THE SOUND OF LOVE

THE SOUND OF LOVE
Pada Akhirnya


__ADS_3

...I'm going to make everything ...


...Around me beautiful-...


...That will be my life . ...


...- Elsie the wolfe - ...


...*** ...


1 Bulan kemudian..


Derap langkah mantap terdengar di sepanjang lorong bangunan yang sepi. Sesaat ia berhenti pada sebuah pintu kaca untuk melihat penampilannya kali ini. Kemeja putih serta celana bahan berwarna hitam melekat pas di tubuh atletisnya, tak lupa dasi berwarna biru dongkernya menjadi pemanis penampilannya.


Rambut yang biasanya tidak ia peduli kan bentuknya telah di tata sedemikian rupa agar tetap rapi dengan menambahkan sedikit jel pada rambutnya. Kemudian ia mengambil kacamata baca yang terselip pada saku kemejanya dan memakainya sebelum kembali melangkah.


Agas menarik kedua sudut bibirnya sebelum membuka pintu sebuah ruangan. Dimana ia akan dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan mempengaruhi masa depannya. Di hembuskannnya napas perlahan untuk menormalkan detak jantungnya. Boleh ia jujur? Rasanya seperti menaiki paralayang dari atas pegunungan. Sebut saja dirinya berlebihan.


Cklek


"Selamat pagi semuanya.. "


Di tempat lain..


"Wah ibu tekanan darahnya tinggi loh, kalau boleh tau ibu suka makan makanan seperti apa sih? Manis kah? Gurih, asin atau original bu? Alias hambar?"


"Aduh neng, ibu mah gak suka manis takut kena diabetes, kalau gurih suka asin juga suka" ku perhatikan dengan seksama wanita paruh baya yang sedang berkunjung ke puskesmas ini.


"Hmmm ibu saya juga sama seperti anda bu, kadang ibu saya suka memarahi saya jika saya nasehati" kataku sembari mengajak bercanda dirinya. Wanita tersebut juga ikut tertawa denganku.


Hari ini aku ada jadwal praktek ke puskesmas dan awal bulan aku melaksanakan PBL (Praktek Belajar Langsung) bersama beberapa teman sekelas. Tidak, bukan. Bukan Aldira dan teman-temanku yang lainnya.


"Kalau boleh tau umur ibu berapa ya?"


"52 tahun neng dan saya baru punya cucu dari anak sulung saya" sesi curhat pun kadang selalu terselip membuatku bosan. Kira-kira Agas berhasil gak ya sidang proposalnya?


"Jadi neng udah punya pacar belum? Mau jadi menantu ibu? Neng?"


Kurasakan tepukan lembut pada pipiku "Ah.. Iya bu? Ibu bicara apa ya tadi?" Kataku sembari tersenyum memperlihatkan deretan gigiku.


"Maaf ya bu?"


"Iya gapapa neng, untung kamu mungil, imut seperti anak sekolah jadi ibu tidak bisa marah sama kamu" aku pun hanya tersenyum menanggapinya.


****


"Hai sayang? Gimana sidangnya di acc gak?" Dengan rasa penasaran yang sejak tadi menggerogoti. Kami sedang menunggu senja yang sebentar lagi meninggi pada atap gedung bangunan kosong yang dulunya adalah sebuah perusahaan pembuatan sepatu kets.


Ku perhatikan raut wajah Agas yang datar membuatku ingin sekali menarik sudut-sudut bibirnya keatas. Kemudian sudut-sudut bibirnya melengkung ke bawah.


"Agas, sayang? Gapapa ya mas-"


"Proposal aku udah di acc-" aku pun refleks memeluk dirinya saking senangnya mendengar kabar darinya.


"Selamat ya sayang?" Kataku sembari menciumi kedua pipi dan jidatnya dengan wajah bahagia dan bangga. Kemudian Agas pun memelukku erat.


"Akhirnya tinggal sidang skripsi aja" Mendengar ucapannya membuat lidahku kelu. Aku pun membeku ditempat, seperti kedua kakiku terpaku. Tiba-tiba mata ku panas dan bulir-bulir kristal bening hangat mengalir tanpa bisa dicegah.


"Lis? Sayang, kamu kenapa?" Terdengar nada khawatir darinya.


Hening pun tercipta diantara aku dan Agas dengan aku yang masih memeluk dirinya sambil terisak "Aku gak tau di waktu mana aku akan bertemu kamu lagi, atau di waktu mana rindu tak lagi kembali bertamu. Bagaimana bisa waktu mempercepat putarannya untuk me-"


"Sssshhh. Ingat, gak akan ada seorang pun yang siap bila dihadapkan dengan perpisahan, Lis. Aku sadar waktu gak akan pernah mau menunggu kita"


Kurasakan pelukannya semakin erat menginterupsi ucapanku membuatku makin terisak dan airmataku membasahi baju yang Agas kenakan. Tangannya bergerak membelai surai hitamku berusaha menyalurkan rasa nyaman padaku.


"Jangan merasa kehilangan Lis, kamu pernah bilang kalau benteng kita tinggi. Aku sadar kita tidak bisa merubah takdir, jangan takut untuk melangkah kembali setelah kepergian nanti" tanpa di duga setetes cairan bening lolos dari pelupuk matanya.


Hidup tidak selalu tentang mengejar apa yang ingin di miliki. Tapi hidup lebih kepada belajar mencintai apa yang kita miliki dan mengikhlaskan apa yang tidak ditakdirkan menjadi milik kita. Tidak ada seorang pun yang siap dengan perpisahan, perpisahan selalu saja menyisakan rongga kecil yang hilang di dalam hati.


Sepoi angin menerpa kami. Sebentar saja aku ingin seperti ini, jangan cepat berlalu seakan kami tidak lagi mempunyai waktu dan alasan untuk tetap tinggal. Saat Agas ingin menguraikan pelukannya aku mengeratkan kembali lenganku, menahannya.


"Gas? Sebentar aja" Agas pun menggangguk dan menciumi puncak kepalaku, sayang.


Yang ku takutkan dari pertemuan adalah mengikhlaskan sebuah perpisahan.


3 Bulan setelahnya..

__ADS_1


Memilikimu setiap hari adalah salah satu hal yang wajib aku syukuri. Pada doa-doa sederhana aku tak lupa menyebut namamu dengan berkali-kali kata semoga ku ucapkan di akhirnya. Seperti itulah bentuk rasa syukur ku pada sang pencipta yang telah menghadirkanmu di dunia ini. Dan selalu cukup bagiku ketidakpedulian orang lain yang hanya bisa berkomentar.


Bagaimana caranya mengucapkan perpisahan padamu? Sungguh aku takut bukan karena kehilangan kamu saja, tapi karena kehilangan semuanya yang ada padamu. Aku tak sanggup bila berjalan sendirian di keramaian tanpamu, atau mengantri tiket bioskop tanpamu, bahkan tertawa dalam kebersamaan dengan mereka tapi nyatanya kehampaan sedang menyelimutiku. Aku tidak bisa.


Berulang kali aku berpikir untuk menjauh. Tapi, kenangan selalu berhasil membuatku luluh. Aku selalu memikirkannya, karena bagiku pergi setelah begitu dalam mencintai bukanlah hal yang mudah untuk dilewati.


Setelah memesan taksi online aku pun bergegas bersiap-siap. Hari ini aku akan datang ke acara wisuda Agas Cokrodinoto. Aku sudah berjanji padanya bahwa aku akan datang dan berjanji pada diriku sendiri bahwa ini adalah terakhir kalinya aku bertemu dengannya sebagai seseorang yang telah lama tinggal dalam hidupnya.


Dengan senyum yang menyimpan kepedihan, ku paksakan senyum itu terukir di depan cermin. Ku lirik arloji yang melingkar cantik pada pergelangan tanganku. Sudah saatnya aku turun kebawah dan menunggu taksi ku datang. Aku sengaja tidak ingin mengendarai mobil sendiri karena aku takut melakukan hal bodoh saat semuanya telah usai.


Beberapa menit kemudian taksi itu datang. Aku pun buru-buru menaikinya "Pak cepat ya? Saya sudah terlambat" kemudian mobil pun bergerak keluar dari kompleks perumahanku.


"Pak, masih lama ya?" kataku saat melirik kembali arlojiku.


"Mba, kita baru jalan sekitar lima menit loh" kata supir taksi yang kira-kira seusia Ayahku. Ia pun tersenyum ramah padaku.


"Oh iya pak, maaf ya pak" kataku tersenyum miris.


"Gapapa mba, kebanyakan orang suka terburu-buru" katanya lagi yang hanya ku tanggapi dengan senyuman.


"Mba mau ke acara wisuda teman ya?" Ucapannya membuat refleks menoleh padanya saat dia melirikku dari kaca kecil.


"Eh, iya pak. Teman saya wisuda hari ini"


"Kebetulan anak saya juga sedang wisuda dan di gedung yang sedang kita tuju sekarang mba"


"Oh, anak bapak baru wisuda juga tahun ini?" Tanyaku yang diangguki oleh supir taksi online tersebut. Dan hening pun kembali mengisi.


Setelah beberapa menit akhirnya aku sampai di depan ballroom yang sedang berlangsungnya acara untuk para wisudawan. Lalu lalang orang-orang yang mengenakan jubah hitam serta toga sebagai ciri khas para wisudawan pun terlihat. Tak jarang beberapa dari mereka melihatku sambil tersenyum.


Ck. Ganjen banget sih orang-orang itu, senyum-senyum gak jelas.


Rutukku dalam hati, kesal karena menjadi bahan lirikan laki-laki yang tidak bisa menghargai perempuan. Aku pun menscrall kontak pada ponselku dan mencari nama seseorang untuk menelponnya.


"Kamu dimana sih? Aku ada di depan ballroom, aku di lirik orang-orang aku takut"


"..."


"Memangnya boleh masuk selain tamu undangan?"


"..."


Dan sambungan pun terputus. Dengan kesal aku melangkahkan kakiku untuk masuk kedalam ballroom. Beruntung di dalam masih terbagi beberapa ruangan. Aku pun menunggu Agas di lantai dasar ini. Kata Agas acara resminya sudah selesai jadi ia bisa keluar dalam ruangan tersebut.


"Calista!" Seru seseorang dari lantai satu pada pembatas tangga.


Akupun berjalan menghampiri tangga tersebut, sesaat aku di buat takjub yang kesekian kalinya pada dekorasi ballroom ini. Rasanya seperti didalam istana negeri dongeng. Dan terlihat sosok di ujung tangga teratas adalah sang pangeran yang baru saja melangsungkan penobatannya.


"Agaaas" kataku yang berlari ke arahnya tidak mempedulikan rok yang sedang ku kenakan.


"Jangan lari, nanti rok kamu robek. Mau di liatin orang?" Omelnya padaku dan langsung menghadiahi pelukan padanya.


"Kan ada kamu yang jagain aku, jadi untuk apa aku takut" Bisikku lembut.


"Agas? Itu siapa? Teman kamu nak?" Sebuah suara lembut menginterupsi posisi kami yang saling berpelukan. Sebelum suasana berubah canggung.


Tidak, jangan sekarang aku belum siap


"Dia... " ucapan Agas menggantung dengan melirikku sejenak sebelum berkata kembali. "Iya, teman Agas ma"


Aku pun meliriknya dari ujung ekor mataku. Perkataannya barusan mampu menghancurkan seluruh hatiku. Ada luka yang tak berdarah disana tapi sedetik kemudian aku bisa mengendalikan diri, mengikuti permainannya.


"Iya, kami hanya teman tante, om. Maaf jika saya mengganggu acara ka-"


"Boleh, tante peluk kamu?" Lidahku kelu mendengar ucapannya. Ku lirik Agas yang berada disampingku, ia pun mengangguk ragu menyetujui.


Langkah kakiku semakin berat nyaris tanpa sedikit pun rasa semangat. Aku pun menghampiri sosok wanita paruh baya yang Agas panggil mama itu, kemudian melirik laki-laki dewasa yang mirip sekali dengan Agas. Seakan tau arti dari tatapanku ia pun tersenyum hangat.


Wanita itu menarikku kedalam pelukannya "Terimakasih sudah menjadi bagian dari hidup Agas" bisiknya sembari mengusap lembut punggungku. Aku pun tak kuasa lagi menahan airmata yang mungkin sebentar lagi akan pecah. Tak terasa pelukanku semakin mengerat.


****


"Ini kita mau kemana sih, Gas? Kenapa mata aku di tutup segala" kataku yang berjalan sembari meraba-raba sekitarku di bantu Agas yang memegangi bahuku.


"Kalau aku kasih tau, bukan kejutan namanya, Lis. Pokoknya malam ini akan jadi malam terindah untuk kita berdua" katanya sembari membantuku masuk kedalam mobilnya.


Kemudian Agas melajukan mobilnya membelah kemacetan ibukota. Meskipun malam telah terpampang tetap saja macet tak dapat terelakkan. Terdengar suara klakson mobil yang bersahutan. Aku pun duduk dengan gelisah tak mampu mengontrol detak jantung yang berdegub cepat. Kalau saja pendengaran kami di atas rata-rata mungkin detak jantungku seperti instrumen musik yang mengisi kesunyian.

__ADS_1


"Kita mau kemana sih Gas? Kok belum sampai juga" Sungutku padanya.


"Sabar ya? Sebentar lagi" katanya sembari terkekeh dan mengacak lembut rambutku.


Aku pun hanya mencebikan bibir mendengar perkataannya. Hingga bosan melandaku. Dengan kondisi mata tertutup kain aku tidak bisa melihat pemandangan di luar yang mampu mengalihkan rasa bosanku.


"Masih lama ya?" Kataku bosan.


"Sebentar lagi kita sampai, sayang" kata itu lagi yang di ucapkan Agas berulang kali, nyatanya kami belum sampai juga ke tempat tujuan.


Kemudian mobil Agas berhenti "Nah, sudah sampai. Kita turun ya?"


"Udah boleh di buka kainnya, Gas?"


"Jangan sekarang, Lis. Kita belum sampai di tempat kejutannya"


"Tapi kata kamu ki-" telunjuk Agas menempel tepat pada bibirku. Hal itu membuat jantungku tidak karuan.


"Percaya padaku, Calista" bisiknya membuatku merinding saat hembusan napasnya menerpa kulitku.


Agas pun keluar dari mobil lebih dulu kemudian membuka pintu mobil dan membantuku keluar dari mobil. Kami pun berjalan memasuki tempat tersebut melangkah menuju lift.


Ku hirup aroma segar serta mewah menyeruak di sekitar ruangan. Yang ku yakini sekali tempat ini bukan tempat biasa. Setelah lift berbunyi dengan pintunya yang terbuka kami pun masuk dan lift bergerak naik. Entah Agas membawaku ke lantai berapa dan sekarang kami berada di tempat seperti apa.


Kemudian lift pun berbunyi dan pintunya bergerak terbuka, Agas membantuku berjalan dan memberitahu untuk melangkah dengan hati-hati. Tercium bau yang sudah ku kenal, aroma mewah yang beberapa menit tadi kini sudah lenyap di gantikan aroma udara malam.


Agas pun mendudukkan diriku di atas sebuah.. seperti sofa dan kemudian dibukanya kain penutupku. Akupun shock saat di depanku terlihat seperti sebuah layar plasma khusus menonton film. Agas pun kemudian menghempaskan dirinya di samping. Ku lirik sekitar ku, kau pasti takkan percaya aku berada di atap sebuah gedung lagi. Dengan taburan berjuta bintang yang berpendar sebagai pelengkapnya.


"Happy Anniversary 7th years, Calista Hartawan" bisiknya sembari mencium pipiku. Kemudian ia pun menjentikan jarinya dan semuanya berubah menjadi gelap sesaat, sebelum aku benar-benar di buat terkejut olehnya.


Betapa tidak, semua teman-teman SMA kami pun datang tanpa terkecuali. Membuatku histeris dan seketika terisak melihat tulisan pada papan persegi dengan tulisan 'HAPPY ANNIVERSARY 7TH YEARS' secara terpisah oleh masing-masing orang. Aku pun menutup mulutku saat Agas mengajakku bergabung bersama mereka.


Tak lupa beberapa teman kami memainkan musik sebagai pelengkapnya. Ternyata mereka sudah menyiapkan semuanya. Lihat saja alat barbeque sudah tersedia dengan berbagai macam minuman bersoda. Mereka menarik Agas dan aku secara terpisah. Agas bersama teman-teman ipa nya dulu dan aku dengan teman-teman ips ku.


Berbicara tentang teman, semua sudah menjadi lebih baik sekarang. Persahabatan yang sempat retak kini telah pulih meskipun tidak sempurna namun bisa kami atasi. Sudah lama aku telah belajar memaafkan dengan ikhlas, sebab aku tidak ingin menyakiti diri sendiri. Sekarang semuanya sudah berlalu, masa lalu dan masa depan memang tidak bisa berbaur tapi masa sekarang bisa merekatkan keduanya. Memperbaiki apa yang masih bisa di perbaiki, memaafkan sesuatu yang masih sanggup untuk di maafkan.


Malam ini adalah satu malam terindah dari berjuta-juta malam dalam hidupku. Aku pun menghampiri Agas dan menariknya ke luar dari keramaian teman-teman kami. Aku mentautkan jemariku pad jemarinya dan mengajaknya ketepi pembatas tembok.


Dari sini kami bisa melihat seluruh kota dalam ukuran miniatur. "Bintangnya bagus ya Gas?" Kataku sembari menengadahkan kepala ke langit yang bertabur bintang.


"Iya, jarang banget ya kita bisa liat bintang yang hampir memenuhi langit. Biasanya cuma ada beberapa" ucapnya ikut menengadahkan kepalanya.


"Aku mau deh jadi salah satunya" refleks Agas menoleh padaku yang masih mengagumi taburan bintang di langit.


"Untuk apa?" Tanyanya penasaran, masih menatapku.


Aku pun menoleh padanya "Aku mau orang-orang selalu tersenyum bahagia ketika melihatku, seolah-olah beban mereka hilang begitu saja dan mendengarkan harapan-harapan mereka"


Agas pun tersenyum kemudian kembali memandangi langit "Gak harus jadi bintang untuk dapat di lihat dan di kagumi, Lis. Jadi diri kamu dan tunjukkan kelebihan kamu untuk bisa bersinar seperti bintang. Seharusnya begitu"


"Aku salah ya?"


"Enggak kok"


"Terus?"


"Kamu cuma gak tau aja kalau kamu itu bintang yang sedang berusaha bersinar. Aku yakin bintang-bintang disana akan iri saat sinar kamu lebih terang"


"Agas?" Kataku menginterupsi ucapannya. Ia pun langsung menoleh padaku.


"Terimakasih. Terimakasih untuk semuanya. Terimakasih untuk tetap bersamaku meskipun kamu tau aku jauh dari kata sempurna" Agas pun ingin bersuara namun ku cegah.


"Aku tau ini berat. Jujur ini sulit bagiku merelakan kamu untuk bahagia meski bukan denganku nantinya. Tapi aku harus mengatakannya, aku bukan membenci sebuah perpisahan tapi justru aku sangat menghargainya. Sebab perpisahan memberitahuku bahwa pertemuan adalah sebuah ketidaksengajaan yang selalu aku syukuri dan Kita adalah hal yang selalu aku semoga kan"


Tangisku pecah bersamaan pelukan Agas yang begitu erat. Aku pun menenggelamkan wajahku ke dalam dadanya. Rasa sesak menghimpitku menyumbat pasokan oksigenku ke dalam paru-paru. Ingin rasanya memaki seseorang tapi aku tidak mau di sebut gila. Tapi nyatanya aku memang sudah gila.


"Kita sudah setuju, Lis. Dengan baik-baik"


Aku pun hanya tersenyum lemah dan mengangguk perlahan dengan airmata yang masih mengalir..


"Kamu benar, Gas"


Jika takdir membawaku kembali di satukan dengannya, semoga ketika itu aku dan dia sudah menjadi seseorang yang lebih baik. Aku takkan menolak jika memang demikian sebab terkadang perpisahan bukanlah akhir suatu ikatan.


Aku Calista Hartawan dengan ini menyatakan hanya sebagai seorang teman, bagi Agas Cokrodinoto di kehidupan selanjutnya.


- TAMAT -

__ADS_1


Happy Reading..


__ADS_2