THE SOUND OF LOVE

THE SOUND OF LOVE
JETLAG


__ADS_3

...Tak ada satu orang pun ...


...yang bisa berbohong ...


...pada dirinya sendiri, ...


...tentang apa yang dia rasakan. ...


...Mereka hanya mampu ...


...berpura-pura Baik-baik saja, ...


...Padahal hatinya seringkali ...


...Kehilangan arah. ...


...- Anastasya - ...


...*** ...


00.00 PM. Netherland.


"Namanya Caramel Jasmine. Gue selalu manggil dia Cacha. Dia cewek yang ceria, selalu semangat, taat ibadah. Bagi gue dia segalanya. Sempurna"


Ucapan Frans masih terngiang dalam benakku. Aaaiiissshhh. Gue bener-bener ga bisa tidur. Ku biarkan mataku tetap terjaga kemudian mengambil laptopku dan mulai menuliskan perihal tentang dirinya. Orang yang berbeda yang berkeliaran lagi dalam hidupku.


Semacam Rindu..


Ada cinta yang sengaja ku diamkan. Kutanam harapan sendiri, untuk hatinya yang begitu ku kagumi. Ku biarkan rindu ini menumpuk menjadi bukit tanpa peduli bila akhirnya menjadi kenyataan pahit. Aku akan tetap memilih diam, mencintai dengan sederhana, meminta dirinya cukup melalui doa kepada Tuhan.


Kurasakan kantuk mulai menyerangku. Ku biarkan semuanya menguap di udara. Perihal dirinya yang membuatku sinting. Malam ini ku biarkan bayangannya bergentayangan dalam kamarku. Sosok yang beberapa hari ini membuatku kembali pada masa lalu.


Tuhan .. Bila tidak dalam dunia nyata. Semoga dalam mimpi jarak tak lagi ada.


Ditempat lain..


Dirinya juga menuliskan sesuatu pada situs webnya. Tanpa sadar dirinya seperti menemukan sedikit warna kembali saat cewek itu hadir kembali dalam hidupnya. Mungkin dirinya sudah gila, baru beberapa hari meraung karena sakit kini tersengat karena sebuah senyuman yang mampu menghangatkannya.


Sejujurnya ia ingin menghindari cewek itu. Tapi dirinya sadar semakin menghindar semakin ia menyakiti dirinya sendiri. Dengan secangkir kopi disamping laptop ia menuliskan perihal tentang dirinya.


Hadirnya seperti pelangi sehabis hujan


Ada rindu yang sengaja tak ia katakan. Ia simpan rasa itu sendiri, untuk senyumannya yang begitu menenangkan. Dia pasrahkan semuanya pada takdir, cowok itu telah bersiap untuk kenyataan yang pahit.


Minggu pagi di bulan September..


"Jadi.. lo bakal balik lagi ke Indonesia kak? Secepat ini?" Suara Frans memecah keheningan.


Sebelum aku menjawab pertanyaannya. Kami duduk direrumputan dibawah pohon mapel yang sejuk di sebuah taman kota. Angin sepoi berhembus memainkan rambut-rambutku yang diikat ponytail.


"Sorry ya Frans, gue belum kasih tau lo kalau besok gue bakal balik lagi ke Indonesia" jawabku sembari mengeluarkan buku 'Romeo and Juliet' karya william shakespeare.


Kemudian Frans berbaring direrumputan dengan kedua tangannya yang menjadi bantal. Dan pandangannya yang menerawang ke segumpalan awan yang berubah-ubah bentuk dilangit.


"Jadi gue bakal kehilangan lagi?" Ucapnya lirih setengah berbisik.


"Iyaaa Frans?" Tanyaku yang sedang sibuk membaca tapi masih bisa mendengar ucapannya.


"Lupakan. Kenapa suka kisah Romeo dan Juliet? Itu kisah lama kan? Kira-kira Abad 17" Aku tau pertanyaannya yang satu ini mengalihkan ucapan sebelumnya.

__ADS_1


"Suka sama kisah cinta mereka. Ya, emang sih ini kisah sekitar abad 17'an tapi kisah mereka ga pernah berubah. Cinta mereka abadi, walaupun rumit." Kataku sembari menoleh kearahnya yang memejamkan kedua matanya menikmati hembusan angin yang sejuk.


"Rasanya gue pengen kayak kisah mereka" katanya masih sambil terpejam.


"Bagi Juliet kematian itu indah. Kurang lebih inti dari kisah mereka seperti itu" tambahnya lagi. Masih terpejam.


BUUUK


Ku tutup keras buku tebal itu sembari menatapnya kesal. Kemudian dia merubah posisinya menjadi duduk diam dengan kedua kaki yang ditekuk.


"Jadi lo ngajak gue keluar cuma buat ngomongin itu? Frans.. semua orang di dunia ini juga bakal mati. Ninggalin orang-orang yang mereka sayang bukan karena keinginan mereka sendiri" kataku penuh emosi yang tertahan.


"Sorry kak, gue ga bisa. Semakin gue menghindar semakin gue sakit" racaunya teringat kematian Caramel.


"Gue mau pulang. Lo mau ikut atau tetep disini?" Kataku yang meluapkan emosiku. Seketika dia bangkit berdiri dan berjalan dibelakangku.


Satu hal yang harus lo tau Frans disaat lo memiliki seseorang yang lo sayang banget lo juga harus mempersiapkan hati lo untuk sebuah kehilangan. Suatu hari nanti.


"Pesawat gue jam 8 pagi besok. Gue harap lo dateng, jadi gue bakal tau lo baik-baik aja atau enggak" kataku yang tiba-tiba menghentikan langkah menghadap ke belakang tepat di hadapannya yang hanya berjarak 5 centi.


****


7.30 AM. Schiphol (Bandara Internasional Belanda. Terletak di selatan Amsterdam).


Ku lirik jam tangan yang melingkar cantik pada pergelangan tanganku. Resah, harap-harap cemas sembari menggigit ujung kuku ku. Tinggal beberapa menit lagi aku akan kembali ke Indonesia. Tentunya aku sudah mengabari Agas serta sahabat-sahabat dan teman-temanku disana dan mereka begitu histeris, tau jika aku akan kembali ke Indonesia. Tapi entah mengapa rasanya sulit meninggalkan negara ini. Kemudian mataku berpendar ke segala penjuru, hatiku mengharapkan sosok itu ada. Disini.


Jangan terlalu berharap Lis..


Batinku kelu. Ku seret koperku menuju pintu terminal bandara mengikuti orangtuaku, Kirana juga nenek dan Albert. Tiba-tiba sebuah tangan menggenggam pergelangan tanganku.


"Gue dateng. Gue disini" katanya dengan nafas yang memburu. Refleks langsung ku peluk dirinya untuk menyalurkan rasa rinduku.


" Sorry. Gu-" sembari menjauh dari tubuhnya, belum sempat aku menjawab dia pun memelukku kembali. Begitu erat, seakan akan aku pergi untuk selamanya.


"Sampai bertemu kembali" ucapnya tulus kemudian melepaskan pelukannya. Ku lihat sorot mata sendu itu lagi seperti waktu itu. Di pemakaman gadis yang amat dia cintai. Aku tau bahwa dirinya tidak baik-baik saja. Mungkin belum.


Aku ingin selalu belajar mengikhlaskan tanpa harus melupakan. Sebab, di dalam hati seseorang akan selalu ada masa lalu yang belum terikhlaskan.


Sampai bertemu kembali, Rindu..


****


Dering ponsel mengalihkan ku yang sedang menyisir rambut di meja riasku. Aku tiba di Jakarta tiga hari yang lalu di mana satu harinya aku mengalami 'Jetlag' tidur seharian seperti orang koma. Astagaaaaaaa. Tanpa pikir panjang ku angkat dering telpon yang ketiga.


"Hai.. Gas?" Sapaku riang. Pada seseorang disebrang sana yang seminggu lebih tidak bertemu.


"...."


"Oiya ya? Yaampun Gas. Yaudah aku siap-siap dulu ya? Jemput tapi, titik." Kataku sembari menepuk jidat dan sedikit panik. Pasalnya hari ini aku ada janji dengannya.


"..."


"Iyaaa.. Yaaaampun" kataku sembari memutar bola mataku jenuh. Agas cerewet sekali kalo soal waktu. Tidak bisa bernegosiasi dengannya akan hal itu. Kemudian sambungan pun sama-sama terputus.


Akupun buru-buru menggeledah pakaianku untuk pergi dengannya hari ini. Beruntung aku sudah mandi beberapa menit yang lalu. Setelah dirasa menemukan pakaian yang cocok dan nyaman aku pun segera mengganti pakaianku dan mematut diriku dicermin. Ku tatap diriku dengan rona merah di pipi.


Manis..


Gumamku akhirnya. Berjalan menyambar tas ku yang ada di meja belajar tak lupa ponselku yang hampir tertinggal karena terburu-buru. Lalu berlari keluar kamar dan menuruni tangga. Akupun terkejut melihat sosok yang ada didepanku.

__ADS_1


"Agas?!" Kataku sembari mengelus dadaku yang hampir berhenti berdetak.


"Lebih 10 menit. Nyonya Cokrodinoto. Anda harus mendapatkan hukuman" katanya yang sembari tersenyum smirk membuatku bergidik ngeri.


Kemudian Agas berbalik menuju pintu. Seperti biasa dia selalu berjalan duluan. Menyebalkan bukan si pangeran es itu! Bagaimana bisa aku dibuatnya terbiasa yang mengakibatkan rasa nyaman. Akhirnya kami pun duduk bersama dalam satu mobil.


"Agas...?" Kataku yang melihat Agas sedang menstater mesin mobilnya. Kemudian Agas pun menoleh


"Iya...?" Jawabnya kemudian dengan raut wajah datar. Sedatar papan triplek.


"Kamu sehat kan?" Kataku lagi yang lebih memberikan pertanyaan ketimbang jawaban. Agas pun hanya diam tak memberikan jawaban sampai mobilnya bergerak keluar dari kompleks perumahanku.


"Kenapa?" Akhirnya menjawab pertanyaanku dengan sesekali melirik ke arahku.


"Kamu makin hari makin manis Gas. Aku takut kamu Diabetes atau malah aku" jawabku polos yang seketika membuat Agas tersenyum dan mengacak rambutku sayang.


"Agas!!!" Kataku sebal. Yang mendapatkan dirinya tertawa melihat tingkahku.


"Kamu cantik kalo lagi marah Lis" ucapnya masih tertawa yang membuatku memutar bola mataku keatas.


Tanpa disadari kami memasuki kompleks perumahan Agas. Aku pun menoleh ke arahnya mengernyitkan dahi ku. Agas yang tau maksudku langsung menjawab..


"Ingat, hukuman" katanya sembari menaik turunkan kedua alisnya. Aku pun hanya berdecak kesal akan kelakuannya.


Harum masakan menyeruak pada ruangan yang bernuansa serba putih ini. Asap dari makanan seolah menggoda menarik siapapun untuk menikmatinya.


"Masak apa kamu? Harum banget" kata laki-laki yang hanya mengenakan celana jins belel selutut tanpa mengenakan sehelai atasan. Berjalan menuju diriku yang tengah membuatkannya makanan.


"Udah makan aja deh ga usah bawel. Pake baju sana Gas! Nanti masuk angin" kataku yang menyajikan masakan untuk Agas.


"Nanti aja ah aku masih keringetan karena beberapa menit yang lalu kita per-" belum sempat Agas menyelesaikan kata-katanya aku pun mendaratkan sendok ke dahinya.


"Aaauuuwww. Sakit List" kata Agas sembari mengusap dahinya.


"Rasain. Makanya jadi cowok jangan mesum" kataku yang tertawa melihatnya kesal. Seketika tawaku terhenti saat Agas memasukkan makanan yang ku buat tadi kedalam mulutku. Aku pun tersedak dan buru-buru meneguk air minum punya Agas hingga tandas.


"Rasain. Makanya jadi cewek kalau ketawa jangan berlebihan" katanya yang ku balas dengan pelototan.


Setelah perang di dapur berakhir aku dan Agas langsung bersiap-siap untuk pergi keluar. Rencananya kami akan bermain es skating di pusat perbelanjaan lebih tepatnya mall taman Anggrek. Walaupun ini kali pertama kami bermain es skating.


Di tengah perjalanan aku mendapatkan pesan dari nomor yang tidak aku kenal. Aku pun mengerutkan dahi ku berpikir keras. Agas yang sadar pada mimik wajahku pun bertanya dan aku hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.


+62877546900**


Hy Calista. Apa kabar?


Satu hari ini, ada serentetan kejadian yang tidak aku harapkan sama sekali. Nomor misterius yang setiap ku tanya malah mengalihkan topik pembicaraan. Seolah-olah dia adalah seseorang yang pernah ku jumpai beberapa hari yang lalu dan malam ini Anggia bertengkar dengan Axel yang menyeretku juga dalam masalah mereka. Tidak. Lebih tepatnya masalah mereka itu karena ulah Axel yang selalu menarik ulur hati Anggia. Kau tau? Rasanya aku ingin menggeram marah saat Anggia menceritakan betapa tidak pastinya Axel pada pilihan yang dia putuskan sebelumnya.


Kepalaku rasanya akan pecah dan kupingku rasanya seperti berdengung. Mungkin, sebentar lagi aku akan kehilangan keseimbangan dan kesadaranku. Kata-kata Anggia masih terngiang dalam benakku. Menembus perasaanku seperti tinta spidol pada selembar kertas yang membuatku merasa bersalah padanya. Aku tau aku yang mengenalkannya pada Axel tapi hei, aku hanya membantu dan aku juga tidak bisa membaca seseorang itu tulus atau tidak. Aku bukan peramal.


"Temen lo itu jahat List. Lo tau? Sudah sebulan ini gue udah jarang contact sama dia, gue mikir salah gue apa sama dia sampe di chat aja jarang di bales, pernah gue telpon tapi ga diangkat. Gue paham kalo dia sibuk karena sesuatu tapi bisa kan kasih penjelasan ke gue? Gue udah berusaha terbuka tapi ternyata dia masih sulit terbuka dan percaya sama gue. Dan udah hampir seminggu dia menghilang. Lo temen gue kan? Gue berharap lo ga pernah ngecewain gue lagi"


Ku scrolling kontak yang ada di ponselku dan menekan tombol call disana. Sambungannya berada di luar jangkauan itu tandanya seseorang tengah mematikan ponselnya. Aku pun tak ingin menyerah. Ku coba berulang kali untuk menelpon tapi hasilnya pun sama.


Apa gue coba aja ya datengin rumahnya?


Batinku frustasi. Sepertinya itu keputusan yang bijak, aku tidak mau karena ego ku, aku kehilangan seorang sahabat untuk yang kedua kalinya. Lagi-lagi aku harus menekan kuat ego ku untuk meminta maaf meskipun ini mutlak bukan kesalahan ku. Tapi siapa yang peduli akan hal itu disaat seseorang sedang dalam keadaan kecewa. Perlu seseorang yang punya pikiran jernih dan mau mengalah.


Akhirnya ku putuskan besok setelah pulang kuliah untuk berkunjung kerumahnya. Aku juga ingin melihat keadaannya, berharap tidak seperti kebanyakan orang yang kacau karena patah hati. Menguapku adalah respon dari tubuhku yang memberitahu bahwa aku kelelahan. Lebih tepatnya pikiranku. Ku biarkan kantuk memeluk hingga fajar menyapa.

__ADS_1


Ada ribuan keping kisah patah hati di luar sana tapi tak banyak dari kisah mereka menemukan kemasan yang manis di akhirnya. Aku berharap kamu juga punya kemasan yang manis dalam kepingan kisah patah hatimu.


Happy Reading guys 😋


__ADS_2