
Calista meregangkan badannya, ia baru bisa pulang pukul 7 malam akibat Adrian si direktur yang banyak maunya. Menghela napas, melirik surat undangan pernikahan yang tergeletak entah sejak kapan.
" ... "
Calista menunggu dengan tidak sabar sambungan telpon seseorang.
" ... "
Sekali lagi, menunggu panggilan telpon terangkat.
"Haiiissshh, cincaaa !!" kesalnya
Menghela napas pasrah, ia pun bersiap untuk pulang, setelah itu bergerak malas menuju lift. Beruntunglah lift hari ini sepi, menghela napas lelah. Calista Mengutuk dirinya yang hampir seharian menghela napas, sepertinya Adrian mulai membuat hidupnya frustasi.
Hari ini kuputuskan untuk pulang dengan berjalan kaki, setidaknya jarak apartemen dengan kantornya tidak membuatnya frustasi. Calista berjalan dengan malas seperti orang yang tidak memiliki motivasi hidup.
Sekelebat memori siang ini berputar di kepalanya, bagaimana direkturnya mencuri sebuah ciuman darinya tanpa izin.
Calista mengangkat tangannya, mengarahkannya pada bibirnya yang ranum itu lalu mengelusnya
"ADRIAAAAANNNN B***S** !!" teriak Calista frustasi.
Tanpa sepengetahuan Calista, Adrian diam-diam mengikutinya dengan berjalan kaki di belakangnya, dalam jarak yang agak jauh. Adrian tidak ingin terjadi sesuatu pada Calista yang berjalan sendirian di tengah malam.
Namun, mendengar namanya di panggil disertai umpatan. Adrian mematung, bertanya-tanya di dalam hati, apakah dirinya ketahuan sedang membuntuti karyawannya, di malam hari begini?
Adrian menggelengkan kepalanya, meyakinkan diri bahwa Calista tidak menyadari kehadirannya.
Kembali lagi pada Calista, ia masih saja menggerutu sampai seseorang mengejutkannya dari kejauhan. Calista panik buru-buru ia mencari tempat bersembunyi.
Adrian yang panik melihat gerak-gerik Calista yang ketakutan, langsung saja berlari mendekatinya dan disaat Calista ingin mencari tempat bersembunyi, Adrian menghentikan Calista dengan menggenggam tangannya.
Sontak Calista terkejut ia pikir ada orang asing yang menggenggam tangannya
"Adrian ng-"
Belum sempat Calista bertanya, Adrian langsung membawanya pergi, mencari jalan lain menuju Apartemen Calista.
Dirasa sudah agak jauh dari tempat tadi, Calista tiba-tiba menghentikan langkahnya, membuat Adrian juga menghentikan langkahnya.
"Bapak ngapain disini? Bapak ngikutin saya?"
Adrian menghadap Calista "Bukannya kamu bawa mobil? Ngapain dijalanan malam-malam begini?"
__ADS_1
Calista mengerang frustasi sebagai jawaban dan berjalan mendahului Adrian. Adrian mengerutkan keningnya bertanya-tanya dalam hati apakah pertanyaannya salah? Sampai ia membuat Calista kesal sekali.
Adrian mempercepat langkahnya mendekati Calista yang berada di depannya, berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Calista.
Namun, Calista tidak bergeming sama sekali, membuat Adrian menghela napas perlahan - tidak tahu harus berbuat apa saat ini dan mereka pun sibuk dengan pikiran mereka masing-masing sepanjang perjalanan.
Sesampainya di Apartement Calista..
Sepanjang jalan Calista merutuki dirinya karena terlalu emosi pada atasannya ini, sebenarnya ia ingin minta maaf sejak tadi tapi ia malah jadi ketakutan karena kelakuannya beberapa menit yang lalu.
"Saya.. " ucap mereka bersamaan tanpa di duga.
Adrian tersenyum dan mengangguk "Kamu duluan" titahnya.
"Eh.. Anu pak, bapak duluan aja" Calista merasa canggung dan meminta Adrian berbicara lebih dulu.
Namun Adrian menolaknya "Ladies First"
Calista menggeleng sungkan "Gapapa pak duluan aja" kekeuhnya.
Adrian memutar bola matanya keatas, lalu memulai mendekati Calista secara perlahan. Calista yang melihat itu pun ikut bergerak mundur dengan tangan yang meraba sesuatu dibelakangnya, takut-takut jika dirinya jatuh.
Melihat Adrian yang terus menerus memangkas jarak diantara mereka, membuat Calista panik dan berulang kali menelan salivanya karena kerongkongannya mendadak kering seketika.
BUGH !!!
*****
Kedua wanita itu mondar-mandir di depan pintu kamar dan kembali duduk di sofa. Salah satu dari mereka tidak menyangka bahwa apa yang dilakukannya tadi mampu membuatnya mendapatkan tiket ke juruji besi yang dingin dan menakutkan
"Aduuhhh Lis, sorry ! Gue gak tau kalo dia itu bos lu, gue pikir dia cowok cabul, makanya langsung aja gue tinju" tuturnya.
Calista menghela napas frustasi, sesekali menggigiti kukunya, pertanda bahwa dirinya cemas
"Lagi lo ngapain sih malem-malem keluyuran dir?" cecarku padanya.
Aldira menyengir tanpa dosa menatapku "Gue mau ketempat lo, handphone gue mati, gue samperin ke kantor kata satpam disana, semua karyawan udah pada pulang..
Makanya gue langsung aja kesini, eh malah gue ngeliatin elo sama bos mesum lo itu" tuturnya panjang kali lebar.
Calista beranjak dari sofa menuju dapur, mengambil minuman bersoda dan beberapa makanan
"Nih, gue cuma ada ini, lagi males masak juga. Minggu depan lo mau nikah dir, masih aja ngayap. Heran" sembari membuka kaleng soda untuk Aldira dan untukku.
__ADS_1
Aldira menggerakan bibirnya 'Thank you' dan meminumnya sampai setengah kaleng. Calista pun hanya mendecak dan menggelengkan kepalanya
"Gue bosen Lis di pingit, di rumah terus" tutur Aldira sembari memasang puppy eyes nya.
Kemudian mereka pun membahas tentang persiapan Aldira dalam beberapa hari lagi. Kemudian satu topik membuat mimik wajah Calista menegang.
"Eh Lis, Agas udah balik ke Indonesia ya? Tapi kok tadi pas gue liat dia sama anak kecil, apa itu anaknya ya?"
Mendengar hal itu Calista hanya diam saja, tidak tahu apa dan bagaimana untuk merespon ucapan Aldira.
"Oh" hanya itu yang keluar dari mulut Calista.
Aldira melirik terbatuk-batuk karena reaksiku barusan. Kemudian aku menepuk-nepuk punggungnya dan membawakannya air putih dengan cepat.
"Maaf Lis, gue keceplosan. Gue pikir lo udah baik-baik aja"
Calista menghela napas "Udah baik-baik aja sih cuma kan move on itu butuh waktu, namanya juga proses Dir. Lo tau kan berapa lama gue sama dia bareng?"
"Oke, ganti topik. Btw bos lo gak mati kan Lis? Kok belom bangun-bangun sih?" ucapnya sembari menatap kearah pintu kamar Calista dan hal itu pun di ikuti olehnya.
Calista menelun ludah kecut "Gue cek kali ya ke dalam? Tapi kok gue degdegan ya Dir?"
Aldira menatap Calista yang masih melihat kearah pintu kamarnya "Lo degdegan? Gak salah denger nih kuping gue Lis?"
Calista tersadar kemudian melihat Aldira dan menutupi mulutnya dengan satu tangan. Apa yang baru saja ia lakukan membuat Aldira bersorak kegirangan.
"Calista Hartawan, lo suka ya sama bos lo?" ucapan Aldira membuat Calista mengerang frustasi dan secepat mungkin membungkam mulut Aldira dengan tangannya.
"Dir, sumpah ya ! Buruan nikah deh biar ke jombloan gue bebas gangguan, macam lo" sergahku.
Aldira menyingkirkan tanganku "Iya juga, gapapa kok Lis. Bos lo kece badai, gak takut nanti disikat duluan sama cewek lain?" Godanya pada Calista disertai tawa cekikikan puas.
Di dalam Kamar Calista..
Sosok tersebut ternyata dengan serius mendengarkan percakapan dua wanita di luar kamar. Sebenarnya ia sudah sadarkan diri dari tadi dan untunglah tidak mengalami cedera serius atau luka-luka. Hanya lebam saja di salah satu sudut bibirnya.
Alisnya tertaut nampak serius mendengarkan, sesekali memutar bola matanya keatas, sesekali ingin memukul kembali wanita yang bar-bar itu dan sesekali terdiam menanti percakapan kedua wanita itu.
Lagi-lagi Adrian penasaran dengan sosok bernama Agas. Siapa dan ada hubungan apa dia dengan Calista, mengapa Calista seperti enggan membicarakannya.
Adrian meraba ponsel di dalam kantong jaketnya dan mencari nomor seseorang
"Hallo pak, bisa jemput saya sekarang? Saya akan kirim alamatnya"
__ADS_1
Happy Reading..