam hidup ini. Perihal perasaan, persahabatan sampai pada keluarga. Tapi kurasa bahagia enggan menetap pada momen hidup yang seperti itu. Entah karena ia takut, entah karena ia ingin dicari atau memang ia enggan hadir.
Ku pejamkan sejenak mataku sambil menikmati alunan musik yang menenangkan. Aku berharap hidup tidak berjalan lamban. Aku ingin segera bertemu masa depan, misi ku adalah menemukan apa bakat serta impianku sebenarnya.
****
Tirai senjapun terbentang di angkasa bak kanvas putih yang terciprat warna merah kekuningan juga biru keunguan. Satu kata untuk senja. Cantik. Malam ini akan jadi malam yang entah keberapa kalinya aku dan agas pergi bersama meluangkan waktu. Kesibukan kami sering memicu pertengkaran yang mungkin seharusnya tidak perlu diributkan.
Maklum kami masih sama-sama belajar menerima kekurangan satu sama lain. Harusnya kami bisa lebih saling mengerti mengingat kami bertahun-tahun bersama. Aku berharap Agas adalah orang yang menetap bukan hanya sekedar menemani. Ku harap begitu.
"Hai Lis?" Sapanya sambil tersenyum saat turun dari mobil dan menghampiriku.
"Hai juga Gas" sapaku kembali dan membalas senyumannya.
Malam ini kami ingin marathon movie jadi kami tidak perlu menghabiskan banyak kata untuk menciptakan suasana romantis. Kami juga tidak perlu menyia-nyiakan waktu hanya untuk membahas hal-hal yang tidak penting.
Sesampainya dibioskop kami mengantre tiket dan membeli seember penuh popcorn serta dua gelas minuman bersoda. Mungkin malam ini akan jadi malam yang panjang. Sebelumnya aku sudah meminta izin pada Ayah dan Ibuku untuk pergi bersama Agas. Ayahku mengizinkan dan percaya bahwa aku bisa menjaga diri. Berbeda dengan ibuku dia bersikap seperti ibuku yang dulu. Dingin dan cuek. Itu karena aku pergi dengan Agas.
Well, disini lah aku sekarang didalam bioskop yang lampunya sudah mulai meredup. Agas memilih seat A sebagai tempat duduk kami untuk menikmati film. Awalnya aku mengira Agas akan melakukan hal yang aneh-aneh tapi sepanjang film diputar ia selalu fokus menonton dan memakan popcorn yang kami beli tadi.
Seketika aku tersenyum melihat wajahnya. Seperti sedang mengamati malaikat. Kau tau? Betapa pun berat hari-hari yang ku lalui dia tetap bersamaku sampai saat ini. Aku setuju dengan ungkapan 'Akan ada masa nya kamu jatuh cinta berkali-kali dengan orang yang sama'. Dan bagiku itu benar.
Saat film pertama selesai aku izin ketoilet pada Agas dan dia pun mengangguk. Jujur saja aku tidak betah duduk berlama-lama dengan suhu ruangan yang tidak biasanya. Sebelum melangkah keluar toilet kurasakan ponselku bergetar. Ku lihat panggilan tak terjawab dari Anggia Yunifa. Langsung saja ku telpon kembali.
"Kenapa?" Tanyaku tanpa babibu.
"...."
"Oh itu si Axel temen gue Gi, waktu itu dia lihat foto kita berdua di instagramnya. Dia nanya itu siapa, ya gue jawab aja itu lo temen sd gue" tutur ku menjelaskan sedetail mungkin pada Angia.
"...."
"Yaudah kenalan aja si, itung-itung nambah temen kan. Lagian ya Gi, pamali ngabaiin orang yang berusaha baik sama kita" jawabku sembari menempelkan ponsel pada telinga dengan pundakku untuk membasuh tanganku.
"...."
"Bales aja sih yang sewajarnya. Kok lo jadi ngubek-ngubek gue" jawabku kesal karena Anggia terus bertanya apa yang harus dia lakukan sekarang. Mengabaikan pesan Axel atau membalasnya.
"...."
"Kok lo jadi marah-marah sih? Jangan salting ngapa. Rileks aja jangan berlebihan menanggapi segala sesuatu. Sewajarnya aja" kataku menenangkan.
"...."
"Udah ah gue mau nonton lagi. Kasian Agas nunggu gue lama banget didalam toilet. Gi, tugas gue cuma ngebantu Axel kenal sama lo dan bantuin lo belajar buat buka hati lo lagi untuk seseorang. Jangan terlalu lama nutup pintu hati lo. Selanjutnya itu urusan kalian berdua bukan gue lagi. Biarin aja berjalan apa adanya" kataku sebelum mematikan sambungan secara sepihak.
__ADS_1
Kemudian aku keluar dan berjalan menghampiri Agas. Sebelum pertanyaan beruntun keluar dari bibirnya aku pun menceritakan padanya mengapa aku lama sekali didalam toilet. Lalu kami pun masuk kembali ke dalam bioskop untuk menonton film kedua. Dan kali ini kami duduk di seat C lumayan nyaman dan tidak terlalu pojok.
Happy Reading guys 😄