
...Even the pure and simple truth ...
...Are never simple and rarely pure. ...
...- Oscar Wilde - ...
...*** ...
"Gue gak nyangka Lis, lo bisa ngelawan diri lo buat maafin seseorang dengan tulus" kata Aldira yang berjalan berdampingan denganku dikoridor rumah sakit dengan raut wajah bangga.
"Entahlah Dir, apa gue udah maafin Daisy sepenuhnya? Gue sendiri ragu sama kata yang lo ucapin tadi 'Tulus'. Gue masih takut" ucapku sambil tertunduk memperhatikan lantai koridor rumah sakit.
Aldira pun menghentikan langkahnya setelah mendengarkan ucapanku tadi. Wajah bangganya pudar begitu saja, senyumnya berganti dengan tarikan nafas yang sulit diartikan.
"Apa yang lo takutin Lis? Lo itu cewek hebat. Lo hebat dalam hal menunggu, berjuang, bertahan dan memaafkan. Setia lo juga gak bisa diremehkan. Gak semua orang bisa seperti lo, lo juga gak pernah nangis, lo selalu nutupin semua kepedihan dan kelemahan lo dengan topeng 'Ceria' seolah-olah lo orang yang gak punya beban hidup" ucap Aldira kesal sembari memegangi kedua bahuku.
"Lo tau Dir? Gara-gara dia selama setahun gue jadi Monster. Dingin, jutek, penuh aura membunuh dan balas dendam. Semua itu gue tutupi dengan wajah malaikat gue. Gue takut jadi Monster lagi Dir, gue gak mau.. hiks.. hiks.. bantu gue Dir, tolong" kataku dengan bulir-bulir kristal bening menggenang di pelupuk mata. Aldira pun tak sanggup melihat diriku yang tampak kacau, ia pun menarik diriku kedalam pelukannya.
Kata Ibu, tetaplah menjadi orang baik. Meskipun orang-orang menyalahgunakan kebaikanmu.
"Kita pulang ya?" Kata Aldira yang memelukku kemudian segera melepaskan pelukannya. Akupun hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Kamipun berjalan kembali di sepanjang koridor menuju lobi rumah sakit sebelum akhirnya berada di lapangan parkir rumah sakit. Setelah kami menemukan mobil Aldira, Aldira pun masuk kedalam mobilnya lebih dulu untuk menghidupkan mesin mobilnya. Belum sempat aku membuka gagang pintu mobil, ponselku berdenting pertanda sebuah pesan masuk. Dahi ku mengkerut dalam membaca isi pesan tersebut. Entah mengapa senyumku seketika terbit.
Ttiiiinnn...
Suara klakson mobil mengembalikan kesadaranku. Akupun memutar bola mata keatas. Ck. Aldira memang orang yang paling payah dalam hal menunggu. Harus ku akui dalam segala hal dia memang cepat tapi untuk hal menunggu? Jangan harap dia mau tersenyum menunggumu.
Dear diary..
Let me tell you about my story
Aku memejamkan mata sembari bersenandung kecil meresapi setiap kata-kata dari lagu yang sedang terputar dalam sebuah siaran radio. Aldira masih fokus dengan jalan raya yang padat merayap menjelang malam. Senja telah tenggelam sejak beberapa jam yang lalu.
I know it's rather sad
But that's the way i feel
Ah. Seandainya kisah hidupku bisa terangkum dalam sebuah buku, seandainya setiap kali aku Jatuh hingga Patah aku bisa mengingatnya untuk terus belajar, seandainya setiap kesalahan yang terjadi dalam hidupku dari A sampai Z jelas tertulis, mungkin aku bisa memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki, seandainya kisah hidupku terangkum dalam sebuah buku aku akan sangat bersyukur mempunyai kesempatan yang luar biasa untuk melihat betapa hebatnya diriku melewati semua proses bertumbuh dalam hal apapun. Melihat jauh lebih jelas orang-orang yang menggenggam tanganku dan orang-orang yang menyesahku hingga aku merasakan bagaimana sulitnya bangkit.
Dear Diary..
I don't know if this is right or not
****
24 Desember. 21.00 wib
"Siap ya? 1 2 3" suara komando pembina organisasi muda gereja.
Ckrek..
"Merry Christmas and Happy new year" teriak kami para anggota serta pengurus organisasi Digereja ku. Dalam sesi foto bersama. Dengan dress code berwarna senada merah dan hijau tak lupa aksesoris natal yang melekat pada tubuh kami.
Boleh aku menyimpulkan? Kemarin adalah masa lalu dimana aku dipaksa untuk terus berjuang, besok adalah masa depan dimana aku berharap perjuanganku takkan menemukan kesia-siaan. Tapi hari ini adalah anugerah bagiku dimana aku merasa setiap prosesnya aku dituntut untuk terus belajar memperbaiki diri. Itulah mengapa disebut sekarang.
Satu hari kemarin sudah cukup bagiku untuk belajar kata sederhana yaitu 'Maaf' kata yang tak jarang diremehkan orang. Kata itu memang mudah diucapkan tapi nyatanya sangat sulit direalisasikan. Banyak orang yang melakukan kesalahan kemudian meminta maaf lalu mengulangi kesalahan yang sama. Itu sebabnya kata sederhana itu sering diremehkan.
Setelah kejadian kemarin ada perasaan lega yang menguap begitu saja dalam hatiku. Percaya atau tidak itu adalah efek dari kata 'Maaf' seperti air yang memadamkan api, seperti awan tebal yang menutupi sinar mentari yang menyengat, seperti angin yang berhembus membawa percikan air hujan yang menerpa wajahmu. Damai.
__ADS_1
"Eh, Lis? Bisa bantu bawain hiasan pohon natal ke mobil gue gak? Maaf ya ngerepotin" ucap seseorang yang tengah membongkar pohon natal yang tingginya hanya setengah meter dari pohon natal biasanya yang besar.
"Oh, iya kak. Bisa kok.. mobilnya yang mana ya?" Tanyaku kebingungan melihat jejeran kendaraan roda empat itu.
"Pajero hitam Lis, plat nomor B198xxx disamping Avanza veloz silver. Nih kuncinya" katanya lagi sembari melemparkan kunci mobilnya. Dia adalah ketua organisasi digereja. Aku lupa namanya tapi dia tau namaku, memalukan.
Akupun menangkap kunci mobilnya itu dengan gesit kemudian bergegas melangkah menuju parkiran dengan menenteng dua kantong paper bag jumbo yang berisikan hiasan pohon natal. Kalo dilihat dari jauh itu tidak sebanding dengan diriku yang bertubuh mungil.
Tiba-tiba kurasakan bebanku berkurang dikarenakan ada sebuah tangan kekar milik seseorang mengambil alih paper bag sebelah kiriku. Karena terkejut aku pun menoleh dan menemukan seseorang tengah tersenyum padaku sembari menaik turunkan kedua alisnya.
"Bisa tidak jangan membuat jantung gue berhenti berdetak?" Cibirku pada seseorang yang membalas ucapanku dengan tertawa.
"Selamat bertemu kembali" katanya sembari menarik kedua sudut bibirnya keatas.
Dengan gerakan tiba-tiba dia menarikku kedalam pelukannya. Beberapa detik kemudian kedua paper bag itu jatuh berdebum ke tanah yang berlapis semen keras. Beruntung halaman parkiran tersebut tidak begitu ramai.
Tanpa disadari ada sepasang mata yang memperhatikan kami dari kejauhan. Aku tidak tau pasti siapa dikarenakan kondisi malam hari sangat gelap dan lapangan parkiran ini hanya diterangi lampu-lampu tiang.
"Hahh. Jadi sia-sia aku mengejarnya?" dengan mata elangnya memperhatikan gadis yang dipeluk oleh seseorang itu. Percuma saja ia mengejar gadis itu sampai disini. Ada perasaan kecewa yang menjalar keseluruh tubuhnya, membuat ia mengatupkan rahangnya dengan keras dan membuang pandangannya ke segala arah. Merasa tidak di inginkan kehadirannya ia pun memutuskan untuk kembali kedalam gedung.
"Frans.. malu tau diliatin orang" kataku dengan raut wajah kesal sembari melepaskan pelukannya.
"Iyaaa maaf deh" jawabnya sembari mengacak rambutku pelan seraya tersenyum.
"Wah, coba lihat. Lo makin tinggi ya sekarang?" Kataku seraya mengedarkan pandangan dari bawah ke atas.
"Atau lo yang tambah pendek kak?" Katanya diselingi tawa yang menggelegar. Akupun kesal dengan kata-katanya, refleks ku injak saja sepatu yang membungkus salah satu kakinya dan berjalan meninggalkannya menuju mobil pajero hitam. Ia pun merintih dan beberapa detik kemudian melangkahkan kakinya dengan lebar untuk menyamakan langkahku.
Setelah selesai menaruh kedua paper bag itu, kamipun berjalan kembali kedalam gedung untuk mengembalikan kunci mobil kepada sang empunya. Tidak ada yang membuka percakapan, kami berjalan dalam diam. Diam dengan pikiran kami masing-masing.
"Hmm.. Cil? Ini kan masih malam natal. Gue boleh minta sesuatu dari lo?" Ucapannya yang tiba-tiba membuatku kesal sekaligus terkejut.
"Bisa gak gue punya kesempatan kedua menjadi orang yang ada dihati lo?" Katanya menghentikan langkah sembari menatapku intens. Kata-katanya berhasil menohokku seperti sesuatu yang menyumbat pernapasanku. Akupun hanya bergeming ditempat.
Kedua kalinya?
Aku pikir kita tidak akan pernah bisa mencintai seseorang secara utuh dalam kesempatan kedua. Mengulangi lembaran yang sama? Seperti mencoba mengatur ulang waktu misalnya. Aku rasa tidak bisa. Kita tidak akan pernah benar-benar bisa berjalan mundur ketika hati sudah sangat jauh melangkah maju, setiap kita selalu berusaha untuk berjalan maju menemukan hal baru, kisah baru dan tempat singgah yang baru. Kembali pada hati yang sempat singgah bagiku seperti membaca sebuah buku yang sudah tau akan seperti apa akhirnya.
"Jadi jawabannya apa Cil?" Katanya masih menunggu jawaban dariku. Akupun menghela nafas berat, ini sebuah pilihan yang sangat berat.
"Gue gak bisa. Kenapa sih lo datang di waktu yang gak tepat? Gue masih sama Agas, gue pikir lo juga tau itu" kataku dengan suara parau. Kemudian hening, tak ada satupun yang berbicara kembali sampai kedalam gedung. Ku putuskan untuk segera pulang dan menenangkan pikiranku yang kalut.
Ini salah.. pertemuan kita adalah sebuah kesalahan.
Sesampainya dirumah aku berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih dan membawanya menuju kamarku. Ku lirik jam dinding kamarku, tepat pukul sebelas malam. Aku bergegas menuju kamar mandi untuk melakukan ritual sebelum tidur seperti membersihkan dan mencuci wajah serta menggosok gigi. Pakaianku pun telah berganti menjadi kaos oblong tipis serta celana pendek.
Malam ini aku ingin menuliskan sesuatu yang menyentil hatiku. Ku dudukan diriku pada kursi portabelku dan menghidupkan laptopku. Ku teguk setengah gelas air putih yang berada disamping laptopku.
Kamu tak pernah tahu, di waktu yang mana kamu sedang ku ingat. Kamu tak pernah tahu bahwa di hatiku kamu tak pernah ku lupakan. Tapi aku paham ini hanyalah sebuah ingatan yang pulang, mereka selalu menyebutnya sebagai 'Rindu'.
Akan ada satu hari dimana kita merindukan seseorang yang pernah ada dalam hidup kita. Banyak alasan yang akan datang saat itu dan kita tidak bisa menolaknya. Rindu bukanlah lawan untuk dijatuhkan, rindu adalah sebuah hadiah dari dia yang sudah terlewatkan.
Ku hentikan jariku untuk meneguk habis air yang ada di dalam gelas. Kemudian kejadian beberapa jam yang lalu terputar kembali dalam ingatanku. Semenjak kepulangannya ke Indonesia, dia berubah menjadi sosok yang menyebalkan tapi rasa nyaman yang ditimbulkannya masih sama. Ucapannya masih segar dalam benakku seperti sesuatu yang berdengung dalam kepalaku.
Kamu tahu tidak? Menarik kembali perasaan itu lebih terasa menyulitkan. Perasaan yang sudah terlanjur jatuh itu begitu sulit untuk ditarik kembali. Lebih sulit daripada ketika aku memilih menjatuhkannya. Maka memberikanmu kesempatan kembali adalah hal yang tidak aku harapkan.
Ditempat lain..
"Lo kenapa sih? Dari tadi gue perhatikan diam terus. Gak seperti biasanya" tanya seseorang pada laki-laki yang fokus memperhatikan jalan yang hanya dihiasi lampu jalan.
__ADS_1
"Enggak kok gak papa. Mikirin kerjaan. Seminggu lagi gue berlayar ke italia selama setahun kak. Tapi sebelum itu ada urusan yang harus gue selesaikan" jawab laki-laki yang diam-diam Calista cintai tapi sampai sekarang mereka sama-sama tidak menyadari bahwa mereka sama-sama saling menunggu.
"Gue tahu sekarang apa masalahnya" ucap wanita yang tiga tahun lebih tua darinya itu. Mario pun melirik sekilas pada kakak tersayangnya kemudian kembali lagi fokus pada jalanan.
"Jangan terburu-buru mengambil keputusan. Kalau dirasa susah untuk didekati lebih baik jangan sekarang. Mungkin belum waktunya lo dan dia bersama" ucapan kakak perempuannya itu seperti lonceng yang dibunyikan dengan keras pada sebuah lorong yang sepi. Tapi ada benarnya juga ucapan kakaknya itu.
"Dia masih berstatus pacar orang tapi banyak yang masih nekat buat lebih dekat sama dia, gue ragu apakah gue juga punya kesempatan yang sama seperti mereka?" Kegelisahan Mario pun akhirnya menguap. Dia tidak pernah benar-benar bisa merahasiakan apapun dari kakaknya.
"Jangan takut lo akan kehilangan dia atau kesempatan untuk memiliki dirinya. Jangan marah pada orang-orang yang berusaha mencurinya dari orang yang saat ini sedang menjadi pilihannya. Mereka semua akan kalah kalau memang lo seseorang yang akan menjadi tua bersamanya" kata-kata wanita manis itu mampu menenangkan sekaligus mengembalikan rasa percaya dirinya kembali.
"Mungkin benar. Bukan waktunya gue masuk dalam hidupnya sekarang" ucap mario dengan sudut-sudut bibir yang ditarik ke atas.
****
Mentari pun lamban untuk beranjak dari naungannya. Pagi ini aku ingin sekali menghirup udara segar sejenak sebelum bersiap pergi ke kampus. Dengan wajah yang belum sepenuhnya terbangun aku pun bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci wajahku dan menggosok gigi sebelum turun untuk ikut sarapan bersama. Hal yang amat sangat jarang terjadi.
Di meja makan ini lengkap. Ada ayah dengan koran paginya tak lupa kacamata yang bertengger pada hidungnya. Ibuku yang sedang merapikan dandanannya setelah selesai sarapan dan kirana yang sibuk belajar untuk masuk perguruan tinggi negeri, sembari menunggu jam untuk berangkat sekolah. Beberapa minggu yang lalu ia sudah melewatkan hal yang ditakuti anak sekolah yaitu UN.
"Pagi semua" sapaku pada orang-orang yang sibuk di meja makan ini. Dan mereka pun berhenti sejenak untuk menyapaku kembali. Akupun hanya meminum segelas susu hangat karena belum begitu ingin sarapan.
"Kamu masih berhubungan sama cowok itu Lis?" Tanya ibuku dengan raut wajah serius dan semua orang di meja makan ini langsung menatapku.
"Ck. Dia pacar aku bu" kataku sembari memutar bola mata, malas. Pembicaraan yang akhir-akhir ini selalu dibahas oleh aku dan ibuku.
"Kenapa sih kamu masih berhubungan sama dia? Kalian sama-sama tau kan, bahwa keyakinan kalian berbeda?" Oceh ibuku to the point dengan nada intimidasi. Ayahku yang berada di pihak netral tidak ingin terlibat kemudian pamit untuk segera berangkat ke kantor dan Kirana juga ingin pergi kerumah temannya untuk berangkat bersama. Tinggallah kami berdua yang sama-sama keras.
"Waktu ku masih lama bu, bukan hanya saat ini aja. Masa depanku masih panjang juga. Aku gak mau salah langkah lagi untuk kedepannya jadi aku belum bisa untuk saat ini" kataku tetap pada pendirianku.
"Justru kamu yang menyia-nyiakan waktu kamu. Ibu berharap kamu gak akan pernah mengecewakan Ibu lagi. Nantinya." Ucap Ibuku kemudian berlalu untuk pergi ke kantor. Dan sekarang tinggallah aku sendiri merenungi semuanya.
Aku hanyalah seseorang yang berusaha meyakinkan diri sendiri, bahwa untuk menemukan hati yang tepat tak harus terluka banyak memilih terjatuh pada hati yang salah.
Apakah aku salah?
"Hallo.. Dir? Hari ini pake mobil lo dulu ya? Gue lagi banyak pikiran takut gak fokus. Bukannya sampai kampus, nanti malah sampai rumah sakit" ucapku pada seseorang disebrang sana melalui telpon rumah. Setelah Aldira menyetujui, kamipun memutuskan sambungan telpon. Akupun kembali ke meja makan untuk sarapan sebelum bersiap menuju kampus.
Selang beberapa jam Aldira tiba dirumahku. Dan aku sudah rapi dan siap untuk berangkat, akhirnya mobil Aldira melesat meninggalkan pekarangan rumahku.
"Hari ini Jihan dan Ivanna pindah kosan. Hmm pulang kuliah ini kita bantuin mereka ya?" Kata Aldira yang sesekali melirikku.
"Yaudah iya, Dir" jawabku masih melihat keluar jendela dengan tatapan kosong.
"Ada yang mau lo omongin?" Pertanyaan Aldira membuatku ingin sekali menumpahkan kegelisahanku.
"Kenapa ya masalah gue datang bertubi-tubi?" Jawabku lebih pada pertanyaan untuk diri sendiri.
"Namanya juga hidup. Lo tau kan istilah 'Life is Never flat' ? Hidup tuh akan lebih seru kalau ada tantangannya Lis" jawab Aldira sembari tersenyum.
"Kenapa sih pacaran beda keyakinan itu selalu dipermasalahkan banyak orang? Bukankah semua keyakinan itu baik? Gue rasa semua keyakinan mengajarkan saling mengasihi" curhatku akhirnya pada Aldira.
"Lis? Memang sulit di jawab untuk hal yang satu ini. Mungkin sebenarnya kalian sudah menemukan jawabannya, hanya saja kalian tidak mau ambil pusing. Gue kasih tau ya Lis, yang seiman aja belum tentu se ia-se kata, se hati-se jiwa loh." Ucap Aldira berusaha menenangkanku.
"Entahlah Dir, gue hanya.. Hmmm Frans udah balik lagi ke Indonesia, terus dia minta gue kasih kesempatan kedua. Pagi tadi gue debat lagi sama Ibu gue, dia mau gue tinggalin Agas. Gue gak bisa Dir.. semua membuat kepala gue rasanya mau pecah." Kataku sembari mengusap wajah gusar.
"Lis, mungkin orangtua lo ada benarnya. Ingat Lis gak semua orangtua itu salah. Mereka pasti ingin anak-anaknya bahagia" kata-kata Aldira tambah membuatku dilema.
"Udah hampir 7 tahun Dir dan pisah tanpa sebab bukan hal yang dewasa" kataku seraya menghembuskan napas berat.
Happy Reading guys 😄
__ADS_1