THE SOUND OF LOVE

THE SOUND OF LOVE
EPILOG


__ADS_3

...Pernah ada kamu ...


...Yang selalu setia mengucapkan ...


...'Selamat pagi' dengan senyuman,...


...Untukku ...


...*** ...


Seminggu setelah kepergiannya..


Beberapa hari setelah kepergianmu, aku menjadi seseorang yang sulit mengendalikan diri. Sahabat dan teman-temanku, mereka semua mencoba datang untuk menghiburku. Mereka bilang aku tidak waras karena mengurung diri di kamar dan larut dalam kesedihan yang entah sampai kapan. Beberapa dari mereka berusaha untuk mengalihkan perhatianku. Dan, tetap saja mereka tidak berhasil.


Semua hal tentang mu terlalu kuat untukku. Membunuh secara perlahan perasaanku padamu atau tentangmu sama saja dengan bunuh diri. Seakan kamu adalah bagian dariku, begitupun sebaliknya. Lalu aku harus bagaimana? Beberapa hari setelah kepergianmu aku merasa bukan lagi seperti diriku. Ada bagian yang hilang disana seperti puzzle yang tidak sempurna karena ada potongan yang hilang.


Tok tok tok


"Calista. Buka pintunya dong, ibu bawain makanan nih dari kemarin kamu belum makan loh" seru suara wanita paruh baya dengan nada sarat akan kesedihan.


"Lis? Buka pintunya dong, ini gue Dira. Lo tega biarin gue sendirian kemana-mana? Gue kangen sama Calista, sahabat gue yang selalu bikin gue kesel" Suara Aldira yang menahan sesuatu menyusul ucapan Sonya. Ingin sekali rasanya ia mendobrak pintu ini tapi diurungkannya niat itu mengingat sahabatnya sedang sekarat. Hatinya.


Kemudian suara-suara gaduh mulai terdengar dari luar pintu kamar. Membuatku mau tidak mau menyahut untuk meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja. Setidaknya itulah yang terlihat dari luar.


"Calista, baik-baik aja di sini. Tolong kasih waktu aku buat sendiri" seruku dari dalam kamar dengan suara lemas dan menyedihkan.


"Sampai kapan? Kita semua butuh lo, Calista. Keluarga lo, sahabat-sahabat lo, teman-teman lo. Semuanya" celetuk suara bass yang ku yakini sekali milik Bang Ami.

__ADS_1


"Kita semua pernah patah hati, Lis. Kita semua. Jangan sia-siain masa muda lo dengan kayak gini, masih banyak orang-orang di luar sana menunggu lo. Calista Hartawan, yang baru" teriak suara tegas milik Axel Atmadja.


"Lis? Lo gak mau ketemu sama kita lagi?" Ucap Jihan sembari terisak. Membuatku yang mendengarnya dari balik pintu diam-diam ikut terisak.


Kemudian disusul dengan suara Ivanna, Anggia juga beberapa orang yang ku ingat samar. Berusaha membujukku untuk keluar dari dalam kamar. Aku hanya sedang butuh waktu sendiri merenungi masa lalu ku bukannya ingin bunuh diri karenanya. Hei, aku tidak sebodoh itu. Hanya saja mungkin ini akan sulit untuk dijalani. Suara-suara gaduh itu tak terdengar lagi, kesunyian yang sebelumnya hadir kini kembali mengisi.


Tisu-tisu yang berserakan di segala penjuru kamar membuat siapapun ingin mengumpatiku, namun siapa yang peduli? Toh ini adalah area pribadiku. Aku tersedu-sedu memeluk boneka teddy bear berukuran raksasa pemberian Agas saat usiaku tujuh belas tahun dan kami merayakannya bersama sahabat-sahabat kami di masa putih abu-abu.


"Gas? Lo dimana sih? Kenapa gak kasih kabar? Apa lo udah nemuin kebahagiaan yang lain? Jangan Gas, jangan secepat itu" ucapku pada udara hampa sembari mengeratkan pelukanku pada teddy bear pemberian Agas.


Kepergianmu seolah mengunci setiap tawa dan menghapus senyuman dari wajahku. Menurutmu, apakah seseorang bisa tersenyum atau tertawa saat bersedih? Jawabannya, Tidak. Sekalipun mereka bisa tersenyum dan tertawa, mereka hanya sedang berpura-pura terlihat bahagia.


Seminggu setelah kepergianmu, debar jantungku tidak berirama dengan baik seperti biasanya. Apakah ini rindu? Ya, ini memang dia. Aku rindu caramu bicara, rindu caramu mendengarkanku, rindu caramu memelukku dan rindu semua yang ada padamu.


Perpisahan kemarin seolah belum memisahkan kita. Memang, aku belum siap untuk mulai terbiasa tanpa kita. Aku tidak pernah benar-benar berkata bahwa aku wanita yang tangguh, yang takkan dikalahkan oleh rasa sedih. Aku hanya lebih memilih menghargai perpisahan kemarin untuk tetap tumbuh di hari esok.


Karena pernah ada kamu yang selalu setia mengucapkan 'Selamat Pagi' dengan senyuman untukku


Waktu berlalu terasa lambat. Aku tak mengenali perubahan apa pun yang terjadi pada diriku sendiri, termasuk perasaanku untukmu. Tak ada yang berubah sekalipun beberapa hati bersedia untuk menggantikan dan mengubahnya.


Masih dengan senyuman sandiwara yang kulakukan setiap hari, mereka mengira aku sudah pulih dari rasa patah. Padahal tidak, sungguh mereka hanya mudah tertipu. Mereka menganggap senyumanku sebagai pertanda bahwa hatiku sudah baik-baik saja. Padahal, tidak.


Aku tak mungkin berpura-pura tersenyum hanya untuk terlihat tegar. Karena berpura-pura hanya akan membawa kesedihanku lebih dalam. Sadarlah, kamu adalah pencuri setengah diri dan beberapa kebahagianku. Dapatkah kamu dengan senang hati mengembalikannya?


"Welcome back, Lis" sapa mereka dengan binar di wajah dan mata mereka. Akupun tersenyum haru menatap wajah mereka satu persatu.


"Gue kira kita akan memainkan drama sleeping beauty, saat lo masih belum mau keluar kamar" cibir Axel Atmadja dengan seringaian jahilnya.

__ADS_1


Sontak aku pun menggetok kepalanya dengan sendok gula "Najis. Amit-amit. Dasar mesum lo Xel!!"


"Ish dasar wanita bar-bar" sungut Axel sembari menggosok kepalanya, hal itu membuat tawa mereka semua meledak akibat tingkah ku dan Axel.


"Oh iya, sebulan setelah kita wisuda nanti datang ya ke acara pertunangan gue?" Ucapan Bang Ami membuat tawa kami berhenti seketika karena terkejut. Waw, akhirnya setelah sekian lama pacaran dengan putus nyambung kisah mereka bisa happy ending. Berbeda denganku.


"Cieee. Akhirnya Bang, resmi juga lo"


"Iya selamat ya Bang. Turut bahagia kita"


"Semoga cepat nyusul, doain Bang"


Kemudian acara quality time kembali lagi seperti semula. Kami sengaja meluangkan waktu bersama sebelum kami wisuda nantinya. Kali ini kami cukup di sibukan dengan praktek kerja lapangan yang membuat kami jarang berkumpul seperti ini. Dan beberapa bulan lagi kami akan menghadapi sidang sebelum skripsi.


Aku memberikan mereka senyuman dan aku menertawakan diriku sendiri. Apakah aku salah? Sepertinya tidak, karena kehilangan seseorang yang dicintai selalu mampu menjadikan seseorang hebat dalam hal berpura-pura bahagia.


Tak harus kembali bersama dirimu yang mencintaiku seperti dulu, setidaknya kembalikan aku seperti sebelum aku mencintaimu dan kehilangan dirimu. Aku tau kamu paham, sehingga tak perlu lagi aku meminta agar kamu mengabulkannya.


Ting


Sebuah pesan masuk lagi-lagi menginterupsi aktivitas kami. Seketika aku membeku membaca sesuatu disana, lidahku kelu, kurasakan bola mataku memanas.


"Lo kenapa Lis?" Tanya Aldira khawatir diikuti tatapan mereka semua.


"Gue.. gue.. naskah gue di terima penerbit itu berarti gu-"


"Itu berarti kita punya temen seorang penulis terkenal" sorak bahagia mereka bersamaan airmata yang mulai menggenang di pelupuk mataku.

__ADS_1


Apakah seperti ini definisi bahagia? Selalu bersamaan dengan airmata yang menjadi tandanya.


--- SELESAI ---


__ADS_2